**Buat pecinta novel romantis, belum lengkap rasanya kalau belum membaca novel yang satu ini.**
Rianty adalah kembang desa di kampungnya. Oleh karena suatu hal, Rianty harus meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota.
Dia dibantu pamannya untuk berangkat ke kota, tapi tidak disangka pamannya juga mempunyai niat yang tidak baik.
Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, itulah perumpamaan yang cocok untuk Rianty.
Rianty akhirnya harus kehilangan kesuciannya yang sudah dijaga selama ini. Pria yang merenggut kesucian Rianty juga tidak pernah mengenal Rianty. Bahkan Rianty akhirnya harus mengandung dan membesarkan anaknya seorang diri.Dalam penderitaan Rianty, untungnya Rianty mempunyai seorang anak genius, yang bertekad akan menemukan ayahnya.
Akankah anak genius ini menjembatani hubungan ayah dan ibunya?
Buat yang penasaran, ayo ikuti lebih lanjut ceritanya
Jangan lupa like, comment dan vote untuk author ya🙏🙏🙏 Semoga terhibur selalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata yang membuat tidak tega
Rianty akhirnya tidak tahan untuk berlagak tidur lagi, kali ini dia harus menyudahinya, perutnya sudah sakit dan tidak tahan lagi karena dari tadi dia menahan untuk buang air kecil.
Sedangkan Gerald dari tadi tetap bertahan di posisinya, dan tidak ada tanda-tanda akan keluar dari kamarnya, padahal mungkin sudah satu jam Rianty mencoba bertahan.
Akhirnya Rianty perlahan bangun dari tempat tidurnya, tapi kepalanya masih terasa sakit, mungkin baru pertama bangun sesudah pingsan.
Dengan kedua tangan bertumpu ke tempat tidur dia duduk sebentar, sebelum berdiri.
"Mengapa kamu bangun? Ada perlu apa? tanya Gerald beranjak bangun dari tempat duduknya, dan menghampiri Rianty.
Rianty yang bingung dan malu untuk mengatakan kalau dia mau ke toilet malah bertanya pada Gerald,
"Tuan Aldo belum pulang?"
"Saya bisa mengurus diri saya sendiri, tuan bisa pulang beristirahat. Saya tidak perlu ditemani, hanya merepotkan tuan", sambung Rianty mengusir halus Gerald.
Gerald malah menjadi kesal mendengar perkataan Rianty.
"Dasar semua wanita cantik pintar bersandiwara!", pikirnya dalam hati teringat Monica yang pintar bersandiwara.
"Memang kamu dari tadi tidur? sampai tidak tahu kalau aku belum pulang dari tadi?", Gerald bertanya balik dan dengan tangannya mengangkat dagu Rianty dan menatap Rianty dengan intens.
Rianty memang dari tadi hanya menunduk tidak berani menatap ke Gerald.
Rianty sejak mengaku sebagai perempuan yang berada di kamar Gerald 7 tahun yang lalu, dia merasa menjadi rendah diri dan malu, apalagi dulu dia melakukan itu hanya demi uang. Apa bedanya dia dengan perempuan pemuas na**u pria, pikirnya menyesali kejadian itu.
"Kenapa nasibku bisa begitu sial, bertemu
kembali dengan orang-orang yang paling ingin kuhindari, saat aku sudah membuang jauh-jauh kejadian yang memalukan itu. Kupikir hidupku sudah tenang!", pikirnya tanpa sadar air matanya mengalir.
Gerald yang melihat air mata Rianty menjadi tertegun dan kaget, dia tidak menyangka kalau Rianty akan menangis.
Entah mengapa setiap melihat wajah Rianty yang masih muda dan polos itu, hatinya menjadi tidak tega, padahal tadi dia sedang marah karena berpikir Rianty pintar bermain sandiwara dengan wajah polosnya itu.
"Mengapa kamu menangis?", tanya Gerald akhirnya, menghapus air mata Rianty dengan jari tangannya yang entah kapan kedua telapak tangan Gerald sudah berada di pipi Rianty.
Rianty kaget mendapat perlakuan Gerald yang tiba-tiba berubah menjadi lembut. Rianty segera memundurkan wajahnya menghindari tangan Gerald, dengan punggung tangannya, dia menghapus air matanya sendiri.
"Huh kenapa aku mudah sekali terbawa suasana dan mengeluarkan air mata, sungguh memalukan", sesal Rianty dalam hati.
"Kepalaku masih sakit, aku memang tidak tahan sakit jadi menangis", ujar Rianty akhirnya memberikan alasan.
"Kalau masih sakit kamu tidur saja, buat apa bangun?", tanya Gerald.
"Aku ingin ke toilet", jawab Rianty akhirnya, dengan pipi merona karena malu.
"Ayo aku bantu!", sahut Gerald.
Rianty belum sempat menolak, Gerald sudah membungkuk dan memeluk pinggangnya membantunya berdiri.
Rianty yang salah tingkah, segera bangun dari duduknya.
