Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radar Detektif Maya
Senin pagi selalu memiliki reputasi terburuk dalam kalender kehidupan umat manusia, terutama bagi para budak korporat. Antrean panjang di stasiun komuter, jalanan Sudirman yang macet total, dan tumpukan email yang menggunung sukses membuat wajah semua orang di lantai lima belas ditekuk rapat-rapat.
Kecuali Andrian.
Pemuda dengan kemeja biru muda itu berjalan memasuki kubikel sambil bersenandung pelan. Dia meletakkan ranselnya, menyalakan komputer, dan membalas sapaan pagi Fajar dengan senyum cerah yang membuat supervisornya itu mengerutkan kening ngeri.
"Lu habis kepentok pintu KRL ya, Ndri?" tegur Rendy yang duduk di seberangnya sambil memijat mata. "Ini hari Senin, Bro. Jangan senyum-senyum gitu, nggak sopan sama penderitaan kita."
Doni yang sedang menenggak kopi instannya ikut mengangguk. "Tahu nih. Lu kelihatannya terlalu bersemangat buat ukuran anak magang yang gajinya dibayar di bawah UMR. Ada angin apa lu?"
Andrian hanya mengibaskan tangannya santai. "Angin segar. Kemarin gue baru nemu fakta kalau istirahat di hari Minggu itu benar-benar bisa mengubah perspektif hidup."
Tentu saja Andrian tidak akan menceritakan bahwa akhir pekannya dihabiskan dengan berbalas pesan intens menemani Direktur Utama mereka makan bubur ayam dan menonton film komedi jadul. Itu adalah rahasia negara yang jika bocor, bisa menyebabkan kehancuran massal di gedung NSM Company ini.
Menjelang pukul sembilan, Andrian diminta turun ke lobi utama oleh Budi untuk mengambil paket dokumen dari kurir.
Tepat ketika Andrian sedang menandatangani resi penerimaan di meja resepsionis bawah, suasana lobi yang bising mendadak hening. Temperatur udara seolah turun lima derajat. Formasi karyawan yang tadinya berlalu-lalang seketika menepi, membuka jalan utama.
Dari arah pintu kaca putar, Elena melangkah masuk.
Aura Ratu Es-nya kembali berkuasa. Hari ini dia mengenakan setelan jas hitam double-breasted yang memancarkan otoritas mutlak. Maya berjalan setengah langkah di belakangnya dengan tablet menyala. Manajer HRD dan Kepala Keamanan ikut mengekor di belakang, melaporkan sesuatu dengan nada cepat dan hati-hati.
Andrian mundur beberapa langkah, menyatukan dirinya dengan barisan karyawan lain yang menundukkan kepala saat sang CEO lewat.
Saat Elena berjalan melewati area resepsionis, pergerakannya tidak melambat sedikit pun. Pandangannya lurus ke depan menuju lift VIP. Namun, tepat ketika dia berjarak dua meter dari posisi Andrian, Elena mengeluarkan instruksi yang membuat langkah Maya tersendat.
"Maya," suara Elena terdengar jernih dan tegas.
"Ya, Bu?"
"Tolong batalkan pesanan Americano ganda saya pagi ini."
Maya mengerjap. Sejak tiga tahun lalu Maya bekerja sebagai sekretaris utama, Elena Puspasari tidak pernah memulai hari Senin tanpa dua shot espresso pekat di dalam cangkirnya. Itu adalah bahan bakar mutlak bagi sang CEO.
"Dibatalkan, Bu? Apakah Ibu ingin diganti dengan kopi latte atau minuman lain?" tanya Maya berhati-hati.
"Ganti dengan teh chamomile hangat. Dan pastikan diseduh dari daun teh utuh, bukan kantong celup murahan," perintah Elena tanpa menoleh, langkahnya tetap berirama mantap menuju lift.
