NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ting! Ting! Ting!
Layar biru muncul dengan warna merah menyala, menandakan tingkat bahaya yang sangat tinggi.
[Peringatan Darurat Kelas Kakap!]
[Sistem mendeteksi ancaman bisnis yang dapat menghancurkan mata pencaharian utama pengguna.]
[Misi Utama Jangka Panjang: Menangkan perang bisnis melawan Kos Eksklusif Nusantara.]
Rahman menelan ludah dengan susah payah membaca peringatan merah itu.
Misi jangka panjang? Ini belum pernah terjadi sebelumnya.
[Target: Pertahankan tingkat hunian kos Anda di angka 100 persen dalam tiga bulan ke depan.]
[Syarat Khusus: Dilarang menurunkan harga sewa untuk menarik pelanggan.]
[Syarat Khusus 2: Anda harus meningkatkan fasilitas kos tanpa bantuan gaib dari sistem.]
[Hadiah: Tambahan umur 30 hari dan Sertifikat Hak Milik Lahan Parkir Sebelah.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 30 hari dan Kebangkrutan Total.]
Tiga puluh hari?
Rahman hampir pingsan melihat angka pengurangan umur yang ditawarkan.
Itu sama saja dengan hukuman mati langsung jika ia sampai gagal mempertahankan penyewanya.
"Sistem gila, kau benar-benar ingin mengujiku sampai ke batas maksimal ya?" batin Rahman berkeringat dingin.
Namun hadiahnya juga tidak main-main, tambahan umur sebulan penuh dan lahan parkir musuhnya.
"Pak Rahman? Bapak tidak apa-apa?"
Suara cemas Rina membuyarkan lamunan Rahman dari layar sistem.
Rahman segera mengatur ekspresinya kembali menjadi dingin dan angkuh.
"Tentu saja aku tidak apa-apa."
"Hanya segerombolan orang kaya baru yang sok tahu soal bisnis kos-kosan."
Rahman berbalik dan berjalan kembali masuk ke dalam gerbang.
Maya dan Rina mengikuti dari belakang dengan wajah murung.
"Tapi Pak, mereka mau pasang AC dan WiFi."
"Anak-anak mahasiswa sekarang pasti lebih memilih tinggal di sana daripada di sini," keluh Maya realistis.
Rahman berhenti melangkah dan berbalik menatap kedua penyewanya itu.
"Kamu pikir aku akan diam saja melihat pelangganku direbut?"
"Mulai malam ini, kita adakan rapat darurat komite kos-kosan."
"Rapat darurat komite kos-kosan?" tanya Rina bingung.
"Sejak kapan kita punya komite kos, Pak?"
"Sejak detik ini aku yang meresmikannya!"
"Kalian berdua, Budi, dan Dimas wajib hadir di terasku jam delapan malam nanti."
"Kita akan susun rencana untuk menghancurkan kesombongan kos tiga lantai itu!" perintah Rahman berapi-api.
Maya tiba-tiba tersenyum lebar, semangatnya langsung kembali berkobar.
"Wah, ini baru Bos Rahman yang saya kenal!"
"Pantang mundur sebelum musuh hancur lebur!" seru Maya sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Jangan banyak gaya, cepat siapkan kopi dan camilan untuk rapat nanti malam."
"Tentu saja uang camilannya pakai uangmu sendiri sebagai asisten, jangan minta padaku!"
Rahman segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu, kembali pada sifat tsunderenya.
"Yah, Bos kok pelit lagi sih!" protes Maya dari luar, meski sambil tertawa kecil.
Di dalam kamarnya, Rahman duduk di meja kerjanya dengan buku catatan yang terbuka.
Ia mencoret-coret angka dan strategi pemasaran dengan serius.
Darah pebisnisnya yang sudah lama membeku kini mendidih kembali.
"Mereka punya modal besar dan fasilitas mewah."
"Tapi aku punya sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka beli dengan uang."
"Yaitu otak licik seorang lintah darat dan keluarga kos yang solid."
Rahman menyeringai tajam, matanya memancarkan semangat juang yang luar biasa.
Malam harinya, teras kamar nomor satu disulap menjadi ruang rapat dadakan.
Budi dan Dimas yang baru pulang sudah diberi pengarahan singkat oleh Maya.
Mereka semua duduk melingkar di atas tikar, menatap Rahman yang berdiri di depan layaknya seorang jenderal perang.
"Selamat malam semuanya."
"Aku kumpulkan kalian di sini bukan untuk bagi-bagi diskon sewa, jadi jangan berharap banyak."
Rahman membuka rapat dengan kalimat pembuka andalannya.
Semua penyewa hanya tertawa pelan, sudah sangat hafal dengan gaya bapak kos mereka.
"Seperti yang kalian tahu, ada monster kapitalis yang sedang dibangun di sebelah rumah kita."
"Mereka berniat mematikan usahaku dan mengubah kamar kalian menjadi tempat parkir."
"Apakah kalian rela tempat kita makan sate kambing semalam diubah menjadi aspal hitam?" tanya Rahman memprovokasi.
"Tidak rela, Pak!" jawab Budi dan Dimas serempak.
"Kamar saya baru saja bapak cat warna biru muda, masa mau dihancurkan," tambah Maya berapi-api.
"Bagus."
"Maka dari itu, mulai besok kita akan melakukan perombakan fasilitas secara bertahap."
"Aku akan mengeluarkan tabunganku untuk merenovasi kos ini agar tidak kalah dari mereka."
Pernyataan Rahman ini sontak membuat semua penyewanya melongo.
"Bapak serius mau pakai uang tabungan bapak?" tanya Rina tidak percaya.
Pak Rahman yang sangat kikir rela mengeluarkan uang tabungannya?
"Tentu saja aku serius!"
"Ini investasi untuk menaikkan harga sewa kalian tahun depan, jangan geer!"
"Tapi karena dananya terbatas, aku butuh bantuan tenaga kalian semua di hari libur."
"Bagaimana? Apakah kalian siap menjadi kuli gratisanku demi mempertahankan kos ini?" tantang Rahman.
Keempat anak kos itu saling pandang sejenak.
Lalu, senyum lebar mengembang di wajah mereka secara bersamaan.
"Demi Kos Putra Putri Melati, saya siap jadi kuli bapak tiap hari Minggu!" seru Budi mantap.
"Saya juga siap bantu ngecat dan beres-beres, Pak!" tambah Dimas tak mau kalah.
"Saya bagian konsumsi dan dekorasi pastinya!" timpal Maya semangat.
Melihat antusiasme mereka, hati Rahman terasa sangat tersentuh.
Ia tidak perlu lagi memaksa atau mengancam, mereka membantunya dengan ikhlas.
"Bagus, rapat malam ini selesai."
"Besok, kita mulai operasi perombakan tahap satu."
"Kita akan buat manajer sombong di sebelah sana menangis memohon ampun pada kita."
Rahman tersenyum penuh kemenangan, merasa sangat siap menghadapi perang bisnis ini.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...