Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Liar Pangeran Xavier
Kayana masuk kedalam kamar peristirahatan pangeran xavier. Kamar yang luas dengan jendela dan ada balkon kamarnya. Kayana tidak ke toilet. Dia merasa bosan, dia berdiri sebentar di balkon kamar itu, angin membelai wajahnya membuat dirinya mengantuk.
"Disana kan ada pulu-pulu, yang menemani pangeran xavier, jadi aku tidur dulu sebentar dah, tuh kasur dari tadi sudah memanggil ku." Ucapnya tersenyum tipis. Lalu dia naik ke atas kasur, langsung tertidur pulas.
Di ruangan pangeran xavier.
"Aruna, pergilah. Aku sedang sibuk." Usir pangeran xavier dengan tegas.
Aruna terkejut, biasanya pangeran xavier ditemani nya makan siang. "Pangeran, biasanya jika makan siang aku selalu menemani mu, memangnya anda tidak ingin ditemani?" Tanyanya dengan nada lembut dan wajahnya di buat sedih.
Pangeran xavier menatapnya tajam. "Aku sedang sibuk, pergilah. Jangan sampai aku memperlakukan kamu kasar." Jawabnya dengan nada dingin.
Deg..
"Baiklah pangeran xavier, aku pergi dulu." Jawabnya dengan nada terlihat kecewa. dia berjalan pelan-pelan, karena yakin pangeran xavier akan memanggilnya. Tetapi dugaannya salah. Pangeran xavier tidak memperdulikannya.
Pangeran xavier sedang memikirkan kayana, yang tidak kembali dari kamar mandi. Akhirnya dia bangkit dari kursinya, ingin tahu apa yang terjadi padanya. Dia melangkah dan masuk kedalam kamarnya.
Deg..
Dia melihat kayana yang tertidur pulas sekali. Dia berjalan mendekatinya. Dia mengelus pipi kayana lembut. "Walaupun menyamar menjadi pria, kecantikan mu tidak hilang." bisiknya pelan. Dia mengelus pipi kayana dengan lembut, dari elusan turun ke bibir kayana. "Aku rasanya tidak tahan untuk menghisapnya dan aku juga ingin mengetahui penyamaran mu." Bisiknya pelan, dia tersenyum menyeringai.
Dia berdiri dan berjalan ke sebuah lemari. Dia mengambil sebuah botol kecil. Dia menyemprotkan parfum itu di wajah kayana. "Tidurlah sayang, hingga satu jam. Aku ingin mencicipi tubuh mu." Desisnya pelan namun penuh penekanan.
Pangeran xavier membuka rambut palsu kayana, membuat rambut silver kayana tergerai. "Cantik, selalu cantik." Desisnya pelan namun terasa mengancam. "Dari masih kecil aku telah mencintai mu, sampai dewasa pun aku mencintai mu, hanya karena kecelakaan itu aku sempat melupakan kamu, hanya suaramu dan matamu yang biru yang aku selalu ingat." Bisiknya sangat pelan.
Pangeran xavier mengelus bibir kayana lembut. "Bibir ini milikku." Bisiknya kembali, lalu dia mencium bibir kayana, menciumnya dengan hasrat memburu.
Sedangkan di mansion mewah.
Aruna masuk kedalam kamarnya dengan kemarahannya. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak di hatinya. Tangannya menyambar jam weker di samping tempat tidur dan membantingnya ke lantai. Belum puas dia mengambil bantal dan menarik selimutnya hingga kasurnya berantakan. Bantalnya di lempar sembarang arah.
"Pangeran xavier, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Kenapa kamu berbeda, aku akan mencari tahu semuanya. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu." ucapnya dengan nada intonasi tinggi.
Dia melihat dirinya di cermin amarahnya belum mereda. Dia menyapu bersih barang-barang yang berada di atas meja rias, seketika membuat barang itu berjatuhan.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
"Aruna, kamu kenapa?" Tanya sang maminya.
Aruna langsung memeluk maminya. "Pangeran xavier, tiba-tiba seperti tidak peduli dengan ku mami." jawabnya dengan air mata yang mengalir.
Mami aruna yang bernama Maria langsung memeluk anaknya. "Kamu tenang saja, pangeran xavier tidak akan pernah bisa jauh dari kamu, Aruna. Buktinya, dia selama ini selalu ada untukmu mu." Jawabnya dengan nada santai.