Andrian, yang berdiri di barisan karyawan dengan kepala menunduk, tidak bisa menahan diri. Sudut bibirnya refleks tertarik ke atas membentuk seringai kecil yang tertahan. Dia tahu persis mengapa bosnya mengganti asupan kafeinnya. Teh chamomile itu adalah pengingat akan malam lembur mereka, dan bukti nyata bahwa Elena benar-benar mematuhi "pelajaran manusia normal" yang Andrian berikan kemarin.
Andrian mengangkat wajahnya sedikit, hanya untuk melihat punggung Elena menghilang di balik pintu lift khusus.
Namun, senyum Andrian langsung luntur seketika.
Di depan pintu lift yang baru tertutup, Maya tidak langsung berbalik. Sekretaris berwajah tegas itu berdiri diam, pandangan mata elangnya menyapu lobi, dan secara presisi mengunci tepat ke arah Andrian.
Maya melihat senyum itu. Maya melihat reaksi Andrian ketika Elena menyebutkan 'chamomile'.
Bulu kuduk Andrian berdiri. Dia buru-buru membuang muka, meraih paket dokumennya, dan berjalan cepat menuju lift karyawan biasa, berdoa semoga Maya tidak memiliki kemampuan membaca pikiran.
Namun doa Andrian sepertinya sedang transit.
Tepat pukul dua siang, telepon di meja Fajar berdering. Fajar mengangkatnya, mengangguk beberapa kali, lalu menatap Andrian dengan wajah serius.
"Andrian, Bu Maya memintamu naik ke lantai VIP sekarang. Katanya ada dokumen arsip rahasia yang perlu kamu bantu pindahkan dari ruangannya ke ruang server atas," lapor Fajar.
Budi bersiul pelan. "Widih, anak emas VIP beneran nih sekarang."
Andrian menelan ludah. Ini bukan promosi. Ini adalah panggilan interogasi.
Sesampainya di lantai teratas, Andrian berjalan dengan sangat hati-hati mendekati meja sekretaris. Maya sedang menyusun beberapa kotak kearsipan berukuran sedang.
"Selamat siang, Bu Maya. Mas Fajar bilang Ibu butuh bantuan saya?" sapa Andrian dengan senyum paling polos yang bisa dia rakit.
Maya berhenti mengetik. Dia berdiri, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap Andrian lekat-lekat. "Angkat dua kotak itu. Ikuti saya ke ruang arsip."
Andrian mematuhi perintah itu dalam diam. Dia mengangkat kotak yang ternyata cukup berat tersebut dan berjalan mengikuti Maya melewati koridor panjang menuju bagian belakang lantai VIP yang sepi. Tidak ada kamera CCTV di ujung lorong ini, dan kedap suaranya sangat luar biasa.
Begitu Maya membuka pintu ruang arsip dan memastikan Andrian meletakkan kotaknya di lantai, sekretaris itu menutup pintu dari dalam. Klik. Suara kunci diputar terdengar menggelegar di telinga Andrian.
"Bu Maya? Kenapa pintunya dikunci?" Andrian mulai panik. Apakah dia akan dieliminasi secara fisik karena berani mendekati sang CEO?
Maya berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya ke rak besi raksasa. Wajahnya tidak memancarkan kemarahan, melainkan rasa penasaran tingkat tinggi yang sangat intimidatif.
"Andrian Pratama. Mahasiswa tingkat akhir. Magang divisi operasional," Maya mulai merapal biodata Andrian seolah sedang membaca surat dakwaan. "Kinerjamu cukup bagus, analisismu tajam di ruang rapat, dan entah bagaimana, kamu adalah satu-satunya karyawan di bawah level manajer yang bisa masuk ke ruangan Bu Elena dan keluar dalam keadaan bernapas dengan tenang."
"I-Itu hanya kebetulan, Bu. Bu Elena kebetulan sedang mood baik hari itu," kilah Andrian, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Maya mendengus pelan, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari sekretaris perfeksionis itu. "Bu Elena tidak mengenal konsep 'mood baik', Andrian. Beliau beroperasi berdasarkan efisiensi dan margin laba."
