Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Baik?
Dua hari telah berlalu, sekarang Hafizah membantu Biru untuk mengasuh Ifraz karena sampai sekarang Murni seolah memutuskan hubungannya dengan Biru. Dengan terpaksa Biru menerima tawaran Hafizah untuk merawat anaknya selama Maya masih berada di rumah sakit.
Dan sampai sekarang Murni belum menginjakkan kakinya lagi di rumah Biru.
Sementara itu, Maya melihat kedua orang tuanya mengenakan pakaian serba putih, berdiri di depannya, Maya merasa senang karena melihat Bundanya tidak sakit lagi. Ayah dan Bundanya itu tersenyum.
Namun, Maya bersedih saat kedua orang tuanya berpamitan padanya.
Ayahnya berpesan,
"Nak, kuatlah! Jangan menjadi lemah, Ayah yakin kalau kamu bisa melewati semuanya," ucap ayahnya.
Mendengar itu Maya menganggukkan kepala dan berusaha meraih kedua orang tuanya.
Sementara itu, Gala yang sedang menjaga Maya melihat kalau Maya meneteskan air mata. Segera Gala meraih tangan Maya.
"Mbak, mbak udah bangun? Ini Gala, mbak!"
Namun, Maya masih tidak merespon, wanita itu menitikkan air mata untuk kedua orang tuanya yang berpamitan.
Ya, Lisna meninggal dunia saat mendengar kabar anaknya mengalami kecelakaan hari itu, membuat Gala menyesal telah memberitahu keadaan Maya pada Bundanya.
Gala kembali menangis, menangisi Bunda dan Kakaknya, selalu berdoa untuk kesembuhan Maya.
****
Hari-hari Gala lalui dengan setia menunggu Maya, di sana tanpa berbicara selain pada Maya dan Murni yang sudah dianggapnya sebagai ibu. Murni dan Gala akan pulang ke rumah apabila Biru datang untuk menjaga Maya. Ketiganya tanpa bertegur sapa.
Kehidupan semua orang berubah menjadi penuh kesedihan, tetapi walau begitu Biru tetap menjalani hari dengan baik, demi Ifraz dan Maya, tentunya juga demi Hafizah, Biru telah mengatakan pada Murni kalau dirinya akan bertanggungjawab untuk Hafizah dan bayinya.
Lelaki itu seolah-olah menunjukkan kalau dirinya bisa berlaku adil pada dua istrinya.
Enam hari berlalu, sekarang Gala yang sedang berada di kampus mendengar kabar dari Murni yang mengatakan kabar baik tentang Maya, pria itu menitipkan absen pada temannya yaitu Bram.
Dengan segera, Gala berlari ke parkiran, menaiki motor dan melajukannya ke rumah sakit.
Sesampainya di sana Gala melihat kalau Maya sedang menangis dalam pelukan Murni.
"Mbak!" lirih Gala yang berdiri di pintu.
Melihat kedatangan Gala, Maya pun melepaskan pelukan itu. "Ga-gala!" tangis Maya.
Maya menangis, tidak menyangka kalau dirinya akan selamat dari kecelakaan itu. Namun, Maya bersedih karena tidak dapat menggerakkan kakinya menambah luka di hatinya.
Maya menangis sesenggukan di pelukan Gala, tidak sanggup untuk mengatakan kalau kakinya tak dapat digerakkan.
"Mbak, kenapa? Ceritakan pada Gala!" kata Gala seraya melepaskan pelukan itu, sedangkan Maya menggelengkan kepala, dengan lembut Gala merangkum wajah kakaknya. "Katakan! Mbak kenapa? Gala ingin mbak berhenti menangis karena bersedih!" ucap Gala.
Dengan berat Maya mencoba untuk menceritakan, "Ka-ki mbak!" kata Maya tak terdengar jelas.
Sementara itu, Murni tak sanggup lagi melihatnya, wanita bersanggul itu mengusap punggung Gala dan menganggukkan kepala.
"Maya tidak bisa menggerakkan kakinya!" lirih Murni.
"Apa!" Gala terkejut mendengar itu.
"Iya, Gala. Beruntungnya ini bukan permanen, kakak kamu masih bisa sembuh, kita harus rajin membawa kakak kamu terapi!" lirih Murni, wanita itu ingin menguatkan anak-anaknya.
Gala terduduk lesu, kalau tidak memikirkan dosa, pria itu sudah menghabisi dalang dari kekacauan ini!
