NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Gerbang yang Tidak Ada di Peta

Hujan baru saja reda ketika Raka Aditya menutup payungnya dan menyadari satu hal yang memalukan: ia tersesat.

Tersesat di Surakarta, kota tempat ia lahir dan besar. Untuk seorang pemandu wisata sejarah, itu semacam aib profesional. Tiga tahun ia membawa turis berkeliling Keraton Kasunanan, Pasar Gede, sampai kampung batik Laweyan. Ia hafal jam buka tiap museum, tahun berdirinya setiap bangunan tua, bahkan warung selat yang paling enak. Tapi malam itu, di antara gang-gang sempit yang basah, ia tidak mengenali satu pun belokan.

"Tenang, Raka," gumamnya pada diri sendiri. "Ini cuma gang. Gang selalu ada ujungnya."

Ia tadi mengambil jalan pintas karena jalan utama tergenang air. Rombongan turis dari Belanda yang ia antar seharian sudah kembali ke hotel, dompetnya lebih tebal oleh tip, dan satu-satunya keinginannya adalah pulang, mandi air hangat, lalu tidur. Ponselnya sudah mati sejak sore. Powerbank di ransel ternyata lupa ia isi daya. Hari yang sempurna.

Di dalam ransel itu juga ada barang-barang yang selalu ia bawa ke mana-mana: buku catatan kecil yang penuh coretan tahun-tahun kerajaan, termos, senter kecil, dan fotokopi lembaran Nagarakretagama yang sudah lecek karena terlalu sering dibaca di sela-sela jam makan siang. Teman-temannya sering meledek. "Kamu itu hidup di abad yang salah, Rak," kata mereka. Raka biasanya hanya tertawa dan mengangkat bahu.

Ia berjalan lagi. Lampu jalan di ujung gang berkedip-kedip, lalu padam. Suara kota, deru motor, klakson, penjual nasi goreng yang memukul wajan, perlahan menghilang, seperti volume televisi yang diturunkan pelan-pelan. Kabut tipis turun entah dari mana, padahal ini Solo, bukan Dieng.

Raka berhenti. Sunyi sekali. Terlalu sunyi untuk kota seramai ini.

Di depannya berdiri sebuah tembok bata merah yang tinggi dan tebal, lebih tua dari bangunan apa pun di Laweyan yang ia kenal. Di tengahnya menganga sebuah gapura terbelah, dua sisi bata yang seakan dipotong tepat di tengah, seperti candi bentar yang pernah ia lihat di buku-buku arkeologi. Dan di atas gapura itu terukir sebuah lambang: matahari dengan delapan sinar, dikelilingi lingkaran.

Napas Raka tertahan.

"Surya Majapahit," bisiknya.

Ia mengenalnya seperti ia mengenal wajah ibunya. Lambang itu ada di sampul skripsinya, di kaus-kaus koleksinya, dan di tato kecil yang tak pernah berani ia buat. Tapi lambang itu tak seharusnya ada di sini. Tidak di gang kampung batik, tidak pada tembok yang jelas tak tercatat di mana pun. Ia pernah membaca semua laporan cagar budaya Surakarta. Tidak ada gapura ini.

Seharusnya Raka berbalik. Orang waras mana pun akan berbalik. Tapi rasa ingin tahu seorang pencinta sejarah adalah penyakit yang lebih kuat dari akal sehat. Ia mengeluarkan senter kecil dari ransel, menyorot ukiran itu dari dekat, dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menyentuh bata di sisi gapura.

Hangat.

Bata itu hangat, seperti kulit orang demam, dan di bawah telapak tangannya terasa getaran halus, seakan ada sesuatu yang berdengung jauh di dalam tembok.

"Wah," kata Raka pelan. "Ini nggak lucu."

Senter di tangannya berkedip lalu mati. Kabut menebal. Dari balik gapura, ia mendengar sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri: bukan suara kendaraan, bukan suara manusia, melainkan semacam nyanyian panjang tanpa kata, rendah dan bergetar, seperti doa yang dilantunkan seratus orang sekaligus.

