Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di kamar sebelahnya, Kinan masih berusaha mencari jalan keluar. Sialnya jendela di kamar itu pakai teralis. Karena memang itu villa lantai satu saja, mungkin demi keamanan, selain pagar tinggi, semua jendela pakai teralis. Sudah pasti Kinan tidak bisa kabur lewat jendela.
Kinan berusaha membuka pintu kamar itu, tapi tidak bisa. Pintunya terkunci dari luar. Bima memang berniat mengurungnya di kamar itu.
Bella mundur perlahan, dia duduk di tepi tempat tidur. Memikirkan bagaimana caranya dia memberitahu pada Bella kalau dia berada di tempat itu. Tanpa Bella, mungkin dia benar-benar tak akan bisa keluar dari villa Bima itu.
Kinan tidak berteriak, dia juga tidak marah-marah atau membanting barang. Itu hanya buang-buang tenaga bukan? Dan yang paling penting, dia tidak mau dianggap cari perhatian Bima.
Kinan memilih diam, hanya duduk melihat ke arah jendela yang tirainya memang sengaja tidak dia tutup. Dia ingin lihat, apa ada penjaga Bima yang berkeliling menjaga villa. Meski tidak bisa kabur lewat jendela, dia akan cari cara lain nanti sambil menunggu Bella menemukannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, membuat Kinan menoleh ke arah pintu.
Dan begitu pintu terbuka, dia melihat dua orang pelayan masuk membawa dua nampan makanan dan minuman. Leo juga ada di belakang dua pelayan itu membawa banyak sekali paper bag yang tulisannya merek pakaian terkenal.
"Nyonya, silahkan makan malam dulu. Ini juga beberapa pakaian yang tuan belikan untuk nyonya, di villa memang belum ada pakaian ganti!"
Leo meletakkan semua paper bag itu di atas sofa. Sedangkan para pelayan meletakkan nampan mereka di atas meja. Kinan memilih memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak mau menanggapi ucapan Leo.
"Nyonya, tuan bilang 'kalau nyonya tidak perduli pada kesehatan nyonya, paling tidak pikirkan kandungan nyonya' kata tuan begitu" jelas Leo lagi.
Kinan mendengarnya, tapi tidak mau perduli. Kinan tetap memalingkan wajahnya dari ketiga orang yang masuk ke dalam kamar itu.
Dua pelayan itu tampak bingung, mereka melihat ke arah Leo.
"Keluar saja kalian!"
"Baik tuan"
"Nyonya, aku juga akan keluar. Jika butuh apapun, ketuk saja pintunya. Ada dua penjaga yang berjaga di depan pintu kamar nyonya!"
Tangan Kinan mengepal, bahkan di depan kamar itu ada dua penjaga. Bima sungguh berniat sekali menjadikan dia tawanan di tempat ini. Pria itu memang tidak punya hati, seperti itulah seharusnya dia memperlakukan istrinya yang sedang hamil. Keputusan Kinan untuk berpisah dan tidak memaafkan Bima, Kinan rasa memang keputusan yang sangat tepat.
"Aku akan keluar!" kata Leo sekali lagi dan pada akhirnya pria itu benar-benar keluar.
Kinan tak bergerak sama sekali dari tempat dia duduk itu. Makanan lezat yang ada di atas nampan, juga sama sekali tidak bisa menarik perhatiannya. Kalau bisa bahkan Kinan sama sekali tidak sudi melihat atau bicara dnegan Bima.
Bayangkan saja seberapa benci Kinan pada Bima. Pria itu menipunya habis-habisan. Cintanya, kepercayaannya bahkan harapannya. Rasa cintanya telah dikuras habis, sungguh tak ada sisa sedikit pun. Pengkhianatan yang dilakukan Bima bahkan lebih parah dari seorang pria mengkhianati sebuah pernikahan karena orang ketiga. Yang dilakukan Bima adalah, menipu Kinan, menikahinya, memberikan harapan yang besar padanya, tapi semua itu hanya sandiwara untuk membebaskan cinta pertamanya. Ketika pernikahan itu terjadi, Bima sudah pasti sama sekali tidak memiliki rasa cinta padanya. Karena memang semua itu hanya sebuah sandiwara. Kejam sekali.
