Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Hebat
Tiga hari sejak malam penuh ketulusan di taman mawar itu berlalu, di sudut kota yang lain, suasana gelap dan penuh tekanan justru menyelimuti kediaman mewah Arkananta.
Pagi yang cerah tidak membawa ketenangan apa pun bagi Arkananta. Pria itu berdiri kaku di ruang kerjanya sambil memegang selembar kertas berlogo resmi perusahaan. Arkananta menerima surat peringatan keras dari direksi kantor atas penurunan kinerjanya yang drastis dan bayang-bayang pemecatan yang kini sudah berada di depan mata.
Pintu kamar utama terbuka lebar, memperlihatkan Clara yang sedang berdiri di depan cermin rias sambil menyemprotkan parfum mahalnya ke leher.
Wanita itu mengenakan gaun pesta pesta tanpa lengan berwarna merah menyala, siap untuk menghabiskan malam di luar.
"Mas, aku mau pergi sama temen-temenku ke klub malam ya," pamit Clara santai tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
Arkananta mengepalkan surat peringatan di tangannya hingga kertas itu kusut masai. Ia menatap istrinya dengan sorot mata tidak percaya.
"Clara, kamu ini dengar aku tidak sih?! Perusahaanku sedang di ambang kehancuran, aku baru saja dapat surat peringatan keras dari direksi, tapi kamu malah mau dugem?!"
Clara mendengus kesal, memutar bola matanya malas lalu berbalik menghadap suaminya berkacak pinggang. Clara tidak peduli dengan masalah kantor Arkananta dan tetap pergi pesta bersama teman-temannya.
"Gapeduli!!, urusan kantormu bukan urusanku, Mas! Jangan bikin aku pusing deh, hidupku bukan cuma buat mikirin stresmu!"
Sebelum Clara sempat melangkah keluar kamar, ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas tempat tidur berdering nyaring menampilkan layar notifikasi perbankan. Clara yang panik langsung berlari menyambar ponsel tersebut, namun gerakannya kalah cepat dari Arkananta yang sudah lebih dulu menerjang ke depan dan merampas benda pipih itu dari tangannya.
"Biar kulihat apa yang disembunyikan di ponsel ini!" bentak Arkananta murka.
Mata Arkananta membelalak lebar membaca deretan riwayat transaksi di layar ponsel istrinya. Arkananta menemukan bukti bahwa Clara sering mentransfer uang dalam jumlah besar ke rekening seorang pria asing yang tidak dikenal.
"Clara! Siapa laki-laki ini?! Kenapa kamu sering transfer uang kantorku ke rekening dia?!" teriak Arkananta dengan dada bergemuruh hebat.
Wajah Clara memucat pasih sesaat, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan buatan. "Kembalikan ponselku, Arkan! Kamu tidak punya hak periksa privasiku!" jawab Clara sambil meronta-ronta mencoba merebut kembali ponselnya.
Pertengkaran fisik secara verbal pecah di antara Arkananta dan Clara di kamar tidur mereka.
Barang-barang rias di atas meja berjatuhan dan berserakan di lantai akibat dorong-dorongan kasar yang terjadi di antara suami istri tersebut.
Prang....Pyarrt
"Kamu sudah berani selingkuh di belakangku,Hahh!?! Dan uang siapa yang kamu pakai buat bayar laki-laki itu?!" maki Arkananta kalap, mencengkeram kedua bahu Clara dengan kuat.
"Lepasin aku, bodoh! Iya, aku bosan sama kamu yang sekarang jadi pengemis melarat!" jerit Clara tanpa rasa bersalah, meludahi wajah suaminya sendiri sebelum mendorong tubuh Arkananta hingga terpental membentur sudut lemari.
Arkananta terdiam mematung di lantai kamar yang berantakan. Napasnya tersengal-sengal, air matanya menetes bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena kehancuran mutlak yang kini menimpa hidupnya. Di tengah kebusukan dan kepedihan yang ia rasakan bersama wanita pilihannya sendiri, Arkananta mulai menyesali keputusannya menceraikan Adelia yang tulus mencintainya tanpa pamrih.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel