Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Prasangka yang Mengakar
Keesokan harinya...
Ayu terbangun lebih awal dengan rasa hangat yang melingkupi dadanya. Ada pendar kebahagiaan dan kedamaian baru yang terpancar dari wajahnya setelah melewati malam tadi.
Pagi ini terasa berbeda, ikatan suci yang terjalin makin erat semalam memberikan kekuatan baru bagi Ayu untuk menghadapi segala ujian di rumah ini.
Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah bersama Yoga di kamar, momen pertama yang terasa begitu syahdu dan penuh rasa syukur, Ayu segera bergegas turun ke dapur. Seperti biasa, ia membantu Bibi Minah menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Bu Ayu! Wah, Bu Ayu kelihatan segar dan makin berseri-seri pagi ini," sapa Bibi Minah hangat sambil menguraikan senyum lebar.
Ayu merona halus, sambil merapikan letak jilbab instan berwarna merah muda lembut yang dikenakannya. "Pagi, Bibi. Alhamdulillah. Hari ini kita mau masak apa, Bi?"
"Bibi sudah siapkan bahan untuk buat nasi goreng spesial dengan pelengkap telur mata sapi dan ayam suwir, Bu. Neng Moana suka sekali," jawab Bibi Minah riang.
Ayu ikut tersenyum dan langsung mengambil alih kompor. Jemarinya dengan lincah merajang bumbu-bumbu segar. Lengan kirinya yang masih terbalut kassa tipis sudah jauh membaik, rasa perihnya pun kini hampir hilang sepenuhnya.
Tak lama kemudian, langkah kaki mungil yang tidak asing terdengar mendekat. Moana muncul dari arah tangga dengan muka bantalnya, sambil memeluk boneka beruang cokelatnya erat-erat.
"Ibuuu..." panggil Moana seraya mengucek matanya yang sipit.
Ayu langsung berlutut dan menyambut tubuh mungil Moana ke dalam pelukannya lalu mengecup pipinya dengan gemas. "Pagi, Putri Cantik Ibu. Semalam tidurnya nyenyak?"
"Nyenyak banget! Soalnya diajarin doa sama Ibu," sahut Moana polos dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi kecilnya. "Wangi banget nasi gorengnya!"
"Nah, sekarang Moana cuci muka dan sikat gigi dulu ya, baru kita sarapan bareng," bujuk Ayu.
"Siap, Ibu!" Moana memberi hormat dengan gaya menggemaskan lalu berlari kecil menuju kamar mandi bawah.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi, hidangan sarapan hangat sudah tersaji rapi di meja makan kayu jati. Bau gurih nasi goreng spesial sudah memenuhi seluruh penjuru ruang tengah.
Yoga turun dari lantai dua dengan setelan kemeja kerja berwarna abu-abu yang terpasang rapi. Wajahnya tampak segar dan penuh energi.
Saat pandangannya bertemu dengan Ayu yang sedang menata cangkir teh, Yoga tak sanggup menyembunyikan binar kehangatan di matanya. Pria itu mendekat, lalu duduk di kursi utama, dan menyapa istrinya dengan nada suara yang sangat lembut.
"Selamat pagi, Ayu..."
"Selamat pagi, Mas," balas Ayu dengan senyum malu-malu yang merona. Ia kemudian melayani suaminya dengan penuh perhatian, menyendokkan nasi goreng secukupnya ke piring Yoga dan menyajikan teh hangat.
"Terima kasih ya, Ayu," bisik Yoga, tangannya sempat mengusap jemari Ayu dengan lembut sebelum Ayu duduk di sampingnya.
Moana yang sudah siap dan tampil lebih segar langsung duduk di sebelah Ayu, dan mengunyah nasi gorengnya dengan sangat lahap. "Enak banget, Ibu!"
Namun, momen hangat di meja makan itu mendadak mengencang tatkala dua sosok remaja turun dari tangga.
