Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup apa uang segitu?
"Tama!!!"
Guno membentak saat melihat Tamara bertingkah kasar kepadanya. Namun, Tama tak kalah berang menghadapi kelakuan Guno yang terus mengganggunya.
"Bapak! Tama itu risih. Bisa tidak sih Bapak jangan ganggu Tama terus?!"
Guno terkejut bukan main mendengar nada bicara gadis itu. Di sekolah, Tama tampak seperti anak yang lugu, polos, dan cuek. Kini, Guno melihat sisi lain dari kepribadian aslinya.
Meski begitu, Guno tidak ingin gegabah. Ia menarik napas panjang, turun dari motor lalu berjalan mendekati muridnya itu. Guno mencoba meraih tangan gadis itu. "Tama..." Namun, sebelum Guno sempat bicara Tamara menghempaskan tangannya dengan kasar.
Srak!
"Bapak kalau mau bicara, bicara saja! Tidak usah pegang-pegang!"
Lagi-lagi Guno menghela napas ia berusaha melembutkan suaranya. "Tama lagi capek ya? Bapak antar pulang, yuk!"
"Tidak usah Pak! Tama punya kaki"
"Hei, mukamu sudah merah begitu"
"Ini gara-gara pakai krim siang jadi merah! Sudah, sebaiknya Bapak pergi saja. Ngapain masih di sini sih?!"
Tama melangkah cepat menghindari Guno. Namun, dengan semangat menggebu Guno tetap membuntuti dari belakang.
"Tama! Jangan ngambek. Anak gadis kalau ngambek nanti kentutnya bau loh!"
Tama makin uring-uringan dibuatnya. Ia mengentakkan kaki ke tanah dengan kesal "Bapak! Saya makin ilfeel sama Bapak!" serunya sebelum kembali melanjutkan langkah.
Saat Guno tengah mengejar Tama, Irfan datang menyusul. Kehadiran temannya itu membuat Guno terpaksa berhenti dan bersikap biasa saja.
"Oh... di sini rupanya?!" ucap Irfan sembari menghentikan motornya tepat di samping Guno.
"Fan! Ke mana saja sih?" Guno malah balik bertanya.
"Harusnya gue yang tanya, lu ke mana? Gue kira lu menyusul ternyata setelah ditunggu puluhan menit lu malah di sini, ngapain?"
"Tadi gue ketemu anak didik di sini."
"Siapa?"
"Tamara"
"Oh, si Tama?"
Guno mengangguk.
"Terus kalian ngobrol?"
"Ya begitu, ternyata si Tama aslinya pemarah ya?"
"Ah masa? Di sekolah dia ramah-ramah saja tuh"
"Eh, barusan dia beli seblak terus gue bayarin tapi malah ngambek. Seblaknya malah dibuang, tuh!" Guno menunjuk kantong plastik yang tergeletak di tengah jalan.
"Lu maksa kali?"
"Enggak. Gue bayar dan dia mau tapi setelah ngobrol sebentar malah dibuang"
"Masa sih Tama begitu?" Irfan sangsi. Ia terdiam sejenak lalu menatap mata Guno dalam-dalam.
"Kenapa lu lihat gue kayak begitu?" tanya Guno risih.
"Lu gak macam-macam kan?"
"Enggak! Macam-macam bagaimana?"
Irfan menggigit bibirnya, jemarinya mengetuk-ngetuk setang motor "Gue sebagai teman cuma bisa mengingatkan. Kuburan istri lu masih basah, lu juga pasti sibuk menjelang tahlilan empat puluh hari kan? Jangan sampai mertua lu tahu akal busuk lu Gun!"
"Gue nggak ngapa-ngapain Irfan! Lagi pula, kalau mertua gue marah hanya karena gue cari cewek lagi, ya gue hempas dia dengan mudah. Bibir cewek yang sudah keriput mah tinggal ditoyor saja selesai!"
Irfan menggeleng-gelengkan kepala "Istigfar, Gun!"