"Kita harus kuat, Gala! Kalau kita lemah siapa yang akan menjaga dan menguatkan kakak kamu?" ucap Murni seraya membantu Gala berdiri.
Pria berbadan tinggi dan tegap itu pun menganggukkan kepala, setelah itu Gala pamit dan meminta Murni untuk menjaga Maya.
"Mau kemana kamu? Tolong jangan habiskan tenaga untuk marah-marah tidak jelas!" kata Murni.
Lalu, Maya memanggil adiknya, "Gala."
"Iya, Mbak!"
"Ini sudah takdir, mbak yakin kalau mbak akan sembuh, di kelilingi orang-orang baik seperti kalian!" kata Maya, wanita itu menyunggingkan senyum walau air matanya terus menetes.
"Mbak harus kuat! Mbak harus sembuh!" kata Gala dengan yakin dan Maya pun menganggukkan kepala, sebelum pergi Gala mengusap kepala Maya yang diperban dan Maya menahan tangan adiknya, tak kuasa Gala menahan air matanya, tak kuasa memberitahu kalau Bundanya sudah tidak ada lagi di dunia ini, lalu Gala memeluk Maya.
"Jangan menangis, mbak tidak akan bisa berhenti menangis kalau kamu terus menangis! Kamu laki-laki enggak boleh cengeng!" kata Maya.
Setelah itu, Maya melepaskan pelukan itu.
"Gala permisi dulu, mbak!" setelah mengatakan itu, Gala keluar dari ruang rawat Maya, berjalan cepat ingin segera menemui Bram.
Gala yang berdiri di depan lift harus melihat Biru yang baru saja keluar dari lift, Gala menatap tajam, pria itu tersadar tidak ingin menggunakan kekerasan, tetapi Gala bertekad untuk memisahkan Maya dan Biru!
"Maya tidak pantas bersanding dengan pria jahanam seperti mu!" batin Gala, sementara itu, Biru tidak menghiraukan tatapan itu.
Biru terus berjalan menuju ke ruang rawat Maya, tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
Sekarang, Biru sudah berdiri di pintu kamar rawat Maya dan Maya memalingkan wajahnya saat melihat siapa yang datang.
Murni bangun dari duduknya, ingin memberikan ruang untuk Maya dan Biru. tetapi... Maya menahan tangan Murni, tidak ingin wanita itu meninggalkannya berdua saja dengan suaminya.
"Tolong Mamah usir lelaki itu dari sini! Maya tidak mau lagi melihatnya!"
Baru saja Murni membuka mulutnya, Biru sudah menolak permintaan istrinya itu.
"Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan istriku!" kata Biru, lelaki itu mengatakan dengan tegas dan Murni mengetahui watak anaknya yang keras, merasa lebih baik diam lebih dulu.
Di dalam ruangan itu, Maya terus membelakangi Biru dan Murni, ketiganya saling diam, bahkan Biru belum mengetahui kalau Maya belum bisa menggerakkan kakinya.
****
Di rumah Biru, Hafizah yang sedang menjaga Ifraz itu ikut senang dengan kabar baik Maya, walau bagaimana pun wanita itu tidak ingin Ifraz menjadi yatim.
"Halo boy... Mamah kamu sudah siuman, pasti sebentar lagi pulang, sebentar lagi kita berpisah," kata Hafizah, wanita itu tersenyum pada anak tirinya.
Sedangkan para pekerja di rumah Biru sama sekali tidak ada yang menyukai Hafizah.
"Kalau bukan istrinya Tuan, sudah ku bejek-bejek mukanya pakai ini, Sus!" kata Ipah pada Susi.
"Sssstttf! Udah, nanti kedengeran Tuan bisa gawat, mau bagaimana pun dia istri Tuan juga, jadi kita cuma bisa memendam rasa benci sama tuh perempuan! Kita cuma bisa doakan kebaikan untuk Non Maya!" timpal Susi.
Sementara Ipah, mendengar itu merasa sebal. Merasa heran kenapa wanita sebaik Maya harus disakiti.
****
Di rumah sakit, Maya menanyakan keadaan Ifraz pada Murni,
"Mah, Ifraz dengan siapa? Maya ingin segera pulang!" rengek Maya dan Murni hanya melirik Biru, Murni sangat tidak tega menyampaikan kalau Ifraz di rawat oleh madunya sendiri.
Murni dan Biru yang sedang duduk di sofa saling menatap.
Bersambung.
Jangan lupa untuk klik like dan Vote ya teman-teman, terimakasih^^