Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 26
"Saat seseorang tak lagi datang menemuimu, bukan berarti ia tak lagi mencintaimu, bukan berarti ia tak lagi membutuhkanmu ataupun merindukanmu. Hanya saja ia tak ingin kau tau bahwa dia terlalu menyukaimu, selalu merindukanmu, dan sangat membutuhkanmu."
***
Dua hari telah berlalu semenjak Putri terbangun dari koma, kesehatannya membaik dengan pesat. Peralatan medis yang semula tak pernah lepas dari tubuhnya pun telah dilepas, hanya tersisa infusan yang masih harus mengalir kedalam tubuhnya.
Dua hari sejak malam terbangunnya Putri dari koma, sejak saat itu pula Lin Fengyin tidak lagi datang menemui Putri seperti malam-malam sebelumnya. Ia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan kantornya.
Dalam perjalanan pulang setelah melakukan rapat temu dengan beberapa klien kerjanya, Lin Fengyin melewati rumah sakit dimana Putri tengah termenung memandangi indahnya lampu-lampu kota yang berkelap kelip bak permata dengan seribu pertanyaan dikepalanya.
Mengerti akan apa yang tengah difikirkan tuannya, Doni melambatkan laju mobil yang dikendarainya agar tuannya itu dapat lebih lama memandangi gedung rumah sakit tersebut.
"Bukankah sebaiknya tuan mampir untuk menemui nona?" Tanyanya kemudian.
"Bunganya sudah kau kirim?" Tanya Lin mengalihkan pertanyaan.
"Sudah tuan, sesuai yang tuan perintahkan." Jawab Doni.
"Bukankah saudaramu akan segera kembali dari Philiphine ?" Tanya Lin lagi.
"Tiga hari lagi keberangkatannya, tuan." Jawab Doni.
Didalam kamarnya yang luas, Lin Fengyin merebahkan tubuhnya disofa panjang ditepi jendela sembari memandangi sebuah kartu ditangannya yang ternyata adalah sebuah kartu tanda penduduk milik Putri yang disimpannya.
Cukup lama ia memandangi kartu tersebut, kemudian ia masukkan kembali kedalam sebuah tas kecil berwarma hitam lalu memasukkannya lagi kesebuah laci.
Keesokan harinya, ditemani seorang suster Putri berjalan-jalan dilorong-lorong rumah sakit. Karena tidak mengerti bahasa mandarin, dia berusaha bertanya tentang dirinya kepada suster itu dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang kacau
"Suster.."
"Yes, miss?"
"Do you know who i am?" Tanyanya.
"Pardon me?"
"Ah.. Do you know who i am ? I mean, my name." Kata Putri.
"I'm so sorry miss, we don't know." Jawab suster itu.
"We? Not you? I mean this hospital doesn't know?" Tanya Putri kaget.
"Yes, miss." Jawab suster itu.
"Ya ampun, bisa-bisanya rumah sakit sebesar ini bisa menerima pasien tanpa identitas. Apa-apaan ini. Mereka lagi ngelawak ya?" Omel Putri kesal.
Mereka berjalan sampai ketaman. Putri memilih duduk dikursi dibawah pepohonan yang rindang sembari memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
"How can i'm here?" Tanya Putri lagi.
"When you brought here, you were already in coma." Jawab suster itu yang dengan setia menemani Putri.
"Aduh, artinya apaan ya, kurang ngerti deh. Intinya aku koma, kan ya?" Gumam Putri garuk-garuk kepala.
"So, when i come here?" Tanyanya lagi.
"That was one years ago." Jawab suster itu.
"What?!" Pekiknya tak percaya. "Gila! Setahun lo aku disini. Separah itu y aku, sampe koma selama setahun? Aku pasti amnesia gara-gara kecelakaan nih." Gumamnya sambil menggigiti kuku jarinya.
"Em.. Suster.." Panggilnya.
"I'm here miss." Jawab suster.
"Where is here?" Tanyanya ragu. "Aduh, dia ngerti yang aku maksud nggak ya?" Batinnya.
"Pardon me?" Tanya Suster itu karena Putri bertanya dengan sangat lirih.
"I mean.. What the country is this?" Tanya Putri menegaskan.
"Oh, this is China, miss." Jawab suster itu sambil tersenyum lebar.
