Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Tabir Jinyowon dan Secangkir Kuah Hambar
Di tengah tentramnya suasana malam Negeri Niskala, lentera-lentera kota bersinar temaram, memantulkan cahaya di atas riak air sungai. Namun, keceriaan malam itu sontak berubah menjadi teror mencekam saat sesosok bayangan melesat cepat.
"Aaaa! Lari! Ada pemindah jiwa!" teriakan panik warga pecah seketika. Orang-orang yang tengah asyik duduk di perahu dan berlalu lalang di atas jembatan batu berlarian tunggang-langgang, menyelamatkan diri.
Di belakang makhluk itu, sekumpulan penyihir Cheon Gi Won berlari kencang memecah kerumunan. Mereka dipimpin oleh seorang penyihir muda berbakat, Do Hyun.
"Tangkap pemindah jiwa itu! Jangan biarkan dia lolos!" komando Do Hyun lantang, tangannya memberi isyarat formasi kepung.
Syut! Wusshh!
Pemindah jiwa wanita itu terbang melesat, menapakkan kakinya di atas terpal atap perahu hingga robek, lalu melompat ke dinding pembatas jalan. Do Hyun dan rombongannya mengerahkan seluruh energi gichul untuk mengejar, melompati atap demi atap.
Namun sial, makhluk itu bergerak terlampau lincah dan licik. Dengan satu lompatan besar di balik kegelapan, ia menghilang, menyelinap masuk ke dalam kompleks megah Jinyowon tanpa ketahuan penjaga luar.
"Sial! Dia berhasil kabur masuk ke dalam Jinyowon!" ucap Do Hyun terengah-engah, menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang batu Jinyowon yang tertutup rapat.
Ia menatap dua pengawal wanita yang berjaga dengan tombak menyilang. "Kami harus masuk ke dalam. Ada buronan berbahaya yang menyusup!"
"Tidak bisa, Tuan Do Hyun," cegat salah satu pengawal dengan tegas. "Siapa pun dilarang keras melewati gerbang ini tanpa izin."
"Panggil Nona Jin kemari dan bilang padanya untuk mengizinkan kami masuk! Ini mendesak, keselamatan seluruh kota taruhannya!" seru Do Hyun dengan raut cemas.
Pengawal itu ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian, gerbang berderit terbuka. Sesosok wanita berjalan keluar dengan anggun. Jantung Do Hyun seketika bergemuruh hebat saat mata mereka saling bertumpu.
Wanita itu adalah Jin Chae Rin.
Selama tiga tahun terakhir, sejak insiden berdarah meluas, Jinyowon menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Dan malam ini, setelah tiga tahun lamanya berpisah, Do Hyun akhirnya kembali melihat mantan kekasihnya itu. Matanya mendadak berkaca-kaca, dadanya sesak oleh kerinduan yang membuktikan bahwa ia masih mencintai Chae Rin dan belum bisa melupakannya.
Tiga tahun lalu, mereka seharusnya sudah resmi mengikat janji suci di Cheon Gi Won. Namun, amukan Nara yang merenggut nyawa ayah Chae Rin, Jin Sang Wook, menghancurkan segalanya. Pernikahan itu batal, menyisakan jarak yang membentang di antara mereka.
"Lama tidak bertemu, Do Hyun," ucap Jin Chae Rin dingin, menyembunyikan getaran di suaranya sendiri. "Tapi aturannya tetap sama. Jinyowon tidak menerima tamu dari Cheon Gi Won."
"Chae Rin... tolong lupakan sejenak masa lalu," pinta Do Hyun, suaranya sedikit serak. "Seorang pemindah jiwa baru saja masuk ke dalam. Nyawa ibumu dan orang-orang di dalam bisa terancam."
Chae Rin bersedekap dada, sorot matanya menajam walau ada gurat kesedihan di sana. "Jinyowon memiliki pelindung sihirnya sendiri, kami bisa mengatasinya. Ibuku tidak akan mengizinkan orang luar masuk, terutama dari Cheon Gi Won yang gagal melindungi ayahku di masa lalu."
"Tapi, Chae Rin—"
Wusss!
Tiba-tiba, angin malam mendadak berhenti berembus. Waktu seolah-olah membeku ketika hawa dingin yang teramat pekat menyapu area gerbang. Dari kegelapan jalan, sesosok pria berjubah hitam berjalan melewati Do Hyun dan pasukannya begitu saja tanpa menoleh.
Han Seol.
Chae Rin tersentak mundur saat Han Seol melangkah maju tepat di depan gerbang.
