NovelToon NovelToon
Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / Wanita Karir / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Juniar Yasir

Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.

Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.

Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.

Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?


.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏


Kemana kah suami Norma?

Bagaimana kisahnya?




Setting: Sebuah pulau di Riau

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akal licik Daria

"Ada perlu apa anda dengan Tuan Syakir?" tanya salah satu satpam yang bertugas di pos empat perkebunan durian.

"Saya ada keperluan dengan beliau terkait..." ucapan wanita itu di potong.

"Tuan Syakir sedang ada tugas di luar kabupaten. Terkait keperluan yang anda maksud di serahkan pada saya" ujar tegas pria mengenakan kemeja navi tubuh kekar tersebut.

"Mari!" Pria paruh baya berjalan terlebih dahulu.

Wanita yang tak lain adalah Daria ini langsung mengikuti langkah si pria.

Mereka kini tiba di pekarangan luas. Terdapat aneka tanaman buah-buahan yang di cangkok berbuah lebat. Di sisi kiri terdapat taman bunga anggrek dan bunga raya warna putih tertata rapi. Tampak hunian terbuat dari kayu jati, rumah panggung modern. Beberapa mobil mewah bersusun di garasi yang terbuka.

Daria melongo, dalam hati menjerit histeris melihat kemewahan ini. Jika saja di nikahi secara sah, pastilah gadis ini yang akan menukarkan diri untuk di jadikan istri, meski menjadi istri kedua dirinya tidak masalah. Tapi karena hanya di jadikan tempat menampung benih saja, belum lagi banyak desas desus mengatakan jika Tuan Syakir adalah pria tua, Daria jadi ilfil. Daria justru senang sekali jika kakak iparnya yang menjadi tumbal, dirinya mendapat komisi dari abangnya.

"Silahkan masuk!" ucap datar Prakoso.

"Ah iya" balasnya.

Daria masuk, matanya menatap sekeliling ruang tamu dengan pandangan kagum. Iya juga mencari foto dari pria pemilik kebun durian terbesar di kabupaten. Tapi, di dinding di ruang tamu hanya terdapat foto pria paruh baya dan wanita yang Daria yakini adalah istrinya.

Daria mengikuti langkah Prakoso yang masuk ke ruang kerja.

Daria duduk di sofa, sementara pria paruh baya yang bernama Prakoso itu duduk di seberang meja berhadapan dengan Daria.

"Jadi apa tujuan Anda?" tangannya tanpa basa-basi menawarkan minuman.

"Saya mendengar jika Tuan Syakir mencari wanita untuk menampung...."

"Langsung ke intinya!" tekan Prakoso.

Daria berdecak kesal di hati, lagi-lagi ucapannya di potong pria tua ini. Jika saja tidak ada keperluan yang menguntungkan, tidak akan wanita ini menjejakkan kaki ke tempat ini.

"Eee... Ada perempuan yang sangat membutuhkan biaya pengobatan untuk..." Daria agak kesulitan mengatakan hal ini.

"Siapa? Dan apa dirinya setuju?.. Ingat! Ini bukan perkara main-main. Harus di setujui pihak yang terkait. Jika sudah setuju tidak bisa di undur, dibatalkan!" Prakoso tak ingin orang yang belum jelas.

"Dia harus wanita single, perawan dan terhormat!" lanjutnya.

Daria menelan ludah kasar mendengarnya. Bagaimana mungkin mendapatkan yang single, apa lagi perawan. Sementara yang di jadian tumbal adalah kakak ipar sendiri, dan ibu anak satu.

"Begini Pak eh.. Tuan.... Emm sebenarnya dia kakak saya, dia memerlukan biaya untuk putrinya yang sakit....

"Kamu gila!" pekik Prakoso geram.

"Tolong Pak, kakak saya sangat membutuhkan biaya. Sementara suami nya berselingkuh dan tidak menafkahinya" Air mata Daria mengalir deras, mulai berakting. Terpaksa menumbalkan nama abangnya, Syamsul supaya rencana berjalan mulus.

"Kalian memang tidak waras! Beraninya bermain-main dengan hal besar ini" Prakoso menggeram kesal.

"Tolong Pak, ini demi keselamatan keponakan saya" lirih Daria.

"Tinggalkan foto dan alamat rumah kalian! Jika tuan Syakir setuju, nanti akan saya hubungi" Prakoso berdiri, menandakan kehadiran Daria tak diperlukan lagi.

Daria mengeluarkan foto dan alamat rumah yang telah di persiapkan nya, menaruhnya di atas meja. Lalu dirinya beranjak, menuju pintu keluar,.meninggalkan huniah mewah tersebut.

.

Dari keluar dari area perkebunan durian. Saat ini dirinya sedang menunggu oplet (angkutan umum) di simpang pertigaan.

"Huft.... Rasanya aku seperti selamat dari terkaman harimau" lirih Daria lega.