"Ah sudahlah, perjalanan gue belum selesai!"
Guno meninggalkan Irfan begitu saja, ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Hal itu memicu rasa penasaran Irfan yang akhirnya berbalik arah dan menyusul Guno.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Guno akhirnya mengetahui lokasi rumah Tamara! Ia memberhentikan motornya dari kejauhan agar keberadaannya tidak disadari.
"Yes!" seru Guno senang sembari mengepalkan tangan. Tak lama kemudian, Irfan berhenti di sampingnya.
"Membuntuti Tama?" tanya Irfan sembari melirik rumah tersebut.
"Iya dan sekarang gue tahu rumahnya di mana!"
"Gun, sadar Gun! Tama itu masih anak-anak"
"Anak-anak dari mana? Foto liburannya saja seperti wanita dewasa"
"Yang namanya liburan bebas mengekspresikan kesenangannya Gun. Mau berpakaian apa pun, selama tidak merugikan kita, ya tidak apa-apa. Asal jangan membawa nama sekolah saja"
"Lu lihat saja akun Instagram Tama. Gue yakin lu juga pasti bakal naksir!"
"Ya ampun Gun, sadar hei!" Irfan memegang pundak Guno karena merasa ini sudah keterlaluan. Namun, Guno mengempaskan tangan Irfan dan kembali menghidupkan motornya, meninggalkan temannya itu lagi.
Irfan merasa kesal dengan perubahan sikap Guno yang mendadak terobsesi pada muridnya sendiri. Ia membuka ponsel dan mengirim pesan singkat kepada teman-temannya yang lain.
"Gue harus bicara sama kalian!"
"Guno pulang, Bu!"
Guno melangkah masuk ke rumah yang tampak sepi. Ia melepas dasi dan sepatu, lalu memanggil ibu mertuanyanya "Bu, Ibu!"
Tidak ada sahutan. Hanya suara bising kendaraan dari luar yang terdengar hingga Guno terpaksa menutup telinganya "Sialan!" kecamnya kesal.
Dengan tubuh lemas Guno berjalan menuju meja makan. Ia membuka tudung saji namun isinya hanya nasi putih, Guno mengembuskan napas berat lalu duduk pasrah sembari menatap langit-langit rumah.
" Iya, Hana sudah meninggal. Kalau dia masih hidup, pasti sudah ada makanan yang tersaji. Hana... "
Guno memejamkan mata, membayangkan sosok istrinya yang selalu menyambutnya dengan pelukan dan senyuman hangat. Ia membayangkan diomeli Hana karena pulang terlambat, disuapi makan sambil mengerjakan laporan, hingga dibersihkan kukunya.
Semua kenangan tentang Hana yang selalu ada untuknya melintas begitu saja. Tiba-tiba suara ibu mertuanya memecah lamunan "Yuhu! Sini Jeng!"
Guno tersentak. Ibu mertuanya datang bersama teman-temannya "Duduk-duduk!" sambut sang mertua dengan suara nyaring.
Ibu mertuanya pergi ke dapur dan tak sengaja mendapati Guno yang terduduk lemas "Guno! Kapan pulang Nak? Aduh, Ibu belum masak!"
Guno hanya menghela napas.
"Kamu pesan makan daring saja ya, Ibu mau ada arisan jadi harus menyiapkan minum untuk mereka."
"Mereka tidak makan?" tanya Guno datar.
"Makan dong, masa tidak!"
"Uangnya ada?"
Ibu mertuanya menggeleng Guno merogoh sakunya, mengeluarkan dompet lalu menyerahkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah.
"Sekalian pesankan makanan untuk ku ya Bu, aku mau mandi dulu" ucap Guno sebelum beranjak ke kamar.
Dalam hati ibu mertuanya girang " Wah, banyak sekali uangnya. Jika setiap hari seperti ini aku bisa cepat kaya! Dulu Hana suka memberi uang juga sih tapi cuma seratus ribu. Cukup apa uang segitu!"