Maya maju satu langkah, menatap tajam langsung ke mata Andrian. "Jumat malam, saya menemukan cangkir kopi hitam Bu Elena berada di tempat sampah pantri, dan ada mug bekas teh chamomile di mejanya. Dan pagi ini, secara tiba-tiba, Bu Elena menolak kopi paginya dan meminta teh yang sama. Tepat di saat itu, saya melihatmu tersenyum di lobi."
Jantung Andrian berpacu layaknya mobil Formula 1. Kemampuan deduksi wanita di depannya ini benar-benar mengerikan.
"Saya tanya padamu dengan sangat jelas sekarang, Andrian, dan saya harap kamu tidak berbohong," lanjut Maya, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan mengancam. "Apakah kamu anggota keluarga jauh dari dewan direksi yang dititipkan untuk memata-matai Bu Elena?"
Andrian terkesiap. Hah?
Otaknya sempat nge-lag selama beberapa detik. Dia mengira Maya sudah tahu soal chat rahasia mereka atau insiden salah kirim nomor. Namun, tebakan Maya justru berbelok tajam ke arah konspirasi korporat.
Meski Andrian sejatinya adalah pewaris tunggal Garnida Holdings, dia sama sekali tidak ditugaskan untuk memata-matai siapa pun.
"B-Bukan, Bu! Sumpah!" Andrian mengangkat tangannya dengan cepat, kelegaannya tanpa sadar membuat suaranya sedikit meninggi. "Saya tidak ada hubungan darah sama dewan direksi mana pun di NSM Company! Boro-boro mata-mata, Bu, bayar uang kos aja saya kadang masih nyicil!"
Maya memicingkan mata, mendeteksi kejujuran dari kepanikan konyol anak magang itu. Kalau bukan mata-mata direksi, lalu apa?
"Lalu apa hubunganmu dengan teh chamomile itu?" tuntut Maya pantang menyerah.
Andrian memutar otaknya dengan kecepatan penuh. "Itu... Jumat malam saya lembur mengantar laporan dari Mas Fajar. Saya melihat Bu Elena kelihatan sangat pusing, dan kopinya sudah dingin. Karena saya kebetulan lewat pantri, saya inisiatif buatkan teh. Hanya itu, Bu. Saya cuma takut bos besar kita pingsan dan masa magang saya tidak ditandatangani. Kalau Ibu mau kasih saya SP karena kelancangan itu, saya terima."
Alasan itu masuk akal. Sangat logis dan sesuai dengan kapasitas seorang bawahan yang mencari muka untuk nilai magang. Maya menatap Andrian cukup lama, mencoba mencari celah kebohongan, namun pemuda itu memasang wajah memelas yang sangat meyakinkan.
Sebelum Maya sempat melontarkan pertanyaan investigasi tahap kedua, suara ketukan tajam terdengar dari luar pintu ruang arsip.
Tok. Tok. Tok.
"Maya, apa kamu di dalam?"
Suara Elena. Dingin, memerintah, dan sedikit tidak sabar.
Maya segera membalikkan badan, membuka kunci pintu dan menarik gagangnya. "Ya, Bu Elena. Saya sedang mengawasi pemindahan arsip kuartal lalu."
Elena berdiri di ambang pintu. Pandangannya menembus Maya dan langsung mendarat pada Andrian yang masih berdiri kaku di dekat kotak kardus. Mata sang Ratu Es menyipit sekilas, menangkap ketegangan di ruangan itu.
"Selesai dengan arsipnya?" tanya Elena, nada suaranya datar namun ada peringatan halus di sana. "Saya butuh kamu segera menyiapkan ruang konferensi untuk jadwal teleconference dengan klien Singapura. Jangan buang waktu kerjamu yang berharga untuk mengurus anak magang."
"Baik, Bu," Maya menunduk sedikit. Dia menoleh ke arah Andrian. "Kamu boleh kembali ke lantai lima belas, Andrian. Jangan ceritakan tentang pemindahan arsip rahasia ini ke divisimu."
"S-Siap, Bu Maya," jawab Andrian sambil menunduk dalam-dalam.
