Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Emosi ?/ Cemburu?
"Tuan... Sudah sampai," Ucap Mark sambil membungkuk dan membukakan pintu mobil untuk Xavier.
Blammm
Bintang yang baru saja keluar dari mobil langsung terkejut, dan dengan mulut yang terbuka Bintang menatap punggung Xavier yang menghilang dibalik pintu.
"Kak Mark... Ada apa dengan Tuan muda? Dia tampak sangat aneh?" Tanya Bintang dengan dahi yang berkerut.
"Tidak ada Nona, jangan difikirkan," Sahut Mark dan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Bintang yang masih mematung.
Mark yang melihat Tuan mudanya itu tampak langsung tersenyum geli, tapi tak lama kemudian Mark langsung melipat bibirnya, karena melihat Bintang yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang heran.
"Kak... Baru pulang?" Tanya Axel saat melihat Xavier yang baru saja masuk.
Tapi, Xavier sama sekali tidak merespon sapaannya, bahkan memperlakukan dirinya bak udara yang tidak terlihat.
"Bintang...! Ada apa dengan Kak Xavier? Apa kau berbuat salah?" Axel langsung menghadang Bintang dengan gayanya bak seorang detektif swasta yang sedang menyelidiki satu kasus misteri.
"Tidak... Bintang tidak berbuat apapun, apa Kak Axel yakin jika Tuan muda Xavier sedang marah?" Ucap Bintang sambil menghentikan langkahnya dan balik bertanya.
"Yakin...! Aku ini hidup bersama Kak Xavier sudah bertahun-tahun, jadi aku sangat hapal betul bagaimana ekspresi wajahnya saat Kak Xavier sedang marah." Sahut Axel meyakinkan.
"Benarkah?" Tanya Bintang takut-takut sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
" Tapi... Bintang tidak berbuat kesalahan apapun, tadi baik-baik saja," Ucap Bintang berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Mengapa Tuan muda Xavier langsung masuk keruang kerjanya? Apa Dia akan melewatkan makan malam?" Tanya Bintang lagi setelah menyerah mengingat kesalahnya.
"Biasanya jika Kakak sedang emosi begitu, Dia pasti akan melewatkan makan malam, padahal Kak Xavier mempunyai masalah dengan lambungnya." Sahut Axel sambil menghela nafas berat.
"Biar Bintang akan membawakan makan malam Tuan muda keruang kerjanya..." Lalu Bintang segera bergegas berlari ke kamarnya untuk berganti baju dan memasakan makan malam untuk Xavier.
#####
"Akh... Apa yang telah aku lakukan?" Monolog Xavier sambil menatap berkas dan beberapa file yang ada diatas meja kerjanya.
"Mengapa aku menjadi emosi?"
"Ada apa dengan ku? Mengapa saat aku melihat Dia terlihat akrab dengan pria lain hatiku terasa panas? Bukankah sebelumnya aku membencinya? Atau benarkah aku membencinya?" Lanjutnya lagi sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan menggunakan jarinya.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan muda... Ini Bintang, apakah Bintang boleh masuk?" Terdengar suara ketukan dari arah pintu membuat Xavier terkejut seketika hingga membuat lamunannya buyar.
"Masuk," Ucap Xavier dan tanpa Dia sadari tangannya langsung bergerak merapihkan rambutnya yang tampak berantakan karena beberapa kali Dia acak-acak kesal, lalu sedikit merapihkan jasnya.
"Tuan muda... Apa Anda sedang marah?" Tanya Bintang ragu-ragu dengan tangan yang mengencangkan pegangan di nampan yang berisi semangkuk bubur khusus dan segelas air putih untuk Xavier.
Xavier hanya menatap Bintang dalam-dalam, seolah sedang mencari sesuatu. Lalu dahinya tampak berkerut karena Bintang hanya berdiri didepan meja kerjanya dengan kepala yang menunduk.
"Tuan muda... Em... Em... Apa... Apakah Bintang telah berbuat salah?" Lanjut Bintang pelan tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Jika aku marah apakah kau akan membujukku?" Tanya Xavier tanpa sadar apa yang telah Dia ucapkan.
