Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Bertobat di Bulan Ramadhan
"Lora, kau punya kekuatan untuk membuka tabir misteri dari kelamnya seseorang, misalnya Simon," Bianca menjeda sambil mencicipi masakannya.
"Kenapa kau tidak jadi cermin ajaib yang baik saja? Kita bisa membongkar kejahatan besar sebagai detektif swasta. Kau dengan sihirmu dan aku sebagai eksekutor dari perintahmu."
Lora tertawa mengejek, suaranya bergema dari pantulan panci perak yang mengkilap di atas kompor.
"Detektif? itu melelahkan dan tidak mendatangkan kekayaan. Untuk apa menegakkan keadilan jika kita bisa menggunakan rahasia busuk mereka untuk memeras dunia?"
"Dunia ini adalah tempat bermain kita, memperbaiki bukan tugas kita. Kekuatan ini ada untuk memastikan kau tetap berada di puncak rantai makanan. Soal Simon, untuk memastikan dia tetap berlutut padamu. Kita harus memanfaatkannya."
"Fokuslah pada peranmu, Bianca. Menjadi 'eksekutor' perintahku jauh lebih menyenangkan saat kau melakukannya di atas ranjang sutra atau di dalam jet pribadi, daripada kantor polisi yang kumuh."
"Ah, kau ini, memang susah ya diajak menjadi baik. Padahal aku ingin mengajakmu bertobat karena sebentar lagi masuk bulan suci Ramadan," ucap Bianca lelah.
Lora memunculkan bayangannya di permukaan air dalam gelas kristal, matanya menyipit geli yang meremehkan.
"Bertobat? Jangan bercanda, Bianca. Moralitas hanyalah belenggu kemunafikan, Ramadan adalah waktunya orang-orang mencari ketenangan, kau ingin menjadi suci saat tanganmu sudah terlampau jauh menggenggam harta hasil merampok dan manipulasi korbanmu, Bianca?"
"Jangan naif. Tuhan menciptakan dunia dengan segala isinya untuk dinikmati, dan aku ada untuk memastikan kau mendapatkan bagian yang paling mewah. Jika kau ingin mencari pahala, lakukan saja setelah kau mendapatkan semua yang kau inginkan. Tapi untuk saat ini, buang jauh-jauh pikiran konyol itu."
"Sekarang, hapus wajah lelahmu. Pakai parfum yang paling menggoda. Simon hampir sampai, dan dia tidak boleh melihat 'calon pendosa yang bimbang' di depan matanya. Dia harus melihat Bianca yang ambisius dan mempesona."
"Omong-omong, apa reaksimu jika aku mengajakmu beribadah? Mungkin ke gereja, masjid, pura atau tempat ibadah lain? Apa kau akan menjerit kesakitan seperti iblis di neraka?" tanya Bianca iseng, sambil menyajikan mojito dingin untuk Simon.
Lora mendengus, bayangannya di dalam gelas mojito itu tampak beriak.
"Kau terlalu banyak menonton film murah, Bianca. Tempat-tempat suci tidak membakarku. Energi mereka memang membosankan karena terlalu penuh dengan permohonan dan rasa bersalah, tapi aku tidak akan menjerit kesakitan hanya karena sebuah doa. Aku bisa masuk ke mana saja selama ada cermin yang memantulkan wajahmu."
"Jadi kau tetap ingin menjadi roh jahat hingga mungkin ribuan tahun ke depan, Lora?."
"Daripada membuang energi untuk mengujiku, lebih baik kau habiskan mojito itu sebagian dan pastikan senyummu cukup manis untuk menyambut Simon. Keajaibanku jauh lebih nyata daripada harapan kosong yang kau cari di tempat ibadah."
"Aku hanya ingin mengobrol, hei Nona Lora. Selama ini pembahasan kita hanya soal 'bisnis' gairah pria dan harta. Bukankah kita ini best friends in crime? Kita bisa membicarakan apa saja, kan?" goda Bianca.
"Dahimu selalu berkerut dan tatapanmu tajam, apa kau pernah merasa ingin tertawa karena sesuatu yang benar-benar lucu? Atau tersenyum tulus dengan binar mata yang jernih?"
