NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain yang Mulai Terlihat

Matahari pagi belum sepenuhnya naik saat kami melangkah keluar menuju kebun bagian timur. Udara masih sejuk, menyentuh kulit dengan kelembutan yang segar, kabut tipis masih menyelimuti ujung-ujung dahan pohon, menciptakan permadani kabut putih pudar di antara pepohonan. Di kejauhan, cahaya keemasan mulai menyelinap dari balik bukit, perlahan mengusir kegelapan, mengubah warna langit dari ungu pudar menjadi jingga lembut yang melebar perlahan ke seluruh penjuru cakrawala. Tidak ada suara apa pun selain napas kami berdua, kicauan burung yang baru terbangun, dan gemerisik dedaunan yang tersentuh angin pagi.

Arga berjalan di sampingku, langkahnya tidak lagi terburu-buru, tidak lagi kaku seperti hari-hari pertama. Tangannya menggenggam tanganku erat namun lembut, sesekali mengusap punggung tanganku seakan memastikan bahwa aku benar-benar ada di sini, di sampingnya, menikmati momen yang ia tunggu begitu lama. Wajahnya tampak damai, bebas dari kerut kekhawatiran yang biasanya menghiasi dahinya saat berhadapan dengan urusan dunia. Di sini, di tempat yang tenang ini, ia tampak seperti orang yang berbeda — bukan pewaris kaya yang ditakuti dan dihormati, melainkan seseorang yang baru saja menemukan tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun.

“Dulu aku sering ke sini sendirian,” ucapnya pelan, suaranya berpadu dengan hening pagi. “Saat masih kecil, sebelum semua aturan mengikatku. Aku bersembunyi di balik pohon tua itu, membayangkan ada teman yang duduk di sampingku, bercerita, tertawa… lalu aku tumbuh dewasa, dan aku lupa jalan ke sini sampai kemarin kau mengajaknya kembali.”

Kami berhenti di bawah pohon raksasa yang dahannya merentang luas, menciptakan tempat teduh yang nyaman. Di depannya, hamparan kebun terbentang luas, dan di ufuk timur, matahari perlahan muncul sepenuhnya, menyinari dedaunan yang masih berembun hingga berkilauan seperti ribuan permata kecil.

“Kau tidak pernah sendirian di sini lagi,” kataku lembut, merapatkan diriku ke sisinya. “Aku di sini.”

Ia menunduk menatapku, senyumnya hangat dan penuh rasa syukur. “Aku tahu. Dan kadang aku takut ini semua hanyalah mimpi yang akan hilang saat aku membuka mata sepenuhnya.”

Namun hari ini bukan sekadar momen kelembutan. Hari ini adalah hari di mana sisi lain dari dirinya mulai terlihat — sisi yang selama ini tersembunyi di balik dinding tinggi yang ia bangun, sisi yang ia simpan rapat-rapat agar tidak ada yang menyakiti bagian paling rapuhnya.

Saat kami duduk di akar pohon yang lebar, ia mulai bercerita — perlahan, ragu, seakan setiap kata yang keluar dari bibirnya harus diperjuangkan terlebih dahulu sebelum diizinkan keluar. Ia bercerita tentang masa kecil yang tampak sempurna di mata dunia namun sepi di dalamnya: tentang ulang tahun yang dirayakan dengan pesta mewah dan tamu yang memuji-mujinya, namun tidak ada satu pun yang bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan; tentang hadiah-hadiah mahal yang menumpuk di kamarnya namun tidak ada satu pun yang disertai surat tulisan tangan; tentang hari-hari sakit yang ia lalui sendirian di kamar luas, hanya ditemani pelayan yang menyampaikan pesan dari ayahnya agar segera sembuh karena ada urusan penting yang harus diurus.

“Aku belajar sejak dini,” ucapnya pelan, suaranya bergetar sedikit, “bahwa kehadiranku berharga bukan karena aku Arga, melainkan karena nama yang kubawa dan harta yang akan kuwarisi. Jika aku bukan pewaris… tidak ada yang akan menoleh padaku.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Itu tidak benar, Arga. Bagian terbaik dari dirimu tidak ada di nama itu, tidak ada di harta itu. Ada di sini.” Aku menyentuh dadanya lembut. “Di hatimu yang baik, di kesabaranmu, di kelembutan yang kau sembunyikan agar tidak terluka.”

Ia menunduk, menelan ludah seakan menahan sesuatu yang berat di tenggorokannya. “Kau satu-satunya yang melihatnya. Semua orang lain hanya melihat apa yang mereka inginkan — pewaris, suami yang pantas, pemimpin yang teguh. Tidak ada yang bertanya apa yang kurasakan.”

Perlahan, semakin ia bercerita, semakin banyak sisi lain dari dirinya yang muncul. Ia bukan sekadar sosok yang tenang dan tertutup — ia juga seseorang yang cemas, yang takut tidak cukup baik, yang berusaha sekuat tenaga memenuhi harapan semua orang meski itu menghabiskan dirinya sendiri. Ia adalah anak kecil yang kesepian yang tumbuh menjadi pria yang takut dicintai hanya karena apa yang dimilikinya, bukan karena siapa dirinya.

Hari itu juga, saat kami kembali ke rumah, sisi lain itu terlihat di hadapan orang lain — bukan lagi sekadar di antara kami berdua. Saat seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan air ke lengan bajunya, semua orang menahan napas, takut akan kemarahan yang akan meledak. Bibi Ratih mengerutkan kening, bersiap menegur. Namun Arga hanya menunduk, melihat noda basah di bajunya, lalu menatap pelayan itu yang gemetar ketakutan.

“Tidak apa-apa,” ucapnya lembut, tersenyum menenangkan. “Hanya baju. Bisa diganti. Kau tidak terluka, kan?”

Pelayan itu mengangkat wajahnya terkejut, matanya membelalak. “Tidak, Tuan… saya tidak apa-apa… maafkan saya…”

“Tidak perlu minta maaf,” jawab Arga pelan. “Kau sedang bergegas, kan? Tidak apa-apa. Hati-hati lain kali saja.”

Ia berjalan pergi mengganti pakaiannya, meninggalkan semua orang yang masih terpaku di tempat. Bibi Ratih menatap punggungnya yang menjauh, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran keheranan, kelegaan, dan sesuatu yang menyerupai rasa haru.

“Dulu ia akan menegur dengan keras,” ucapnya pelan, hanya untukku. “Atau pergi tanpa sepatah kata pun, menyuruh orang lain mengurusnya. Ia tidak pernah bertanya apakah orang lain baik-baik saja.”

Sore itu, Arga mengajakku ke ruang kerjanya — ruangan yang selama ini tertutup rapat, dilarang dimasuki siapa pun tanpa izin tertulis. Ia berdiri di ambang pintu sejenak, seakan menimbang apakah benar-benar ingin mengizinkanku masuk.

“Boleh aku masuk?” tanyaku lembut, tidak mendesak.

Ia mengangguk perlahan, membukakan pintu lebih lebar. “Boleh. Ruangan ini… penuh dengan sisi lain diriku yang tidak pernah dilihat siapa pun.”

Aku melangkah masuk. Ruangan itu luas, dipenuhi rak buku yang menjulang tinggi, meja kayu besar yang penuh tumpukan dokumen, namun di sudut yang agak tersembunyi, ada sesuatu yang membuatku berhenti — sebuah tumpukan buku cerita anak yang tertata rapi, kotak pensil kayu yang sudah agak usang, dan sebuah foto berbingkai sederhana: dirinya saat masih kecil, berdiri di antara kedua orang tuanya, tersenyum lebar dan bahagia, sebelum kesepian menguasai hari-harinya.

Ia berdiri di sampingku, menatap foto itu dengan tatapan rindu yang mendalam. “Ibuku yang memberikanku semua ini. Ia bilang aku berhak bermain, berhak bermimpi, sebelum menjadi orang penting. Lalu ia pergi… dan semua ini disimpan di sini, tertutup debu, seakan bagian dari diriku ikut pergi bersamanya.”

Ia mengeluarkan sebuah buku tua dari rak, sampulnya sudah pudar. “Seringkali aku duduk di sini sendirian, membaca ulang cerita yang dibacakannya dulu. Membayangkan ia masih di sini, menepuk pundakku, berkata bahwa aku sudah melakukan yang terbaik.”

Aku menyentuh punggungnya dengan lembut. “Ia pasti tahu, Arga. Ia pasti melihatmu, dan bangga — bukan karena semua yang kau capai, tapi karena semua kebaikan yang masih ada di dalam dirimu meski kau ditinggalkan sendirian.”

Ia berbalik ke arahku, matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya di siang hari bolong, ia membiarkan air matanya jatuh — bukan karena kesedihan yang menyakitkan, melainkan karena perasaan yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalan keluar. Ia memelukku erat, menyandarkan kepalanya di bahuku, menangis pelan seakan melepaskan beban yang dipikulnya sendirian selama bertahun-tahun. Aku memeluknya kembali, mengusap punggungnya, tidak berkata apa-apa — hanya ada di sana, membiarkannya tahu bahwa ia tidak lagi sendirian menanggung semuanya.

Saat ia tenang, ia melepaskan pelukannya, menyeka wajahnya dengan malu-malu. “Maaf,” ucapnya pelan. “Aku tidak pernah menangis di depan siapa pun sebelumnya.”

“Tidak perlu malu,” kataku lembut, menyentuh pipinya yang masih basah. “Menangis bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa hatimu masih hidup, masih peduli.”

Malam itu, sebelum tidur, ia berkata pelan di sampingku, “Terima kasih karena tidak pergi saat melihat sisi lain diriku. Yang rapuh, yang cemas, yang belum selesai.”

Aku mencium keningnya lembut. “Aku tidak akan pergi justru karena sisi itulah yang paling berharga. Sisi yang kau sembunyikan agar tetap kuat… itulah yang membuatku ingin tetap tinggal di sisimu.”

Kami berbaring berdekatan, memeluk satu sama lain dalam keheningan yang hangat. Sisi lain itu kini tidak lagi tersembunyi — ia diterima, dicintai, dihargai. Dan Arga, pria yang dulu terlihat tak tergoyahkan, kini mulai belajar bahwa dicintai tidak harus sempurna — cukup menjadi dirinya sendiri, utuh dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!