NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Cahaya di Kedalaman Bumi

"T-Turun ke dalam?!" jerit Kepala Desa dengan mata membelalak penuh horor. "Tuan Pertapa Kecil, dasar sumur itu adalah sarang iblis! Anda bisa mati membusuk di bawah sana!"

Mumei tidak menjawab. Anak perempuan itu melangkah tenang ke bibir sumur batu. Tanpa ragu, ia membetulkan tali topi pertapanya, meraih sarung kain rami di punggungnya, dan membebaskan pedang kayu pusakanya. Kayu tebal berwarna kelam itu memancarkan pendaran dingin yang terawat.

Mumei menoleh sekilas ke arah Kepala Desa dan para warga yang gemetar.

"Pegang tali ini," ujar Mumei pelan namun tegas. "Jika kalian mendengar suara benturan keras dari bawah... jangan sekali-kali mengintip ke dalam."

Sebelum ada yang sempat melontarkan cegahan, Mumei melompat ringan menembus kegelapan mulut sumur.

Sssss...

Tubuhnya meluncur turun menembus udara dingin yang pekat. Hanya dalam hitungan tiga detik, Mumei mendarat tanpa suara di atas lantai batu di dasar sumur. Kaki telanjangnya memijak lumpur hitam yang berbau amis menyengat.

Kuil bawah tanah di dasar sumur itu rupanya terhubung dengan sebuah gua alami yang luas dan gelap gulita. Tidak ada cahaya matahari yang sanggup menembus kedalaman sepuluh meter ini. Hanya bau busuk belerang dan jeritan bisikan melengking yang bergema saling bersahutan di dinding-dinding batu basah.

GGRRRRR...

Di ujung lorong gua, gumpalan uap hitam yang tadi menyumbat saluran air bersatu dan membentuk wujud yang mengerikan. Uap itu bertransformasi menjadi sesosok Onryo raksasa wujud manifes dari penderitaan ratusan prajurit yang tewas dalam Pengepungan Odawara. Wujud itu memiliki banyak wajah prajurit yang menjerit kepedihan, dengan puluhan lengan bercakar kabut hitam yang merayap di dinding gua.

Onryo itu meraung parau, menggetarkan batuan stalaktit di langit-langit gua.

"Darah... Berikan kami darah... Kembalikan rumah kami..." gaung suara itu bersahutan bagaikan jeritan ratusan mayat.

Mumei tidak gentar sedikit pun. Momen latihan keras selama lima tahun di bawah gemblengan Ogen dan Biksu Tenkai di Gunung Kurama langsung mengambil alih refleks tubuhnya.

Mumei mengambil napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata kirinya, sementara mata kanannya terbelalak penuh.

BZZZZT!

Segel Raja Tengu Sojobo di jiwa Mumei meletus aktif. Pupil mata kanannya menyala terang dengan pendaran cahaya keunguan yang amat pekat, membelah kegelapan gua. Dalam pandangan spiritualnya, seluruh gumpalan racun Onryo terurai menjadi simpul-simpul energi jahat yang saling terikat di atas inti mata air.

"Aku akan mengembalikan kedamaian kalian," bisik Mumei.

SWAT!

Onryo raksasa itu mengayunkan lima cakar kabut hitamnya serentak ke arah Mumei, menerjang dengan kecepatan mematikan.

Mumei melangkah maju menggunakan teknik Shinobi-aruki klan Iga. Tubuhnya bergerak licin bagaikan bayangan, berbelok di antara sela-sela cakar racun tanpa menyenggolnya sedikit pun. Pijakan kakinya di atas lumpur basah begitu halus, tak menciptakan desakan air sama sekali.

Ketika jaraknya tinggal dua langkah dari pusat gumpalan Onryo, Mumei mengayunkan pedang kayunya.

KLANG! BUMP!

Gaya pedang Iga yang mengandalkan serangan cepat dan efisien dipadukan secara sempurna dengan dorongan energi spiritual Sojobo. Setiap tebasan pedang kayu Mumei meninggalkan jejak garis cahaya ungu di udara, membakar dan memotong lengan-lengan kabut hitam Onryo hingga terurai menjadi abu keperakan.

"AARRGGHH!" jerit Onryo itu histeris saat energi penyucian menyengat intinya.

"Ular-ular penderitaan... kembalilah ke tanah!" seru Mumei.

Ia melompat tinggi memutar tubuhnya di udara, memutar pedang kayunya dari atas kepala, lalu menghantamkan ujung pedangnya tepat ke tengah gumpalan inti hitam yang menutupi celah batu mata air.

BUMMMMM!

Gelombang cahaya keunguan meletus hebat di dasar gua, memancar bagaikan ledakan surya yang menghancurkan seluruh bayangan kegelapan. Wajah-wajah ratapan prajurit Odawara yang terperangkap perlahan-lahan melunak, memudar tenang menyatu dengan cahaya, sebelum akhirnya lenyap tanpa sisa.

