Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERMAINAN DUA BAYANGAN
BAB 3: PERMAINAN DUA BAYANGAN
Deru mesin mobil SUV hitam milik Reno membelah hujan deras yang mengguyur ibu kota sore itu. Wiper kaca depan bergerak cepat, namun pandangan Reno tetap terpaku pada jalanan basah di depannya.
Di sampingnya, Widya sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya tak berhenti menari di atas layar sentuh, memeriksa kembali draf surat perintah penahanan darurat dan koordinasi dengan pihak kepolisian.
Sementara di kursi belakang, dr. Sara duduk membisu, menatap lembaran kertas laporan toksikologi yang kini menjadi senjata utama VPCI.
"Pihak kepolisian dari Polda sudah bergerak menuju kediaman Yudha Hartawan," ujar Widya, memecah ketegangan di dalam kabin mobil yang hening.
"Dokumen tes toksikologi dari Sara berhasil membuat Jaksa Penuntut Umum membekukan izin kremasi jasad Hartawan secara instan. Tapi kita hanya punya waktu kurang dari dua jam sebelum Pengacara Yudha mengajukan gugatan praperadilan balik."
"Dua jam lebih dari cukup untuk membuat salah satu dari mereka bernapas panik," sahut Reno dingin. Tangannya yang mencengkeram kemudi terasa kokoh. Sensasi pusing bekas kilas balik di kamar jenazah tadi pagi memang sudah mereda, tetapi gambaran dua bayangan eksekutor berdarah dingin itu masih terpatri jelas di benaknya.
Di layar dasbor mobil, panggilan suara dari Dion mendadak terhubung. Suara ketikan keyboard Dion yang liar terdengar menyatu dengan deru angin hujan.
"Ren, gue dapat sesuatu!" seru Dion dari markas VPCI. "Gue berhasil menembus analisis pergerakan lalu lintas di sekitar kompleks Hartawan. Titik termal keduabyang berpostur pendek dan agak pincang—memang cocok dengan perawakan Yudha Hartawan. Tapi pelaksana teknis yang menyuntikkan racun di sela jari kaki... dia bukan orang sembarangan."
"Siapa dia, Dion?" tanya dr. Sara cepat dari kursi belakang, memiringkan tubuhnya ke depan.
"Namanya Frans Iskandar. Ex-tentara medis yang dipecat tidak dengan hormat lima tahun lalu karena kasus penyelundupan bahan kimia berbahaya," jawab Dion dengan nada serius.
"Saat ini, Frans bekerja sebagai kepala pengawal pribadi kepercayaan Yudha. Dan tebak apa? Posisi GPS ponsel Frans sepuluh menit lalu terdeteksi berada di area dermaga peti kemas Tanjung Priok. Dia sedang bersiap kabur menggunakan kapal kargo!"
Reno memicingkan mata tajam. Dua pelaku mulai berpencar. Yudha berusaha berlindung di balik benteng hukum dan kekayaannya, sementara Frans bertugas menjadi 'pembersih' yang siap dikorbankan atau melarikan diri jika rencana mereka bocor.
"Widya, kamu dan tim polisi meluncur ke kediaman Yudha," perintah Reno tegas, memutar lingkar kemudi memotong jalur menuju tol pelabuhan. "Bawa laporan medis Sara dan seret Yudha ke ruang interogasi. Biarkan dia tahu bahwa perencanaannya yang rapi sudah terbongkar."
"Kamu mau ke mana, Ren?" tanya Widya panik. "Kamu tidak bisa menghadapi Frans sendirian! Dia mantan militer!"
"Aku tidak sendirian. Bara dan Gading sudah memantau di area pelabuhan," jawab Reno singkat.
"Kalau Frans berhasil lolos keluar negeri, kita kehilangan saksi kunci yang memegang jarum suntik itu."
