Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Jauhkan Tangan Kotormu Itu!
"Bangun, Keyla! Kau tidak boleh mati dengan cara menjijikkan seperti ini!" batin Keyla di tengah sisa kesadarannya.
Paru-parunya terasa meledak, namun insting bertahan hidupnya mendadak bangkit.
Dengan sisa kekuatan yang ada, ia menyentak tubuhnya ke belakang, meraup oksigen sebanyak mungkin begitu kepalanya keluar dari air.
Tubuhnya yang masih sempoyongan, memegangi pinggiran bak mandi.
"Masih bisa bangun kau, jala-ng kecil?!" Siska berteriak histeris, matanya melotot penuh kebencian.
Wanita itu melangkah maju, tangannya sudah terangkat untuk kembali menjambak rambut Keyla yang basah kuyup.
Keyla tak tinggal diam. Saat tangan Siska terjulur, ia menunduk. Dengan tenaga sisa yang dikumpulkan dari amarahnya, ia mendorong kuat Siska ke arah belakang.
Byur!
"Aaaa!" Siska menjerit saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh masuk ke dalam bathtub berisi air dingin.
Tubuhnya yang biasanya tampil elegan dengan pakaian mahal kini basah kuyup, rambutnya berantakan menutupi wajahnya garangnya.
Melihat kesempatan emas di depan mata, Keyla tidak menyia-nyiakannya. Ia bergegas lari keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai.
Di lorong dapur, pembantu paruh baya yang tadi menghinanya sudah berdiri tegak, menghalangi jalan keluar
"Anda mau keman, Nona? Urusan anda dengan nyonya Siska belum selesai!" ucap pembantu itu dengan nada mengancam.
Keyla tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyayat hati. "Apa di rumah ini sama sekali tidak ada yang berada di pihakku? Meski hanya satu orang saja?" lirihnya.
Pembantu itu hanya diam, menatapnya dingin seolah Keyla adalah hama.
Mata Keyla kemudian tertuju pada sebuah sapu kayu di samping pintu kamar mandi. Tanpa ragu, ia menyambarnya dan mengarahkan moncong kayu itu tepat ke wajah si pembantu.
"Minggir atau aku pukul kau!" ancam Keyla.
"Silakan kalau berani, nona lemah!" tantang pembantu itu dengan meremehkan.
Keyla yang sudah nekat tidak banyak bicara lagi. Ia mengayunkan gagang sapu itu sekuat tenaga ke arah lengan dan kaki pembantu itu.
Bugh! Bugh!
"Aduh! Sakit! Berhenti!" pembantu itu menjerit kesakitan dan mencoba melindungi kepalanya.
Keyla segera membuang sapu itu ke lantai dan berlari sekencang mungkin menuju pintu depan. Di belakangnya, terdengar suara Siska yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bodoh! Menangkap anak kecil saja kau tidak bisa!" maki Siska dengan tubuh yang masih meneteskan air ke lantai.
"Maafkan saya, Nyonya! Dia memukul saya dengan sapu!"
Siska mendorong pembantu itu hingga tersungkur dan berusaha mengejar Keyla ke halaman depan.
Langkah Siska terhenti di ambang pintu. Seorang pria bertubuh tegap sudah berdiri di sana, menghalangi jalannya dengan aura yang mengintimidasi.
"Damian?" Siska terpaku. Wajahnya yang semula beringas mendadak berubah sedikit pucat.
"Biarkan Keyla pergi, Siska. Kau sudah melakukan cukup banyak kekacauan hari ini," ucap Damian dingin.
"Tapi aku harus memberinya pelajaran! Dia sudah berani melawanku!"
"Biar aku saja yang mengurusnya." Damian berbalik tanpa menunggu jawaban Siska.
Pria itu berlari mengejar Keyla yang sudah mencapai gerbang depan. Ia sempat berpapasan dengan gadis itu, namun Keyla seolah mengabaikannya, terus berlari dengan menangis.
"Tunggu, Key! Keyla!" Damian berhasil menjangkau pergelangan tangan Keyla dan menariknya dengan lembut. "Kau baik-baik saja?"
Keyla mendongak dengan napas tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca saat melihat sosok pria yang selama ini menjadi satu-satunya tempatnya bersandar
"Damian?" lirihnya.
Aneh memang, Damian selalu muncul di saat Keyla berada di titik terendahnya. Seolah pria itu memiliki radar khusus untuk penderitaannya.
Keyla hampir saja menjatuhkan dirinya ke pelukan Damian, mencari kehangatan yang hilang. Tiba-tiba memori semalam di klub bersama Dominic menghantam kepalanya.
Keyla teringat statusnya sekarang. Ia bukan lagi Keyla yang bebas. Ia milik Dominic Fredrick.
Keyla menarik tangannya pelan, mengurungkan niat untuk memeluk Damian.
"Kenapa tidak memelukku? Kau tidak merindukanku, Key?" ucap Damian sembari merentangkan kedua tangannya, memberikan senyum yang biasanya membuat pertahanan Keyla runtuh.
Di seberang jalan, di dalam sebuah mobil yang terparkir cukup jauh, Marco hanya mengawasi. "Wah, drama baru. Mari kita lihat apakah nona Keyla akan menyambut pelukan pria ini," gumam Marco sembari mengarahkan kamera ponselnya dan merekam adegan itu dalam format video berkualitas tinggi.
Lantas, Marco segera menekan tombol kirim. Targetnya hanya satu, Dominic Fredrick.
Beberapa kilometer jauhnya, Dominic yang sedang rapat, langsung membuka ponselnya. Begitu melihat video Keyla yang basah kuyup berdiri di depan seorang pria yang merentangkan tangan, rahang Dominic mengeras.
Pena di tangannya patah menjadi dua.
"Brengsek!" gumam Dominic membuat seluruh peserta rapat terdiam ketakutan.
Dominic merasa seperti kebakaran jenggot. Istri keduanya, yang baru saja ia klaim sebagai miliknya, kini berdiri di depan pria lain dengan tatapan penuh kerinduan.
Tanpa sepatah kata pun, Dominic berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan.
"Tuan Fredrick, rapatnya belum selesai!" seru salah satu kolega.
"Urus saja sendiri! Ada seseorang yang mencoba mencuri milikku," jawab Dominic dingin sembari melangkah keluar ruangan.
Dominic akan memastikan pria itu, tidak akan pernah bisa merentangkan tangan lagi seumur hidupnya.
****
"Menjauh lah dariku, Damian," ucap Keyla. Ia melangkah mundur, berusaha menjaga jarak aman.
Dalam hatinya, perih itu kian meradang. Keyla merasa dirinya yang kotor ini tak lagi pantas bersanding dengan Damian.
"Kau berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."
"Aku tidak peduli! Aku merindukanmu, Key!" balas Damian keras kepala. Ia tidak menyerah, justru melangkah maju dan meraih tengkuk Keyla dengan paksa, mencoba mencium kening gadis itu.
"Sudah cukup main dramanya!"
suara bariton yang dingin itu memecah suasana.
Dominic sudah berdiri di sana, hanya terpaut beberapa langkah dengan aura membunuh yang sangat pekat.
Matanya menyipit tajam, memancarkan kilat amarah yang seolah sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Jauhkan tangan kotor mu itu dari istriku atau kau akan kehilangan seluruh jemarimu dalam hitungan detik," desis Dominic sembari melangkah maju dengan tenang. "Jangan berani-berani menyentuh milikku, Damian Alfred!"
Dominic menarik Keyla, sementara tatapannya tertuju pada Damian, seolah sedang menandai lokasi peluru yang akan menembus jantung pria itu.