NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Beberapa menit kemudian mereka pun berangkat menuju sekolah Kalingga.

Pagi itu jalanan masih cukup lengang. Sinar matahari baru naik malu-malu dari balik pepohonan di pinggir jalan. Udara dingin dari pendingin mobil bercampur aroma roti hangat yang tadi dibelikan Rangga di minimarket dekat butik Anggun.

Kaivan duduk di pangkuan mamanya sambil memainkan mobil-mobilan kecil di tangannya. Sesekali anak itu membuat suara mesin sendiri dengan mulutnya, lalu tertawa kecil tanpa tahu kalau orang-orang di sekitarnya sedang banyak pikiran.

Berbeda dengan Kalingga. Anak itu duduk diam di dekat jendela. Pandangannya lurus ke luar mobil, memperhatikan deretan toko, lampu merah, dan anak-anak berseragam yang berjalan menuju sekolah masing-masing.

Biasanya Kalingga cerewet. Sedikit-sedikit bercerita. Sedikit-sedikit bertanya. Namun, pagi itu ia nyaris tidak bersuara.

Kartika yang sejak tadi diam-diam memperhatikan langsung merasa hatinya nyeri. Ia pelan-pelan menggenggam tangan putra sulungnya.

“Kakak sedih?” tanya Kartika lembut.

Kalingga menunduk kecil. “Sedikit, Ma.” Suara itu lirih sekali.

“Karena pindah sekolah?”

Anak itu mengangguk pelan tanpa berani menatap mamanya.

Kartika langsung menelan ludah susah payah. Dadanya terasa sesak. Ia tahu keputusan pergi dari rumah semalam memang pilihan terbaik untuk dirinya. Untuk kewarasannya. Untuk rumah tangganya. Akan tetapi, ia lupa satu hal, anak-anak juga ikut terluka.

“Nanti Kakak dapat teman baru lagi,” ucap Kartika sambil mengusap punggung tangan Kalingga perlahan.

Namun Kalingga malah makin menunduk. “Tapi Kakak suka sekolah lama.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat suasana di dalam mobil berubah sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab.

Kartika menatap wajah anaknya lama. Ada kesedihan yang berusaha ditahan di mata kecil itu. Kesedihan yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

“Kakak nanti enggak ketemu Revan dan Kiki lagi.” lanjut Kalingga pelan. “Enggak ketemu Bu Guru Reni juga.”

Kartika menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tahu Revan dan Kiki adalah sahabat dekat Kalingga sejak kelas satu. Hampir setiap hari mereka bermain bersama. Bahkan sering belajar kelompok di rumah. Lalu, sekarang semuanya harus berubah begitu saja dan secara mendadak.

Rangga yang menyetir ikut melirik Kartika sekilas dari kaca tengah. Ia bisa melihat jelas wanita itu sedang menahan tangis.

Jari Kartika sampai menggenggam tangan anaknya erat.

“Mama mau ke cekolah balu?” tanya Kaivan polos sambil mendongak.

Kartika langsung tersenyum kecil walau matanya mulai panas. “Iya, Sayang.”

“Ada mobil-mobilan?”

Rangga langsung tertawa kecil. “Ada. Nanti Om ajak kamu ke tempat banyak mobil-mobilan,” sahutnya sengaja mencairkan suasana.

Kaivan langsung tertawa senang. “Adek mau yang banyak!”

“Oke, siap Bos!” Rangga memberi hormat.

“Oke, Bos!” Kaivan pun membalas dengan cara yang sama.

Kalingga akhirnya tersenyum tipis melihat tingkah adiknya. Walau hanya sebentar setidaknya wajah murung itu sedikit memudar.

Kartika mengusap rambut putranya pelan. “Maafin Mama ya, Kak,” bisiknya lirih.

Kalingga langsung menoleh bingung. “Kenapa Mama minta maaf?”

Kartika tersenyum kecil. “Karena Mama bikin hidup Kakak berubah.”

Anak itu diam beberapa detik. Lalu, perlahan ia mendekat dan memeluk lengan mamanya.

“Enggak apa-apa,” jawab Kalingga pelan. “Yang penting Mama jangan sedih lagi.”

DEG.

Kalimat itu langsung menghantam hati Kartika keras sekali. Air matanya hampir jatuh saat itu juga. Anak sekecil itu ternyata selama ini sadar kalau mamanya sering sedih.

Kartika buru-buru mengalihkan wajah ke jendela supaya Kalingga tidak melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Sementara Rangga hanya diam di depan sambil mengembuskan napas panjang. Ia akhirnya mulai mengerti betapa berat hidup yang dijalani sepupunya selama ini.

Sementara itu di tempat lain, Deva baru saja keluar dari kamar dengan langkah berat. Kaos yang dipakainya kusut. Rambutnya berantakan. Matanya merah dan sembab karena hampir semalaman tidak tidur.

Sejak Kartika pergi membawa anak-anak semalam, rumah itu terasa asing baginya. Menjadi sunyi dan dingin. Entah kenapa terasa tidak hidup.

Biasanya pagi-pagi seperti ini sudah terdengar suara Kartika di dapur. Kadang suara wajan beradu pelan. Kadang suara wanita itu mengomel karena Deva susah bangun. Kadang suara Kalingga yang mondar-mandir mencari kaus kaki sekolah. Atau tangisan Kaivan yang minta susu.

Namun pagi itu yang terdengar hanya suara televisi menyala pelan dari ruang tengah dan dengungan AC.

Deva berjalan menuju dapur sambil mengusap wajah kasar. Namun, begitu sampai di sana langkahnya langsung terhenti. Keningnya berkerut dalam. Piring kotor menumpuk di wastafel.

Bekas makan malam semalam masih berceceran di meja makan. Ada bungkus snack terbuka milik Delisa di sofa. Botol susu Kaivan tergeletak begitu saja di lantai ruang tamu. Bahkan nasi di rice cooker sudah mengering karena semalaman tidak disentuh.

Rumah itu terlihat kacau, tidak terurus. Anehnya, hal sederhana itu langsung membuat dada Deva terasa makin kosong. Selama ini Kartika yang membuat rumah itu terasa hidup, bersih, dan rapi

Kartika yang diam-diam membereskan semuanya tanpa banyak bicara. Istri yang selalu bangun paling pagi. Wanita itu juga memastikan semua rapi bahkan sebelum orang lain bangun tidur.

Deva membuka kulkas perlahan, isinya kosong. Tidak ada sarapan atau ada lauk yang bisa dihangatkan. Tidak ada catatan kecil dari Kartika yang ditempel di pintu kulkas seperti biasanya.

Pria itu memejamkan mata sebentar sambil menarik napas panjang. Belum sehari ditinggalkan rumah ini sudah terasa berantakan. Deva sangat membenci rumah yang berantakan. Rahagnya langsung mengeras menahan emosi dan pusing yang sejak tadi berdenyut di kepala.

Dengan langkah cepat Deva berjalan menuju kamar Kaivan yang sekarang ditempati Iriana dan Delisa.

TOK. TOK. TOK.

“Iriana!”

Tidak ada jawaban. Deva mengetuk lagi. Kali ini lebih keras.

“Iriana!”

Masih sunyi. Dari dalam hanya terdengar suara AC dan dengkuran pelan.

Kesabaran Deva mulai menipis. BRAK! BRAK! BRAK!

“Iriana bangun!” Suara Deva menggelegar memenuhi lorong rumah. “Mau sampai kapan tidur terus?!”

Di dalam kamar mulai terdengar suara ribut. Bunyi barang jatuh. Lalu, suara Iriana mengomel pelan.

Beberapa detik kemudian pintu dibuka kasar. Iriana muncul dengan wajah kusut, rambut acak-acakan, dan mata setengah terbuka.

“Apa sih, Kak?!” bentaknya kesal. “Pagi-pagi udah teriak-teriak!”

Deva langsung menunjuk ke arah dapur tanpa basa-basi. “Itu lihat rumah!”

Iriana mengernyit sambil melirik malas ke arah ruang makan. “Kenapa emangnya?”

“Berantakan!”

“Terus?”

Deva sampai melongo beberapa detik. Ia benar-benar tidak percaya mendengar jawaban adiknya.

“Terus?!” ulang Deva dengan nada naik.

“Iya!” Iriana balas melotot. “Kan bukan aku yang bikin berantakan!”

Deva tertawa pendek saking kesalnya. Tawa yang lebih terdengar seperti orang frustrasi.

“Sekarang kamu tinggal di sini! Harusnya bantu beberes!”

Iriana langsung mendecak sebal. “Aku capek. Semalaman aku enggak bisa tidur. Delisa juga rewel terus.”

Deva memijat dahinya kuat-kuat. Kepalanya langsung terasa nyut-nyutan lagi. Belum juga matahari tinggi rumah itu sudah dipenuhi keributan.

Deva mulai benar-benar merasakan betapa beratnya hidup serumah dengan keluarganya sendiri tanpa Kartika di sana.

1
Anre1201
Berpisah baik untuk koreksi + Introspeksi diri masing-masing, kalau masalah benar-benar tidak bisa di selesaikan, tidak ada yang mau mengalah, menurunkan ego, berpikir jernih, melihat jauh ke depan..
Lebih baik berpisah dulu, sebulan - dua bahkan 1 tahun.. Tidak masalah...
Maka kalau harus bercerai.. Mungkin sudah final 🤔
Anre1201
Mending Kartika pura-pura bodoh dan bilang : ya sudah mas, ganti pakai simpanan kita dulu 35jt, tapi Gavin harus bayar setiap bulan karna itu di anggap Hutang
Anre1201
Banyak orangtua yang bilang, setelah nikah, anak-anak wajib bantu orangtua. Malah keluarga pihak suami / istri kadang jadi parasit dan benalu.
Kalau tidak ada ketegasan, maka rumah tangga akan hancur
Anre1201
Bucin ga salah, yg salah tuh kalau jadi Goblok karna Bucin
Anre1201
Jadi inget waktu Ibu-ibu Konoha Bilang kalau gaji 3 juta itu cukup buat keluarga dengan 2 anak. Jadi harus bersyukur. Jangan banyak nuntut😃
sherly
novel yg bagus, alur ceritanya menarik...
sherly
cerita yg luar biasa, sampai ngk bisa coment ditiap bab karna terlalu fokus... tq untuk kisah hidup mereka yg begitu nyata dengan segala masalahnya, apalgi dikisah ini Deva yg sangat setia dan Kartika yg penuh pengertian dan perhatian... 👍👍
sherly
sejauh ini aku suka ceritanya sebab TDK ada pelakor seperti di novel2 lain ...hanya keluarga yg toxic... 👍
Umi Fitriani
mampir Thor
yuni ati
Mantap
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus kak Santi,suka banget, terimakasih buat ceritanya🙏
🌸 Sunshine 🌸: Sama-sama, Kak. Terima kasih sudah baca karya aku ini ❤️
total 1 replies
Wirly Pena
karya yang bagus thor 👍

halo kakak2, jangan lupa mampir di karya pertamaku.
judul : aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Wirly Pena
semangat thor 💪

halo temen2, dukung dam baca karya pertamaku.
judul : Aku istrimu bukan babu mu

terimakasih 🙏
Alfia Amira
orang ketiga dalam rumah tangga tuh bukan hanya pelakor , tpi dari keluarga sendiri juga
Alfia Amira
selama ini istrimu adalah CEO dari keluarga Santoso , dia menyamar sebagai cleaning service di perusahaan nya sendiri 😂😂😂
Tatan Utari
cerita nya bagus banget, bukan perselingkuhan, suami idaman, semoga keluarganya tidak merongrong lagi
Tatan Utari
Bab 36 sedih banget aku sampai nangis, terharu semoga mereka kumpul lagi bersama
Aluna zapirgon
mknya Deva mikir dulu yah buat keluarga sendiri , mau berbakti boleh TPI usahain istri dan anak dulu yang di utamain ,, Bhkan istri mu aj rela melepas bnyak hal untuk bersama mu ,, bukan harga diri keluarga mu aj dia sanggup beli ,, TPI karena kmu dia milih bertahan
echa purin
👍👍
Anju Toreg
ceritanya jalan di tempat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!