Gudang peti kemas nomor 42 di Pelabuhan Tanjung Priok tampak suram di bawah guyuran hujan badai. Bau garam laut bercampur oli mesin yang menyengat memenuhi udara malam yang dingin. Di antara tumpukan kontainer besi yang menjulang tinggi seperti labirin, sesosok pria berjaket kulit hitam melangkah terburu-buru sambil menjinjing tas travel tebal.
Frans Iskandar terus menoleh ke belakang, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut remang-remang gudang. Napasnya terengah-engah. Intuisi kejahatannya memberi tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
Seharusnya berita kematian Hartawan malam ini sudah resmi ditutup sebagai serangan jantung wajar. Namun, panggilan panik dari Yudha setengah jam lalu mengubah segalanya.
Brak!
Sebuah tiang besi di dekatnya mendadak berdering nyaring akibat hantaman benda tumpul. Frans refleks menarik pistol rakitan berperedam suara dari balik jaketnya, berguling ke balik kontainer merah.
"Frans Iskandar!" suara Reno bergema di antara lorong-lorong kontainer, dingin dan tak terdeteksi arahnya. "Dua belas cc succinylcholine di sela jari kaki kanan. Eksekusi yang cukup rapi untuk seorang mantan medis militer."
Jantung Frans berdegup kencang. Keringat dingin menyatu dengan air hujan di dahinya. "Siapa kamu?! Polisi?!"
"Aku detektif dari VPCI," Reno muncul perlahan dari balik kegelapan lorong kontainer, melangkah tenang tanpa senjata di tangan, meski matanya mengunci setiap gerak-gerik Frans. Di kegelapan atas kontainer, Bara sudah membidikkan senapan pingsan portabel, sementara Gading bersiap melumpuhkan dari sudut tertutup.
Frans tertawa sinis, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dada Reno. "VPCI? Agensi swasta sampah yang disewa istri muda Hartawan? Kamu tidak punya bukti apa pun, Detektif! Bos gue punya pengacara terbaik di kota ini!"
"Pengacara Yudha tidak bisa menghapus serat kain wol biru tua dari mantelmu yang tertinggal di leher baju Hartawan saat kamu memitingnya," potong Reno, melangkah satu tindak lebih dekat.
Mata Frans membelalak hebat. Tangannya yang memegang pistol mulai bergetar tipis.
"Ba... Bagaimana bisa... Tidak mungkin! Ruang kerja itu gelap! Kami menutupi semua sudut!"
"Kamu lupa satu hal, Frans," ujar Reno dengan suara merendah, tatapannya menghujam langsung ke ulu hati Frans.
"Kancing kemeja krom yang kamu robek saat Hartawan meronta... Kancing itu menceritakan segalanya. Bagaimana kamu memegang lehernya dari belakang, dan bagaimana Yudha memegang alat suntik itu di depan matanya yang membelalak ketakutan."
Reno sengaja membalikkan posisi peran dalam ucapannya untuk memancing reaksi psikologis Frans. Dan reaksi itu datang seketika.
"Bohong!" teriak Frans histeris, emosinya terpancing sepenuhnya.
"Yudha yang memitingnya dari belakang! Dia adik kandungnya, dia yang menahan leher Hartawan sambil berbisik di telinganya! Gue cuma yang menyuntikkan cairannya! Yudha yang merencanakan semuanya, bukan gue!"
Pengakuan spontan itu bergema keras di dalam gudang peti kemas yang sepi.
Reno mengukir senyum tipis. Dari balik saku kemejanya, sebuah lampu indikator perekam suara digital mini berwarna merah menyala redup terhubung langsung secara live-stream ke ruang interogasi Polda, di mana Widya dan dr. Sara sedang menyaksikan interogasi Yudha Hartawan.
"Terima kasih atas konfirmasinya, Frans," gumam Reno dingin.
Sadar dirinya telah dijebak secara psikologis, mata Frans memerah murka. "Bangsat!" teriaknya sambil menarik pelatuk pistolnya.
Duaar!
Suara tembakan diredam oleh suara petir yang menyambar di langit. Sebelum peluru Frans mengenai sasaran, sebuah tembakan penumpas dari senapan pingsan Bara menghantam bahu Frans dari atas kontainer.
