NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Abu Kertas

Tepi lontar yang paling dekat dengan api mulai berasap. Tipis, kelabu, berbau seperti daun pisang yang dipanggang terlalu lama.

Dyah Ayu tidak menurunkannya. Ia membiarkan panas pelita merayap ke ujung-ujung jarinya, sampai kulitnya terasa tegang dan perih, dan ia menatap tulisan jelaga yang mulai bergelombang di permukaan serat.

Kita bisa membangun Watugaluh kembali.

Ia pernah melihat Watugaluh terbakar. Dari atas pedati tawanan, dengan tangan terikat tali ijuk ke tiang kayu, ia melihat atap balai kadipaten runtuh ke dalam lautan api. Bunyi kayu jati yang patah terdengar seperti tulang. Dan di dalam balai itu, ibunya masih duduk di depan lumpang batu, menolak keluar.

Ia tidak menangis waktu itu. Ia menghitung panji-panji merah di sekeliling kadipaten. Seratus empat puluh tiga. Ia menghitung untuk tidak mendengar.

***

Ia memejamkan mata dan mencoba melihat rumah itu.

Rumah di lereng Raung, dengan jendela menghadap gunung. Pagi yang dingin dan berkabut. Mahisa membelah kayu di halaman, dan Arya mengejar ayam di antara pohon-pohon jambu. Tidak ada Prajurit Estri. Tidak ada cawan teh beracun, tidak ada rantang perunggu bercorak cempaka.

Gambaran itu indah. Dan gambaran itu tidak bertahan lebih dari tiga tarikan napas.

Karena yang datang menggantikannya adalah wajah-wajah lain.

Mbok Sumi, mengaduk santan di dapur Kedaton dengan bayi di punggungnya. Pak Karto, menimbang karung garam di Gudang Perbendaharaan Timur dengan lengan yang dulu menempa mata bajak. Istri Gending yang mencuci pakaian dan tidak tahu suaminya baru saja bersaksi di Balai Agung. Dua dayang buangan di dapur sesaji yang menerima jatah nasinya setiap malam.

Tiga ratus orang. Tersebar di seluruh keraton, di rumah-rumah pejabat, di pasar-pasar, di gudang-gudang. Mereka tidur di bawah atap karena seorang Raja bersumpah di atas ranjang Candrakirana. Mereka makan dua kali sehari karena sumpah yang sama.

Jika ia turun ke dalam sumur itu pada malam Purnama Kadasa, sumpah itu putus.

Hayam Vira tidak akan menggantung mereka. Ia tidak sebodoh itu. Tetapi Permaisuri tidak membutuhkan tali gantungan. Ia hanya perlu menunggu sampai Raja pergi berperang, lalu memberi perintah kepada setiap rumah tempat orang-orang Watugaluh bekerja. Orang Watugaluh telah membawa lari selir Raja. Orang Watugaluh tidak bisa dipercaya.

Dalam satu musim, mereka semua akan kembali ke kandang tawanan. Atau ke dalam sumur.

***

Dyah Ayu membuka mata. Ia membaca surat itu sekali lagi. Kali ini bukan dengan hati.

Dengan cara ia membaca angka-angka di lontar arang Ki Bongkok.

Aku sendiri yang memaku tutupnya dua bulan lalu.

Dua bulan lalu, ia masih di Watugaluh. Kadipaten ayahnya belum jatuh. Ia belum menjadi selir ampil. Ia belum dipindahkan ke Srigading oleh dekrit Permaisuri. Tidak ada seorang pun di keraton ini yang tahu bahwa suatu hari seorang putri Watugaluh akan tidur di paviliun buangan di sudut Keputren.

Kecuali seseorang yang sudah lama merencanakan di mana selir-selir yang tidak disukai akan dibuang.

Selir terakhir yang dibuang ke Srigading tidak tenggelam. Seseorang menunggunya di bawah. Aku sudah memastikan tidak ada lagi yang menunggu di sana.