Andrian nyaris berlari keluar dari ruangan itu. Saat melewati Elena, dia tidak berani mengangkat wajahnya. Dia hanya ingin kembali ke kubikelnya yang aman dari intaian detektif berkedok sekretaris ini.
Begitu lift tertutup membawa Andrian turun, Elena berbalik menatap Maya yang sedang merapikan tabletnya.
"Apakah kamu mengintrogasi anak magang itu, Maya?" tanya Elena pelan.
Maya menghentikan gerakannya. Dia menatap atasannya dengan berani, sebuah keistimewaan yang hanya dimiliki olehnya setelah bertahun-tahun mengabdi. "Saya hanya memastikan keamanan Ibu. Terlalu banyak kebetulan yang melibatkan pemuda itu dalam beberapa hari terakhir."
Elena menghela napas halus. Dia menghargai loyalitas Maya, namun dia tidak bisa membiarkan sekretarisnya menggali terlalu dalam. Jika Maya tahu Andrian adalah pria di balik pesan-pesannya, reputasinya sebagai CEO tak tersentuh akan runtuh seketika.
"Fokus pada pekerjaanmu, Maya. Andrian Pratama tidak memiliki agenda tersembunyi apa pun yang bisa membahayakan perusahaan. Saya bisa memastikannya."
Sebuah pernyataan yang mutlak. Maya mengangguk patuh, meski instingnya masih berteriak bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang CEO.
Sore harinya, saat jam pulang kerja akhirnya berdentang, Andrian buru-buru berlindung di bilik toilet untuk mengambil napas dan menyalakan ponselnya.
> Andrian: Len. Sumpah, kalau jantung gue ada garansinya, hari ini udah gue claim ke pabrik. Sekretaris lu titisan FBI ya?!
Di lantai atas, Elena yang sedang mengemasi tasnya tersenyum melihat pesan itu.
> Elena: Apa yang Maya lakukan padamu?
> Andrian: Gue dikunci di ruang arsip! Ditanya-tanya soal teh chamomile! Untung otak gue jalan, gue bilang aja gue inisiatif bikin teh karena nyari muka buat nilai magang. Kalau lu telat buka pintu semenit aja, gue yakin kuku gue udah dicabut satu-satu buat diinterogasi.
Elena tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding kaca ruangannya.
> Elena: Kamu berlebihan. Maya hanya menjalankan tugasnya untuk melindungi saya. Dan usahamu mencari alasan cukup pintar.
> Andrian: Mulai besok gue bakal menjauh dari lantai VIP. Gue nggak mau berurusan sama Nyonya Detektif itu lagi. Lu kalau mau minum teh bikin sendiri ya, jangan ngorbanin anak orang!
> Elena: Sayang sekali. Padahal saya berencana menugaskanmu merapikan perpustakaan pribadi saya besok siang. Tapi kalau kamu takut pada Maya, saya akan menyuruh Fajar saja.
Andrian membaca balasan itu. Matanya membelalak. Merapikan perpustakaan pribadi CEO? Itu berarti dia akan berada di dalam ruangan Elena selama berjam-jam.
> Andrian: Eh, bentar. Jangan Mas Fajar dong. Dia lagi sibuk banget ngurusin rekonsiliasi. Gue aja yang ke atas besok. Aman, gue kan strong.
Di kursi kebesarannya, Elena tersenyum puas. Ratu Es itu selalu tahu bagaimana caranya memancing mangsanya kembali.
> Elena: Good. Saya tunggu jam satu siang. Dan Andrian?
> Andrian: Ya?
> Elena: Terima kasih karena tidak membocorkan rahasia kita pada Maya.
Andrian menatap layar ponselnya. Rahasia kita. Dua kata itu memiliki bobot yang entah mengapa membuat perut Andrian terasa dipenuhi kepakan kupu-kupu abstrak.
Untuk pertama kalinya, Andrian sadar bahwa hubungan mereka bukan lagi sekadar percakapan dari pesan salah kirim. Mereka sudah memiliki sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua—sebuah rahasia kecil yang perlahan membuat jarak antara CEO dan anak magang terasa semakin tipis.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