"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
"Terimakasih atas bantuannya dokter." Siti menatap Icha dengan penuh haru.
"Tidak masalah sama sekali." Icha tersenyum kecil pada Siti.
"Yang penting Galaxy sudah jauh lebih baik." Icha menoleh pada Galaxy yang sedang menikmati potongan buah, yang diberikan mamanya.
Icha mengunjungi ruang rawat Galaxy. Bocah lelaki berusia 8 tahun itu sudah jauh lebih baik. Ia tersenyum mendapati kunjungan Icha.
Dokter yang menjadi idolanya, saat ia sadar dan menemukan Icha menemani mamanya. Dokter cantik yang seperti malaikat penolong baginya.
"Begitu Galaxy keluar dari rumah sakit. Aku akan langsung membawa kalian ke kediaman kami. Dan kamu bisa langsung bekerja nanti." Icha menyampaikan.
Siti menangis mendengar ucapan Icha. Sangat jarang ada orang yang memberikan bantuan seperti ini. Bisa bekerja sekaligus menjaga sang anak. Itu adalah hal yang sangat di syukurinya.
"Mama?" Galaxy berhenti mengunyah saat melihat mamanya menangis. Sorot cemas terlihat jelas di wajahnya.
"Tidak apa - apa nak. Mama hanya merasa senang karena buk Dokter." Siti tersenyum menenangkan sang anak.
"Mama akan bekerja di rumah bu Dokter. Dan mama tidak akan meninggalkanmu lagi untuk bekerja." Siti memberitahu dengan senyuman.
Ia mengusap air matanya dengan cepat. Tidak ingin Galaxy mencemaskannya.
"Benarkah?" Tatapan Galaxy langsung berbinar. Ia menatap mamanya dan juga Icha bergantian.
"Nanti di sana kalian di berikan tempat tinggal. Jadi Galaxy juga bisa melihat mama saat bekerja. Bagaimana menurutmu?" Icha meminta pendapat Galaxy.
"Jika tante dokter yang menawarkan. Gala tentu setuju mama." Galaxy berseru dengan antusias.
Icha dan Siti terkekeh melihat semangat Galaxy. Kondisinya terlihat jauh lebih sehat sekarang.
"Maka cepatlah sembuh. Dan kalian akan selalu bersama. Galaxy juga tidak akan sendirian saat mamanya bekerja." Icha tersenyum dan menyemangati anak itu sekali lagi.
"Tentu saja tante Dokter." Galaxy mengangguk semangat.
"Bagus. Nanti kita juga akan melihat sekolah baru untuk Galaxy." Icha juga menyampaikan.
Wajah Galaxy menjadi berbinar mendengar kata sekolah. Ia menatap mamanya bergantian.
"Bilang apa sama tante dokter sayang?" Siti tersenyum.
"Terimakasih tante Dokter." Galaxy semakin antusias saat bersuara.
"Tapi ingat. Sekolahnya harus benar. Dan tidak boleh nakal." Icha meminta janji Galaxy.
"Pasti tante." Galaxy mengangguk sekali lagi.
Icha keluar dari ruang rawat Galaxy. Melanjutkan kembali tugasnya berkeliling.
Ia sengaja singgah di ruangan Galaxy. Untuk memberitahukan Siti bahwa anaknya akan segera sembuh. Dan mereka juga akan segera keluar dari rumah sakit.
Bekeliling hampir selama dua jam. Karena banyaknya ruangan yang harus ia kunjungi.
Tapi ia sangat senang dengan pekerjaannya. Bisa melihat orang - yang sudah terobati dan keadaannya jauh lebih baik. Icha tersenyum menyelesaikan pekerjaannya hari itu.
Sore ini ia akan pulang lebih cepat. Ia ingin istirahat lebih awal. Dan sepertinya menonton drachin sebelum tidur, adalah ide yang baik.
"Langsung pulang dokter?"
Perawat yang menyertai Icha, yang juga sekaligus menjadi asistennya bertanya.
"Iya Rere. Semua sudah selesai bukan?" Icha balik bertanya.
"Sudah dok." Rère menjawab.
"Baguslah. Aku ingin nonton drachin malam ini. Ada drama terbaru yangyang." Icha berkedip dengan sedikit antusias berlebih pada Rere.
"Benarkah dok? Kalau begitu aku juga akan pulang dan menonton drama terbaru dari my lovely yangyang." Rere merespon dengan antusias tang lebih besar.
Ya!
Icha dan Rere adalah penggemar berat drachin. Terlebih jika itu di bintangi oleh aktor favorite mereka. Yangyang.