"China? Pantesan aku nggak ngerti sama bahasa mereka. Nggak ada translatenya sih." Gumamnya.
Tingkahnya yang seperti berbicara sendiri itu tentu membuat suster yang sedari tadi menemaninya melihatnya dengan bingung dan penasaran.
Mereka akhirnya kembali kekamar rawat karena sudah saatnya untuk makan siang. Saat mereka sampai dikamar, makanan sudah tersedia diatas meja menanti untuk disantap.
"Haaaahhhh... Makanan ini lagi. Lidahku belum terbiasa dengan makanan orang Cina. Rasanya aneh banget." Keluhnya begitu melihat menu makan siangnya.
"Suster!" Panggilnya.
"Ya?"
"I don't like this food. I won't ate it." Protesnya.
"Mrs. Lin, Don't be like that. You have to eat it. If you not.. I would get the trouble." Jawab suster itu memelas.
"I want to eat a fried chiken." Kata Putri lagi.
"But.."
"No but but! Kalau nggak mau kasih aku ayam goreng ya sudah. I will not eat anything anymore! Biarin aja kamu kena masalah. Aku nggak peduli!" Jawab Putri ngambek.
"O.. Oke, fried chiken will be prepared soon." Jawab suster itu panik.
Suster itu pun segera pergi untuk menyiapkan apa yang diminta Putri untuk makan siangnya.
Beberapa menit kemudian suster itu datang dengan membawa satu paket ayam goreng yang langsung tercium wanginya begitu suster itu membuka pintu. Warnanya yang keemasan, teksturnya yang garing terlihat sangat renyah, asap yang masih mengepul diatasnya mengantarkan wangi khas ayam goreng memasuki kedua lubang hidung Putri yang mengendus-endus rakus dengan air liur yang hampir menetes dari ujung bibirnya seakan tak sabar ingin melahapnya.
Dengan lahap Putri menyantap makan siangnya dengan sekepal nasi pulen yang juga masih hangat. Seperti orang yang kelaparan, Putri menghabiskan ayam-ayam itu degan cepat, sampai-sampai suster yang masih menemani Putri makan harus menelan ludahnya sendiri karena melihat Putri makan dengan sangat lahapnya.
Ditempat lain diarea kedatangan sebuah bandara internasional, seorang pria dengan tampilan casual berjalan santai menarik koper kecilnya dengan kacamata hitam yang tersemat ditelinganya.
"Haiih,, baru juga sampai dikampung halaman sudah dapat tugas baru. Sama sekali tidak memberiku waktu libur. Dua, tidak. Satu hari saja pun tidak. Bahkan tim penjemputpun tidak ada." Celotehnya sambil berjalan meninggalkan area itu. Setelah sampai diluar dia segera memanggil taksi untuk membawanya pergi.
"Antar saya kegedung HL Corp." Perintahnya pada supir taksi itu.
"Baik, tuan." Jawab supir itu.
Supir taksi itupun melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan pria itu.
"Gadis amnesia, harus dijaga dengan baik, dan dipantau diam-diam. Pekerjaan mudah." Gumamnya sambil membaca pesan masuk berupa data informasi tentang tugas yang harus ia kerjakan.
"Indonesia!" Pekiknya terkejut.
"Ada apa tuan?" Tanya supir taksi yang juga kaget mendengar teriakan pria itu.
"Tidak, tidak ada. Mengemudilah dengan benar. Perhatikan jalanmu, paman." Jawab pria itu.
"Ini si harus dijaga dengan sangat baik. Hehehee, menarik. Tapi akan sangat disayangkan jika harus memantaunya dari jauh. Menjaga itu hrus dari dekat, bukan?" Gumamnya sambil menyengir licik
*Siapa ya pria itu?? Kalu mau tau, ikutin terus kelanjutan ceritanya ya... Jangan lupa tinggalkan jejakmu dibawah.. C...u 😘
Oh iya, Author juga mau ngucapin "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H.. Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin".
🙏🙏🙏 Maafin kesalahan Author yang mungkin ada kesan yang menurut sobat reader kurang baik, atau ada kesalahan-kesalahan Author dalam menyampaikan kata ataupun pesan didalam novel Author ini 😣, semoga kedepannya bisa jadi lebih baik lagi. Amiinn*...