"Han Seol... kau tidak punya hak masuk ke sini," bisik Chae Rin kaku.
Han Seol menatap Chae Rin datar, tangannya memegang gagang pedang. "Statusku sebagai pemilik Batu Es memberiku tugas khusus langsung dari Raja dan Pertemuan Umum untuk melenyapkan setiap pemindah jiwa. Perintah Raja berada di atas hukum Jinyowon, Nona Jin."
Chae Rin terdiam tak berkutik. Ia tahu, menentang Han Seol sama saja menentang takhta kerajaan.
Tanpa menunggu kata sepakat, Han Seol melangkah masuk menembus gerbang Jinyowon.
Sementara itu, Do Hyun hanya bisa menahan napas dan memberi instruksi pada pasukannya untuk menunggu di luar. Mereka tahu, jika Han Seol yang turun tangan, pemindah jiwa itu sudah pasti kalah dengan mudah.
****
Di dalam area terdalam Jinyowon, langkah Han Seol begitu sunyi. Dari balik bayangan pilar, sesosok makhluk bermata abu-abu pudar melompat hendak menerkamnya dengan kuku-kuku tajam.
"Kau pikir kau bisa lari dariku?" gumam Han Seol dingin.
Sringgg!
Han Seol menghunus pedangnya dengan sekali sentakan cepat.
Wussh!
Cahaya sihir biru terang melesat secepat kilat dari ujung pedang, memotong udara malam dan langsung menembus dada sang pemindah jiwa.
Jleb! Brukk!
Tubuh pemindah jiwa itu terhempas hebat, menghantam dinding batu sebelum akhirnya roboh tak bernyawa. Benar saja, tanpa mengalami kesulitan sedikit pun, Han Seol berhasil mengalahkannya.
Usai menyarungkan pedangnya, sebuah getaran aneh memicu rasa penasaran Han Seol. Langkah kakinya menuntunnya masuk lebih dalam ke sebuah paviliun terisolasi, hingga ia mendorong sebuah pintu kamar yang sunyi.
Di dalam ruangan berpenerangan temaram itu, ia tertegun. Seorang wanita yang teramat cantik tengah duduk di dekat jendela. Wanita itu adalah Jin So Hwa, anak sulung penyihir Jin Hwa Young sekaligus pewaris asli kekuatan Jinyowon yang sesungguhnya.
Jin So Hwa menatap Han Seol dengan mata berbinar terkejut. "Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk ke kamar ini tanpa memicu alarm?"
"Aku hanya mengejar penyusup," jawab Han Seol pendek, bersiap untuk berbalik pergi.
"Tunggu!"
Jin So Hwa bangkit dari duduknya. Ia tahu pemuda di depannya bukan penyihir sembarangan, sebab kamarnya diselimuti tabir sihir kuno yang mustahil ditembus orang awam.
"Kau... kau penyihir yang sangat kuat, bukan? Kalau begitu, bawa aku keluar dari tempat ini. Aku mohon."
Han Seol memicingkan mata. "Aku tidak memiliki hubungan yang cukup baik dengan Jinyowon. Aku tidak berniat memperburuk situasi dengan membawa lari seseorang dari bagian mereka."
"Ibuku tidak pernah mengizinkanku menginjakkan kaki di luar ruangan ini selama tiga tahun!" seru So Hwa dengan nada mendesak, melangkah mendekati Han Seol.
"Jika kau membawaku pergi, aku akan—"
Langkah So Hwa terhenti saat matanya menatap dada Han Seol. Matanya membelalak kagum. "Tunggu... batu apa itu? Ada batu yang teramat indah dan berkilau di dalam dirimu. Sangat besar... dan penuh energi langit."
Han Seol tersentak batinnya. Bagaimana bisa wanita ini melihat Batu Es di dalam tubuhku? kesadarannya langsung bangkit bahwa wanita di hadapannya memiliki kemampuan spiritual yang luar biasa.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Han Seol, suaranya memberat.
"Bawa aku pergi dari sini dulu, dan aku berjanji akan memberitahukan seluruh identitas serta rahasia tentang apa yang kulihat di dalam dirimu," tawar So Hwa menatapnya penuh harap.
Han Seol terdiam sejenak, menimbang risiko. Namun, keinginannya untuk tidak terseret dalam intrik internal Jinyowon masih terlalu besar.
"Aku tetap tidak bisa membawamu. Tapi..."
Han Seol mengeluarkan beberapa bilah pasak sihir berukir mantra dari kantong jubahnya, lalu memutarnya dengan sentakan energi.
Takk! Takk! Takk!
Pasak-pasak itu tertancap kuat pada tembok bagian belakang kamar, membentuk sebuah pola yang melemahkan aliran tabir sihir di titik tersebut.
"Barang-barang ini sudah cukup untuk meredam tabir sihirnya selama beberapa menit. Kau bisa menggunakannya jika ingin kabur sendiri," ucap Han Seol dingin sebelum akhirnya melompat keluar jendela, menghilang di balik kegelapan malam dan meninggalkan Jin So Hwa yang menatap pasak-pasak itu dengan senyuman penuh tekad.
****
Sementara itu, jasad pemindah jiwa yang berhasil dikalahkan Han Seol kini telah dipindahkan ke tempat semestinya, yaitu di ruang bawah tanah rahasia Cheon Gi Won. Sebagai pemimpin baru yang bertanggung jawab penuh atas penanganan ilmu sihir terlarang, Do Hyun berdiri di sisi Master Baek Si On, menatap jasad yang mulai mengeras tersebut.
"Kasus pemindah jiwa ini kembali muncul berturut-turut akhir-akhir ini setelah sekian lama mereda, Master," ucap Do Hyun dengan dahi berkerut.
Master Baek Si On mengelus janggutnya, menatap nanar. "Ada seseorang di balik layar yang kembali menghidupkan mantra kelam itu, Do Hyun. Kita harus bergerak cepat sebelum kota ini kembali dilanda pertumpahan darah seperti tiga tahun lalu."
****
Keesokan paginya, di sebuah pondok kecil yang asri di pinggiran kota...
Suasana damai menyelimuti kediaman paman Do Hyun, Do Kwang. Pria paruh baya itu kini telah memilih pensiun sepenuhnya dari urusan sihir dan beralih pada hobi barunya: memasak dan bercocok tanam. Masalahnya hanya satu, masakan Do Kwang terkenal sama sekali tidak enak.
Pagi itu, Do Kwang terlihat sibuk di dapur, mengiris lobak dengan penuh semangat.
"Nah, potongan ini harus presisi agar sarinya keluar sempurna," gumamnya sendiri.
Setelah semua bahan siap, ia memasukkan potongan lobak itu bersama berbagai macam kacang-kacangan ke dalam sebuah kuali besi yang besar.
Alih-alih menggunakan kayu bakar biasa, Do Kwang menggerakkan jarinya di udara, memutar aliran sihir kecil untuk memanaskan air di dalam kuali.
Wussh
Tak lama kemudian, uap mengepul dan masakannya pun selesai.
Bertepatan dengan itu, Oh Myung Ja, wanita paruh baya yang merupakan pengasuh setia Han Seol, berjalan masuk ke dapur.
"Tuan Do Kwang. Apa yang sedang Anda lakukan sepagi ini dengan kuali sebesar itu?" tanya Myung Ja heran, matanya menatap curiga ke arah cairan hijau pekat di dalam kuali.
Do Kwang berbalik dengan wajah berseri-seri, memegang sebuah sendok kayu besar. "Ah, kebetulan sekali kau datang, Myung Ja! Aku sedang bereksperimen dengan resep baru. Sengaja kubuat banyak karena aku berniat membagikannya pada anak-anak di desa nanti agar mereka sehat."
Do Kwang menyendok sedikit kuah lobak kacang itu, lalu menyodorkannya ke depan wajah Myung Ja. "Ayo, kau harus menjadi orang pertama yang mencobanya. Aku menjamin rasanya pasti sangat lezat dan tiada duanya!"
Dengan ragu-ragu dan alis bertaut, Myung Ja memajukan wajahnya. Ia mencicipi sedikit cairan tersebut dari ujung sendok.
Seketika, ekspresi wajah Myung Ja berubah syok. Matanya melotot, wajahnya memucat menahan rasa mual yang luar biasa.
Uwekk!
Tanpa memedulikan kesopanan lagi, Myung Ja buru-buru memuntahkan kuah itu ke lantai, bahkan merebut sendok kayu dari tangan Do Kwang dan melemparnya jauh-jauh ke sudut halaman.
"Uhuk! Uhuk! Apa-apaan ini, Tuan Do?!" jerit Myung Ja sambil mengusap lidahnya dengan sapu tangan, wajahnya berkerut geli. "Kenapa rasanya sangat aneh dan mengerikan?! Ini bukan makanan, ini racun! Jangan pernah membagikan ini pada anak-anak kalau Anda tidak ingin dituntut oleh seluruh warga desa!"
Do Kwang hanya bisa melongo, menatap sendok kayunya yang malang dengan wajah cemberut.