"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Besar Cinta
Setelah menunggu beberapa tahun lamanya, akhirnya pernikahan impian Mirna tinggal tiga hari lagi akan dilangsungkan.
Tenda tenda sudah mulai terpasang, di depan untuk panggung pelaminan dan area para tamu undangan. Sedangkan di samping rumah sebelah kiri sampai ke belakang adalah tempat para tetangga yang membantu memasak yang sering disebut rewang.
Tapi...
Dira abai. Dia tidak ingin membantu seperti tetangga lainnya.
Bukan sombong, tapi menjaga kewarasan. Apalagi yang menikah adalah Mirna. Perempuan aneh yang tiba-tiba datang hanya untuk memaki dan membuang alat bantu dengar miliknya.
Lagipula, Dira tidak mau disebut perusak atau lebih parahnya dicap pelakor yang ingin mencuri Erlangga.
Yang penting bagi Dira sekarang, bukti-bukti akurat tentang masa lalu Mirna sudah di tangannya. Dan di hari pernikahannya nanti, Dira akan memberikannya sebagai kejutan yang tak terlupakan bagi Mirna.
Para detektif yang dibayar Dira, sudah memberikan bukti berbentuk file yang tersusun rapi di USB. Dan juga kejutan inti lainnya.
Rumah antara Juragan Karsa dan Dira tidak terlalu jauh jaraknya. Hanya berbatasan banyak pohon kopi milik Juragan Karsa tentu saja.
Tapi, sekarang ada tembok tinggi yang menjadi pembatas yang nyata. Kalau kata tetangga yang lain, Dira membangun tembok besar Cina. Karena selain tinggi juga panjang, sampai mengelilingi lahan samping rumahnya.
"Pak, apa besok sudah selesai ya memplester tembok dengan semen?" Tanya Dira iseng pada Tukangnya.
"Besok, kayaknya belum jadi Mbak. Karena kami semua disuruh rewang sama Juragan Karsa." Jawab Tukang.
"Hah... Kok bisa disuruh rewang? Apa kalian tidak bilang kalau bekerja dengan saya dan belum selesai?" Tanya Dira sedikit kesal.
"Sudah Mbak Dira, tapi Juragan Karsa maksa dengan memberikan ancaman." Ucap Tukang lain dengan jujur.
"Maksudnya bagaimana? Bapak diancam apa sama Juragan Karsa dan Istrinya. Jika memang sudah sangat keterlaluan, Bapak semua bisa lapor Polisi."
"Katanya, kerja bangun tembok paling berapa hari lagi sudah selesai. Kalau kami tidak ikut rewang, maka nanti kami tidak boleh kerja di tempat Juragan Karsa. Sedangkan, pekerjaan menjadi tukang tidak setiap hari ada." Jawab Tukang.
"Kami berfikir memang betul Mbak. Jika pagar ini selesai dibangun. Kami tidak ada mata pencaharian lagi untuk memberi keluarga makan." Ucap Tukang yang lain lagi membuat Dira langsung berfikir kritis.
"Kalian semua tidak perlu rewang. Selesai bangun pagar, saya berencana buat kamar mandi di dalam, dan membuat semacam bale-bale di belakang rumah dekat sumur. Kemudian tanah kosong di samping, akan saya bangunkan pabrik pengolahan teh menjadi minuman siap saji. Bapak-bapak bisa terus bekerja dengan saya, dengan gaji besar."
Tawaran yang begitu menggiurkan bagi para Tukang yang biasanya digaji pas-pasan oleh Juragan Karsa. Padahal pekerjaan mereka, selain ikut memetik teh juga mengangkut hasil kebun ke atas truk pengangkut.
"Sudah... Jangan terlalu banyak mikir, kalian masih suka uang banyak? Untuk itu, turuti saja kemauan saya. Gak bakal rugi kok."
Para tukang itu saling berpandangan. Ada kilat ragu yang mulai timbul, ada pula harapan yang selama ini jarang mereka rasakan. Juragan Karsa terkenal pelit dan keras kepala. Upah sering telat, kerja berat tak pernah dihitung lembur. Tawaran Dira seperti pintu terbuka di tengah tembok yang selama ini menutup hidup mereka.
"Beneran, Mbak?" Tanya Tukang yang paling Tua, suaranya terdengar bergetar.
"Pabrik teh? Kami ini cuma orang Desa. Apa bisa bekerja?"