"Bawahannya saja seperti itu, bagaimana dengan si Syakir_Syakir tua itu. Hiiiiiih!" Daria mengedikkan bahu ngeri.

"Tapi jika si Syakir itu setuju aku juga mendapat keuntungan" senyum licik merekah di bibir Daria.

Tak lama oplet tampak di kejauhan, Daria segera melambaikan tangan. Oplet berhenti, kenek keluar menanyakan tujuan, lalu mempersilakan Daria masuk. Demi menghemat uang, Iya rela berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Baru saja masuk, Daria menutup hidungnya, tak tahan dengan aneka bau penumpang lainnya. Banyak di antara mereka adalah buruh kebun durian, pekerja kasar lainnya. Tak hanya itu, Daria mengeluarkan kipas karena panas akibat berdesak-desakan. Penumpang lain melirik tajam, melihat aksi Daria yang sok sekali gaya nya.

"Heh Kak!, Jika tak tahan dengan aneka bau dan kepanasan, sebaiknya jangan naik kendaraan seribu umat. Lebih baik menggunakan mobil atau kendaraan pribadi." sengit wanita dewasa, di pangkuannya duduk anak perempuan berusia empat tahun.

"Kak, kak! Memangnya saya kakak situ? Tak lihatkah wajah ku yang masih kencang alias muda ini? Dan lagi, aku juga tak Sudi sebenarnya berdesak-desakan dengan orang fakir miskin seperti kalian ini! Ini terpaksa." balas Daria tak kalah sengit.

"Ya sudah turun sana!" ujar wanita dewasa geram.

"Kalau Korang masih bising, lebih baik turun saja" ucap Supir geram.

Kedua wanita beda usia ini langsung bungkam.

*******

Di lain tempat, Norma turun dari oplet. Saat ini iya sedang di kampung halamannya dulu, mengunjungi saudara dari pihak almarhum ayahnya. Jaraknya lumayan jauh, menempuh jarak satu jam dari rumah sakit.

Tiba di rumah Pak Long (Paman/ Saudara tertua/kakak Ayahnya), Norma di sambut hangat oleh suami istri tersebut.

"Norma, apa kabar? sudah lama tidak berkunjung" Ujar Pak Long Hamdan menyambut uluran salam Norma.

"Alhamdulillah sehat Pak Long." lalu bergantian menyalami Mak long (Istri Hamdan)

"Mari masuk Nor. Mak cik kebetulan baru selesai masak" Mak Long Halimah masuk, di ikuti Norma. Sedangkan Hamdan pergi mengendarai motor supra nya.

Norma mengikuti Halimah ke dapur yang berdinding bambu, tampak rapi dan asri. Ada meja makan, kursi sederhana. Di atas meja terdapat aneka masakan rumahan. Ada Sayur santan lemak putih pakis, sambal terasi belimbing, ikan asin gurame.

"Mari duduk sini, kita makan bersama. Lama kita tak ngumpul seperti ini" Mak long Halimah menyendokkan nasi ke piring Norma.

"Kita tunggu Pak Long saja Mak Long, biar lengkap." balasnya.

"Pak Cik tadi sudah sarapan, biasanya makan siang setelah Dzuhur" ucapnya.

Kedua perempuan ini makan dengan penuh kehangatan. Norma juga senang sekali, karena sudah lama tidak makan masakan Mak long yang mirip dengan rasa masakan Almarhum Ibunya.

Dulunya keluarga Norma tinggal kampung ini, setelah Norma menikah, ikut Syamsul, keluarga Norma juga ikut pindah. Membeli sebidang tanah berisi durian. Lalu juga membeli rumah kosong beserta kebun pinang, di situlah orang tua Norma tinggal.

Sementara di kampung halamannya ini, Orang tua Norma juga memiliki kebun durian, manggis dan derendan, juga pinang dan kebun sawit di lokasi lain. Untuk kebun sawit tersebut di kelola oleh Pak Long Hamdan. Hasil dari buah-buahan akan di jual, bagi hasil, sebagian buah untuk di nikmati, sebagian di jual. Untuk kebun di kampung ini keluarga Syamsul tidak ada yang mengetahui.

Sebenarnya bisa saja Norma menjual kebun ini untuk membiayai pengobatan putrinya, tapi mengingat pesan Almarhum orang tuanya yang melarang Norma untuk menjual kebun tersebut. Apa lagi Pak Long Hamdan bergantung hidup dari pembagian penghasilan kebun. Norma juga berencana tanah yang berisikan kebun sawit akan di wariskan untuk putri semata wayangnya, Nuri.

Jika di gadaikan atau pun di jual, belum tentu nanti Dirinya bisa menebus atau membeli lagi tanah tersebut.

"Nor, tolong bawa talam (Dulang/nampan) ni ke bangsal (Gazebo) depan" ujar Mak Long Halimah, Iya sendiri membawa nampan yang di atasnya ada toples kerupuk dan piring kue lapis.