Saat itulah terdengar pintu diketuk, dan Gerald memerintahkan masuk tanpa melepas pelukannya pada Rianty.
Ketika melihat orang yang datang, bertambah merona pipi Rianty.
Ayu dan Dita yang masuk sempat tercengang juga melihat bos mereka yang sedang berada di pelukan si Sultan. Untungnya Dita lebih cepat menguasai keadaan, segera menyenggol Ayu dan berjalan mendekati Rianty.
"Ibu sudah tidak apa-apa kan? tidak parah
kan?", tanya Dita.
"Ibu sudah lebih baik, bisa bantu memapah ibu ke toilet tidak?", tanya Rianty secara tidak langsung ingin memberitahu ke dua pegawainya kalau Gerald hanya membantunya saja.
"Bisa Bu. Pak biar saya saja yang bantu Bu Rianty ke toilet", ujar Dita menghampiri
Rianty dan Gerald. Akhirnya Gerald melepaskan pelukannya pada Rianty.
Rianty bersyukur mempunyai karyawan seperti Dita yang cekatan, Dita memang lebih cepat refleksnya, dibandingkan dengan Ayu yang lebih jago gosip.
********
Sekretaris Kim yang menemukan kemiripan antara foto Gerald waktu kecil dengan Aldi, akhirnya memutuskan untuk mulai menyelidiki Aldi.
Untungnya saja hubungannya dengan Aldi sudah lebih membaik
"Papamu di mana? Kenapa mamimu kecelakaan tidak ada yang memberitahu pada papamu?" tanya sekretaris Kim penasaran.
"Saya sejak kecil tidak pernah bertemu papa saya, juga tidak pernah melihat foto papa saya. Setiap saya bertanya pada mami, mami tidak pernah mau menjawab. Kalau saya tanya terus, mami pasti keluarin senjatanya yang membuat Aldi tidak bisa bertanya lagi", cerita Aldi.
"Hebat banget, memang senjata apa itu?", tanya sekretaris Kim penasaran dengan cerita Aldi yang menggantung, membuatnya menjadi penasaran.
"Mami pasti menangis kalau ditanya terus, kalau senjatanya sudah keluar, Al jadi gak tega nanya lagi akhirnya", sahut Aldi.
"Hanya gara-gara itu kamu sudah gak tanya lagi?", tanya sekretaris Kim tidak percaya.
"Om Kim belum lihat kalau mamiku mengeluarkan air mata, om Kim pasti gak akan tega juga", sahut Aldi dengan yakin.
Karena sekretaris Kim sedang ingin mengorek cerita dari Aldi, dia hanya mengiyakan dan mengangguk saja sekedar menyenangkan hati Aldi.
"Huh belum tahu kalau ketemu si Raja tega, tuan Gerald, nangis darah pun gak efek", pikir sekretaris Kim dalam hati.
sekretaris Kim langsung teringat perkataan tuannya itu " Kim kamu jangan pernah percaya dengan air mata seorang wanita, kadang itu hanya sandiwara. Semakin cantik semakin berbahaya, semakin pintar bersandiwara".
Entah mendapat pengalaman dari mana Gerald berkata begitu.
Tentu saja sekretaris Kim tidak pernah menyangka kalau si Raja tega hari ini sudah terpengaruh oleh air mata seorang wanita, dan wanita itu adalah wanita yang sama, yaitu maminya Aldi, Rianty.
********
"Kak Devan, tumben telpon malam-malam. Ada apa kak Devan?", tanya Monica menguap dan sudah berbaring di kasur kelelahan, karena seharian ini dia pergi dengan Patrick. Tentu saja disertai acara untuk menghangatkan ranjangnya.
"Gerald sudah pulang belum?", tanya Devan penasaran karena mulai curiga dengan kelakuan Gerald tadi.
"Sudah pulang kak, kenapa?", jawab Monica. Monica sebelum ke kamar tadi sempat bertanya pada asisten rumah tangga nya, apakah di kamar Gerald ada orang, mereka berkata ada, jadi Monica mengira Gerald sudah pulang, dia tidak menyangka kalau yang berada di kamar Gerald adalah sekretaris Kim dan Aldi.
"Ya udah cuman tanya saja, soalnya tadi dia mengantar Rianty ke rumah sakit. Waktu aku pulang, dia belum pulang. Aku hanya merasa aneh saja dengan sikap Gerald yang biasanya tidak pernah perduli . Kalau membawa ke rumah sakit mungkin saja karena Angel yang memohon, tapi mengapa dia bisa punya waktu menjaga Rianty.
Hubungan kamu sama Gerald baik-baik saja kan?", tanya Devan memastikan.
"Baik-baik saja kak", sahut Monica mengakhiri panggilan telpon Devan
Tapi tentu saja setelah itu perasaan Monica menjadi tidak tenang, bahkan rasa capeknya sudah hilang, yang ada malah rasa khawatir.
"Ah, gadis kampung ini memang membuat masalah saja. Apa yang harus kulakukan padanya biar hidupku bisa tenang?"
Bersambung........
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.