NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan yang Tak di Undang

Enam bulan telah berlalu sejak kepergian Ratna. Musim hujan di kota kecil itu telah berganti menjadi kemarau yang terik, namun panasnya matahari tidak sepanas api dendam yang mulai menyala di dada Lily. Gadis itu kini duduk di teras depan rumah Nenek, mengerjakan tugas matematika dengan konsentrasi penuh. Namun, pikirannya sering melayang ke Jeddah, membayangkan ibunya sedang mengepel lantai marmer yang dingin atau menyetrika baju-baju mahal orang asing.

Keheningan sore itu pecah ketika Bu Tati, tetangga sebelah rumah yang dikenal suka membawa kabar angin, datang menghampiri pagar bambu. Wanita paruh baya itu memegang keranjang berisi cabai merah, wajahnya bersinar-sinar karena ingin berbagi gosip terbaru.

“Lily! Eh, ada Lily,” sapa Bu Tati dengan nada tinggi yang sengaja dibuat akrab. “Nenekmu ada?”

“Nenek lagi tidur siang, Bu Tati,” jawab Lily sopan, meski matanya tetap tertuju pada buku catatannya. Ia berharap Bu Tati segera pergi. Ia tahu betul reputasi wanita itu sebagai penyebar isu.

Bu Tati tidak bergeming. Ia justru mencondongkan tubuhnya melewati pagar, menurunkan suaranya menjadi bisikan yang justru terdengar lebih jelas. “Lily, kamu sudah dengar belum? Tentang ayahmu?”

Jari Lily yang memegang pensil terhenti. Jantungnya berdegup sekali, keras dan menyakitkan. Ia mengangkat kepala perlahan, menatap Bu Tati dengan tatapan datar. “Ayah saya kenapa, Bu?”

Bu Tati tersenyum tipis, senyuman yang penuh arti. “Dia menikah lagi, Lil. Kemarin lusa. Pesta besarnya di hotel bintang lima di kota sebelah. Mewah banget katanya. Pengantinnya cantik, muda, anak pengusaha tekstil.”

Dunia Lily seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Suara jangkrik di semak-semak tiba-tiba terdengar sangat nyaring, seperti ejekan. Menikah lagi. Kata-kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan fisik. Belum genap setahun sejak ia menceraikan ibu Lily dengan cara yang paling menghina, ayahnya sudah menemukan pengganti. Sudah membangun keluarga baru. Sementara Lily dan ibunya masih bergumul dengan sisa-sisa puing kehidupan mereka.

“Ah, masa sih, Bu?” tanya Lily, suaranya datar, mencoba menutupi getaran di tenggorokannya. “Mungkin itu cuma rumor.”

“Bukan rumor, Nak. Tetangga jauhku kerja sebagai katering di sana. Dia lihat sendiri. Ayahnya pakai jas putih, pengantinnya pakai gaun emas. Tamunya ratusan. Mobil-mobil mewah parkir sampai jalan macet,” cerita Bu Tati dengan antusias, seolah menceritakan sinetron favoritnya. “Katanya sih, ayahmu sekarang kelihatan lebih bahagia. Wajahnya cerah. Beda banget sama waktu cerai dulu yang kusut.”

Kalimat terakhir itu seperti disiramkan bensin ke dalam api. *Lebih bahagia.* Ayah terlihat bahagia sementara ibu Lily menangis di kamar mandi setiap malam karena rindu dan lelah bekerja. Ayah berpesta pora sementara Lily harus menghitung receh untuk membeli buku tulis. Ketidakadilan itu terasa begitu nyata, begitu kasar, dan begitu menusuk.

“Terima kasih infonya, Bu Tati,” ucap Lily dingin. Ia bangkit dari kursinya, mengambil buku matematikanya. “Saya mau masuk. Nenek bangun nanti.”

Tanpa menunggu balasan, Lily berbalik dan masuk ke dalam rumah, membanting pintu kayu dengan cukup keras hingga debu-debu beterbangan. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, mengunci pintu, dan melemparkan tas sekolahnya ke sudut ruangan.

Napasnya memburu. Dadanya sesak. Rasa marah yang selama ini ia pendam, yang ia coba kubur demi fokus pada sekolah dan mendukung ibunya, kini meledak keluar. Ia merasa dikhianati. Bukan hanya karena ayahnya menikah, tetapi karena betapa mudahnya ayahnya melupakan mereka. Seolah-olah enam belas tahun bersama, segala kenangan, segala perjuangan, hanyalah sampah yang bisa dibuang dan diganti dengan barang baru yang lebih mengkilap.

“Dasar egois!” teriak Lily ke arah dinding kamarnya. Suaranya pecah, penuh amarah. “Dasar manusia nggak punya hati!”

Ia meraih bantal dan melemparkannya ke kasur. Air mata kemarahan mengalir deras, bukan air mata kesedihan yang lembut, melainkan air mata panas yang membakar. Ia membenci ayahnya. Ia membenci kebahagiaannya. Ia membenci ketidakhadirannya. Dan yang paling ia benci adalah fakta bahwa ayahnya tampak tidak merasa bersalah sedikit pun.

Pintu kamar diketuk pelan. “Lily? Kenapa teriak-teriak? Nenek kaget,” suara Nenek Surti terdengar cemas dari balik pintu.

Lily menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia membuka kunci pintu. Nenek berdiri di sana, wajahnya khawatir, memegang gelas air putih.

“Ada apa, Cucuku? Siapa yang bikin kamu marah?” tanya Nenek sambil masuk dan menutup pintu kembali.

Lily duduk di tepi kasur, menundukkan kepala. “Bu Tati bilang… Ayah nikah lagi, Nek. Kemarin lusa. Pestanya besar. Mewah.”

Nenek terdiam. Wajahnya berubah serius. Ia duduk di samping Lily, meletakkan tangan keriputnya di punggung cucunya. “Oh… jadi itu yang terjadi.”

“Nenek nggak kaget?” tanya Lily, menatap neneknya dengan mata merah. “Ayah kita tinggalkan dalam keadaan hancur, lalu dia langsung bahagia dengan wanita lain? Apa selama ini cinta Ayah itu palsu? Apa kami cuma beban buat dia?”

Nenek menghela napas panjang. Ia tidak mencoba membela mantan menantunya. Ia tahu rasa sakit yang dirasakan Lily valid. “Manusia itu rumit, Lil. Terkadang, orang mencari pelarian untuk menutupi rasa bersalah mereka. Pernikahan baru itu mungkin bukan tentang cinta sejati, tapi tentang kebutuhan Ayahmu untuk merasa ‘normal’ lagi, untuk merasa dihargai, untuk melupakan kegagalan masa lalunya.”

“Tapi itu nggak adil, Nek!” seru Lily, suaranya naik lagi. “Mama menderita di luar negeri, kerja banting tulang demi bayar sekolahku. Sementara Ayah bersenang-senang dengan uang yang seharusnya jadi hak kami! Aku benci dia, Nek. Aku benar-benar benci dia. Aku nggak mau panggil dia Ayah lagi.”

Nenek memegang kedua bahu Lily, menatap mata cucunya dengan tegas. “Boleh, Lil. Kamu boleh membencinya. Kebencian itu wajar saat kamu terluka. Tapi ingat satu hal: kebencian itu seperti minum racun dan mengharapkan orang lain yang mati. Jika kamu terus membenci Ayahmu, hatimu yang akan keracunan. Hatimu yang akan sakit. Bukan hatinya.”

“Aku nggak peduli!” bentak Lily. “Aku cuma ingin dia tahu rasanya sakit! Aku ingin dia tahu rasanya ditinggalkan!”

“Dan dengan membencinya, apakah dia akan tahu?” tanya Nenek lembut. “Tidak. Dia sibuk dengan dunia barunya. Dia mungkin bahkan tidak tahu kalau kamu sedang marah. Jadi, untuk siapa kemarahan ini? Untuk dirimu sendiri? Apakah ini membuatmu belajar lebih baik? Apakah ini membuat Mama di sana merasa lebih tenang?”

Lily terdiam. Pertanyaan Nenek itu menusuk tepat sasaran. Ia menyadari bahwa amarahnya tidak mengubah situasi. Ayahnya tetap bahagia. Ibunya tetap menderita. Dan dirinya sendiri? Dirinya sendiri menjadi pahit, mudah tersinggung, dan sulit berkonsentrasi.

“Aku cuma… aku merasa nggak berarti, Nek,” bisik Lily akhirnya, air matanya kembali mengalir, kali ini lebih pelan. “Rasanya seperti kami nggak pernah ada dalam hidupnya.”

“Kalian ada, Lil. Kalian sangat berarti. Bukti nya, Mama rela pergi jauh demi kalian. Dan kamu, kamu tumbuh menjadi gadis yang kuat meski tanpa figur ayah yang ideal. Itu prestasi besar,” kata Nenek, mengusap rambut Lily. “Jangan biarkan tindakan Ayah mendefinisikan harga dirimu. Kamu berharga bukan karena Ayahmu memperhatikanmu, tapi karena kamu adalah Lily. Anak yang baik, cerdas, dan penyayang.”

Lily memeluk Nenek erat-erat, membenamkan wajahnya di baju batik tua wanita itu. Aroma kamper dan minyak kayu putih menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

“Aku takut, Nek. Takut kalau nanti aku jadi susah percaya sama laki-laki. Takut kalau nanti aku jadi jahat kayak dia.”

“Kamu tidak akan jadi seperti dia,” janji Nenek tegas. “Karena kamu punya hati yang sadar akan rasa sakit. Orang yang pernah sakit biasanya lebih berhati-hati dan lebih berbelas kasih. Jadilah berbeda, Lil. Jadilah lebih baik. Bukan demi dia, tapi demi dirimu sendiri.”

Lily mengangguk pelan di pelukan Nenek. Amarahnya belum sepenuhnya hilang, namun kini ia memiliki arah. Ia tidak akan membiarkan kebencian itu menggerogotinya dari dalam. Ia akan mengubahnya menjadi bahan bakar. Bahan bakar untuk sukses, untuk membuktikan bahwa ia dan ibunya bisa hidup layak tanpa kehadiran seorang pria yang disebut "ayah" tersebut.

Di luar, matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna jingga yang darah. Lily menatap jendela. Ia membayangkan wajah ayahnya yang sedang tertawa di pesta pernikahannya. Senyum itu tidak akan lagi membuatnya iri. Mulai hari ini, senyum itu hanya akan menjadi pengingat baginya untuk tidak pernah menjadi orang seperti itu. Ia akan membangun kebahagiaannya sendiri, dengan caranya sendiri, bersama ibu dan nenek yang benar-benar mencintainya.

“Ayo, kita sholat Maghrib,” ajak Nenek pelan.

Lily mengangguk. Ia bangkit, mencuci muka, dan menyiapkan sajadah. Di setiap sujudnya, ia tidak meminta agar ayahnya menyesal. Ia meminta kekuatan untuk dirinya sendiri, dan keselamatan untuk ibunya di tanah seberang. Itu saja sudah cukup.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!