Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Runaway Heart
Malam masih sangat buta saat Leo berlari menuju gerbang belakang. Benar saja, di bawah bayang-bayang pohon ek yang besar, ia melihat siluet kecil yang sedang berusaha membuka kunci pagar kecil yang jarang digunakan. Liora, dengan tas kanvas usangnya, tampak gemetar namun gigih.
"Mau pergi ke mana kau, Liora?!" suara bariton Leo menggelegar, membelah kesunyian malam.
Liora tersentak, hampir menjatuhkan tasnya. Ia berbalik dengan mata yang menyala karena tekad yang sudah bulat. "Lepaskan saya, Leo! Saya tidak tahan lagi tinggal di sini!"
Leo melangkah maju, mencengkeram lengan Liora sebelum gadis itu sempat lari. "Kau pikir kau bisa melarikan diri begitu saja setelah semua yang Ibu berikan padamu? Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih!"
"Berterima kasih?" Liora tertawa sinis, air mata mulai menggenang. "Untuk apa? Untuk setiap hinaan yang Anda lempar ke wajah saya setiap hari? Untuk ancaman Anda yang ingin menghancurkan hidup orang-orang di sekitar saya? Saya lebih baik mati kelaparan di jalanan daripada harus hidup di bawah bayang-bayang monster seperti Anda!"
Liora meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan besi Leo. Terjadilah aksi tarik-menarik yang sengit di tengah taman yang gelap.
"Kau tidak akan pergi!" bentak Leo, menarik tubuh Liora hingga dada mereka bersentuhan. "Kau adalah tanggung jawabku. Ibu tidak akan memaafkanku jika sesuatu terjadi padamu di luar sana!"
"Bohong!" pekik Liora. "Anda tidak peduli pada Nyonya Eleanor. Anda hanya tidak rela kehilangan mainan yang bisa Anda sakiti kapan saja! Anda egois, Leo! Anda ingin saya tetap di sini agar Anda bisa merasa berkuasa setiap kali Anda melihat saya menderita!"
"Diam kau!" Leo menarik tas kanvas Liora, mencoba merebutnya agar gadis itu tidak punya alasan untuk pergi. "Masuk ke dalam, Liora! Ini perintah!"
"TIDAK! SAYA BUKAN KARYAWAN ANDA! SAYA BUKAN PROPERTI ANDA!" Liora menarik kembali tasnya dengan sekuat tenaga. "Lepaskan saya! Biarkan saya bernapas! Di rumah ini, saya merasa seperti tercekik setiap kali Anda masuk ke ruangan yang sama!"
Leo terpaku sesaat mendengar kalimat itu. Tercekik. Kata yang sama yang ia rasakan dalam mimpinya tadi. Namun, bukannya melunak, rasa posesif yang gelap justru semakin menguasainya.
"Jika kau ingin bernapas, maka bernapaslah denganku!" ucap Leo dengan nada yang hampir terdengar seperti putus asa yang dibungkus amarah. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke selokan itu lagi. Jika kau keluar dari gerbang ini, aku akan memastikan toko buku itu rata dengan tanah besok pagi! Pilihannya ada di tanganmu!"
Liora berhenti meronta. Tubuhnya lemas, ia menunduk sambil terisak hebat. "Kenapa... kenapa Anda sekejam ini? Kenapa Anda tidak bisa membiarkan saya tenang meskipun hanya satu hari?"
Leo menatap puncak kepala Liora yang tertunduk. Tangannya masih mencengkeram lengan gadis itu, namun kini lebih lembut, seolah takut jika ia melepasnya, Liora benar-benar akan terbang menjadi debu.
"Karena tanpamu di sini untuk kuhina..." suara Leo mengecil, nyaris seperti bisikan yang menyedihkan, "...aku tidak tahu lagi harus bagaimana cara menghadapi diriku sendiri."
Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, mereka berdiri mematung. Sebuah tarikan dan dorongan yang bukan lagi sekadar fisik, melainkan pertempuran dua jiwa yang sama-sama rusak yang satu ingin lari dari luka, dan yang satu lagi tidak tahu cara mencintai selain dengan cara menyakiti.
"Bagi Liora, tangan Leo adalah belenggu, namun bagi Leo, Liora adalah jangkar yang menahan kewarasannya di tengah badai egonya sendiri."
"Tarik-menarik itu bukan tentang siapa yang lebih kuat, melainkan tentang siapa yang lebih takut akan kesepian jika yang lain pergi."
"Leo mengancam akan menghancurkan dunia Liora, tanpa menyadari bahwa dunianya sendirilah yang akan hancur jika gadis itu benar-benar melangkah keluar dari gerbangnya."