NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Setelah beberapa saat berada di kamar, Arabelle akhirnya memutuskan untuk mandi. Meski masih belum terbiasa dengan rumah besar itu, setidaknya tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah membersihkan diri. Kini ia mengenakan pakaian santai sederhana. Kaos lengan panjang berwarna krem dan celana panjang hitam. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai.

Ara lalu keluar dari kamar, menyusuri koridor lantai dua yang panjang. Sebelum menuruni tangga menuju lantai bawah. Begitu sampai di ruang makan, matanya langsung tertuju pada meja makan yang sangat panjang.

Berbagai hidangan sudah tersaji rapi. Di antara menu yang lain ada semangkuk besar bayam bening.

Ara langsung mengangguk puas.

"Nah, ini baru makan malam."

Beberapa pelayan yang berdiri di dekat meja saling melirik. Mereka masih tidak yakin bagaimana reaksi Tuan Elang nanti. Namun, tidak ada yang berani membantah perintah Arabelle.

Ara lalu menarik salah satu kursi, belum sempat duduk. Terdengar suara dari arah depan rumah.

"Selamat malam, Tuan."

"Selamat datang kembali, Tuan Nathan."

Ara menoleh. Para pelayan yang berjaga di dekat pintu langsung membungkuk hormat. Tak lama kemudian, sosok Nathan memasuki rumah. Masih mengenakan jas kerja berwarna gelap. Dasi sedikit longgar dan wajah yang terlihat lelah setelah seharian bekerja.

Di belakangnya berjalan Mohan sambil membawa beberapa berkas. Nathan baru saja melangkah masuk ketika pandangannya bertemu dengan Arabelle. Keduanya sama-sama diam beberapa detik. Nathan memperhatikan wanita itu dari ujung kepala sampai kaki.

Sementara Ara juga memperhatikan pria yang kini resmi menjadi suaminya. Suasana mendadak terasa sedikit canggung. Mohan yang berdiri di belakang Nathan memilih diam. Para pelayan juga pura-pura sibuk. Akhirnya Ara yang lebih dulu membuka suara.

"Baru pulang kerja?"

Nathan mengangguk. "Ya."

"Lama juga ya..."

Nathan menatap jam tangannya. "Jam segini masih normal."

Ara mengangguk pelan. "Oh."

Nathan lalu melirik ke arah ruang makan. Tatapannya berhenti pada meja yang sudah penuh makanan.

"Kamu yang mengatur menu makan malam?"Tanyanya.

Ara mengangguk bangga.

"Tentu."

Nathan berjalan mendekat. Lalu melihat satu per satu hidangan yang tersaji. Sampai akhirnya, tatapannya berhenti pada mangkuk besar berisi bayam bening.

Nathan terdiam, lalu melirik Ara. Kemudian melirik bayam, lalu kembali menatap Ara.

"Kamu memasak bayam?"

"Aku yang pilih menunya, yang masak tetap pelayan..."

Nathan mengangkat alis, Ara terlihat puas.

"Itu sehat." Kata Ara lagi.

Nathan tiba-tiba menahan senyum. Hal itu membuat Mohan langsung menunduk. Moha tahu persis siapa yang paling membenci bayam di rumah ini. Tepat saat itu terdengar suara langkah kaki dari tangga.

Theo turun lebih dulu, masih mengomel. Di belakangnya Elang berjalan sambil memainkan ponsel. Sedangkan, Alya mengikuti dari belakang. Namun, begitu ketiganya melihat Nathan sudah berada di rumah, mereka langsung berhenti.

"Ayah!" Seru Alya.

Nathan mengangguk. Elang dan Theo juga menyapa ayah mereka. Namun, sebelum sempat duduk tatapan Elang jatuh ke meja makan. Kemudian, ke mangkuk bayam bening. Wajahnya langsung berubah. Theo mengikuti arah pandangan kakaknya. Lalu ikut membeku, Alya berkedip bingung.

Sementara, Arabelle tersenyum manis dari kursinya. Nathan yang melihat perubahan ekspresi anak-anaknya perlahan mulai curiga.

Begitu melihat mangkuk besar berisi bayam bening di tengah meja makan, wajah Elang langsung berubah drastis.

"Kalian serius?"

Suasana ruang makan mendadak hening. Para pelayan yang berdiri di dekat meja langsung menegang.

Elang melangkah mendekat. Tatapannya tertuju pada bayam itu seolah sedang melihat musuh bebuyutannya.

"Lalu siapa yang masak ini?"

Tidak ada yang menjawab.

"Siapa?" Nada suaranya semakin keras.

Beberapa pelayan langsung membungkuk.

"M-maaf, Tuan Muda..."

Elang langsung menoleh. "Maaf?"

"Tuan Elang, kami hanya—"

"Kalian tahu aku tidak makan bayam!" Suara Elang menggema di ruang makan.

Alya menelan ludah, Theo diam-diam menjauh dari pusat masalah. Sementara para pelayan hanya bisa menundukkan kepala.

"Berapa kali aku harus bilang?"

"Tuan, kami hanya menjalankan—"

"Menjalankan apa?" Elang memotong.

Nada suaranya semakin tajam.

"Kalian semua tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan!"

Para pelayan semakin menunduk. Tidak ada yang berani menjawab. Nathan yang melihat itu langsung mengernyit.

"Elang." Panggil putranya tidak berhenti.

"Kalau tidak bisa bekerja dengan benar, untuk apa kalian dibayar?"

Beberapa pelayan tampak semakin pucat. Arabelle yang sejak tadi duduk tenang akhirnya menghela napas kecil dan berdiri.

"Sudah selesai yapping-nya?" Tanya Ara santai, sembari melipatkan kedua tangannya di dada.

Seluruh ruang makan membeku. Mohan yang baru saja hendak duduk hampir tersedak. Theo membulatkan mata, Alya menatap Ara tidak percaya. Bahkan, Nathan ikut terdiam beberapa detik.

Sedangkan, Elang perlahan menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada Arabelle. Namun, Ara tampak tidak terpengaruh sedikit pun. Ia bahkan masih duduk santai di kursinya.

Elang melangkah mendekat.

"Kamu yang mengatur menu ini?" Tanyanya dingin.

Nathan langsung bersuara. "Elang..."

Namun, Elang tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari Ara.

"Aku tanya sekali lagi." Nada suaranya semakin rendah.

"Kamu yang mengatur menu ini?"

Ara mengangguk santai. "Iya, kenapa?"

Theo langsung memejamkan mata, Alya menahan napas. Mohan diam-diam mulai bersiap menjadi penengah.

Namun, Elang sudah lebih dulu bicara.

"Kenapa?"

Ara mengangkat alis. "Kenapa apanya?"

"Kamu tahu aku tidak makan bayam."

Ara terlihat berpikir, lalu menjawab jujur.

"Aku baru kenal kamu beberapa jam..."

Elang terdiam.

"Kamu pikir aku cenayang? Tahu semua apa yang tidak kamu suka?"

Theo hampir tertawa, untung berhasil ditahan. Elang menarik napas panjang. Tetapi, emosinya jelas belum turun.

"Kamu sengaja."

Ara kembali mengangkat alis.

"Sengaja bikin orang makan sayur?" Tanya Ara santai.

"Kamu tahu maksudku,"

Ara menatap Elang tanpa ekspresi. Membuat Elang justru semakin kesal, Nathan mulai khawatir. Ia mengenal sifat putranya, Elang biasanya tidak mudah meledak. Tetapi kalau sudah marah, dia bisa sangat sulit dihentikan. Yang membuat Nathan lebih khawatir justru Arabelle. Ia menunggu wanita itu marah, atau membalas bentakan Elang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ara hanya menatap Elang dengan ekspresi dingin. Seolah bentakan Elang tidak berarti apa-apa.

Lalu Ara bertanya santai, "Kamu umur berapa?"

Elang mengernyit. "Apa hubungannya?"

"Aku cuma tanya."

"Dua puluh tiga."

Ara mengangguk. "Lulusan TK sudah lama ya..."

Elang membeku. "Apa?"

Ara menunjuk bayam di meja. "Terus kenapa masih perang sama sayur?"

Theo langsung menunduk, bahunya mulai bergetar. Alya juga buru-buru menutup mulut. Bahkan Mohan, harus memalingkan wajah, Nathan sendiri ikut terdiam.

Nathan merasa makan malam ini akan jauh lebih menghibur daripada rapat perusahaan mana pun yang ia hadiri hari ini.

Perkataan Arabelle barusan benar-benar mengenai sasaran. Dan itu membuat Elang merasa dipermalukan di depan semua orang.

Wajah pemuda itu mengeras, rahangnya menegang. Tangannya mengepal kuat.

"Jadi sekarang aku yang salah?"

Suasana ruang makan semakin sunyi. Ara tidak menjawab. Ia hanya menatap Elang dengan tenang. Sikap itulah yang justru membuat Elang semakin emosi. Wanita itu terlihat sama sekali tidak menganggap kemarahannya penting.

"Tahu apa kamu tentang aku?!" Bentak Elang.

Ara tetap diam.

"Baru datang beberapa jam sudah mengatur semuanya!"

Nathan langsung berdiri. "Elang."

Namun, putranya sudah terlanjur kehilangan kesabaran. Tangannya menyapu mangkuk besar bayam bening di atas meja. Mangkuk itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Kuah bayam berceceran ke mana-mana. Sayuran hijau berserakan di lantai marmer. Seluruh ruangan langsung membeku. Para pelayan terdiam, tidak ada yang berani bergerak. Kejadian yang dulu pernah terjadi terulang lagi.

Nathan menutup mata sesaat, dia sudah menduga. Sejak melihat bayam di meja tadi, ia tahu kemungkinan besar malam ini akan berakhir seperti ini.

"Elang!" Bentaknya. Tetapi, sudah terlambat. Elang berbalik. Tatapannya langsung mengarah kepada Arabelle.

"Aku membencimu!"

Theo membelalak, Alya menelan ludah. Mohan menghela napas panjang. Sedangkan, Arabelle masih berdiri dengan tenang di dekat kursinya.

"Aku tidak mau makan!" Teriak Elang. Lalu berbalik dan berjalan pergi.

"Elang!" Nathan kembali memanggil. Pemuda itu tidak berhenti. Langkahnya tetap menuju tangga. Dan beberapa detik kemudian suara pintu kamar dibanting terdengar dari lantai atas.

Nathan memijat pelipisnya. Para pelayan menunduk. Tidak tahu harus berbuat apa. Theo diam, Alya juga diam. Tak ada yang berani membuka suara. Semua orang langsung menoleh kepada Ara. Nathan bahkan sudah bersiap jika wanita itu marah atau tersinggung.

Namun, Arabelle justru berkata santai,

"Biarkan saja..."

Nathan mengernyit, Ara mengambil tisu lalu mengelap tangannya.

"Aku urus dia nanti."

Nathan terdiam, Theo menatap Ara dan Alya juga. Mereka sama-sama tidak menyangka wanita itu akan bereaksi setenang ini. Ara kemudian melihat meja makan. Lalu melihat semua orang yang masih membeku.

"Kalian kenapa?" Tidak ada yang menjawab Ara menunjuk kursi-kursi di sekitar meja.

"Makan,"

Masih tidak ada yang bergerak, Ara menghela napas. Lalu berkata dengan santai,

"Mau makan..." Semua orang menunggu.

"Atau cuci piring?"

Seketika, Theo langsung menarik kursi.

"Aku makan aja."

Alya duduk paling cepat. "Aku juga."

Bahkan, para pelayan yang tadi membeku langsung bergerak membantu menyajikan ulang makanan, dan sebagian membereskan lantai. Nathan berkedip, Mohan hampir tertawa.

Baru beberapa detik lalu suasana seperti pemakaman. Sekarang semua orang sudah duduk rapi di kursi masing-masing.

Ara mengangguk puas. "Nah, begitu."

Kemudian ia menoleh kepada salah satu pelayan.

"Tolong ambil mangkuk baru."

"Baik, Nyonya. Dan buatkan satu porsi bayam lagi."

Salah satu pelayan hampir tersedak.

"Nyonya?"

Ara tersenyum tipis. "Satu porsi khusus untuk Elang, aku sendiri yang akan mengantar ke kamarnya,"

Theo yang sedang minum langsung batuk.

"Uhuk!"

Alya menatap Ara dengan ngeri. Nathan memandang istrinya beberapa saat. Lalu untuk pertama kalinya malam itu. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Arabelle tidak sedang berperang dengan anak-anaknya. Wanita itu sedang mendidik mereka. Entah kenapa Nathan merasa Elang baru saja bertemu lawan yang sepadan.

1
Sri Wulandari
jangan² cucu sahabat omanya Alya itu Ken 🤔
Sri Wulandari
Ken sprtinya suka qm makanya dia suka ngusilin qm
Sri Wulandari
harus resepsionis itu menghubungi Mohan asisten Nathan buat konfirmasi klu ada Ara yg mengaku istrinya Nathan nah klu sdh gini siap² qm kehilangan pekerjaan mu mbk 😔
Sri Wulandari
pasti itu pelayanan yg sm pas dulu suka ngomporin Alya waktu msh blm menerima Ara jd ibu tirinya 🤔
Sri Wulandari
beruntung Nathan menjadikan Ara sbgai istrinya bagitu pula dg anak²nya memiliki ibu sambung yg peka dg kondisi & keadaan mereka yg sllu mengkhawatirkan mereka setiap saat
Sri Wulandari
ya ampun Alya Theo jahilnya g hilang² orangtua sendiri d jaili malu kan mereka 😅
knp Alya g jd dokter sj drpd jd perawat thour 🤔
atulyaas
nyonya ga sih ka harusnyaa, kan udaa nikah dokternya tau juga itu mama nya elang
Sri Wulandari
baru unboxing ayah Nathan selama 3th kerinduan yg terpendam akhirnya tersalurkan....selamat smoga segera launcing apalagi klu smpai jd 2
Sri Wulandari
klrg Vasilo sangat menyayangi anak² tiri Ara.... mereka sdh menganggap anak² itu menjadi bagian klrg Vasilo
Alya qm pasti BT ya...smua orang mengerjain mu.... tunggu sbntr lg akan ada kejutan luar biasa utk mu qm pasti d buat syok dg hadiah yg qm terima nti....
Happy Birthday Alya bahagia sllu 😍🥰🥰🤗🤗🤗🎂🍭🍭🍦🎉🎆
Sri Wulandari
walaupun tinggal d luar negeri & menjadi bagian klrg kaya tp Alya ttp menjadi pribadi yg sederhana & g sombong begitu pun dg kakaknya yg lain ayah Nathan & Ara sdh berhasil mendidik anak²nya dg sangat baik 🤗
Sri Wulandari
Theo mmng suka buat mslh tp dia sllu bertanggungjawab dg setiap pilihan & mimpinya yg g pernah hilang adalah menjadi pembalap profesional senyum sllu mengembang matanya sllu berbinar karna balapan adalah sebagian dr jiwanya yg g pernah bs dia lepas smpai kpn pun 🤗
Sri Wulandari
mm Ara mmng polos ayah Nathan.... benar² kena mental itu mantan ayah mmng ulat bulu g tau malu salah cari dia mm Ara koq d lawan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sri Wulandari
Nathan ayah yg hebat demi demi keutuhan klrgnya & kebahagiaan ketiga anaknya dia akhirnya mendapatkan kesempatan utk bersama Ara walaupun mereka smua hrs berpisah selama 3th... waktu yg tdk sebentar tetapi ada kepastian klu mereka suatu hari bs bersama selama membangun klrg bahagia impian Nathan & anak²nya bersama Ara sbgai mama pilihan mereka 🥰🥰🤗

😍😍😍😍😍
Sri Wulandari
Elang mulai PDKT😄
mars
mafioso ga tuh punya ibu tiri😄
Sri Wulandari
Theo lebih gercep dr ayah Nathan utk membawakan Ara kembali pulang semangat Theo qm pasti bs membawa mm Ara pulang
Sri Wulandari
Theo berusaha menjadi kakak yg baik buat Alya apapun akan dia lakukan utk adiknya demi membawa mm Ara pulang.... semangat Theo bkn kemenangan yg hrs d raih tp sebuah proses & usaha yg gigih utk membuktikan klu kalian menginginkan mm Ara kembali pulang 💪💪💪🤗🤗
Sri Wulandari
Theo si pembuat onar akhirnya berpikiran dewasa & berusaha bertanggungjawab dg smua keputusannya
Sri Wulandari
terharu dech bacanya...
akhirnya Theo bs mengungkapkan perasaannya .....Theo, Alya, & Elang mereka sebenarnya anak² yg baik hamya sj karna kehilangan seorang mama membuat mereka merasa kesepian tanpa perhatian & kasih sayang karna ayah Nathan yg sllu sibuk sehingga mereka benar² kehilangan sosok seorang ibu tp kehadiran Ara membuat mereka sadar bahwa hidup mereka menjadi lebih hangat stlh k hadiran Ara walaupun awalnya mereka menolak karna mereka mengira ibu tiri itu seorang yg kejam & suka melakukan kekerasan & hanya mencintai ayah mereka sj....
tp nyatanya tdk dg Ara....dia bs membuat mereka merasa terlindungi d sayangi... Theo yg suka membuat membantah & membuat mslh pun jg merasakan kasih sayang itu
Sri Wulandari
ternyata anak² ayah Nathan smua polos sllu menganggap ibu tiri itu jahat & suka menganiaya....buktinya ibu ara d bilang pkai ilmu sihir k banyakan halunya itu 😂😂🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!