Kakinya melangkah. Ia tidak memutuskan untuk melangkah. Kakinya hanya melakukannya, seolah tubuhnya sudah lama menunggu kesempatan ini.

Satu langkah melewati gapura. Telinganya berdenging keras, seakan ia terjun dari ketinggian. Dunia berputar, kabut berubah menjadi cahaya putih, lalu gelap.

Yang pertama kembali adalah penciuman.

Bau tanah basah. Daun busuk. Asap kayu bakar yang jauh. Tidak ada bau knalpot, tidak ada bau aspal sehabis hujan. Raka membuka mata dan melihat dedaunan raksasa menjulang di atasnya, disaring cahaya pagi keemasan.

Ia terbaring di atas lumut. Punggungnya basah oleh embun, kepalanya berdenyut, dan mulutnya terasa seperti habis makan kertas.

"Aku... pingsan?" Ia duduk perlahan. "Di mana..."

Ia berhenti bicara karena melihat sekelilingnya. Pohon-pohon sebesar rumah, akar-akarnya menjalar seperti ular. Burung-burung berkicau dengan suara yang tidak ia kenal. Udara begitu bersih sampai paru-parunya hampir kaget. Ini bukan Surakarta. Ini bukan Jawa yang ia kenal, dengan jalan aspal, kabel listrik, dan menara sinyal.

Ia menoleh ke belakang, mencari gapura bata merah itu.

Tidak ada. Hanya sebatang beringin tua dengan akar gantung yang lebat, seolah sudah berdiri di situ selama ribuan tahun.

Raka mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Layarnya hitam. Ia menekan tombol daya berkali-kali, tetap hitam. Senter kecilnya juga tak mau menyala. Yang masih ada hanya ransel, buku catatan, termos, dan kantong plastik berisi dua bungkus roti.

"Oke," katanya, berusaha tenang. "Tarik napas. Ini mimpi. Atau aku diculik. Atau aku halusinasi karena belum makan malam."

Tak satu pun penjelasan itu terasa meyakinkan.

Dari kejauhan terdengar suara air mengalir. Raka mengikuti suara itu karena hanya itu satu-satunya petunjuk yang ia punya. Ia menyibak semak, melewati akar-akar besar, dan akhirnya sampai di tepi sebuah sungai jernih yang berkelok di antara batu-batu. Airnya sebening kaca. Ia hampir menangis melihatnya.

Ia berlutut, meraup air, dan membasuh wajah. Dingin. Nyata. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

"Sira sapa?"

Raka terlonjak dan hampir tercebur ke sungai.

Di seberang, sekitar sepuluh langkah dari tempatnya, berdiri seorang gadis dengan keranjang anyaman di punggung. Usianya mungkin awal dua puluhan. Rambutnya digelung sederhana, kain batik cokelat tua melilit pinggangnya, dan kulitnya sawo matang terbakar matahari. Tangan kanannya menggenggam sebilah sabit kecil, dan sabit itu terangkat setengah, siap dipakai.

Matanya tajam. Bukan mata orang yang takut, melainkan mata orang yang sedang menimbang apakah makhluk di depannya berbahaya atau tidak.

"Sira sapa? Wong saka ngendi?" ulangnya, kali ini lebih keras.

Raka tertegun. Bahasa itu bukan bahasa Jawa yang ia pakai sehari-hari. Lebih berat, lebih tua, dengan gaya yang mengingatkannya pada naskah-naskah kuno yang pernah ia baca sampai begadang. Entah bagaimana, ia mengerti. Tidak semuanya, tapi cukup. Seperti mendengar bahasa kakek-neneknya, tapi versi yang sangat, sangat tua.

Kamu siapa? Orang dari mana?

"Saya..." Raka menelan ludah. Ia mengangkat kedua tangan pelan-pelan. "Saya bukan orang jahat. Saya tersesat."