Satu jam berlalu, Leo kembali lagi ke kamar Kinan.
Tok tok tok
"Nyonya..."
Leo membuka pintu lagi, dan ketika dia membuka pintu. Arah pandangannya segera tertuju pada meja yang di atasnya masih utuh makanan dan minuman yang ada di atas dua nampan itu.
Leo lalu melihat Kinan yang masih duduk di tempat yang sama sebelum dia keluar terakhir kali. Masih di tepi kasur, di sisi yang sama.
"Nyonya, apakah makanannya tidak sesuai? aku akan ganti dengan yang lain!"
Kinan masih tidak bicara, dia masih melihat ke arah jendela yang hanya menunjukkan pemandangan taman samping villa dan sebuah pagar tembok yang tinggi sekali.
Leo menunggu jawaban Kinan beberapa saat. Namun, setelah beberapa lama Kinan sama sekali tidak bicara. Satu patah kata pun tidak.
"Nyonya, aku akan bawakan beberapa buah!"
Leo akhirnya berbalik dan keluar dari kamar itu. Kinan tidak menoleh sama sekali. Dia masih kesal. Dia memang bukan orang yang akan berteriak dan membanting barang kalau kesal. Kinan akan lebih cenderung diam, tapi kalau sudah emosinya sampai di batasnya, dia bahkan lebih mengerikan daripada Bella ketika marah.
Leo yang memang diperintah untuk melapor pada Bima, kalau Kinan tak mau makan. Segera pergi ke ruang kerja Bima. Ruang kerja itu ada di sebelah kamar Kinan. Tidak ada tempat tidur memang, hanya ada sebuah sofa besar dan panjang yang sebenarnya bisa di jadikan tempat tidur.
Tok tok tok
"Tuan..."
Leo membuka pintu itu. Bima tampak masih memandangi laporan pemeriksaan kehamilan milik Kinan.
"Tuan, nyonya tidak memakan makanannya. Aku bertanya nyonya mau makan apa, tapi nyonya terus diam" kata Leo.
"Pergilah, minta pelayan buatkan makanan yang lain"
Leo mengangguk cepat.
"Baik tuan!"
Setengah jam kemudian, Leo kembali ke kamar Kinan dengan dua pelayan yang membawakan makanan lain. Kalau sebelumnya adalah western food, kali ini Leo meminta pelayan memasak masakan Asia.
"Nyonya, makanannya sudah datang. Ini masih hangat, tolong makanlah nyonya!"
Leo memang tidak pandai membujuk orang. Tapi dia sudah berusaha.
Kinan masih tidak menanggapi, dia memilih berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Brakk
Dan ketika Kinan menutup pintu, dia membantingnya.
Leo menghela nafas panjang.
"Ayo keluar dulu, buatkan susu dan potong beberapa buah segar!" kata Leo pada pelayan.
Setengah jam kemudian, Leo kembali ke kamar itu dengan dua pelayan yang sama. Kinan sudah berada di kursi dekat jendela. Tapi makanannya masih utuh. Leo sungguh bingung.
"Nyonya, jika tidak makan. Nanti nyonya sakit, bagaimana dengan kandungan nyonya..."
"Bukan urusanmu, Leo. Pergilah! aku mau istirahat, jangan datang lagi!"
Leo hanya bisa mengangguk patuh. Meski dia masih khawatir, kalau Kinan tetap tidak makan.
"Baiklah, aku akan keluar. Tapi makanlah meski sedikit, nyonya"
Pintu kamar itu tertutup. Kinan berdiri, menuju ke tempat tidur dan berbaring lalu mematikan lampu.
'Dia ingin aku makan bukan? kalau begitu aku tidak akan makan' batin Kinan.
Tekadnya sekarang, adalah melakukan apa yang Bima tidak ingin Kinan melakukannya. Dan tidak akan melakukan, apa yang Bima ingin Kinan lakukan.
***
Bersambung...
😠