NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pulang Membawa Kekalahan

Setelah cukup lama mencurahkan isi hatinya kepada sang ibu, Tantya akhirnya masuk ke kamar. Langkahnya terasa berat. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam pikirannya, terutama tentang rumah tangganya yang semakin hari justru semakin membuatnya terluka.

Dia merebahkan tubuh di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya melayang ke berbagai kejadian yang belakangan ini dialaminya. Ucapan Rendra, sikapnya yang semakin sering merendahkan, serta perlakuan yang membuatnya merasa tidak lagi dihargai sebagai seorang istri, kembali berputar di benaknya.

Tantya mengembuskan napas panjang. Dia sudah terlalu lelah untuk terus-menerus memperjuangkan sesuatu yang seolah hanya ingin dipertahankan olehnya seorang.

"Sepertinya aku harus segera mencari pengacara untuk mengurus perceraianku," gumamnya lirih.

Dia terdiam sejenak, mencoba menguatkan hati atas keputusan yang bahkan untuk memikirkannya saja terasa begitu berat.

"Aku sudah nggak bisa lagi bertahan dengan Mas Rendra yang selalu merendahkanku. Sampai kapan aku harus terus mengalah? Apa aku harus menunggu sampai harga diriku benar-benar habis diinjak-injak?"

Tantya memejamkan mata. Bukan karena dia tidak lagi memiliki cinta, melainkan karena dia mulai menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan jika di dalamnya tidak ada rasa saling menghargai.

Kali ini, dia ingin memikirkan dirinya sendiri. Dia ingin berhenti memohon untuk dihargai oleh seseorang yang seharusnya menjadi orang pertama yang menjaga perasaannya.

Jika perpisahan memang menjadi jalan terbaik, Tantya harus belajar menerima kenyataan itu. Meski menyakitkan, dia tidak ingin terus kehilangan dirinya sendiri hanya demi mempertahankan sebuah rumah tangga.

Tantya masih berbaring di kamarnya. Sesekali dia memainkan ponsel, mencoba mengalihkan pikirannya dari berbagai persoalan rumah tangga yang belakangan ini menguras emosinya. Sementara itu, Tara baru saja selesai membereskan pesanan camilan yang harus dikirim kepada para pelanggannya. Di ruang keluarga, Bu Afifah sedang duduk santai sambil menonton televisi.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari depan rumah.

"Pakeeeeettt."

Tara yang mendengarnya langsung beranjak keluar. Seorang kurir berdiri di depan pagar sambil membawa sebuah paket berukuran cukup besar.

"Paket buat Mbak Tantya, Kak," ujar kurir tersebut sambil menyerahkan paketnya.

"Oh, baik. Saya terima."

Tara mengambil paket itu, lalu menutup pintu kembali. Dia kemudian berjalan menuju kamar kakaknya dan mengetuk pintunya.

"Mbak, ada paket."

Mendengar suara adiknya, Tantya segera bangkit dari tempat tidur. Dia membuka pintu dan langsung tersenyum ketika melihat paket di tangan Tara.

"Nah, ini paket yang aku tunggu-tunggu, Tar," katanya antusias.

Tara menyerahkan paket tersebut. Tantya menerimanya dengan wajah sumringah, lalu segera membuka kemasannya. Begitu lapisan plastik pembungkusnya tersingkap, dia langsung menarik keluar sebuah gaun cantik dengan desain elegan.

Tantya membentangkan gaun itu di hadapannya. Senyum puas terukir di wajahnya. Potongannya begitu anggun, dengan detail jahitan yang rapi dan pilihan bahan yang terlihat mewah.

"Masyaallah, bajunya bagus banget, Tya." seru Bu Afifah yang ternyata ikut mendekat setelah mendengar percakapan mereka.

"Iya, Bu. Ini hasil rancanganku sendiri," jawab Tantya bangga sambil memperhatikan kembali setiap detail gaunnya. "Besok mau aku pakai di acara lamaran Selina."

"Lho, memang kamu nggak dibagi baju seragam?" tanya Bu Afifah heran.

Tantya menggeleng pelan. Senyumnya sedikit memudar ketika mengingat perlakuan keluarga Rendra kepadanya.

"Aku aja yang nggak dikasih, Bu. Malah dikasih baju bekas. Makanya aku minta dikirim baju ini."

Bu Afifah mengerutkan kening. Dia masih tidak habis pikir mengapa anaknya diperlakukan seperti itu, padahal Tantya adalah istri Rendra dan bagian dari keluarga tersebut.

"Ya Allah, tega sekali mereka memperlakukan kamu seperti itu."

Tantya hanya tersenyum tipis. Dia kemudian mengangkat gaun tersebut sedikit lebih tinggi, seolah sedang membayangkan penampilannya esok hari.

"Nggak apa-apa, Bu. Aku nggak mau mempermasalahkan baju itu lagi. Besok aku akan pakai baju rancanganku sendiri. Biar mereka tahu, aku juga bisa tampil dengan pakaian yang jauh lebih bagus, bahkan lebih mahal daripada seragam yang mereka kenakan."

Tara yang sejak tadi memperhatikan kakaknya ikut tersenyum. "Pokoknya besok Mbak Tantya harus tampil paling kece," celetuknya.

Tantya tertawa kecil. Kini wajahnya terlihat lebih cerah. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat hasil karyanya sendiri akhirnya tiba di tangan.

Baginya, gaun itu bukan sekadar pakaian untuk menghadiri acara lamaran Selina. Ada harga diri yang ingin dia tunjukkan. Dia tidak perlu mengenakan pemberian orang lain, apalagi pakaian bekas yang seolah menunjukkan bahwa keberadaannya tidak dianggap.

Dia punya kemampuan, punya usaha, dan bisa membeli apa pun yang diinginkannya dengan hasil kerja keras sendiri. Besok, dia akan datang dengan kepala tegak.

***

Sementara itu, Rendra melangkah meninggalkan rumah mertuanya dengan hati yang dipenuhi amarah. Tidak ada hasil yang dia dapatkan dari kedatangannya. Bukannya berhasil menyelesaikan persoalan, dia justru harus pulang dengan tangan kosong. Lebih menyakitkan lagi, dia pulang tanpa mobil kesayangannya, mobil yang selama ini selalu dibanggakannya, padahal mobil itu adalah mobil istrinya, bukan mobil pribadinya.

Langkah kakinya terasa berat saat meninggalkan tempat tersebut. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal. Wajahnya tampak tegang, sementara pikirannya terus berkecamuk. Berkali-kali dia mengumpat dalam hati, meluapkan kekesalan yang sejak tadi ditahannya.

Bagaimana mungkin semuanya bisa berakhir seperti ini? Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian yang begitu memalukan. Mobil kebanggaannya kini diambil oleh Tantya. Mobil itu tidak lagi berada dalam kendalinya. Dan yang paling membuatnya geram, dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan.

Dengan langkah tergesa, Rendra menuju tempat di mana dia bisa order kendaraan yang akan membawanya pulang. Sepanjang perjalanan, wajahnya tak pernah menunjukkan ketenangan. Sesekali dia mengusap kasar wajahnya, lalu mengembuskan napas panjang. Namun, semakin berusaha menenangkan diri, semakin besar pula amarah yang membakar dadanya.

Pikirannya kembali tertuju pada Tantya. Perempuan yang dulu selalu menurut kepadanya, yang selama ini dia anggap akan terus berada di bawah kendalinya, kini justru berani mengambil keputusan yang tidak pernah dia duga.

"Kurang ajar! Berani-beraninya dia mempermalukan aku seperti ini." gerutunya sambil mengepalkan tangan.

Dia merasa harga dirinya telah diinjak-injak. Bukan hanya karena kehilangan mobil, tetapi juga karena untuk pertama kalinya dia merasa benar-benar tidak berdaya menghadapi keputusan Tantya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah ibunya, amarah itu tak kunjung mereda. Bahkan, semakin dekat dengan rumah, semakin banyak hal yang ingin dia luapkan.

Sesampainya di sana nanti, dia tahu ibunya pasti akan bertanya tentang mobil yang biasa dikendarainya. Dan dia sama sekali tidak siap menjelaskan bahwa mobil kebanggaannya itu kini sudah diambil oleh pemiliknya, yaitu Tantya istrinya sendiri.

Rendra mengembuskan napas kasar. Hari itu, dia pulang bukan hanya tanpa mobil, tetapi juga membawa kekalahan yang terasa begitu pahit bagi egonya.

1
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!