Alis gadis itu berkerut. Matanya turun menelusuri jaket windbreaker biru, celana jins, dan sepatu kets yang basah lumpur, lalu naik lagi ke wajah Raka. Sabitnya tidak turun, tapi tatapannya berubah. Bukan takut. Lebih ke penasaran bercampur curiga.

"Busanamu aneh," katanya. "Kain macam apa itu? Tak ada tenunan seperti itu di tanah Wilwatikta."

Wilwatikta.

Jantung Raka berhenti sedetik. Itu nama lain Majapahit. Nama yang hanya ia temukan di kitab Nagarakretagama dan prasasti-prasasti tua, bukan sesuatu yang diucapkan orang biasa di tepi sungai pada pagi hari.

Perut Raka tiba-tiba berbunyi keras, memecah keheningan. Sangat keras. Burung-burung di dahan sampai terbang.

Gadis itu menatapnya, lalu menatap perutnya, lalu menatapnya lagi. Sudut bibirnya bergerak sedikit, seperti menahan sesuatu yang bukan marah.

"Maaf," kata Raka, malu setengah mati. Ia merogoh kantong plastik di ranselnya dan mengeluarkan sebungkus roti. "Ini... mau? Sebagai tanda saya bukan musuh."

Gadis itu mengamati bungkusan plastik bening itu seakan Raka baru menyodorkan seekor ular. Ia menyeberangi sungai dengan melompati batu-batu, sabit masih di tangan, lalu mengendus roti itu dari jarak sejengkal.

"Bau gandum dan madu," gumamnya. "Tapi kantongnya... bening seperti air. Belum pernah kulihat."

"Itu plastik," kata Raka refleks, lalu menyesal.

"Plastik," ulang gadis itu, mencoba kata asing itu di lidahnya. Akhirnya ia menurunkan sabit. "Namaku Sekar. Aku mencari daun obat untuk ibuku. Dan kau, orang aneh, siapa namamu?"

"Raka. Raka Aditya."

"Nama seorang ksatria," kata Sekar, setengah mengejek. "Tapi kau tak tampak seperti ksatria."

"Kebetulan, saya juga bukan."

Sekar mendengus pendek, hampir seperti tawa. Ia mengambil roti itu, membukanya dengan bingung, lalu menggigitnya. Matanya melebar.

Raka memakai kesempatan itu untuk bertanya hal yang sedari tadi menekan dadanya. Suaranya keluar serak ketika ia berkata, "Mbakyu... boleh saya tanya sesuatu? Ini tahun berapa?"

Sekar berhenti mengunyah dan menatapnya seolah ia baru saja bertanya apakah langit itu biru.

"Tahun?" katanya lambat. "Tentu saja tahun Saka seribu dua ratus tujuh puluh dua. Baginda Rajasanagara baru saja dinobatkan di Majapahit. Seluruh negeri berpesta, dan kau tak tahu itu?"

Raka tak menjawab. Otaknya, yang selama ini terlatih menghitung tahun, bekerja sendiri dengan dingin dan cepat: 1272 ditambah 78. Seribu tiga ratus lima puluh Masehi.

Rajasanagara adalah gelar Hayam Wuruk.

Sungai itu terus mengalir, burung-burung kembali berkicau, dan di ujung pandangannya asap tipis dari sebuah desa mengepul naik ke langit. Dunia tampak begitu damai, begitu nyata, sampai Raka sadar bahwa tidak ada jalan pulang yang kelihatan.

Ia, Raka Aditya, pemandu wisata sejarah berusia dua puluh sembilan tahun, baru saja terlempar tujuh abad ke belakang.

"Mbakyu Sekar," katanya akhirnya, hampir berbisik. "Saya rasa... saya butuh duduk."

1
mimief
berarti...jalan nya waktu sama disana dengan yg disini
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
mimief
cemburu dia rak..
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
mimief
wah....siapa kah itu?
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!