Kharis, seorang gadis di sebuah kota kecil, seorang mahasiswa, hidupnya terlalu fokus dengan studinya sehingga cenderung tidak peduli dengan apa itu cinta, sampai Lewi menjadi tetangganya. Cowok itu mengalihkan dunianya, ia jatuh cinta, sayangnya Lewi yang begitu supel, berteman dengan siapa saja tetapi bersikap berbeda pada Kharis, cenderung tidak peduli. Akankah cinta pertama Kharis menemukan tempat yang seharusnya di hati Lewi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abygail TM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 26. Ironi
Lewi bergerak dengan malas bangun dari tidurnya, hampir setiap malam dia tidak bisa langsung tertidur. Sudah kurang lebih seminggu di sini tapi kamar ini masih terasa asing bagi dia sekalipun itu kamarnya sendiri. Pikirannya juga masih mengembara berusaha memikirkan kemungkinan kelanjutan hubungan dengan Kharis.
Pintu terus diketuk oleh bi Mina salah satu ART yang sudah ada di rumah ini sejak Lewi masih kecil. Dia melihat ke arah jam dinding, sudah jam sembilan. Dia turun dari tempat tidur dan sedikit menyeret langkahnya ke arah pintu.
"Den Andre ditunggu Ibu sarapan..."
"Iya bi Mina, sebentar lagi aku turun." Lewi menutup pintu dan menuju kamar mandi.
Di bawah di ruang makan, di meja makan yang sangat besar untuk 10 orang hanya ada papi yang sedang menikmati sarapan pagi. Salah satu ironi di rumah besar dan mewah ini. Sekarang mereka bertiga lengkap ada si sini, tetapi rumah ini tetap terasa kosong dan sepi.
Lewi duduk si salah satu kursi. Di hadapannya tersedia berbagai macam makanan tetapi seperti biasa dia hanya akan makan potongan buah dan minum segelas susu.
"Pagi pi..."
"An... kenapa baru turun, ditunggu mami tadi..."
"Mami ke mana..."
"Sudah berangkat ke kantor, kamu sih bangun jam segini."
"Papi kapan ke kota M..."
"Besok pagi... An, minggu depan kamu mulai ikut mami, mulailah beradaptasi awalnya akan terasa seperti beban tapi lama-lama bekerja akan menjadi kebutuhanmu."
"Aku ke sini bukan untuk itu, pi..."
"An... seriuslah. Mulailah berpikir untuk masa depan. Pikirkan papi mami yang sudah tidak muda lagi. Papi 2 tahun lagi pensiun, mami sudah cukup lama juga bekerja hampir tidak ada waktu untuk hal-hal lain. Di umur sekarang harusnya kamu sudah settle, sudah punya arah hidup yang jelas."
"Aku tetap pada pendirianku, aku nggak akan kerja di perusahaan, aku nggak suka terikat. Banyak cara untuk hidup, lagi pula aku punya arah untuk hidupku sendiri akan aku buktikan ke papi."
"Andre... jalan untuk masa depan kamu sudah ada, mami sudah kerja keras untuk itu. Banyak hal yang mami korbankan, pikirkan dengan baik jangan berontak melawan orang tua!"
Suara papi naik dan menjadi lebih tegas.
Lewi terdiam. Kalimat papi terakhir menghantam dia. Sejak kecil ajaran itu sudah tertanam dalam hatinya, hormati orang tua dan jangan melawan orang tua. Dia tahu banyak 'pemberontakan' yang sering dia lakukan terutama kepada maminya.
"An... papi harap kamu tidak mengecewakan papi, kepulangan papi sudah tertunda beberapa hari karena kamu. Berhenti menghindari mami."
Papi Peter berdiri dan menuju kamar. Lewi masih terdiam di kursinya belum menyentuh sarapannya.
"Den... sudah selesai? Bibi mau beresin meja ya..."
"Iya, silakan bi... Ocang di mana sekarang bi?"
Lewi menanyakan anak lelaki bi Mina yang jadi teman sepermainannya waktu kecil. Setelah SMA mereka jarang berjumpa karena Lewi memilih ikut papi yang berpindah beberapa kali di daerah. Waktu Lewi kuliah di kota ini Ocang sudah lebih dulu kuliah tapi kos di dekat kampus.
"Ocang tinggal di daerah B, udah kerja di perusahaan Ibu Vero juga yang di sana... katanya dia udah punya jabatan juga supervisor apa gitu bibi ndak ngerti..."
"Wah... hebat dia sekarang..."
Lewi tersenyum mengingat teman kecilnya yang memang pintar, anak yang sering diperalat Lewi untuk mengerjakan semua tugas sekolahnya bahkan yang sering memberikan contekan saat ulangan. Ya Lewi memaksa mami menyekolahkan Ocang di sekolah yang sama dengan Lewi sampai SMA.
"Berkat Ibu den... Ibu yang biayai Ocang sekolah terus kasih Ocang pekerjaan. Syukur Ocang udah bisa nyicil rumah jadi udah nggak pindah-pindah kontrakan... kasihan juga anak istrinya waktu itu pindah terus karena sering kebanjiran."
"Ocang udah nikah? Berapa anaknya?"
"Dua den..." Bibi Mina senyum-senyum sambil membereskan meja.
"Hebat... hebat..."
"Den Andre lebih hebat kok, nanti jadi bos besarnya Ocang..."
Lewi tercenung, percakapan dengan bi Mina tentang Ocang mengulik hatinya. Ocang lebih tua 2 tahun dari Lewi, terlambat sekolah karena tidak ada biaya, masuk SD nanti setelah bi Mina tinggal di rumah ini. Kuliah hanya 4 tahun sementara Lewi hampir 7 tahun, itupun karena terancam DO. Sekarang Ocang sudah punya pekerjaan menikah dan punya dua anak. Lewi merasa tertinggal jauh.
Ocang terbiasa bekerja sejak kecil, sementara Lewi menikmati semua dengan santai, ada bi Mina dan sejumlah ART yang siap melayaninya, bahkan Ocang seperti asisten pribadi Lewi sejak tinggal di sini; membawakan tas sekolah, membuka sepatu, dan lain-lain.
Sebenarnya dibandingkan dengan Ocang hidup Lewi jauh berlipat-lipat lebih beruntung. Tetapi mendengar cerita bi Mina, dibanding Ocang Lewi merasa hidupnya tidak ada apa-apanya. Mungkin hidup terlalu mudah untuknya sehingga motivasi untuk mencapai dan melakukan apapun terlalu rendah.
Lewi naik lagi ke ruang atas menuju kamarnya. Dia mengambil ponsel dan duduk di ujung tempat tidurnya. Melakukan sesuatu yang rutin dia lakukan terakhir ini; mengirim beberapa chat tentang rindu meskipun sampai hari ini semua chat masih bercentang satu. Dia berharap satu saat gadis itu membacanya. Dia juga membuka akunnya mencari sesuatu, nihil. Lewi mengganti pakaiannya dengan jersey biru dan turun menuju ke lapangan basket di halaman samping rumah... ingin mengeluarkan energi negative yang sudah membungkus otaknya sepagi ini.
*****
Revy dan Nivia berdiri bersisian di depan pintu kedatangan sedikit jauh dari kerumunan penjemput. Pengumuman pesawat sudah landing sudah lebih dari setengah jam yang lalu tapi Kharis belum keluar juga. Selang beberapa menit kemudian sosok gadis yang mereka tunggu keluar mendorong troli berisi 1 dus besar dan sebuah koper. Nivia segera mengenali dan melambaikan tangan.
Ragu Kharis mendekat dengan senyum tertahan. Dia tidak menduga kakaknya yang akan menjemput, mama tidak bilang apapun pagi tadi saat dia menelpon sebelum boarding. Tadi dia tidak meminta dijemput karena dia tahu saat tiba di M mama papa masih bekerja.
Revy pun sama canggungnya. Tapi setelah adiknya sampai di dekatnya dan melihat sorot mata adiknya dia langsung memeluk dan mengecup puncak kepala itu.
"Kamu baik Ndut?"
"Iya aku baik-baik aja kak..."
"Perlu aku kenalin ke kakak ipar??" ucap Revy melepas pelukannya sambil senyum. Kharis tertawa lalu beralih memeluk Nivia sejenak.
"Apa kabar Khar... lama nggak lihat kamu..."
"Baik, Niv... nggak nyangka kamu jadi kakak ipar aku, hehehe..."
"Aduuh... Khar, masih lama kayaknya, belum pasti juga..."
"Udah pasti itu, kak Revy punya target nikah umur 26 sebentar lagi... hehehe."
Revy tertawa kemudian menurunkan koper dan dus besar dari troli.
"Tunggu di sini aja, aku ambil mobil. Borong apa Ndut... nggak over baggasi kamu?"
Revy menunjuk dus besar itu setelah itu berjalan menuju parkiran. Kharis tertawa sambil mengamit lengan Nivia. Ada perasaan senang masuk dalam hatinya melihat kakaknya kembali seperti biasa tidak ada lagi aura permusuhan. Pelukan tadi sudah cukup menjadi tanda bahwa pengobanannya tidak sia-sia. Dia juga senang melihat Revy yang hepi dengan pasangan barunya.
Kharis menarik napas dan melepaskan perlahan. Memang harus seperti ini ya... harus seperti ini, mengalir saja ke mana hidup akan membawanya, sejak turun dari pesawat dia optimis bahwa hidupnya pasti lebih baik meskipun tanpa Lewi...
.
🖼🖼🖼
maka kemungkinan M cuma dua, Makassar atau Medan. tp lebih condong k Makassar sih
Sungguh cerita novel yg ringan tdk terlalu berbelit belit aqu suka kak..🤗🤗😘😘😘😘😘😘