Bagaimana ia tahu siapa yang menunggu? Bagaimana ia bisa memastikannya?

Lalu ingatan lain datang. Segulung lontar yang ditunjukkan Ki Bongkok tiga hari lalu, di bawah akar pohon asam. Surat palsu yang diselipkan ke bilik tahanan Arya. Surat yang meniru tulisan tangannya untuk menyatakan rencana pemberontakan.

Ia ingat merasakan dingin di tengkuknya ketika membacanya. Karena tulisan itu terlalu mirip. Lengkung aksara ka dengan putaran kecil di ujungnya. Putaran yang ia gunakan sejak kecil, dan yang ia tinggalkan dua tahun lalu, setelah ibunya mengatakan bahwa itu tulisan anak-anak.

Tidak ada yang memiliki surat dengan putaran itu, kecuali orang yang menerima surat-suratnya sebelum dua tahun lalu.

Jemarinya mencengkeram lontar di tangannya. Seratnya berderak.

Ia tidak tahu. Ia tidak bisa membuktikan apa-apa. Mungkin juru tulis Permaisuri menemukan surat-surat lamanya di reruntuhan Watugaluh. Mungkin.

Tetapi lelaki yang menulis surat ini tahu jalan rahasia di bawah keraton sebelum ia sendiri tiba. Lelaki ini mengambil bukti racun dan tidak menyerahkannya. Lelaki ini menembakkan anak panah beracun sejengkal dari bantalnya, hanya untuk menunjukkan sesuatu kepada seorang Raja.

Dan lelaki ini menutup suratnya dengan sebuah ancaman yang dibungkus janji.

Untukmu. Atau untuknya.

***

Pemuda yang menulis namanya di pasir tepi Kali Gending tenggelam di sungai itu.

Dyah Ayu tidak tahu siapa yang merangkak keluar dari muaranya tiga hari kemudian.

Ia memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar. Membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang retak di dalam dadanya, perlahan, seperti es tipis di permukaan kolam di musim dingin. Lalu ia membuka mata lagi.

Ia sudah menghafal denahnya. Setiap garis putus-putus, setiap belokan di bawah gudang pusaka, setiap tanda silang di tepi Kali Gending. Ia membacanya empat kali. Ia tidak membutuhkan lontar ini lagi.

Dan jika lontar ini ditemukan di Srigading, oleh Prajurit Estri, oleh dayang mana pun, oleh Raja yang sedang tidur di ranjangnya, maka seorang Senopati akan dipenggal di Balai Agung. Mungkin ia pantas dipenggal. Tetapi Dyah Ayu belum tahu untuk siapa ia bekerja. Dan seorang musuh yang kepalanya sudah terpenggal tidak bisa lagi memberitahu siapa tuannya.

Ia akan membiarkan Mahisa menunggu di ujung saluran pada malam Purnama Kadasa. Menunggu, dan tidak pernah melihatnya turun.

Lalu ia akan melihat apa yang dilakukan Mahisa setelah itu.

***

Ia menurunkan lontar itu ke dalam api.

Lidah api pelita menyambarnya dengan rakus. Serat-serat kering itu menyala dari tepi, merah dan jingga, merayap ke tengah. Tulisan jelaga yang miring ke kanan menggelap, mengerut, lalu menghilang ke dalam nyala.

Kata-kata terbakar satu per satu. Rumah dengan jendela menghadap gunung. Kau tidak perlu memilih. Ayu.

Daun jambu kecil di sudut kiri atas adalah yang terakhir. Ia melihatnya melengkung di dalam api, garis-garis jelaganya bersinar merah sekejap, lalu menjadi hitam.

Asap naik dalam gulungan tipis, kelabu kebiruan. Baunya pahit dan tajam, menusuk hidung, bercampur dengan wangi cendana dari lantai dan tuak basi yang masih menggantung di udara.

