Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9: PEKERJA LEMBUR
Mei Zhiyi merasa sangat mengantuk. Tubuh barunya tidak sekuat tubuh lamanya. Mungkin perlu waktu untuk memulihkan semua ilmu bela diri dan mengembalikan tenaga dalamnya.
Masalahnya, dia tidak punya banyak waktu luang sekarang. Pekerjaan barunya menuntutnya untuk selalu siap siaga sepanjang waktu.
“Aku pikir aku bisa lebih santai setelah pensiun menjadi prajurit. Hasilnya, hariku malah jauh lebih sibuk. Ah… Dunia benar-benar tidak adil.”
Dia menghela napas. Saat ini, dia sedang duduk di taman belakang Istana Zhaoyang. Bibi Cui sudah bilang kalau Liu Yan tidak akan makan siang di sini.
Meski seharusnya ini menjadi waktu luang, Mei Zhiyi masih tidak bisa berleha-leha. Siapa yang tahu tiba-tiba Liu Yan datang dan menyuruhnya bekerja?
“Xiaotong, berapa daya hidupku sekarang?”
“Daya hidupmu masih bertahan di angka 19%. Poinmu saat ini adalah 20.”
“Miskin sekali.”
Tiba-tiba saja Bibi Cui datang. Ekspresinya terlihat gelisah.
“Nona, Kaisar mengirim perintah. Harap nona mengambil makan siang Kaisar dan mengantarkannya ke dalam aula.”
“Bukankah kau bilang Kaisar tidak makan siang di sini? Dia tidak makan di Istana Fengyi?”
“Saya tidak tahu. Nona sebaiknya tidak bertanya soal alasan Kaisar.”
Mei Zhiyi menghela napas. Benar, bukan? Pekerjaan tiba-tiba saja datang. Untung saja dia tidak pergi tidur siang.
Setengah jam kemudian, dia kembali dengan membawa makan siang. Liu Yan terlihat sedang membaca laporan di mejanya.
Begitu serius. Keningnya beberapa kali terlihat mengernyit. Jemarinya dengan cepat mencoret dan menggoreskan tinta di atas kertas, menumpuknya lagi dengan dokumen lain.
Saat dia terlihat serius, wibawanya begitu terasa. Apakah setiap pemimpin negara memang seperti ini?
Liu Yan mendongak. Sepasang matanya yang jernih menatap gadis muda yang baru saja datang mengantarkan makanan.
Awalnya ruangan ini terasa sepi. Tapi setelah gadis itu datang, Liu Yan tidak merasa dia sendirian di sini. Padahal dari tadi jelas-jelas Li Dezai juga ada di sampingnya.
“Kaisar, makan siangmu sudah tiba.”
Liu Yan meninggalkan meja kerjanya dan duduk di kursi santainya. Piring-piring berisi makanan yang menghangatkan tubuh disajikan dengan rapi. Asap tipis mengepul dari hidangan yang masih hangat, menguarkan aroma bumbu yang khas yang menggugah selera.
Apakah dia punya kegemaran khusus? Orang lain bisa dengan senang hati makan bersama wanita cantik. Dia malah kembali ke sini dan makan sendirian. Benar-benar tidak tahu cara menyayangi wanita cantik.
Sudut mata Liu Yan terasa berkedut. Apa yang sedang dipikirkan gadis ini?
Dia pergi ke Istana Fengyi bukan untuk makan siang bersama Feng Yuzhen. Dia datang untuk berbincang sedikit saja sembari melihat karya apa lagi yang berhasil dibuat Feng Yuzhen di waktu senggangnya.
“Kau pergi saja. Jangan masuk tanpa panggilanku,” ucap Liu Yan.
Mei Zhiyi mendongak dan wajahnya menampilkan ekspresi seolah bertanya: sungguh?
Agak aneh memang. Dia biasanya selalu diminta untuk menunggu sampai Liu Yan selesai makan. Kenapa tiba-tiba Liu Yan mengusirnya?
“Nona Mei, kau keluar saja. Kaisar mungkin sedang tidak nyaman melihatmu,” bisik Li Dezai.
“Kasim Li, apa aku telah melakukan kesalahan?”
Li Dezai menggeleng tidak tahu. Pikiran Kaisar dia tidak bisa menebaknya. Mungkin saja suasana hati Kaisar mendadak buruk dan dia tidak ingin diganggu oleh siapapun meski sedang makan sekalipun.
Mei Zhiyi tidak lagi peduli. Dia pergi dan menyerahkan tugas membereskan makanan kepada pelayan lain.
