Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Seleksi Turnamen
Siang hari, matahari menggantung tinggi di atas wilayah Keluarga Su.
Su Yun keluar dari gubuk setelah membereskan seluruh formasi yang digunakan selama sebulan terakhir.
Tungku Kristal Musim Semi sudah kembali ke dalam Cincin Penyimpanan.
Pakaiannya bersih.
Pedang sederhana tergantung di pinggang.
Aura tubuhnya tenang dan nyaris tidak mencolok.
Namun dibandingkan sebulan lalu, Su Yun sudah berubah jauh.
Di sepanjang jalan menuju arena, banyak keluarga mengantar putra-putri mereka.
Para peserta mengenakan pakaian terbaik yang mereka punya.
Sebagian membawa pedang.
Sebagian membawa tombak.
Wajah mereka dipenuhi gugup dan semangat.
Turnamen Tiga Tahunan bukan hanya kompetisi.
Bagi murid wilayah luar, ini bisa menjadi kesempatan terbesar dalam hidup.
Masuk dua ratus besar berarti memperoleh peluang memasuki wilayah dalam Keluarga Su.
Artinya sumber daya lebih baik.
Teknik lebih tinggi.
Dan masa depan yang jauh berbeda.
“Aku cuma ingin masuk dua ratus besar.”
Seorang pemuda bergumam sambil mengepalkan tangan.
“Kalau gagal lagi kali ini, mungkin aku tidak punya kesempatan berikutnya.”
“Jangan bicara seperti itu!”
Ayahnya menepuk bahunya.
“Lakukan yang terbaik.”
Namun semua orang tahu.
Peringkat sangat penting.
Ketika Su Yun tiba di alun-alun, suasananya sudah penuh sesak.
Ribuan peserta berkumpul.
Orang tua dan keluarga hanya diperbolehkan menunggu di luar.
Area utama khusus untuk anggota Keluarga Su yang mengikuti turnamen.
Su Yun mengamati sekeliling.
Di satu sisi alun-alun terdapat kelompok yang terlihat jelas berbeda.
Sekitar seratus murid mengenakan pakaian jauh lebih mewah.
Senjata mereka juga memancarkan aura spiritual kuat.
Murid wilayah dalam.
Begitu melihat mereka, ekspresi banyak peserta wilayah luar langsung berubah.
“Semoga jangan bertemu mereka.”
“Kalau dapat murid wilayah dalam sejak awal, habislah.”
“Bukankah mereka sudah pasti masuk dua ratus besar?”
Memang.
Perbedaan sumber daya membuat murid wilayah dalam memiliki keunggulan besar.
Sebagian besar dari mereka setidaknya sudah mencapai tahap tinggi Alam Murid Roh.
Bahkan ada yang telah memasuki Alam Roh Sejati.
Bagi murid wilayah luar, bertemu mereka hampir sama dengan menerima kekalahan.
Su Yun tidak terlalu memperhatikan.
Su Kuang termasuk salah satu dari mereka.
Cepat atau lambat, ia akan bertemu pria itu.
“Hei!”
Seseorang tiba-tiba menunjuk.
“Bukankah itu Su Yun?”
Beberapa kepala menoleh.
“Dia benar-benar ikut?”
“Yang dahulu diusir dari wilayah dalam?”
“Bukankah kultivasinya berhenti bertahun-tahun?”
Bisikan segera menyebar.
Ada yang mengejek.
Ada yang penasaran.
Sebagian besar hanya melihat beberapa detik sebelum kembali memikirkan turnamen.
Su Yun tidak peduli.
Namun kemudian—
“Kakak Su Yun!”
Suara perempuan terdengar dari samping.
Su Yun menoleh.
Dua sosok berlari ke arahnya.
Seorang gadis muda dan seorang pemuda bertubuh tinggi.
Begitu melihat wajah mereka, Su Yun sedikit tertegun.
“Xin Yue?”
“Xing Yang?”
Gadis itu langsung tersenyum lebar.
“Kakak Su Yun masih mengingat kami!”
Tentu saja.
Bagaimana mungkin ia lupa?
Keduanya adalah kakak-beradik yatim piatu yang hidup di wilayah luar.
Bertahun-tahun lalu, ketika Su Yun masih menjadi murid wilayah dalam, ia pernah membantu mereka.
Saat itu Xin Yue dituduh menghilangkan sebuah jepit rambut spiritual dari gudang milik seorang tetua.
Tidak ada bukti kuat.
Namun sebagai pelayan kecil, ia hampir dijadikan kambing hitam.
Xing Yang memohon.
Tidak ada yang peduli.
Su Yun kebetulan lewat dan meminta perkara tersebut diperiksa kembali.
Pada masa itu, namanya masih memiliki sedikit bobot.
Masalah pun dihentikan.
Bagi Su Yun saat itu, tindakan tersebut hanya bantuan kecil.
Namun bagi dua bersaudara ini—
itu menyelamatkan hidup mereka.
Dan ketika Su Yun kemudian jatuh miskin, justru keduanya pernah beberapa kali memberinya makanan ketika Qing Er tidak datang.
Orang yang tahu membalas kebaikan selalu memiliki tempat khusus di hati Su Yun.
Xin Yue berhenti di depannya.
Ia kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Kulitnya sedikit kecokelatan karena sering berlatih di luar.
Rambutnya diikat tinggi.
Matanya tetap hidup seperti dalam ingatan Su Yun.
“Kakak Su Yun, kau baik-baik saja?”
“Aku terlihat tidak baik?”
Xin Yue memeriksanya dari atas sampai bawah.
Kemudian mengembuskan napas lega.
“Kami dengar Kakak pergi keluar hampir sebulan.”
“Aku bahkan sempat datang ke gubukmu, tapi pintunya terkunci.”
Xing Yang menyusul.
Tubuhnya kini jauh lebih besar.
“Kami pikir kau mengalami masalah.”
Xin Yue langsung melotot kepadanya.
“Kakak!”
“Apa?”
“Tidak usah bicara begitu!”
Xing Yang terlihat bingung.
“Aku cuma bilang kami khawatir.”
Su Yun tertawa kecil.
“Tidak masalah.”
Kekhawatiran mereka terasa tulus.
Dan entah mengapa, perasaan sederhana itu membuat dadanya hangat.
Selain Qing Er, tidak banyak orang yang masih memedulikannya setelah ia jatuh.
Xin Yue buru-buru mengganti topik.
“Kakak Su Yun juga ikut turnamen?”
“Ya.”
Wajahnya sedikit berubah.
“Tapi...”
Ia berhenti.
Xing Yang langsung menyambung tanpa pikir panjang.
“Kakak Su Yun sebelumnya baru tahap keenam, kan?”
Xin Yue menendang betisnya.
“Aduh!”
Xing Yang menatap adiknya.
“Apa lagi?”
“Kau tidak bisa bicara lebih halus?”
“Aku kan cuma—”
Su Yun mengangkat tangan.
“Tidak apa-apa.”
Ia tahu Xing Yang tidak bermaksud merendahkannya.
Pemuda itu memang terlalu jujur.
Xing Yang menggaruk kepala.
“Maksudku, turnamen ini berbahaya.”
“Kalau kultivasi Kakak masih tahap keenam, mungkin lebih baik menunggu kesempatan lain.”
Su Yun tersenyum.
“Aku sudah tidak berada di tahap keenam.”
Kedua bersaudara itu langsung terdiam.
Xin Yue mengedip.
“Bukan tahap keenam?”
“Coba rasakan.”
Su Yun perlahan melepaskan sedikit aura yang selama ini disembunyikannya.
Buzz.
Energi spiritual tipis menyebar.
Mata Xing Yang membesar.
“Ini...”
Xin Yue menutup mulut.
“Kakak Su Yun!”
Aura itu jauh lebih kuat daripada tahap ketujuh biasa.
Bahkan sudah mendekati—
“Delapan?”
Xing Yang hampir berteriak.
“Kakak sudah mencapai tahap kedelapan Alam Murid Roh?”
Su Yun tidak menjawab langsung.
Namun senyumnya sudah cukup.
Xin Yue langsung berseri-seri.
“Hebat!”
Ia benar-benar terlihat lebih bahagia daripada ketika membicarakan dirinya sendiri.
“Bakat Kakak akhirnya kembali!”
Su Yun memandang mereka.
Perasaan hangat itu kembali muncul.
Mereka tidak iri.
Tidak curiga.
Tidak mengejek.
Mereka sungguh senang.
“Dengan tahap kedelapan, Kakak punya peluang besar masuk dua ratus besar!”
Xin Yue berkata penuh semangat.
Xing Yang ikut mengepalkan tangan.
“Benar!”
“Kita bertiga harus masuk!”
Su Yun tertawa.
“Bagaimana kultivasi kalian?”
Xin Yue menjawab,
“Aku tahap ketujuh.”
Xing Yang membusungkan dada.
“Aku hampir tahap kedelapan.”
Xin Yue langsung mencibir.
“Hampir tetap berarti belum.”
“Setidaknya lebih dekat daripada kau.”
“Kakak mau bertengkar?”
“Tidak.”
Su Yun melihat keduanya saling adu mulut dan tanpa sadar tersenyum.
Pemandangan seperti ini terasa sederhana.
Namun setelah mengalami begitu banyak kehilangan dalam kehidupan pertama, ia justru semakin menghargainya.
Xin Yue kemudian merapatkan kedua telapak tangan.
“Semoga saja kita tidak bertemu murid wilayah dalam.”
Xing Yang ikut menatap kelompok murid mewah di kejauhan.
“Kalau bertemu mereka sejak awal memang repot.”
Su Yun justru tenang.
“Tidak perlu terlalu takut.”
Keduanya menoleh.
“Turnamen bukan hanya soal kultivasi.”
Su Yun berkata.
“Kalau sudah masuk arena, pengalaman, ketenangan, dan cara membaca lawan juga menentukan.”
Xing Yang mengangguk seolah mendapat pencerahan.
Xin Yue malah tersenyum.
“Kakak Su Yun sekarang benar-benar berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih tenang.”
Su Yun hanya tersenyum.
Kalau mereka tahu apa yang telah ia lalui selama beberapa minggu terakhir—
mungkin mereka tidak akan mengatakan hanya “lebih tenang”.
Dung!
Dung!
Dung!
Lonceng besar tiba-tiba berbunyi.
Seluruh alun-alun langsung senyap.
Semua peserta menoleh ke arena utama.
Beberapa tetua Keluarga Su perlahan berjalan naik ke panggung.
Seorang pria tua berdiri paling depan.
Tatapannya menyapu ribuan peserta.
“Turnamen Tiga Tahunan Keluarga Su akan segera dimulai.”
Suasana langsung menegang.
Namun pria tua itu belum selesai.
“Tahun ini jumlah peserta jauh lebih banyak.”
“Karena itu, sebelum pertandingan utama…”
Ia mengangkat tangan.
“…akan dilakukan seleksi awal.”
Bisikan langsung menyebar.
“Seleksi?”
“Apa maksudnya?”
Tetua itu mengangkat suara.
“Hanya peserta yang mampu melewati seleksi pertama yang berhak memasuki turnamen resmi.”
Xin Yue langsung terlihat tegang.
Xing Yang menelan ludah.
Su Yun justru menyipitkan mata.
Jadi sebelum menghadapi Su Kuang…
ia harus melewati penyaringan terlebih dahulu.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Menarik.”
......................
Bersambung...