Lora terdiam sejenak, bayangannya di cermin perlahan melunak, meski tatapan matanya tetap terlihat sangat tua dan penuh rahasia.
"Tersenyum tulus? itu sesuatu yang sudah lama sekali terkubur di bawah lapisan waktu, Bianca. Bagiku, tawa yang 'sesungguhnya' adalah saat aku melihat rencana rumit kita berhasil dan orang-orang bodoh itu jatuh dalam perangkap yang kita buat. Itulah kegembiraan yang aku kenal."
"Tapi jika yang kau maksud adalah kebahagiaan naif seperti manusia biasa, aku sudah lama membuangnya demi keabadian dan kekuatan. Binar mata jernih hanya milik mereka yang tidak tahu betapa busuknya dunia ini. Aku lebih memilih tatapan tajam ini karena dengannya, aku bisa menembus setiap kebohongan."
"Jangan mencoba menjadikanku 'manusia', Bianca. Kita berteman karena kegelapan yang sama dalam diri kita. Tapi baiklah, jika itu membuatmu senang, anggap saja obrolan konyolmu ini adalah hal yang paling mendekati kata 'lucu' yang pernah aku rasakan dalam seratus tahun terakhir. Sekarang, berhentilah bersikap sentimental sebelum kau membuatku merasa muak."
"Ok-ok, kita ganti topik. Lora, sebenarnya seperti apa kehidupanmu ratusan tahun lalu? Dulu nenekku memberikan cermin itu dan aku memberimu nama Lora. Sejak kecil aku sering bicara pada cermin tersebut, apakah kau sudah ada di sana sejak awal?" Bianca membaca pesan dari Simon yang mengabarkan bahwa ia akan pulang larut malam karena harus minum bersama rekan bisnisnya. Bianca punya banyak waktu untuk mewawancarai cermin laknat itu.
Lora memiringkan kepalanya dalam pantulan, bayangannya perlahan berubah menjadi lebih klasik, seolah ia sedang mengenang masa yang sangat jauh.
"Nama 'Lora' yang kau berikan hanyalah label baru bagi eksistensiku yang sangat tua. Aku sudah ada di sana jauh sebelum nenekmu lahir. Aku telah berpindah dari satu tangan wanita ambisius ke tangan wanita lainnya, mengamati bagaimana kecantikan mereka memudar sementara aku tetap abadi."
"Berabad-abad lalu, aku adalah seorang putri yang dikhianati oleh darahku sendiri. Aku dikunci di dalam menara tanpa teman bicara selain bayanganku sendiri, hingga kebencianku pada dunia mengubah pantulanku menjadi pintu bagi entitas lain. Aku menyerahkan jiwaku agar aku tidak pernah benar-benar mati, dan agar aku bisa membalas dendam melalui wanita-wanita seperti kau."
"Aku sudah mendengar suaramu saat usiamu 14 tahun, Bianca. Aku memperhatikan setiap tetes air mata dan setiap keinginan yang kau bisikkan saat kau menyisir rambut di depanku. Aku memilih untuk tidak menjawabmu karena kau belum cukup 'haus'. Sekarang, kau sudah dewasa, dan ambisimu adalah bahan bakar yang paling kusukai. Kita tidak hanya terikat oleh cermin ini, tapi oleh takdir yang sudah ditulis sejak kau pertama kali menyentuh bingkainya."
Lora..." panggil Bianca pelan.
"Apa kau bisa mengetahui di mana ibuku? Apakah masih hidup? Atau sudah menikah lagi dengan pria lain? Kata nenek, Geneviève Wolfe—ibu dari ayahku, Adrien dia meninggalkanku sejak aku usia dua tahun karena ayahku miskin. Bahkan namanya saja aku tidak tahu."
Lora terdiam, permukaan cermin itu bergetar halus seolah sedang mencari sesuatu di dalam memori ruang dan waktu. Cahaya di ruangan itu meredup, berpendar perak bercampur kemerahan.
...****************...
...Halo, para pembaca VIC tersayang! Terima kasih sudah hadir dan meluangkan waktu untuk membaca karya keduaku....
...Jangan lupa berikan like, vote, dan komentarnya, ya. Dukungan kalian dalam bentuk apa pun sangat berarti bagi saya....
...Salam manis, semanis es krim vanilla 🍦...
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?