Di dalam, Liu Yan makan sedikit saja. Bahkan ada hidangan yang tidak disentuh sedikit pun.
“Li Dezai!” panggilnya pada Li Dezai.
“Apakah Yang Mulia ada perintah?”
“Potong gaji Pelayan Mei setengahnya. Dia terlalu berisik.”
Li Dezai agak kebingungan. Perasaannya mengatakan tadi Mei Zhiyi tidak bicara apapun selain memberi tahu makanan sudah siap. Kenapa Kaisar tiba-tiba saja memotong gajinya dengan alasan terlalu berisik?
“Selain itu katakan padanya meski aku tidak ada, makananku tetap harus diantarkan tepat waktu.”
“Baik, Yang Mulia.”
Malam harinya, Mei Zhiyi kembali mengantarkan makanan ke dalam aula untuk Liu Yan. Kali ini dia tidak melihat Liu Yan duduk membaca laporan di meja.
Ruangan itu sepi, bahkan Li Dezai juga tidak ada. Dia meletakkan piring-piring di meja, kemudian keluar untuk mencari mereka.
Rupanya, Liu Yan sedang berdiri di tepi kolam teratai di samping Istana Zhaoyang. Rambutnya yang disanggul khas sanggul pria bangsawan dan diurai sebagian tertiup angin. Jubah hitam dari bulu rubah yang tebal menutupi tubuh tegapnya, menyembunyikan postur luar biasa dari seorang raja.
“Yang Mulia, Ibu Suri berencana mengadakan jamuan untuk memilih selir lagi. Apakah Yang Mulia ingin menghentikannya?” tanya Duan Jiu.
“Dia suka mengangkat selir untuk mengendalikanku, biarkan saja dia mengangkat sebanyak yang ia ingin. Sebanyak apapun yang dia ambil, sebanyak itu pula yang akan aku buang.”
Duan Jiu agak menunduk. Sejak naik takhta sepuluh tahun lalu, hubungan Kaisar dengan Ibu Suri masih tidak kunjung membaik.
Dingin seperti sudah lama sekali tidak dihangatkan. Padahal, mereka adalah ibu dan anak kandung. Namun karena sebuah masa lalu, keduanya tidak bisa memiliki hubungan baik layaknya seorang ibu dan anak.
Bahkan sampai sekarang, Ibu Suri masih saja mencoba mengendalikan Kaisar dan mengambil kekuasaannya. Entah itu dengan mengirim wanita cantik atau membujuk para menteri, semuanya sudah menjadi hal biasa bagi Kaisar. Setiap kali Ibu Suri bertindak, maka Kaisar pasti akan membalasnya dengan cara yang tidak lebih sama.
“Ibu Suri selalu menginginkan Selir Su menjadi permaisuri. Hanya jika Selir Su jadi permaisuri, maka kekuasaan Ibu Suri akan tetap kuat dan pengaruhnya akan semakin meluas. Jika dibiarkan, cepat atau lambat dia akan mengancam posisi Anda, Yang Mulia.”
Sudut bibir Liu Yan terangkat. “Takhtaku diperoleh dengan darah yang aku perjuangkan sendiri. Bahkan meski dia ibu kandungku, jika dia menginginkan takhtaku, aku tidak akan mengalah padanya.”
Semua yang dia capai saat ini adalah hasil jerih payahnya. Dalam dirinya bukan hanya ada rakyat, tapi juga dendam dan rasa sakit yang menumpuk dari tahun ke tahun.
Tidak disayangi, tapi berulang kali dimanfaatkan, sudah menjadi bagian dari hidupnya yang kelam. Jadi, tidak akan ia biarkan orang lain merebutnya. Apapun yang dia inginkan dia akan menggenggamnya dan tidak akan pernah melepaskannya.
“Yang Mulia, beberapa hari lagi adalah ulang tahun Putri Ruoxi. Para pengintai mengatakan bahwa Raja Yun mungkin akan segera tiba di ibu kota.”
“Adikku yang baik itu selalu merindukan ibunya. Biarkan saja dia datang. Di bawah pengawasanku, mari kita lihat seberapa jauh dia bisa bertindak. Sampaikan perintah pada semua pengawal bayangan. Pastikan ibu kota tetap aman dan awasi Raja Yun!”
Sepertinya aku tanpa sengaja telah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kudengar. Jika berbalik dan pergi sekarang seharusnya masih sempat, kan?
