Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Rian melangkah lebih dekat dengan jemari yang gemetar tipis. Dari dalam saku jasnya, sang asisten pribadi mengeluarkan sebuah flashdisk kecil bernoda bercak darah kering yang sebelumnya ditemukan terselip di balik lipatan kardus paket tersebut.
"Tuan... ada sebuah rekaman suara di dalam paket ini," ujar Rian dengan suara berat yang tertahan, mencoba menjaga ketenangannya di tengah aura membunuh Bashkar yang kian pekat memenuh ruangan.
Rian segera mencolokkan perangkat kecil itu ke pemutar audio portabel yang ia bawa. Setelah beberapa detik ketegangan yang membisu, suara desis statis memecah keheningan kamar, disusul oleh suara dentuman keras hantaman benda tumpul pada daging murni.
BUGH!
"AAAGHHH! Hah... hah... S-sakit...!"
Suara lengkingan jeritan histeris itu pecah memenuhi ruangan! Itu adalah suara Zela—suara yang biasanya ceria, mengomel lucu, dan berkicau tanpa hentinkini terdengar begitu bernada keputusasaan, pecah, dan terkoyak oleh rasa sakit yang teramat sangat.
Bashkar membeku total. Manik mata kelabunya menatap lurus pemutar audio itu tanpa berkedip sedikit pun.
BUGH! CRACK!
"AAAAARRGHHH! Tolong... hiks... ampun... S-sakit banget...!" tangis Zela pecah, meratap dan merintih di sela-sela napasnya yang memburu serak. Suara cambukan tali tebal dan hantaman bertubi-tubi terus terdengar tanpa henti di latar belakang, diiringi suara gelak tawa kejam dari pria paruh baya yang menyiksanya.
"Hahaha! Rasakan itu, Nyonya Deluca! Berteriaklah lebih keras agar suamimu yang tak berguna itu mendengarnya!" gertak suara pria di rekaman itu, disusul suara erangan Zela yang kian melemah.
"B-Bashkar... sakit... hah... hah... A-aku benci kamu..." bisik Zela sangat pelan, suaranya parau, terkulai lesu hingga akhirnya rekaman itu kembali terputus oleh suara statis yang memekakkan telinga.
BZZZZT.
Audio berhenti. Keheningan yang tercipta setelahnya terasa seribu kali lebih membekukan daripada badai salju di luar sana.
Pelayan wanita senior di ambang pintu menutup mulutnya rapat-rapt, menangis tanpa suara karena tak sanggup membayangkan penderitaan Nyonya mudanya. Sementara Rian menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap wajah sang majikan.
Bashkar tidak bersuara. Pria itu berdiri kaku bagaikan patung di tengah pendar remang lilin aromaterapi yang masih membakar kehangatan palsu di ruangan itu. Namun, di balik diamnya yang bagai kuburan, garis rahang Bashkar mengeras rapat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menegang tajam.
Napasnya berat, dan di dalam sepasang mata kelabunya yang biasanya dingin tanpa riak, kini membakar sebuah kegelapan murni—sebuah kobaran amarah dan kehausan akan darah yang sanggup meratakan siapa pun yang telah berani menyentuh miliknya.
"Temukan dia sekarang juga!" desis Bashkar dengan suara rendah yang menggelegar dan sarat akan ancaman membunuh.
Perintah mutlak itu memutus keheningan kamar dalam sekejap. Rian dan para pengawal langsung membungkuk hormat lalu bergerak kilat meninggalkan ruangan, menyebarkan seluruh jaringan intelijen dan pasukan eksekutor Deluca ke setiap sudut kota demi melacak keberadaan sang Nyonya.
Suasana kamar yang luas itu mendadak hening kembali, kini hanya menyisakan Bashkar seorang diri di tengah pendar remang lilin aromaterapi yang masih bernapas lambat.
Tepat saat Bashkar memutar tubuhnya untuk bergegas pergi memimpin pencarian, langkah kakinya terhenti. Manik mata kelabunya tak sengaja tertambat pada sudut meja tengah—tempat di mana kue cokelat hitam buatan Zela tergeletak dengan lilin kecil yang belum sempat tersulut. Di samping piring porselen putih itu, terselip selembar kertas karton kecil berwarna merah muda yang dihiasi gambar stiker cangkir kopi buatan tangan yang agak miring.
Dengan jemari tegap yang masih ternoda tipis oleh rasa tegang, Bashkar meraih kertas kecil itu. Di atas permukaan karton halus tersebut, terukir goresan tinta hitam dengan tulisan tangan yang rapi, sedikit ceroboh, namun memancarkan keceriaan khas milik istrinya.
Bashkar menurunkan pandangannya, membaca baris demi baris kata yang tertulis di sana:
Happy Birthday suamiku yang paling tampan di dunia, tapi dinginnya banget-banget kayak kanebo kering!
Semoga di usia yang baru ini kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan yang banyak, sehat terus, dan makin berkurang kaku-kakunya sedikit ya? Makasih ya sudah mau sabar menghadapi aku yang rewel ini. Aku bakal selalu ada di samping kamu, mendukung kamu dalam situasi apa pun dan seberat apa pun keadaan kita.
I love you, Mas Es Batu! Jangan lupa dihabisin ya kue buatan istri tercintamu ini!"
Setitik tinta di akhir kalimat tampak agak samar, memperlihatkan betapa wanita itu berusaha keras menulisnya dengan penuh kesungguhan di tengah tenggat waktu subuh tadi.
Deg.
Kata-kata sederhana dan manis itu menghantam rahang kaku Bashkar dengan rasa sesak yang amat tajam. Bayangan Zela yang berjinjit mencium pipinya pagi hari lalu, senyuman manis wanita itu yang meminta maaf di pantry, hingga suara renyah riangnya sewaktu mengomel mendadak berputar liar menghancurkan pertahanan dingin di dalam dadanya.
Wanita yang tadi malam dirintihkannya dalam rekaman penyiksaan penuh darah wanita yang bisikannya melemah menyatakan rasa benci padanya adalah wanita sama yang telah menghabiskan waktunya berjam-jam berkutat di dapur hanya demi menghadirkan senyuman di hari kelahirannya.
Cengkeraman jemari Bashkar pada pinggiran kertas itu mengencang halus, mencoba menahan gejolak amarah dan penyesalan mendalam yang membakar ulu hatinya.
Ia meremas surat ucapan itu dengan sangat hati-hati, memasukkannya ke dalam saku dalam jas hitamnya tepat di atas posisi jantungnya. Bashkar lalu berbalik, melangkah lebar dan tegas menembus pintu kamar, membawa serta selimut kegelapan dan amarah murni yang siap membumihanguskan siapa pun yang telah berani menyentuh miliknya