Di saat bersamaan, Reno bergerak cepat mengecilkan jarak, melakukan bantingan judo yang mematahkan cengkeraman tangan Frans hingga pistolnya terlempar ke genangan air hujan.
Frans tersungkur di atas tanah basah, mengerang kesakitan saat Gading melompat turun dan mengunci kedua tangannya dengan borgol baja.
Satu jam kemudian, di dalam ruang interogasi bertembok kaca buram Polda Metro Jaya.
Yudha Hartawan duduk terkulai di kursi besi, wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi bagaikan mayat. Di atas meja di hadapannya, sebuah laptop menampilkan rekaman suara
pengakuan Frans di pelabuhan secara utuh, berdampingan dengan berkas resmi foto fluoresens UV sela jari kaki korban serta analisis jaringan kulit buatan dr. Sara.
Widya Kusuma merapikan berkas hukumnya, menatap Yudha dengan tatapan penuh kemenangan.
"Praperadilan Anda resmi ditolak, Tuan Yudha. Bukti fisik medis, pencocokan serat kain, dan pengakuan eksekutor Anda sudah lebih dari cukup untuk menjerat Anda dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman mati."
Di luar ruang kaca interogasi, dr. Sara berdiri bersandar di dinding koridor, memandangi suasana di dalam ruangan dengan perasaan yang bercampur aduk. Kasus pertama VPCI berakhir dengan kemenangan mutlak.
Pembunuhan yang nyaris sempurna oleh dua pelaku itu berhasil dibongkar kurang dari dua puluh empat jam.
Langkah kaki Reno terdengar mendekat. Detektif itu berdiri di samping dr. Sara, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kerja yang bagus, Dokter," ujar Reno pelan, menatap lurus ke depan. "Tanpa kepresisian laporan otopsimu, pengakuan Frans di pelabuhan tidak akan punya kekuatan hukum."
dr. Sara tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuhnya, menatap Reno dengan pandangan menyelidik yang sangat dalam pandangan yang membuat Reno harus mengerahkan seluruh kontrol dirinya agar tidak terlihat canggung.
"Kepingan teka-tekinya memang pas, Reno," kata dr. Sara dengan suara datar namun penuh selidik. "Tapi ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku sejak tadi pagi."
"Apa itu?" tanya Reno tenang.
"Laporan tes toksikologi, lokasi tusukan di sela jari kaki, posisi pitingan di leher... semua bukti fisik itu memang nyata dan terbukti secara sains," dr. Sara melangkah satu tindak mendekati Reno, menatap langsung ke dalam manik mata sang detektif.
"Tapi bukti-bukti itu baru kita cari setelah kamu menyuruh kami mencarinya. Kamu mengetahui keberadaan dua pelaku dan metode pembunuhan itu saat kamu memegang kancing baju korban di ruang rapat."
Reno tetap diam, menjaga raut wajahnya tetap bagai papan catur yang tak terbaca.
"Sains bisa menjelaskan bagaimana racun itu membunuh Hartawan," bisik dr. Sara pelan, nyaris seperti ancaman halus.
"Tapi sains tidak bisa menjelaskan bagaimana seorang manusia bisa mengetahui detail trauma yang tersembunyi di bawah kulit mayat hanya dengan menyentuh sepotong kancing logam."
Reno menatap dr. Sara, lalu mengukir senyum tipis yang misterius. Ia menyentuh pinggiran topi mantelnya, memberikan hormat kecil.
"Dunia ini penuh dengan hal-hal yang tak terjangkau oleh mikroskopmu, Sara," jawab Reno pelan sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri koridor polda yang remang.
"Dan selama kebenaran bisa ditegakkan, beberapa rahasia memang lebih baik tetap tersembunyi."
dr. Sara berdiri terpaku, memandangi punggung sang detektif yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam. Di dalam hatinya, sang dokter forensik tahu bahwa kasus pertama mereka telah selesai, tetapi misteri terbesar agensi VPCI baru saja dimulai.