"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Rumah Peninggalan Edlan
Di dalam kantor serba hitam di lantai atas gedung, Julian Velmore berdiri menatap pemandangan kota di balik dinding kaca. Asap rokok tipis membubung dari sela jarinya saat pintu ruang kerja ketukan tiga kali.
Asisten pribadinya melangkah masuk, meletakkan sebuah map tebal di atas meja kayu mahoni.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Julian tanpa berbalik.
"Tim intelijen kita melacak pergerakan lembaga investigasi milik Arelio, Tuan. Mereka baru saja menarik arsip lama tentang sertifikat tanah dan denah bangunan rumah mendiang Edlan," lapor sang asisten.
Julian berbalik perlahan, matanya menyipit tajam. "Rumah lama Edlan? Bukankah rumah itu sudah tak layak huni dan mungkin sudah rusak?"
"Benar, Tuan. Tapi sepertinya mereka menduga Edlan menyimpan salinan bukti fisik di sana sebelum ia menghilang."
Julian terbatuk pelan, sebuah senyuman licik terukir di wajahnya. "Edlan memang orang yang sangat teliti. Dia tidak akan cuma mengandalkan satu flashdisk. Dante dan Levara pasti berpikir mereka bisa bergerak diam-diam memanfaatkan Arelio."
Julian mematikan puntung rokoknya di atas asbak kristal dengan penekanan kuat.
"Kirim dua tim pengintai ke lokasi rumah tua itu mulai malam ini. Kunci semua akses," perintah Julian dingin. "Jika Levara atau orang-orang Dante menunjukkan batang hidungnya di sana ... tuntaskan apa yang sudah gagal."
"Baik, Tuan Julian. Pelaksanaan segera."
.
.
.
.
Sementara itu di mansion Velmore, suasana ruang kerja Dante tampak hening. Dante duduk di kursi rodanya di hadapan meja komputer, sementara Levara berdiri di sampingnya memandangi peta lokasi rumah tua masa kecilnya di layar monitor.
"Aku tahu tempat ini luar dalam, Dante," ujar Levara menunjuk salah satu titik di peta. "Papa Edlan punya ruang rahasia kecil di bawah lantai kayu ruang kerjanya. Aku yakin berkas fisiknya masih ada di sana."
Dante menatap wajah Levara dengan raut penuh pertimbangan. "Lokasi itu sudah terbengkalai puluhan tahun, Levara. Medan di sana tidak aman, dan kita tidak bisa memprediksi apakah Julian dan keluarga Veyron sudah mencium rencana ini."
"Tapi kita butuh bukti fisik itu untuk memperkuat berkas digital di flashdisk, Dante," tegas Levara, menatap lurus mata suaminya. "Cuma aku yang tahu persis letak celah rahasia itu."
Dante menghembuskan napas panjang, meraih jemari Levara dan mengusapnya lembut. "Kalau begitu, kita susun rencananya malam ini. Tapi ingat, kamu tidak boleh bergerak sendirian tanpa pengawasanku."
"Janji," balas Levara mantap.
.
.
.
.
Matahari sore membias temaram di atas kawasan perumahan tua di sudut Jakarta. Levara berdiri di depan pagar besi berkarat yang sudah ditutupi semak belukar. Dengan sweater hitam longgar dan topi baseball yang menutupi wajahnya, penampilannya malam ini jauh dari kesan Nyonya Velmore.
Riko menghentikan mobil antipeluru beberapa meter dari lokasi, sementara Dante memantau dari layar monitor di dalam mobil melalui earpiece yang terpasang di telinga Levara.
"Levara, kamu yakin tidak mau Riko menyertaimu masuk?" suara Dante terdengar jernih dan protektif di earpiece Levara.
Levara membetulkan posisi topinya seraya menatap rumah dua lantai yang tampak terbengkalai.
"Area ini sudah sempit dan dikelilingi pemukiman padat, Dante. Kalau Riko masuk dengan tubuh tegapnya, warga atau mata-mata musuh bakal curiga. Aku cuma butuh sepuluh menit buat cek lantai dasar," bisik Levara pelan.
"Ingat janji kamu," panggil Dante dengan nada bass yang berat. "Begitu ada gerakan mencurigakan, langsung keluar. Saya tidak mau mengambil risiko."
"Iya, Tuan Velmore. Janji," jawab Levara lembut.
Dengan gesit, Levara menyelinap melalui celah pagar yang rusak. Langkah kakinya berderak halus menapak puing-puing bangunan dan dedaunan kering. Bau tanah basah bercampur aroma kayu terbakar yang lapuk menyapa indra penciumannya.