Panasnya mencapai ujung jarinya. Ia tidak melepaskannya. Ia memegang sisa lontar itu sampai api mencapai pangkalnya, sampai kulit di ujung ibu jari dan telunjuknya terasa terbakar, dan hanya ketika tidak ada lagi yang tersisa untuk dibakar, ia menjatuhkannya ke atas meja.

Abu hitam. Bergelombang, rapuh, masih berpendar merah di beberapa tepi.

Ia mengumpulkannya ke telapak tangannya.

Abu itu hangat. Lembut seperti tepung beras yang baru ditumbuk, dan ringan sampai hampir tidak terasa. Ia menggenggamnya. Abu itu hancur di dalam kepalannya, menjadi serbuk yang lebih halus lagi, merembes keluar di sela-sela jemarinya.

Ia membuka tangannya di atas lantai.

Serbuk hitam itu berhamburan, melayang sebentar di udara, lalu jatuh ke atas papan jati yang licin oleh minyak cendana. Ia melihat abu itu menempel di genangan minyak, membentuk noda-noda kelabu yang tidak beraturan. Besok pagi, seseorang akan mengepelnya bersama pecahan guci, dan tidak akan ada yang tahu bedanya.

Ia mengusap telapak tangannya di kain kembennya. Jejak hitam tertinggal di sana.

***

Ia meniup pelita.

Bilik itu tenggelam ke dalam gelap. Hanya cahaya bulan pucat yang menyusup melalui celah jendela yang setengah terbuka, jatuh dalam garis tipis di atas lantai. Di atas pecahan guci. Di atas selendang perak yang membungkus mata panah beracun di sudut meja.

Ia akan menyerahkan mata panah itu kepada Raja besok pagi. Tanpa surat. Ia akan mengatakan bahwa tidak ada gulungan apa pun di pangkalnya, hanya tali ijuk yang putus. Atau ia akan mengatakan sesuatu yang lain. Ia akan memutuskannya saat matahari terbit.

Tidak malam ini.

Ia berjalan kembali ke ranjang. Lantai jati berderak pelan di bawah kakinya. Di ranjang, Hayam Vira masih tidur telentang, tangannya masih menggenggam seprai kusut di tempat Dyah Ayu tadi berbaring.

Ia menyelinap ke bawah kain selimut. Perlahan. Lalu ia melepaskan jemari Raja itu dari seprai, satu per satu, dan meletakkan tangannya sendiri di dalam genggaman itu.

Jemari Hayam Vira menutup di sekeliling tangannya. Hangat. Kasar. Tanpa bangun.

Dyah Ayu meringkuk ke dalam lekuk tubuh Raja itu. Punggungnya menempel di dadanya. Ia menarik lengan berat itu melingkari pinggangnya sendiri, seperti tadi, sebelum anak panah, sebelum surat.

Di sini. Di dalam tembok ini. Di samping lelaki yang membakar rumahnya.

Ia memilihnya. Untuk malam ini. Dan besok, ia akan memilihnya lagi, dengan alasan yang berbeda, atau dengan alasan yang sama.

Ia memejamkan mata.

Asap lontar yang terbakar masih melayang di udara bilik. Tipis, hampir tak terlihat dalam gelap, berputar pelan di atas ranjang sebelum menghilang ke celah atap ijuk.

Dyah Ayu tidak melihat kepala di belakangnya bergerak sedikit di atas bantal.

Ia tidak melihat cuping hidung Raja itu mengembang perlahan, menghirup bau pahit yang samar di udara. Ia tidak melihat kelopak mata yang terbuka dalam kegelapan. Hanya sedikit. Cukup untuk memperlihatkan mata hitam di baliknya.

Tajam. Jernih. Sama sekali tidak mabuk.

Mata itu menatap sisa asap yang menghilang di atap. Lalu turun ke tengkuk perempuan di dalam pelukannya. Ke noda abu hitam yang samar di ujung jemarinya, yang kini tergenggam di tangannya sendiri.

Lalu kelopak mata itu kembali terpejam. Perlahan.

Dan lengan yang melingkari pinggang Dyah Ayu mengencang. Hanya sedikit.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!