Aruna langsung menatap maminya. "Itu karena pangeran xavier menyangka aku kekasih kecilnya mami, jika dia tahu dan Ingat, pasti aku kan di buang mami, tetapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi mami. Pangeran xavier milikku." Jawabnya dengan nada kesal.
Mami maria tersenyum menyeringai. "Benar, dia milik mu aruna, jangan kamu lepaskan tambang emas itu. Pangeran xavier memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar. Kamu bagaikan seorang permaisuri jika menikah dengannya. Karena apapun keinginan mu akan tersedia." Sambungnya dengan senyuman mengembangnya. "Tetapi sebelum itu, kamu harus menyingkirkan kayana, tunangan dari pangeran xavier. Kamu itu anak mami. darah mami mengalir dalam dirimu, kamu pasti bisa." Lanjutnya kembali menatap aruna intens.
Sedangkan di perusahaan pangeran xavier. kayana mulai terbangun. Dia menatap sekelilingnya. Dia menatap jam sudah pukul satu siang. "Ya ampun, aku tertidur sampai satu jam lebih. Pangeran xavier marah tidak ya? sss, bibir ku kenapa bengkak dan perih seperti ini? Terasa kebas." Gumamnya memegang bibirnya. Dia langsung bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi.
Deg..
"Bibirku bengkak, dan leherku kenapa merah-merah seperti ini, mana sampai ke dada. Ini seperti cupang, tetapi aku tidur sendiri. Di sini juga tidak ada orang lain selain pangeran xavier. Sepertinya tidak mungkin dia. Apa aku alergi makanan? Atau jangan-jangan ada binatang di kamar pangeran xavier. Ini memang seperti cupang bukan ya? hehehe aku belum pernah pacaran, jadi tidak tahu, lagi kalau cupang tidak mungkin, berarti pangeran xavier tahu dong." Gumamnya panjang lebar.
Dia keluar dari kamar mandi. Dia duduk di tepi kasur lagi. "Sepertinya bukan cupang, masalahnya hampir ke bagian squishy ku. Tetapi karena ada baju penutup dada jadi tidak kena. Aku yakin bukan. Sudahlah, kalau di tanya olehnya aku bilang saja alergi." Gumamnya pelan dia bangkit keluar dari kamar peristirahatan pangeran xavier.
Pangeran xavier masih sibuk dengan pekerjaannya.
Kayana keluar dari kamar, pangeran xavier terlihat biasa saja, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. "Sudah puas tidurnya noah, hmm?" Tanyanya dengan menatap noah tajam.
Noah tersenyum tipis. "Maaf pangeran xavier, tadi tuh kasur memanggil-manggil aku ngajakin kenalan. lalu aku kenalan, eh tau-tau aku tertidur pulas." Jawabnya tersenyum tipis namun gugup.
Pangeran xavier menahan tawanya mendengar ucapan kayana yang benar-benar di luar nurul. "Ayo kita makan." Ajak pangeran xavier mendekati kayana.
"Makan?" Tanyanya dengan wajah berbinar-binar.
"Hmm."
Pangeran xavier dan kayana duduk di sofa, di atas meja yang berada di depannya terdapat berbagai macam makanan kesukaannya. "Waw, mantap." Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
"Makanlah." perintah pangeran xavier.
Pangeran xavier menatap tanda merah di leher kayana, dia tersenyum penuh kemenangan. Itu baru sedikit sayang aku berikan merah. Kalau kamu nakal mungkin sekujur tubuh mu, aku berikan tanda merah itu, tanda kamu milik ku." Batinnya berbisik penuh kemenangan.
Kayana makan dengan lahap pangeran xavier terus memandang kayana tanpa berkedip. "Sayang, aku tahu kenapa kamu menyamar, sekarang ada aku, aku akan melindungi mu." Batinnya berbisik tajam.
"Noah, mulai besok aku ingin kamu tinggal di istana dan menjadi asisten pribadi ku juga." Ucapnya deh nada santainya, namun penuh perintah mutlak.
Deg..
"Pangeran, masa kerja ku sudah mau habis, aku tidak ingin meneruskan pekerjaan ini." Jawabnya dengan nada santainya.
Pangeran xavier menatap tajam kayana. "Aku tidak perduli, aku perintahkan kamu menjadi asisten ku dan tinggal di istana." Jawabnya mutlak.
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