Liu Yan mengernyit, tiba-tiba saja dia berbalik. Dia melihat Mei Zhiyi berdiri di dekat tiang istana. Ekspresinya seperti pencuri yang ketahuan, seperti kucing yang kedapatan mencuri ikan.
“Kau tidak seharusnya datang kemari,” ucap Liu Yan. Nadanya terdengar sangat serius.
“Yang Mulia, jika aku katakan aku mencarimu untuk memberi tahu soal makan malammu yang sudah tiba, apakah kau akan percaya?”
Sial sekali, kenapa Liu Yan tiba-tiba saja berbalik sebelum dia berhasil pergi diam-diam? Jika begini, Mei Zhiyi khawatir nyawanya akan sulit dipertahankan.
“Orang yang terlalu banyak mengetahui sesuatu selalu berumur pendek. Menurutmu apakah aku akan percaya?”
Sudah Mei Zhiyi duga, Liu Yan bukan orang yang mudah diajak kompromi. Seorang penguasa sepertinya memiliki begitu banyak kewaspadaan dan kecurigaan. Pasti tidak akan meninggalkan sedikit pun celah.
Tatapan Liu Yan masih tertuju pada Mei Zhiyi. Biasanya jika ada orang yang mengetahui pembicaraan rahasianya, orang itu akan langsung dihukum mati di tempat agar tidak menimbulkan masalah. Namun terhadap Mei Zhiyi, dia memang memiliki niat itu, tapi tidak punya pikiran untuk bertindak.
“Pelayan benar-benar tidak sengaja. Aku juga tidak mendengar apapun,” ujar Mei Zhiyi.
Duan Jiu merasa Mei Zhiyi memang bernyali besar. Pada saat ini pun dia masih saja tenang.
Situasinya sudah mendorongnya sedikit lagi menuju kematian, tapi dia masih bisa berbicara dengan tenang dan tidak panik sama sekali. Harus dia akui, pengendalian seperti ini bagi seorang pelayan memang terbilang jarang ditemui.
“Benarkah?”
Seharusnya aku tidak punya rasa penasaran dan kepedulian tinggi. Bos besar ini sukar diajak kompromi. Aku benar-benar tidak sengaja mendengar pembicaraan ini. Dia sudah akan memenggal kepalaku sekarang. Andaikan aku punya senjata, aku masih bisa membela diri dan lari untuk menyelamatkan diri.
Sialnya, Xiaotong sedang tidak dapat dihubungi sekarang. Pada saat genting seperti ini Mei Zhiyi tetap harus mengandalkan dirinya sendiri.
Jika Liu Yan ingin membunuhnya, dia harus menempuh sebuah jalan untuk bisa melarikan diri. Atau setidaknya dia harus bisa menghilangkan kecurigaan pria itu.
“Yang Mulia adalah pemimpin bijak. Tentu mudah bagi Yang Mulia mengambil nyawaku. Tapi, aku yakin Yang Mulia bukan orang yang akan menghukum secara sembarangan.”
Liu Yan ingin tersenyum, namun kepalanya tiba-tiba sakit sekali. Dunia seakan terbalik, dalam sekejap rasa sakit dari kepalanya menjalar ke seluruh tubuh.
Dadanya terasa sesak dan dia kehilangan keseimbangan. Pandangannya mulai kabur, tak dapat lagi melihat jelas setiap objek yang ada di depannya.
“Gawat, penyakit Yang Mulia kambuh!” seru Li Dezai. “Cepat bawa Yang Mulia masuk!”
Li Dezai dengan panik memapah Liu Yan masuk ke dalam istana dibantu Duan Jiu. Mei Zhiyi diseret masuk ke dalam dan tidak dibiarkan lari.
Situasi tiba-tiba berubah menjadi tegang tatkala Liu Yan bangkit, mengambil pedang dan mengarahkannya pada semua orang.
"Siapapun yang menghalangiku, mati!" seru Liu Yan sembari mengayunkan pedangnya ke segala arah, bahkan hampir mengenai Duan Jiu dan Li Dezai.
Matanya semakin memerah. Namun, sepertinya masih ada sisa kesadaran dalam dirinya, yang membuatnya menahan diri dengan memejamkan mata sampai urat-urat di wajahnya menjadi tegang.
“Cepat panggil Selir Feng kemari!” seru Duan Jiu pada Li Dezai. “Kau, ambilkan tali yang ada di lemari!”
Meski Mei Zhiyi tahu ini adalah kesempatan terbaik untuk melarikan diri, namun dia tidak dapat membiarkan Liu Yan begitu saja. Saat ini, menolong nyawa orang juga adalah hal yang utama!
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei