Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ribet
"Awas aja kalo ketemu lagi!" Sasa menendang botol kosong yang menghalangi jalannya. Ia sengaja tak langsung pulang dan menghitung kacang ijo di depan mini market supaya sampai rumah bisa tidur santai, tapi si al lelaki yang tak ia ketahui namanya itu mengancurkan semua planning yang sudah disusun. Sasa kira dia cukup betanggung jawab tapi nyatanya dia malah kabur saat dirinya membeli satu bungkus kacang ijo lagi.
"Assalamualaikum, Sasa pulang." ucapnya tak semangat begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam. Kenapa nggak semangat gitu wajah anak mommy? Cape banget kah sekolah hari pertamanya?" tanya Miya. Ia yang semula sedang masak di dapur, mendengar suara putrinya pulang langsung beranjak ke depan.
"Cape lah mom, mana besok juga banyak yang harus disiapin. Sasa udah ngitung kacang ijo tadi tapi semuanya ambyar, kacau." bahkan untuk menceritakan kejadian tadi saja ia malas.
"Kak Dirga udah pulang belum, Mom?" lanjutnya.
"Udah, di kamar dari tadi. Sasa mandi aja dulu terus ajak ka Dirga makan malam."
"Iya, Mom." Sasa berlalu dengan malas ke kamarnya.
Sasa mematut pantulan dirinya di depan cermin, kemudian menertawakan dirinya sendiri. "acak kadul banget."
Selesai mandi ia pergi ke kamar kakaknya yang tepat berada di samping kamarnya. Seperti biasa tanpa mengetuk pintu, gadis itu masuk begitu saja.
Dor... dor... dor...
Suara gedoran dari balik pintu membuat Dirga kian memijit kening.
“Kakak ditunggu mommy di bawah, kita makan bareng.”
“Emang kagak bisa banget dah hidup gue tenang dikit.” Gerutu Dirga di dalam kamar mendengar gedoran pintu plus teriakan adiknya.
“Kakak denger nggak? Apa mau pintunya aku dobrak nih.” Suara cempreng adiknya kembali terdengar dari luar sana.
“Kak...aduhhh!” Sasa jadi terhuyung ke dalam kamar dan hampir jatuh saat Dirga membuka pintu.
“Bilang-bilang kek kalo mau buka pintu. Kalo aku jatuh terus geger otak gimana coba kak?” protes Sasa.
“Ya tinggal dibawa ke dokter aja. Ribet!” jawab Dirga yang keluar dengan kantong kresek putih di tangan kanannya.
“Sekalian ngebenerin otak lo juga, biar nggak bikin kesel terus.” Lanjutnya mencibir.
“Kak Dirga ih kalo ngomong pedes banget dah sama adik sendiri juga.” Sasa mengikuti Dirga dari belakang.
“Eh jangan-jangan dulu mommy pas hamil kakak ngidamnya bon cabe kali yah? Makanya sikap sama kata-kata kakak tuh jleb banget ke hati, sakit.” Cerocosnya penuh dramatisir sambil menyusul Dirga hingga mereka berjalan beriringan. Lelaki yang usianya berbeda 2 tahun dari dirinya itu hanya mengusak rambut Sasa hingga berantakan.
“Ih kebiasaan banget deh. Berantakan nih kak!” gerutu Sasa.
“Nyerocos terus lo tuh kayak Kara tau nggak!”
“Ya kan Sasa calon adik iparnya Kaleng.” Jawab Sasa.
“Eh btw ini kakak bawa apa? Snack yah buat Sasa?” dia hendak meraih kantong kresek di tangan Dirga.
“Bukan buat lo. Udah sana lo makan aja jangan ngintilin gue terus!” Dirga menjauhkan kantong kresek bawaannya dari Sasa.
“Buat siapa emang? Sini liat coba, Sasa cuma mau liat isinya apaan?”
“Anak kecil dilarang kepo. Udah sana makan, kakak mau pergi dulu.” Jawab Dirga sambil mendorong adiknya supaya masuk ke ruang makan.
“Siapa yang mau pergi? Makan dulu baru pergi!” suara mommy Miya membuat kedua anaknya yang sedang ribut seketika diam.
“Tuh kakak yang mau pergi, mom. Kalo Sasa sih mau makan sama mommy.” Gadis kelas 10 itu langsung memeluk mommy Miya dengan manja.
“Aku makannya nanti aja mom, belum lapar.” Ucap Dirga.
“Mau ke depan dulu sebentar, nganterin ini.” Dirga memperlihatkan kantong kresek di tangan kanannya.
“Ke rumah Lengkara?” tebak mommy Miya.
“Hm iya.” Jawab Dirga lirih.
“Kayaknya dia sakit, tadi juga pingsan pas upacara.” Lanjutnya.
“Dan pulangnya masih kamu tinggalin?” sindir mommy Miya.
“Sumpah mom, pulangnya aku nggak ninggalin dia. Kalo pas berangkat tadi sih emang iya aku tinggalin.” Bela Dirga.
“Bohong tuh mom, pasti kakak yang ninggalin.” Sela Sasa seraya menjulurkan lidah penuh ejekan.
“Sasa sayang makan duluan yah, mommy mau nyiapin camilan buat calon mantu yang lagi sakit.” Mommy Miya merangkul Sasa dan memintanya untuk duduk.
“Dirga, kamu juga duduk. Tunggu sebentar mama packing salad buah dulu buat Kara. Kalo datang ke rumah calon mertua tuh jangan tangan kosong.” Dari pada ribut akhirnya Dirga menurut dan menunggu mommy nya selesai.
“Tapi Kaleng kalo kesini tangan kosong mom, nggak bawa apa-apa. Malah sering nebeng sarapan.” Timpal Sasa.
“Ya kan kalo Kara kesini nya sering sayang. Kalo kakak kamu kan jarang mau kesana, ini juga nggak tau kena angin apa tiba-tiba mau main ke rumah Kara.” Jawab mommy Miya.
“Nih kasih ke Kara suapin juga kalo perlu, biar calon mantu mommy seneng.” Mommy Miya meletakan satu kotak salad buah di hadapan Dirga.
“Kayak bayi aja pake disuapin segala.” Gerutu Dirga namun tetap mengambil salad itu dan memasukannya ke dalam kantong kresek.
“Mom kalo gitu bikinin satu lagi dong, Sasa juga mau ikut kakak main ke rumah Kaleng. Tadi Sasa liat Ridwan bawa temen-temennya jadi Sasa juga mau ikutan gabung biar sekalian bikin persayaratan yang harus dibawa buat MPLS besok.” Ucap Sasa.
“Kecil-kecil modus lo, Sa. Paling juga pengen deket-deket sama Ridwan kan?” tebak Dirga.
“Nggak ih. Orang biar sekalian aja ngerjain persyaratannya. Soalnya besok kan harus bawa kacang ijo sejumlah 2022. Emang Kak Dirga mau bantu ngitungin jumlah kacangnya?”
“Elah Sasa nggak usah lo itung, tinggal lo masukin aja segelas. Beres kan.”
“Ntar kalo jumlahnya nggak 2022 Sasa dihukum dong kak sama senior?”
Pletak! Satu sentilan mendarat di kening Sasa.
“Sakit ih Kakak!” protes Sasa sambil mengusap keningnya.
“Gini nih kalo gaulnya sama santen sachetan, los dol polos.” Ejek Dirga.
“Kakak lo ini ketua OSIS, Sa. Gue jamin senior lo kagak bakal ngitung ulang itu kacang ijo.”
“Dah lah gue berangkat duluan, si Ridwan juga kagak bakalan mau kalo lo suruh ngitung kacang ijo.” Lanjutnya.
“Udah jangan ribut. Nih Sasa bawa salad buah sama keripik kentang juga, makan rame-ramen sana.” Mommy Miya memberikan paper bag cokelat ukuran sedang pada putrinya.
“Makasih, mom.” Sasa dengan buru-buru membawa paper bag nya.
“Kak Dirga tungguin Sasa.” Teriaknya.
Sasa sedikit berlari keluar dari rumahnya, dilihatnya sang kakak yang masih berdiri di depan gerbang rumah Kara.
“Kok belum masuk kak?” tanyanya bergitu berdiri di samping Dirga.
“Lo duluan aja, Sa.”
“Aneh banget dah kak Dirga, tinggal masuk aja ribet.” Sasa langsung mendahului kakaknya dan melangkah masuk sementara Dirga mengikutinya dari belakang. Kadang Sasa tak habis pikir dengan sikap kakaknya, sudah dijodohkan sejak dalam kandungan, jelas-jelas saling suka tapi tetap saja menolak sadar. Entah kali ini masalah apa lagi yang dibuat kakaknya hingga mau datang ke rumah Lengkara.