Norma mengangguk, lalu beranjak mengambil nampan, lalu membawanya keluar luar rumah melalui pintu samping.

Ketiga orang dewasa saat ini duduk di bangsal. Menikmati kudapan sederhana di temani kopi hangat.

Norma menikmati kue lapis pandan kesukaannya. "Hem, sedapnya Mak Long. Lama sudah Nor tak makan kue ini" pujinya tulus.

"Hai, kan senang betul membuat kue ini, tak mungkin dirimu tak bisa Nor?" Balas Mak long Halimah.

Norma menggaruk tengkuknya canggung.

"Memang bisa, tetapi tetaplah rasanya beda karena dari tangan yang berbeda juga. Mak long buat khas dari tangan yang lemak tu" canda Norma menutupi kenyataan, tapi jujur mengenai rasa yang memang enak. Mak Long hanya menggeleng, tersenyum.

Alasan sebenarnya karena tidak memiliki waktu luang, jangankan untuk membuat cemilan kesukaan, untuk ngumpul dengan ibu-ibu saja bisa di bilang sangat jarang. Apa lagi dirinya tidak memegang uang belanja, jadi memang tidak ada kesempatan dan dana.

"Bagaimana keadaan Nuri, cucu Pak Long Nor?" Hamdan meletakkan gelas kosong ke piring.

Norma tak langsung menjawab. Mengingat keadaan sang putri, dada nya sesak, sedih semua bercampur menjadi satu.

"Nuri, kemarin kecelakaan" Norma mulai terisak, bahu berguncang ringan.

"Innalilahi...... Jadi bagaimana? Dan kenapa kau malah kesini nak?" Mak long beranjak, mendekati Norma, memeluk dari samping.

Yang awalnya hanya isakan, jadi tangisan. Disini lah Norma bisa mencurahkan segala sesak di hati. Sedari di rumah sakit dirinya tahan semua rasa hati yang hancur, mencoba kuat. Tapi, di hadapan saudara Ayahnya, Pak Long, Norma tak lagi mampu membendung yang di rasa di hati.

Setelah tangisan reda, Norma melerai pelan dekapan hangat Mak Long.

"Nuri sedang di rawat intensif. Keadaannya tidak stabil, Mak Long, Pak Long." ucapnya pelan.

Mak Long mengulurkan sapu tangan, Norma menyambutnya. Mengusap air mata yang kasih mengalir.

"Insyaallah besok akan segera di lakukan tindakan operasi." ucapnya lagi.

"Harus operasi pula, separah itu kah Nuri?" giliran Pak Long yang bertanya, khawatir terlihat dari wajah yang sudah ada garis keriputnya.

"Iya Pak Long. Kondisi Nuri bisa di katakan tidak baik, karena walaupun sadar, dirinya tidak merespon seperti orang koma." jelas Norma singkat.

"Mah, sebaiknya dirimu berkemas, bawa baju seperlunya. Terpenting kain sarung, baju koko dan kopiah Abang. Kita harus menemani Norma, meskipun ada Syamsul dan keluarganya, tapi setidaknya ada perwakilan keluarga Norma" Pak long begitu peduli.

"Iya bang" angguk Mak long Halimah "Kejap ya Nor, Mak Long kedalam dulu, bersiap" iya tatap keponakannya ini.

Norma mengangguk, memaksakan senyum. Dalam hati miris sekali, karena yang di katakan oleh Pak Long nya semua hanya angan. Jangankan ikut menemani menginap di rumah sakit. Baik Mariah, maupun mertua laki-laki hanya datang sebentar saja untuk menekan tentang kontrak rahim, dengan dalih menawarkan bantuan, memberi jalan keluar. Yang sebenarnya jalan menjerumuskan dirinya.

Pak Long, Mak Long Halimah keluar dari rumah dengan pakaian yang layak untuk bepergian. Pak Long Hamdan menggembok pintu rumah, sebelah tangannya menjinjing tas berisi pakaian dan keperluan dirinya dan istri.

"Ayo!, kita ke persimpangan baru saja. Disana tempat oplet mangkal" ucap Mak Long Halimah.

Ketiganya berjalan meninggalkan rumah Pak Long. Menuju simpang baru hanya butuh waktu lima menit saja dengan berjalan kaki.

.

**

.

"Apa mataku tidak salah lihat?"

.

Mohon dukungannya🙏👍💬❤️

1
Yulia Dhanty
menarik
Anita Rahayu
Buat karna pedih untuk samsul dan familtnya sekaligus selingkuhannya😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Juniar Yasir: asiap sisssa
total 1 replies
Sunaryati
Semoga setelah di talak hidupmu semakin baik dan keluarga Syamsul dapat balasan
Yulia Dhanty
Syamsul. brengsekkkk😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!