Keheningan kembali bertahta di dasar sumur. Bau busuk belerang menguap total, berganti dengan aroma udara pegunungan yang sangat murni.

KLASEK... KLASEK...

Dari balik retakan batu di lantai gua yang baru saja dibersihkan, terdengar suara getaran batu tanah yang bergeser.

GURSYHHH!

Sebuah semburan air jernih yang amat deras meletus keluar dari celah batu! Air suci yang membeku selama berminggu-minggu itu kini memancar kuat, mengisi ruang gua dasar sumur dengan kejernihan dingin yang melimpah ruah. Air itu membubung tinggi, mendorong timba kayu warga yang menggantung di atas.

***

Di atas tanah, di pelataran Kuil Suiseki.

Kepala Desa dan para warga yang sedang menunggu dengan cemas mendadak merasakan bumi bergetar halus.

"A-Apa yang terjadi?!" seru seorang warga ketakutan.

Sebelum rasa panik memuncak, dari dalam lubang sumur tua itu, gemercik air deras bergaung nyaring. Detik berikutnya, air jernih yang memantulkan sinar matahari meluap hingga menyiram bibir sumur batu, membasahi tanah kering di pelataran kuil!

"Air! Airnya kembali!" jerit Kepala Desa histeris penuh haru.

Para warga bersujud di tepi sumur, meraup air jernih yang melimpah itu menggunakan tangan mereka, meminumnya dengan Isak tangis bahagia yang tak tertahan lagi. Kekeringan mengerikan yang mengancam nyawa desa mereka resmi berakhir.

Sebuah semburan air suci yang bening dan dingin meletus hebat dari kedalaman bumi. Air mata air yang terbebas mendorong tubuh mungil Mumei naik ke atas, membawa aliran air jernih memancar tinggi melewati bibir sumur Kuil Suiseki!

​"Air! Airnya kembali! Air suci memancar!"

​Jeritan gembira membahana di pelataran kuil. Kepala Desa dan para warga meneteskan air mata haru saat melihat air jernih meluap-luap dari bibir sumur, mengalir deras membasahi tanah kering dan mengisi parit-parit desa yang telah lama mati.

​Mumei berdiri di tepi sumur, pakaian jubah putihnya agak basah di bagian kelim bawah. Ia menyarungkan kembali pedang kayunya ke dalam kain rami di punggung.

​Chiyo dan puluhan warga desa berlari mendekati Mumei, lalu bersujud serentak di atas tanah yang kini basah oleh air jernih.

​"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Pertapa Agung!" tangis Chiyo seraya merengkuh anak kecilnya. "Anda telah menyelamatkan nyawa seluruh warga Desa Kamisugi!"

​Mumei berdiri kaku. Dikerumuni oleh puluhan manusia biasa yang menangis dan membungkuk padanya membuat dadanya berdebar agak canggung. Pikirannya kembali melayang pada nasihat Ogen dan Tenkai untuk belajar berkomunikasi dengan dunia luar.

​Mumei menelan ludah, mencoba merangkai kata-kata di dalam kepalanya sebelum berbicara.

​"Airnya... sudah tidak beracun," ujar Mumei kaku, suaranya pelan dan patah-patah. "Bisa... bisa diminum sekarang."

​Kepala Desa mendongak dengan wajah penuh rasa haru. "Tuan Pertapa... imbalan apa yang bisa kami berikan untuk kebaikan setinggi gunung ini? Kami hanya punya sedikit beras kusam..."

​Mumei menggelengkan kepalanya perlahan. Ia merogoh kantong kulitnya yang sudah kosong.

​"Beras... tidak usah," kata Mumei, matanya menatap wadah labu kayunya yang telah kering. "Kalau boleh... aku hanya minta... isi air di labu ini. Dan... dua buah persik kering."

​Para warga tertegun sejenak mendengar permintaan sederhana dari seorang penyelamat desa mereka, sebelum akhirnya meledakkan tawa penuh kehangatan.

​"Tentu! Tentu saja, Tuan Pertapa!" seru Kepala Desa gembira. "Bahkan seluruh persik terbaik di desa ini akan kami persembahkan untuk Anda!"

​Sore harinya, saat matahari mulai terbenam membiaskan warna keemasan di atas perbukitan Omi, Mumei melangkah pergi meninggalkan Desa Kamisugi. Di tangannya, ia memegang sepotong kue beras persik hangat yang dibungkus daun pisang.

​Mumei menggigit sedikit kue beras tersebut. Rasa manis hangat merayap di lidahnya. Anak perempuan duabelas tahun itu menghentikan langkahnya sejenak, berpaling menatap ke arah desa yang kini ramai oleh suara ceria anak-anak yang bermain air.

​Sebuah senyuman tipis sangat halus namun penuh kehangatan murni terukir di bibirnya. Mumei melanjutkan langkahnya menelusuri jalan setapak ke arah timur, memegang erat tongkat kayu pertapanya saat angin malam membawa namanya menuju petualangan berikutnya.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!