"Hah..." Bintang tampak terkejut sesaat lalu tersenyum tulus dan meletakan nampan yang dia bawa diatas meja kerjanya.
"Ini bubur dengan tambahan beberapa sayuran herbal yang bisa menghangatkan serta meringankan sakit perut Anda, em juga mengandung vitamin," Ucap Bintang.
"Ini sebagai permintaan maaf sekaligus tanda terima kasih dari Bintang, karena... Karena sudah membuat Tuan muda marah dan juga sudah menyempatkan diri menjemput Bintang pulang sekolah," Lanjutnya lagi sambil mendorong nampan itu agar lebih dekat pada Xavier.
"Em... Walau Anda sedang emosi... Anda jangan sampai melewatkan makan malam, itu... Itu tidak baik untuk lambung Anda yang... Yang sudah bermasalah..." Lanjutnya lagi karena melirik Xavier yang masih tampak menatapnya dengan dahi yang berkerut dan salah satu ujung alis yang terangkat.
"Em... Apa... Apakah Anda membutuhkan bantuan dari Bintang?" Tanya Bintang mulai kebingungan karena melihat Xavier yang tampak belum mengizinkan dirinya keluar dari ruang kerja itu.
Xavier tanpa sadar mengangkat kedua tangannya yang tampak memegang berkas dan pena.
Dan itu membuat Bintang terdiam beberapa saat, lalu tak lama kemudian Bintang tersenyum kembali dan kembali meraih nampan yang telah Dia letakkan diatas meja, dan membawanya mendekati Xavier dengan memutari meja.
Setelah itu Bintang kembali meletakkan nampan dan mengambil mangkuk berisi bubur, lalu dengan bibir yang menyunggingkan senyum Bintang menyodorkan sendok yang berisi bubur kedepan bibir Xavier.
Xavier yang bagai terhipnotis, matanya mengikuti Bintang sedari awal Bintang memutari meja hingga berdiri tepat disamping kursi kerjanya.
Bintang menggerakkan sendok yang berisi bubur itu, bertanda Xavier untuk membuka mulutnya, dan bagai terhipnotis Xavier mulai membuka mulutnya tanpa suara dan tatapan yang tidak beralih dari wajah Bintang.
"Apakah enak?" Tanya Bintang takut-takut, dan Xavier hanya menganggukkan kepalanya tanpa menolak suapan bubur dari tangan Bintang.
"Akh... Syukurlah, Anda tahu... Bubur ini buatan tangan Bintang sendiri," Ucap Bintang lembut dengan tangan yang terus bergerak menyuapi Xavier setelah ditiupnya terlebih dahulu.
"Anda tahu, saat Kak Axel memberi tahu Bintang jika Anda mempunyai permasalahan dengan lambung, Bintang jadi khawatir tentang kesehatan Anda, jadi, Bintang sengaja membuat bubur ini khusus untuk Anda." Lanjut Bintang lagi terus berbicara dengan tersenyum manis hingga menampakan lesung pipi kecil yang berada sudut bibirnya, dan sorot mata bulatnya yang tampak berbinar.
Xavier yang melihat ekspresi wajah Bintang saat berbicara tidak dapat menahan tangannya yang tampak bergerak sendiri, dan tanpa disadari nya tangannya sudah menempel di pipi cabi Bintang bahkan sudah bergerak mencubit pipi cabi itu dengan lembut.
Bintang yang sedang berbicara langsung terdiam, dengan mata yang melotot dan berkedip-kedip lucu, begitu juga dengan Xavier, ekspresi terkejut tampak terlihat jelas diraut wajahnya, bahkan mata Xavier juga tampak melotot melihat tangannya sudah menempel di pipi cabi Bintang,
sendok yang sedang dipegang Bintang terjatuh, begitu pula dengan pena yang berada ditangan Xavier, jatuh berbarengan menimbulkan suara yang sedikit gaduh.
Kleekkkk