Icha senang memiliki kesamaan dengan Rere. Keduanya tidak akan habis bahan pembicaraan, jika mereka telah bekerja.
"Jangan terlalu berlebih. Nanti perawat lain cemburu." Icha mengedipkan sebelah matanya.
Ia tahu jika Rere tidak suka, jika ada teman perawatnya yang lebih heboh suka pada aktor tersebut. Rere akan merasa tersaingi oleh mereka.
"Kalau begitu saya permisi dokter."
Rere pamit pada Icha, begitu mereka tiba di depan ruangan Icha. Ia akan langsung berkemas pulang.
Icha tersenyum melihat kepergian Rere. Ia meraih handle pintu dan mendorongnya. Memasuki ruangannya, ia melangkah masuk semakin dalam.
Keningnya berkerut melihat sekeliling ruangannya. Ada yang lain di ruangannya. Ia bisa merasakan itu. Meski terlihat tidak ada orang. Tapi ia tetap merasakan sesuatu.
Icha melangkah ragu menuju ruangan pribadinya. Ia yakin ada seseorang di sana. Dan yang membuatnya ragu. Kenapa orang itu bisa memasuki ruangannya begitu saja.
Sayang sekali, ia tidak menemukan seseorang di depan ruangannya tadi. Rere juga ikut keliling dengannya. Jadi tidak ada orang yag bisa ia tanya.
Tangannya terulur dan menarik handle pintu itu. Ya. Ruangannya yang semula hanya di batasi oleh gordyn tebal. Telah di tutup dengan sebuah dinding.
Ia jadi memiliki kamar pribadi di ruangannya. Dan itu semua atas perintah Arnold pada Rafael.
'Klek!'
Icha membuka pintu. Melihat sekeliling. Tempat tidurnya bahkan bukan ukuran single lagi. King size jumbo ada di sana, lengkap dengan keperluan yang lain.
Sebuah TV jumbo menempel di dinding dan menghadap langsung ke ranjang. Juga sebuah sofa santai untuk Icha istirahat di sana.
Pandangan Icha terhenti pada seseorang, yang berdiri di pembatas ruangan pribadinya dengan taman rumah sakit. Pembatas kaca tinggi dengan gordyn yang di sibakkan sedikit.
Bentuk tubuh itu familiar di matanya. Bahunya yang tegap dengan tinggi tubuh, jauh di atas rata - rata orang Indonesia.
Lelaki itu membelakangi pintu masuk, dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam kantong celananya.
"Kak Ar?!"
Icha bergumam pelan dan perlahan memasuki kamar pribadinya. Ia menutup pintu dengan pelan.
Ia seharusnya tahu. Siapa lagi yang punya akses langsung dengan kamar pribadinya? Jelas itu hanya Arnold.
Kamarnya jelas ia kunci. Dan pemilik kuncinya hanya ia dan juga lelaki ini.
Lelaki itu berpaling dari pandangannya. Ia berbalik dan menatap Icha yang berdiri di balik pintu.
Setelah dua bulan lamanya. Mereka berdua tidak bertemu. Dan ini pertama kalinya mereka kembali bertemu.
Bahkan setelah pemblokiran nomor ponsel. Icha bisa melihat perubahan lelaki itu dalam dua bulan. Ia terlihat semakin dewasa.
Rasa kesalnya kembali, mengingat lelaki itu tidak mau menghubunginya atau mengangkat panggilan darinya. Jauh sebelum ia memblokir nomor lelaki itu.
Dan sekarang lelaki itu ada di sini. Bertemu dengannya, seolah tidak pernah terjadi apapun dengan mereka. Bukankah itu keterlaluan?
Ia bahkan tidak tahu jika lelaki ini telah kembali. Tidak ada pemberitahuan padanya. Baik para sepupu, para paman dan tantenya. Terlebih dari mertuanya.
Icha meletakkan jas putihnya di sofa begitu saja. Menatap lelaki itu dengan rasa kesal dan malas yang tidak ia sembunyikan. Tidak peduli akan respon lelaki itu.
"Ada apa datang kemari?!" Icha akhirnya bertanya. Meski pertanyaan itu terkesan tidak peduli.
Ia melihat alis Arnold terangkat, saat mendengar nada bicara dan pertanyaan yang ia lontarkan.
Namun Icha terkesiap saat Arnold melangkah dengan pasti. Tanpa menjawab apapun.
Hanya sorot wajah dan hawa tubuhnya yang terasa sangat penuh ancaman. Icha seketika waspada.
Arnold sepertinya sedang marah. Lelaki itu marah padanya! Itu jelas sekali.
"Aakkhhtt!"
......................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik