Ardhan Husein Zakhori adalah CEO di Millenial Group. Ia mewarisi perusahaan Kakeknya. Pribadinya yang sangat ramah membuatnya disukai banyak orang. Ia memiliki ambisi yang besar diumur yang masih muda. Namun, karena Kakeknya semakin tua dan mulai sakit-sakitan ia harus mencari calon istri dan menikah secepatnya. Saat itu pula cinta masa kecilnya datang.
"Will you marry me?" tanya Ardhan.
"Yes, I do," jawab wanita itu.
Ardhan yang malang. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi awal ia mengetahui banyak kenyataan pahit. Akankah Ardhan menerima kenyataan dan mempertahankan cinta masa kecilnya? Atau menikahi orang lain demi mewujudkan keinginan Kakeknya? Dapatkah Ardhan bertahan dengan semua ujian ini? Penuh puzzle yang harus diselesaikan, ikuti perjuangan Ardhan dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daratullaila 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolam Mawar
..."Pancarkan aura bahagia, lepaskan segala lelah, bersyukurlah untuk orang di sekitar kita."...
...✨...
Attila melihat putranya mondar-mandir di ruang tamu. Ardhan terlihat bingung dan gelisah. Sebagai seorang ibu, ia tau siapa yang bisa membuat putranya begini.
"Ardhan," panggil Attila lembut.
"Ma, ayo ke rumah Key," ucap Ardhan tiba-tiba.
Attila tersenyum. Kegundahan Ardhan membuatnya gemas. Ia merangkul putranya dan berjalan keluar rumah.
"Ayo," ajak Mama Ardhan.
Mereka berjalan menyusuri komplek. Attila menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Keluarga Ardhan memang dikenal ramah. Tak hanya itu, Papa Ardhan juga orang yang sangat dermawan. Sifat itu diturunkannya pada Ardhan.
"Ma ayo beli buah. Key sakit," pinta Ardhan.
Attila menuruti putranya. Mereka membeli buah di persimpangan komplek. Tak lupa juga membeli beberapa cemilan dan hadiah. Setelah itu mereka segera menuju rumah Key.
"Ma kenapa Key selalu punya pengawal?" tanya Ardhan di perjalanan.
"Karena Key anak cewek jadi harus lebih dijaga," jawab Attila.
"Kalau gitu Ardhan aja yang jaga Key Ma," ucap Ardhan sungguh-sungguh.
"Kamu harus makan yang banyak dan belajar yang rajin baru bisa jaga Key. Oke?" ujar Attila.
"Oke Ma," jawab Ardhan.
Mereka mengakhiri percakapan saat sudah sampai di rumah Key. Sebelumnya Attila sudah menelepon ibu Key yaitu Amira. Jadi sudah ada satpam dan pembantu yang menyambut mereka.
Attila dan Ardhan dituntun ke kamar Key. Rumah Key begitu sunyi. Hanya ada beberapa pembantu dan pengawal.
Mereka sudah sampai di kamar Key. Sandra langsung menyambut kehadiran mereka. Bertanya kabar pada Attila dan berpelukan cukup lama.
Sedangkan Ardhan membeku melihat selang-selang medis yang menempel pada tubuh Key.
***
Sebelum turun dari mobil, Ardhan menutup mata Key dengan kain. Ia menuntun Key memasuki rumah. Terlihat tangan Key meraba-raba udara.
"Ardhan kita mau kemana?" tanya Key bingung.
"Sssttt ...," Ardhan menyuruh Key diam.
Mereka lanjut berjalan. Ardhan membawa Key menuju halaman belakang. Sudah ada kejutan yang ia siapkan di sana.
"Nah udah sampai. Bentar ya aku buka," ucap Ardhan membuka kain penutup mata.
Key masih mengerjapkan mata. Setelah itu dia membekap mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Hamparan mawar menyelimuti seluruh halaman belakang sampai tak terlihat tanah sedikitpun.
"Ardhan …," ucapnya terharu.
Ia tak sadar Ardhan sudah berlutut di depannya.
"Key, will you marry me?" ucap Ardhan sambil memegang cincin berlian yang sangat indah.
"Dhan …," Key terisak.
"Yes, I do," lanjutnya.
Ardhan segera berdiri dan memakaikan cincin pada jari manis Key. Ia memeluk Key erat menunjukkan betapa bahagianya hari ini.
"TERIMAKASIH KEY!" teriak Ardhan sambil menggendong Key dan berputar.
"Udah Ardhan aku takut jatuh," ucap Key.
Ardhan pun menurunkan Key.
Dor
Hujan mawar menghiasi langit. Key tak menyangka masih ada mawar lainnya hari ini. Beberapa orang terlihat sedang menyiapkan sesuatu. Key tak mengenal siapapun. Sudah pasti mereka orang suruhan Ardhan.
"Ayo," ajak Ardhan merangkul Key.
Mereka berjalan menuju stand kecil. Ada satu panggangan dan beberapa daging di situ. Ardhan segera memakai celemek dan topi chef.
"Kamu mau masak Dhan?" tanya Key.
"Enggak. Aku cuma panggang daging doang kok," jawab Ardhan tersenyum.
Ardhan terlihat sibuk. Memasak daging, mencampurkan bumbu, membolak-balikkan agar tidak gosong, sesekali menjahili Key dengan menghembus asap ke arahnya.
Sepuluh menit kemudian Ardhan sudah selesai dengan dua steak dan kentang voreng yang sudah dibuat bi Titin.
"Ini untuk calon istri aku," ucap Ardhan mengangkat piring.
"Makasih sayang," tutur Key kagum.
"Apa? Apa? Aku gak dengar," ucap Ardhan jahil.
"Makasih sayang," Key berbisik lembut di telinga Ardhan.
"Aaaaaaa aku gak bisa tidur malam ini Key," ucap Ardhan lebay.
"Udah ayo makan," ajak Key.
Ardhan melepas celemek dan topinya. Ia menata makanan di meja dengan dua kursi. Ia duduk berhadapan dengan Key.
Hari sudah cukup sore. Senja menemani kencan mereka hari ini. Kilau merah dari mawar beradu dengan sinar matahari membuatnya tampak mewah. Kesan romantis timbul dengan sendirinya.
"Selamat makan," ucap Ardhan.
Mereka makan dalam diam. Key asik dengan dagingnya. Sedangkan Ardhan asik dengan Key-nya. Mereka makan dengan lambat. Entah sengaja entah kebetulan yang pasti mereka ingin menikmati hari berdua lebih lama.
Ardhan memanggil beberapa petugas. Setelah Ardhan membisikkan sesuatu mereka segera pergi.
"Ngapain Dhan?" tanya Key penasaran.
"Gak," jawab Ardhan cekikikan.
Key menatapnya curiga. Namun kecurigaannya hanya sementara. Orang suruhan Ardhan telah kembali membawa buket mawar yang sangat besar berhiaskan foto mereka berdua.
Key tercengang. Antara bingung dan bahagia, mungkin ia lebih bahagia sekarang.
"Siapa yang mengambil foto kita Dhan?" tanya Key masih takjub.
"Eh anu .... Nah ini buat kamu Key," Ardhan mengalihakan perhatian Key dengan memberinya kejutan lagi.
Boneka beruang besar berwarna coklat datang dari arah yang sama saat membawa bunga. Dua orang menggunakan troli untuk membawa boneka tersebut.
Key tak bisa berkata-kata. Kejutan-kejutan yang tak pernah ia bayangkan ada di depan mata. Hanya Ardhan yang bisa mewujudkannya.
Key memeluk Ardhan. Ia menangis terharu melihat betapa besar rasa cinta Ardhan padanya.
"Dhan aku gak bisa ngasih kamu apapun," ucap Key terisak.
Ardhan mengelus lembut rambut Key dan mencium pucuk kepalanya. Entah sejak kapan para petugas itu sudah pergi.
"Udah jangan nangis. Aku gak suka lihat wanita aku nangis," ucap Ardhan melepas pelukan.
Isakan Key mereda. Ardhan mengajaknya duduk di tepi kolam renang yang sudah tertutup mawar juga. Ardhan menyandarkan kepala Key di bahunya. Sedangkan tangannya merangkul pinggang Key. Mereka menikmati tenggelamnya matahari sampai berganti malam.
Ardhan melihat Key tertidur. Ia pun menggendong Key ke mobil untuk mengantarnya pulang. Key sedikit menggeliat saat digendong.
"Antar semua hadiah ini. Saya akan share lokasinya," ucap Ardhan masih menggendong Key.
Ia berjalan ke bagasi lalu menidurkan Key di dalam mobil. Ia kembali ke rumah mengambil jaket. Dipakaikannya jaket itu pada Key kemudian ia melajukan mobilnya dan mengantar Key pulang.
Ardhan tersenyum sepanjang perjalanan. Ia melihat wajah damai Key saat tidur. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan membahagiakan wanita yang ada di sampingnya ini.
Ting
*Ting
Ting
Ting
Ting*
Banyak notifikasi masuk. Ia mengecek gawainya.
Aduh ramai sekali, batinnya saat melihat instagram.
Bagaimana tidak ramai. Ardhan memposting fotonya saat berlutut memegang cincin. Tentunya followers setia Ardhan patah hati. Mereka membuat hastag #haripatahhatisedunia.
Ardhan meletakkan gawainya. Ia tak ingin merespon mereka saat menyetir. Ia kembali fokus menyetir agar cepat sampai.
"Huh sampai juga," ucap Ardhan menghela napas.
Dilihatnya Key masih tertidur. Sebenarnya ia tak tega membangunkan Key. Namun, mau tidak mau ia harus membangunkannya.
"Key," ia menepuk pelan pipi Key.
Key belum bangun. Ia hanya bergerak sedikit.
Ardhan menatap Key lagi. Ia mengusap pelan pipi Key dan mendekatkan wajahnya.
Cup
Ia mencium bibir Key sekilas.
Astaghfirullah, batinnya.
Ia mencoba membangunkan Key lagi. Butuh waktu agak lama agar Key terbangun.
"Ada apa Dhan?" tanya Key saat bangun.
"Kita udah sampai rumah," jawab Ardhan.
"Ha? Sejak kapan?" tanya Key lagi.
"Sejak tadi," Ardhan cengengesan melihat wajah bingung Key.
"Yaudah aku masuk dulu ya," ucap Key.
Key melangkah pergi meninggalkan Ardhan. Setelah dipastikan Key masuk rumah, dia pun pulang.
Ardhan tak bisa menghentikan senyumnya. Gemerlapnya lampu kota menjadi saksi bisu kebahagiaan Ardhan.
*Drrtt
Drrtt*
"Halo?" Ardhan mengangkat teleponnya.
"Bang cepat pulang. Ada masalah kantor," ucap orang itu yang ternyata Noah.
Ardhan mematikan sambungan dan langsung menancapkan gas menuju rumah.
mohon dukungannya juga untuk novelku kak....SunFlower. mohon tinggalkan saran, masukan dan kritik kan dariku yang masih belajar ini....🙏🏻😊🤗
semangat terus, ditunggu updatenya
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
💛 Good luck! 💛
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
semangat^^
maaf Cinta dan air mata dan cinta Berlumur Dosa tahap penghapusan gak usah di like ya Thor 🙏🙏