Kenzo berjalan lebih dulu dengan gaya santai dan tatapan datar khasnya. Sementara di belakangnya, Lea melangkah dengan wajah yang ditekuk masam. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah Ayu dan Yoga yang duduk berdampingan.
Kejadian semalam saat ia membanting pintu kamar karena rasa cemburu dan marah melihat Ayu mengambil alih tugasnya menjaga Moana, masih membakar emosinya.
"Pagi, Kenzo, Lea. Ayo sarapan dulu, Ibu buatkan nasi goreng kesukaan kalian," sapa Ayu dengan nada suara seramah dan setulus mungkin, mengabaikan tatapan dingin dari kedua anak tirinya.
Lea menghentikan langkahnya tepat di pinggir meja makan. Tangannya meremas tali ransel sekolahnya erat-erat.
"Lea gak mau makan nasi goreng itu," cetus Lea dengan suara tajam dan penuh penolakan.
Yoga menoleh, raut wajahnya pun berubah serius. "Lea, jaga bicaramu. Ibu sudah bangun pagi-pagi untuk memasakkan ini buat kamu dan Kenzo."
"Lea gak pernah minta dibawain atau dibuatkan apa-apa sama dia, Pa!" potong Lea, dengan suara yang meninggi.
Matanya yang bulat menatap Ayu dengan amarah yang meluap-luap. "Lagipula, semalam dia sengaja kan, mau pamer kalau dia bisa ngurusin Moana? Biar Papa makin seneng dan mikir kalau Lea gak ada gunanya lagi di rumah ini?!"
Kata-kata Lea yang menghujam tajam itu membuat Ayu tertegun. "Lea... Ibu tidak pernah berpikiran seperti itu. Semalam Moana menangis dan—"
"Gak usah sok suci!" bentak Lea histeris. "Mulai sekarang gak usah pedulikan aku atau kamar aku! Aku gak butuh ibu tiri kayak Tante!"
"LEA!" suara Yoga menggelegar di ruang makan dan membentak keras hingga membuat Moana terlonjak kaget dan memeluk lengan Ayu dengan takut. "Cukup! Kamu sudah sangat tidak sopan pada Ibu!"
Lea menahan napasnya yang memburu, matanya berkaca-kaca oleh air mata kemarahan dan sakit hati. Tanpa membalas perkataan ayahnya lagi, ia berbalik dan berlari kencang menuju pintu depan. Suara pintu yang dibanting keras pun kembali terdengar dan bergema di seisi rumah.
Kenzo yang menyaksikan adegan itu hanya menghela napas pendek. Ia mengambil selembar roti tawar dari wadah di meja tanpa menyentuh nasi goreng buatan Ayu.
"Pa, kalau Papa terus-terusan maksain kita buat nerima dia, rumah ini bakal makin hancur," ujar Kenzo datar dan dingin, seraya menatap ayahnya sekilas lalu berbalik melangkah pergi menyusul adiknya.
Suasana meja makan seketika berubah hening dan mencekam. Yoga memijat keningnya yang berdenyut keras, dan menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi dan penyesalan.
"Ayu... Maafkan Lea..." bisik Yoga penuh rasa bersalah, dan menatap istrinya yang duduk terpaku.
Ayu menelan ludahnya, sembari mengusap punggung Moana yang masih ketakutan, lalu menatap Yoga dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap berusaha tersenyum tegar.
"Tidak apa-apa, Mas... Lea hanya merasa terancam posisinya. Saya mengerti," bisik Ayu pelan, meski di dalam ulu hatinya, rasa perih akibat penolakan itu merembes begitu dalam.
Pagi itu, Ayu menyadari bahwa kebahagiaan yang ia rasakan semalam bersama Yoga harus dibayar dengan ujian kesabaran yang makin berat.
Namun, wanita muda itu bertekad di dalam hatinya: ia tidak akan mundur, sebab cinta dan ketulusan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk menyatukan kembali potongan-potongan hati yang terluka di rumah ini.
Tapi, mampukah Ayu?
Bersambung...