Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sangkar Emas Tianjing dan Balai Bambu Hujan
Ibukota Kekaisaran Zhou Agung, Tianjing, adalah monster raksasa yang terbuat dari batu bata merah dan genteng emas. Tembok luarnya menjulang setinggi lima belas tombak, cukup tebal untuk dilewati empat kereta kuda berdampingan. Di sinilah puncak kemakmuran dunia fana berkumpul—tempat para pangeran membuang emas seperti air, dan para jenderal merayakan kemenangan dengan lautan anggur.
Namun bagi mata seorang kultivator, Tianjing adalah sebuah keajaiban yang aneh. Kota ini didirikan tepat di atas pusat Nadi Bumi raksasa. Energi spiritual di udara ibukota tidak setajam di Lembah Seratus Obat, namun memiliki bobot yang agung, kental, dan menekan. Itulah Nadi Naga Emas—pusat esensi spiritual elemen tanah dan kayu purba yang konon menopang nasib keluarga kerajaan.
Tiga bulan setelah meninggalkan sekte pinggiran, sosok Li Yun berjalan melewati gerbang utama Tianjing.
Ia tidak lagi mengenakan jubah rami kotor dan bau obat busuk. Penempaan Tulang Kayu Besi-nya telah membuang seluruh kotoran fana dari tubuhnya. Kulitnya kini seputih dan sehalus pualam, matanya jernih bak bintang utara, dan posturnya tegak sempurna. Dibalut jubah sutra putih bersih dengan jepitan rambut dari giok hijau, Li Yun kini terlihat seperti putra mahkota sekte suci yang sedang menyamar, atau seorang sarjana abadi yang turun dari gunung kabut.
Dengan kekayaan yang ia curi dari sisa-sisa sumber daya Diakon Han Mo, Li Yun menyewa sebuah paviliun elegan di Distrik Teratai Merah—area pemukiman elit tempat para menteri dan adipati tinggal.
Ia menamai tempat itu Balai Bambu Hujan.
Berbeda dengan tabib biasa yang berkeliling menawarkan jasa atau memasang spanduk besar, Li Yun menerapkan strategi psikologis yang menargetkan arogansi bangsawan. Ia tidak memasang plang obat. Ia hanya menggantungkan sebuah papan kayu eboni kecil di depan pintunya dengan satu kalimat yang diukir menggunakan kaligrafi tajam:
"Tidak menerima penyakit ringan. Tidak menerima rakyat jelata. Biaya konsultasi: Seratus Tahil Emas. Biaya pengobatan: Nyawa dibayar nyawa."
Seratus tahil emas cukup untuk membeli sebuah desa kecil. Di bulan pertama, seluruh ibukota menertawakan papan itu, menganggap penghuni Balai Bambu Hujan adalah penipu gila yang ingin cepat kaya.
Namun Li Yun sama sekali tidak peduli. Ia menghabiskan hari-harinya di halaman belakang, menyeduh teh, membaca kitab medis fana peninggalan perpustakaan istana kuno, dan membiarkan Dantiannya perlahan menyerap aura Nadi Naga yang bocor tipis ke udara ibukota. Ia sedang memancing, dan kailnya membutuhkan umpan kesombongan.
Ikan besar itu akhirnya menggigit pada pertengahan musim dingin.
Malam itu, pintu Balai Bambu Hujan didobrak terbuka. Puluhan prajurit elit berbaju zirah perak mengepung jalanan, melarang siapa pun melintas. Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah kebesaran dengan sulaman harimau emas melangkah masuk. Ia adalah Adipati Zhenguo, panglima tertinggi militer Kekaisaran Zhou, yang konon telah mencapai puncak bela diri luar dunia fana.
Namun, di pelukan sang Adipati, terbaring seorang pemuda berusia dua belas tahun yang wajahnya tertutup es beku. Pemuda itu adalah putra tunggalnya, pewaris tunggal klan Zhenguo.
"Kau Tabib sombong itu?!" raung Adipati Zhenguo, suaranya menggetarkan cangkir teh Li Yun. "Seluruh Tabib Istana menyerah. Mereka bilang putraku terkena kutukan roh es. Jika kau benar-benar berani memasang tarif seratus tahil emas, buktikan! Jika gagal, aku akan memenggal kepalamu dan membakar balai ini!"
Li Yun, yang sedang membaca buku di bawah cahaya lentera, bahkan tidak mengangkat wajahnya.
Ia dengan tenang menyesap tehnya, membalik satu halaman buku, lalu berkata dengan nada sedatar cermin, "Letakkan putramu di atas dipan kayu itu, tinggalkan seratus tahil emas di atas meja, dan perintahkan anjing-anjing berzirahmu keluar dari halamanku. Jika Jenderal berani berteriak satu kali lagi, Anda bisa membawa mayat putra Anda pulang sekarang juga."
Para prajurit menghunus pedang mereka dengan amarah meledak, namun Adipati Zhenguo mengangkat tangannya. Di balik kepanikan seorang ayah, insting perangnya merasakan sesuatu yang mengerikan. Pemuda berbaju putih ini tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Tekanan aura membunuh dari puluhan prajurit veteran sama sekali tidak menggoyahkan helaian rambutnya.
"Keluar," perintah Adipati pada pasukannya. Ia meletakkan putranya di dipan, lalu menaruh sekantong besar emas di atas meja. "Selamatkan dia."
Barulah Li Yun menutup bukunya. Ia melangkah perlahan mendekati pemuda itu.
Pandangan mata peraknya yang tajam langsung mengenali penyakitnya. Ini bukan penyakit fana. Putra Adipati ini telah terpapar fluktuasi Qi liar berelemen es dari seorang kultivator Lapis Ketiga atau Keempat. Meridian fananya yang rapuh membeku dari dalam. Tabib fana manapun yang menggunakan akupunktur biasa hanya akan menghancurkan organ dalamnya.
Namun bagi Li Yun, menyembuhkan ini semudah membalikkan telapak tangan.
Ia mengambil kotak jarumnya, tapi tidak menggunakan jarum perak biasa. Ia mengeluarkan jarum emas panjang. Tanpa mengucapkan mantra atau menyalurkan Qi yang terlihat, Li Yun mengandalkan kekuatan fisik Tulang Kayu Besi-nya. Ia menusukkan tiga jarum emas itu ke dada pemuda tersebut dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan di udara.
Sut! Sut! Sut!
Li Yun tidak menggunakan energi Kayu Mati-nya untuk mencairkan es itu. Sebaliknya, ia menekan titik-titik akupunktur itu sedemikian rupa hingga memaksa organ jantung sang pemuda memompa darah dengan kecepatan sepuluh kali lipat. Kekuatan fisik mutlak Li Yun memutar jarum itu secara manual, menciptakan panas gesekan internal murni dari darah fana si anak!
Dalam lima menit, es di wajah pemuda itu mencair. Ia memuntahkan segumpal darah hitam sedingin es, lalu mulai bernapas normal, meski masih tak sadarkan diri.
Adipati Zhenguo jatuh terduduk, kakinya yang sekeras baja tiba-tiba lemas. Matanya dipenuhi air mata ketidakpercayaan. Tabib Istana menghabiskan tiga hari tanpa hasil, dan pemuda ini menyelesaikannya dalam waktu kurang dari waktu menyeduh teh!
"Garis keturunanku... kau menyelamatkannya," bisik sang Adipati, merendahkan kepalanya dalam-dalam. "Katakan padaku, Master. Apa pun bayaran yang Anda minta, Klan Zhenguo akan memberikannya."
"Biaya konsultasi sudah kubayar," ucap Li Yun tenang, mencuci jarum emasnya di baskom perak. "Namun, untuk biaya pengobatan... aku punya satu pertanyaan."
Li Yun berbalik, menatap Adipati Zhenguo dengan mata yang seolah menembus jiwa. Saat merawat pemuda tadi, Li Yun merasakan sesuatu yang lain. Di balik hawa es itu, ada residu debu spiritual berwarna keemasan yang menempel di meridian si anak. Debu itu memancarkan aura elemen tanah yang begitu agung dan murni, hingga pusaran mutiara perak di Dantian Li Yun nyaris bergetar kegirangan.
Itu adalah jejak Nadi Naga Emas.
"Putramu tidak terkena flu musim dingin. Dia diserang oleh kultivator elemen es," ucap Li Yun datar. "Namun yang menarik adalah debu emas di paru-parunya. Debu ini hanya bisa berasal dari tanah purba yang telah terperangkap ribuan tahun. Di mana putramu bermain sebelum ia diserang?"
Wajah Adipati Zhenguo menegang. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada siapa pun di ruangan itu.
"Master... Anda benar-benar bukan manusia biasa," bisik Adipati dengan nada gemetar. "Putraku tidak diserang di jalanan. Minggu lalu, ia mengikutiku masuk ke dalam area terlarang—Paviliun Leluhur Bawah Tanah Kekaisaran, tempat Kaisar sedang melangsungkan ritual pemujaan langit. Kami diserang oleh seorang pembunuh misterius berpakaian hitam yang menggunakan sihir es."
"Paviliun Leluhur Bawah Tanah," ulang Li Yun pelan.
"Benar. Tempat itu berada ratusan kaki di bawah Istana Naga. Tidak ada tabib atau rakyat biasa yang boleh mendekatinya," jelas sang Adipati.
Di dalam benaknya, kepingan teka-teki Li Yun akhirnya menyatu.
Pembentukan Fondasi membutuhkan penyerapan energi bumi (Earth Vein) dalam jumlah masif selama berminggu-minggu tanpa gangguan. Jika ia mencoba melakukannya di luar ibukota, auranya akan tercium oleh sekte-sekte. Namun, jika ia bisa turun langsung ke dalam jantung Nadi Naga Emas di bawah Istana Kekaisaran, aura agung dari nadi itu sendiri akan menyembunyikan proses terobosannya secara sempurna!
"Adipati," ucap Li Yun perlahan, menyematkan senyum tipis yang elegan namun menyimpan ambisi sedalam samudra. "Tubuh putramu masih sangat lemah. Ia membutuhkan perawatan intensif selama setahun penuh. Namun aku tidak suka berjalan menembus keramaian pasar. Jika kau ingin aku memastikan putramu hidup hingga dewasa..."
Adipati Zhenguo adalah politikus cerdas. Ia langsung menangkap maksud kalimat itu. "Master! Jika Anda berkenan, saya akan menggunakan otoritas militer saya untuk merekomendasikan Anda langsung ke Istana Dalam! Kaisar saat ini sedang menderita penyakit sakit kepala kronis yang tak bisa disembuhkan Tabib Istana manapun. Jika Anda bisa meredakannya, jabatan Kepala Tabib Istana—dan akses masuk ke seluruh area istana—akan menjadi milik Anda!"
"Lakukanlah," jawab Li Yun, kembali membuka kitab medisnya dan duduk di kursinya. "Dan pastikan, ketika keretaku menjemput, pintunya terbuat dari kayu gaharu murni."
Malam itu, Adipati Zhenguo pergi dengan rasa hormat layaknya menyembah dewa. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja memberikan kunci gerbang jantung kekaisaran kepada seekor naga yang telah selesai menyamar.
Li Yun menatap lentera di halamannya yang bergoyang tertiup angin malam ibukota. Di dalam Paviliun Leluhur Bawah Tanah itu, Nadi Naga Emas menunggunya.