Ia menyalakan senter kecil dari ponselnya, menyoroti dinding semen yang terkelupas. Ini adalah rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya sebelum Edlan menghilang dan rumah ini dibakar secara misterius.
"Dante, aku sudah di dalam. Area ruang tamu hancur total," lapor Levara seraya melangkah ke arah sudut bawah tangga.
"Cari ruang kerja Edlan di sebelah kanan tangga," sahut Dante cepat dari seberang saluran. "Menurut peta dokumen lama, Ayahmu punya ruang penyimpanan rahasia di bawah ubin kayu."
"Oke, aku bergerak ke kanan."
Levara melangkah perlahan menuju ruangan berdebu yang dulunya adalah ruang kerja ayahnya. Meja kayu yang tersisa tinggal rangka hitamnya. Levara berlutut, menyingkirkan serpihan kayu dan tanah tebal yang menutupi lantai.
Jemari Levara meraba ubin semen di sudut ruangan sampai ia merasakan adanya celah tipis yang rata. Dengan menggunakan pisau lipat kecil, Levara mencungkil tepi ubin tersebut.
Cklek!
Ubin itu terangkat, memperlihatkan sebuah kotak besi berukuran sedang yang terbungkus plastik kedap air.
"Dante! Aku menemukannya!" bisik Levara gembira, matanya berbinar. "Ada kotak besi kedap air di bawah lantai!"
"Bagus! Jangan dibuka di sana, Levara. Segera bawa kotak itu dan keluar sekarang juga," perintah Dante tegas.
Namun, sebelum Levara sempat meraih kotak besi tersebut, suara derak langkah kaki yang menginjak ranting kering terdengar nyaring dari arah luar halaman depan.
Kringg ... krrrkk ...
Levara seketika membeku. Ia mematikan senter ponselnya dan mengendalikan napasnya yang mendadak berburu.
"Levara? Ada apa?" suara Dante di earpiece mendadak menegang.
"Ada orang di luar," bisik Levara sangat pelan seraya memeluk kotak besi itu ke dadanya. "Lebih dari satu orang."
"Riko, bergerak sekarang!" perintah Dante dingin dan cepat melalui saluran radio tim pengawal.
Dari celah lubang dinding yang hancur, Levara mengintip ke arah halaman depan. Dua orang pria berjaket kulit hitam dengan kacamata gelap tampak memegang senter besar, meneliti jejak kaki Levara di atas tanah basah.
"Jejaknya masih baru. Dia ada di dalam!" teriak salah satu pria asing itu seraya menarik sesuatu dari balik jaketnya.
Jantung Levara berdegup kencang. Orang-orang Julian Veyron ternyata juga mengawasi lokasi ini!
"Levara, tundukkan tubuhmu!" teriak Dante dari earpiece.
Brummm!
Suara deru mesin mobil yang menggelegar mendadak memecah keheningan. Mobil hitam antipeluru milik Dante menerobos pagar besi rumah tua itu tanpa ragu, menghantam barikade halaman dan membuat dua pria asing itu melompat panik untuk menghindar.
Pintu samping mobil terbuka lebar. Riko langsung menembakkan peluru karet ke arah dua penyusup tersebut hingga mereka tersungkur.
DOR!
DOR!
"Nyonya Levara! Naik sekarang!" teriak Riko dari pintu mobil.
Tanpa membuang waktu, Levara berlari kencang menerobos puing-puing, menggenggam erat kotak besi di pelukannya, dan langsung melompat masuk ke dalam kabin mobil. Pintu otomatis tertutup rapat dan mobil berbalik arah dengan kecepatan tinggi meninggalkan lokasi.
Dante yang duduk di kursi depan langsung memutar tubuhnya ke belakang. Wajahnya pucat dengan sorot mata yang penuh kejelasan rasa cemas.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Dante cepat, suaranya bergetar tipis saat memeriksa penampilan Levara dari atas ke bawah.
Levara menyandarkan punggungnya di jok kulit mobil seraya mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia menatap Dante lalu menyunggingkan senyuman lega.
"Aku aman, Dante. Kotaknya selamat," kata Levara seraya mengangkat kotak besi berdebu itu ke atas pangkuannya.
Dante menghembuskan napas panjang, meraup wajahnya kasar sebelum mengulurkan tangannya dan menggenggam erat jemari Levara yang sedikit kotor oleh debu.
"Jangan pernah lakukan hal senekat ini lagi tanpa saya di sampingmu," bisik Dante rendah, memancar rasa perlindungan yang begitu mendalam.
"Terima kasih sudah jadi pahlawanku lagi malam ini, Tuan Velmore," balas Levara lembut, membalas genggaman tangan Dante dengan hangat.
malemgara2 mikirin leva😭😭