Dira tersenyum tipis. "Bisa atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kalian mau bekerja jujur dan sungguh-sungguh. Soal belajar, saya yang tanggung. Jangan remehkan diri sendiri hanya karena orang lain sudah lama menekan kalian."
Kata-kata itu menancap. Para tukang mengangguk perlahan, seperti baru saja diberi izin untuk berharap.
"Baik, Mbak Dira. Kami ikut panjenengan." Ujar mereka hampir bersamaan.
Dira menghela napas lega. Setidaknya satu hal hari ini berjalan sesuai rencananya. Apa yang menjadi dreaming listnya akan segera terwujud.
Sore itu, dari balik jendela rumah Juragan Karsa, Mirna memperhatikan aktivitas di rumah Dira dengan sorot mata penuh rasa curiga. Tembok batako tinggi itu seperti hinaan yang berdiri dengan nyata. Seakan Dira sengaja memisahkan diri, menutup semua celah, menolak berbaur.
"Dia sengaja, Mas." Kata Mirna pada Erlangga yang duduk di sampingnya. "Orang kayak Dira itu licik, pasti ada maksudnya tertentu."
Erlangga hanya diam membisu, karena sikap Mirna sering membuatnya lelah. Nada bicaranya mudah naik, emosinya meledak tanpa sebab yang jelas. Dan entah kenapa sejak kedatangan Dira di Desa ini, nama Dira selalu menjadi pemicu pertengkaran dan perdebatan di antara mereka.
"Sudahlah, Mir. Tiga hari lagi kita menikah. Jangan mikir yang aneh-aneh." Jawab Erlangga akhirnya.
Mirna mendengus, tangannya mengepal kuat. Ada sesuatu yang mengusik hatinya sejak dia bertengkar dengan Dira. Perasaan tak nyaman, seperti ada rahasia besar yang sebentar lagi akan menyeruak dan menghancurkan kebahagiaannya. Mirna seolah lupa masa lalunya.
Malam menjelang. Di kamar Dira yang redup, hanya lampu meja yang menyala. Di atas ranjang, laptop terbuka. Dira menancapkan USB hitam kecil ke port. Satu per satu file terbuka. Foto, rekaman suara, laporan medis, dan salinan dokumen hukum.
Nama Mirna terpampang jelas di setiap folder. Nyata, bukan ilusi apalagi rekayasa.
Dira memejamkan kedua matanya sejenak. Ingatannya kembali pada hari ketika alat bantu dengarnya dibuang ke semak oleh Mirna, disertai makian yang masih terngiang hingga kini. Hari itu bukan hanya alat bantu dengar yang terlempar, tapi juga sisa-sisa kesabaran Dira.
"Ini bukan balas dendam, tapi keadilan." gumamnya pada diri sendiri.
Dira menutup laptop, lalu membuka laci. Di sana ada kotak kecil berlapis beludru biru. Isinya bukan perhiasan, melainkan flashdisk lain. Kejutan inti yang dimaksud Dira. Lebih tajam, lebih mematikan. Dan tak mungkin bisa disangkal lagi.
Dua hari menjelang acara pernikahan.
Rewang semakin ramai. Asap dapur mengepul dari pagi hingga malam.
Tawa para tetangga bersahut-sahutan, bercampur bunyi panci dan cobek. Tapi di balik keriuhan itu, bisik-bisik mulai terdengar mengganggu.
"Kok Dira gak pernah kelihatan ya?"
"Katanya sombong."
"Eh, aku dengar dia bangun tembok biar Mirna gak bisa lihat rumahnya."
"Bener gak sih, dulu Mirna pernah masuk rumah sakit jiwa?"
Bisik terakhir itu cepat ditepis, tapi benihnya sudah terlanjur jatuh.
Mirna semakin gelisah. Tidurnya tak nyenyak. Dadanya sering berdebar tanpa sebab. Dia merasa seperti sedang diawasi, dihakimi oleh sesuatu yang belum muncul wujudnya tapi menakutkan.
Sementara itu, Dira berdiri tegak di balik tembok tingginya, menatap langit malam yang bertabur bintang.
Dia tahu, badai akan datang. Dan ketika hari itu tiba, tak ada lagi yang bisa bersembunyi di balik senyum palsu dan pesta pernikahan atas paksaan.
"Dua hari lagi, semua topeng akan jatuh." Gumam Dira lirih.
Dan setelah itu, Dira hanya akan fokus pada hidupnya sendiri. Tanpa laki-laki, tanpa cinta.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