“Assalamu'alaikum mami Jesi, Sasa main nih.” Teriaknya sambil nyelonong masuk. Dirga sampai geleng kepala awalanya ia sudah takjub adiknya mengucapkan salam eh selanjutnya malah main masuk tanpa menunggu dipersilahkan.
Dirga menarik baju adiknya supaya tak berjalan lebih jauh.
“Apaan sih kak!”
“Nggak sopan main masuk aja!”
“Lah biasanya juga gini. Kaleng kalo ke rumah juga kayak gini.” Jawab Sasa.
“Mami...” teriaknya begitu mendapati Jesi keluar. Dibesarkan dan bemain bersama membuat Sasa merasa seperti anaknya mami Jesi. Ditambah lagi saat tau kakaknya sudah dijodohkan sejak masih piyik, sudah fix lah mereka keluarga.
“Eh ada Sasa, masuk aja sayang.” Ucap Jesi.
“Tuh kan masuk aja kata mami juga. Kakak so kayak tamu nunggu di suruh. Di rumah calon mertua sendiri juga.” Ejeknya pada Dirga.
“Eh sama Dirga juga?” mami Jesi sedikit terkejut calon menantu pilihannya ada di rumahnya setelah sekian lama tak berkunjung.
“Masuk sayang.” Lanjutnya.
“Iya, Mi. Ini aku kesini nemenin Sasa aja, dari tadi ngerengek minta anterin kesini. Mau gabung bikin persyaratan yang harus dibawa buat MPLS besok sama Ridwan. Padahal udah aku suruh bikin di rumah aja malah ngeyel minta kesini.” Jawab Dirga yang langsung dihadiahi injakan keras dikakinya oleh Sasa.
Dirga hanya tersenyum kecut menahan kakinya yang sakit. “Udah sana gabung tadi buru-buru banget maksa kakak suruh nganterin kesini.” Ucapnya.
Meski kesal karena kerap kali dijadikan alasan oleh sang kakak yang gengsinya ketinggian untuk mengakui cinta pada calon iparnya, Sasa tak mau pusing, ia pergi ke teras belakang rumah mencari Ridwan.
"Ririd..." panggilnya riang begitu tiba di teras.
"Ririd!" Sasa menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Ridwan dan temannya bukan sedang menyiapkan keperluan MPLS justru sibuk dengan HP yang miring, tatapannya begitu fokus pada layar sampai tak menyadari kedatangannya.
Diabaikan, Sasa mendekatkan wajahnya depat di hadapan Ridwan.
"Ririd! Sasa di sini loh!"
Ridwan mengubah haluan, dan masih fokus dengan game nya.
"Ririd ih!"
"Bentar! bentar dikit lagi gue menang ini." jawab Ridwan tanpa menatap Sasa.
"Nggak mau! Sasa mau minta tolong ini." protes Sasa sembari menyenggol lengan Ridwan.
Huh! Ridwan meletakan ponselnya. "Jadi mati kan gue!"
"Syukurin lagian HP mulu!"
"Buruan deh ada apa?"
"Persyarat-"
"Buat besok udah gue siapin. Tuh punya lo udah gue pisahin, besok tinggal bawa." Sela Ridwan sambil melirik tumpukan aneka barang yang harus dibawa esok hari.
"Wah makasih, Ririd." mata Sasa berbinar, "Ini kacang ijo nya udah sesuai belum? kok kayak beda tiap bungkusnya sih? diitung apa nggak nih?" lanjutnya yang membandingkan kacang ijo yang sudah di pisahkan Ridwan.
"Kagak lah, emangnya gue kurang kerjaan!"
"Nggak boleh gitu dong, harus kita itung. Udahan mainnya kita beresin ini dulu." Sasa menarik paksa Ridwan.
"Dah lah tamat game gue. Kalah." keluh Ridwan, "Guys kita turutin dulu maunya ini bocil satu, kalo dia masih disini nggak aman kita mainnya." lanjutnya mengajak teman lainnya.
Sasa mengamati dengan seksama 3 lelaki yang sedang menghitung kacang ijo, ia tak mau sampai kecolongan seperti sore tadi. Disuruh ngitung malah kabur.
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