"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pedang Kayu
Setelah malam kemarin Kate dibuat malu oleh tingkahnya sendiri, pagi ini ia bangun dengan semangat baru. Baginya, orang yang hanya meratapi masa lalu dan tidak melangkah ke depan untuk usaha baru adalah orang-orang yang mudah putus asa. Sementara Kate, ia bukanlah tipe orang yang mudah menyerah.
Pagi harinya, selepas Salvatore berangkat ke baraknya untuk bekerja atau sekadar melatih para ksatrianya, Kate duduk di meja rias sembari mempercantik diri. Tangannya yang mulus bergerak menguraikan rambutnya ke belakang sebelum Rhea, sang dayang pribadi, membantunya mengepang rambut.
"Tumben sekali Anda sudah rapi pagi-pagi meski tidak ada jadwal, Nona," ujar Rhea kepada majikannya.
Kate tidak langsung membalas. Alih-alih menjawab, ia justru tersenyum miring tipis. "Tidak apa-apa. Hanya saja hari ini aku memiliki niatan yang sangat mulia untuk memberlangsungkan kemerdekaan diriku," balasnya diplomatis.
Sejenak Rhea mengerutkan dahinya bingung, namun tidak membalas lagi. Mau bagaimanapun, Kate tidak akan bisa dicegah jika sudah menginginkan sesuatu.
"Sudah selesai, Nona."
Rhea telah menyelesaikan tugasnya merapikan rambut sang Putri. Kate puas menatap cermin yang memantulkan kecantikan Putri Duke Raventhal tanpa celah sedikit pun.
"Siapkan kereta, kita akan berangkat."
"Berangkat ke mana?" tanya Rhea. "Setahu saya hari ini Anda tidak memiliki jadwal ke mana pun, Nona. Ada yang saya lewatkan?" lanjutnya dengan nada sopan seperti biasa.
Kate menggeleng kecil. "Tidak kok, kau tidak melewatkan apa pun," katanya. "Hari ini aku ingin ke tempat pelatihan militer Ardan. Aku belum pernah ke sana, jadi sekalian melihat-lihat."
"Tempat pelatihan—tunggu?" Rhea berkedip.
Ia yang dibawa oleh Kate ke kediaman Ardan jelas tidak paham dengan wilayah ini. Namun yang membuatnya bingung bukanlah fakta itu, melainkan fakta bahwa Kate ingin datang.
Untuk apa seorang wanita galak yang hobi menggerutu dan anti dengan debu serta kotoran tiba-tiba ingin berkunjung ke tempat pelatihan militer jika tidak punya niat terselubung?
"Mau apa Anda di sana, Nona?" tanya sang dayang kembali.
Rhea menatap majikannya dengan pandangan sarat kecurigaan. Sebagai dayang yang telah mendampingi sang Putri selama bertahun-tahun, ia tahu betul bahwa senyuman diplomatis Kate adalah pertanda bahaya tingkat tinggi.
"Nona, tolok ukur 'niat mulia' bagi Anda biasanya berujung pada bencana bagi orang lain," celetuk Rhea datar, tetap merapikan sisa-sisa helai rambut Kate. "Apalagi ini melibatkan tempat pelatihan militer yang isinya ratusan prajurit bersenjata tajam."
Kate berdecak pelan, memutar tubuhnya di atas kursi meja rias sembari menepuk dadanya bangga. "Rhea, Rhea... prasangkamu selalu buruk padaku. Aku ini hanya seorang istri yang perhatian. Bukankah wajar jika seorang istri mengunjungi suaminya di tempat kerja untuk memberikan... kejutan?"
"Kejutan Anda semalam saja berakhir dengan Anda melompat dari dinding," sahut Rhea tanpa ampun.
"Itu kesalahan teknis!" sembur Kate, pipinya mendadak terasa sedikit hangat mengingat kejadian semalam. Namun, ia cepat-cepat menepis bayangan wajah Salvatore yang menangkapnya dalam kegelapan. "Hari ini beda! Hari ini adalah pembuktian bahwa kecerdasan taktis seorang Putri Raventhal jauh di atas otot-otot para prajurit itu. Cepat siapkan keretanya!"
Mau tak mau, Rhea menuruti perintah majikannya. Setengah jam kemudian, sebuah kereta kuda berukir lambang keluarga Ardan dan Raventhal meluncur perlahan membelah jalanan berbatu menuju markas pelatihan militer utama Ardan yang terletak di pinggiran ibu kota.
Di dalam kereta, Kate memangku sebuah kotak kayu panjang berukir indah yang ia bawa dengan sangat hati-hati. Di bibirnya terukir cengiran puas yang tak kunjung padam.
Salvatore Ardan, batin Kate bersorak riang. Kau pikir kau bisa selalu menang? Hari ini, di hadapan seluruh bawahanmu, aku akan meruntuhkan reputasi bertangan dinginmu itu!
Rencana Kate sangat sederhana namun brilian menurut standar otak liciknya. Kemarin malam, sewaktu Salvatore tertidur—atau pura-pura tidur—Kate sempat mengamati jubah dan peralatan tempur suaminya yang disiapkan untuk hari ini.
Salvatore selalu membawa pedang utama kesayangannya, sebuah pedang perak tempaan khusus berukir lambang keluarga Ardan yang selalu ia gunakan untuk memimpin latihan duel.
Tadi pagi, tepat sebelum Salvatore berangkat dan saat pria itu sedang mengurus kudanya di kandang belakang, Kate memanfaatkan kelengahan para pelayan untuk menukar pedang perak tersebut dengan pedang mainan dari kayu yang ukurannya persis sama. Pedang kayu itu biasanya digunakan oleh anak-anak kecil di taman kota untuk bermain ksatria-ksatriaan!
Kate membayangkan adegan yang akan terjadi beberapa saat lagi: Salvatore dengan gayanya yang sok keren melangkah ke tengah arena, mencabut pedangnya dengan penuh wibawa di depan ratusan prajurit yang kagum, lalu... TADAA! Yang teracung adalah sebatang kayu tumpul mainan anak-anak!
Dia pasti akan terperangah! Wajah dinginnya akan pecah karena malu, para prajuritnya akan tertawa tertahan, dan reputasinya sebagai Jenderal tak terkalahkan akan tergores sedikit! Kate hampir saja tertawa terbahak-bahak jika tidak diingatkan oleh deheman pelan Rhea di depannya.
Kereta kuda akhirnya berhenti. Suara riuh sorak-sorai, dentangan besi yang bertabrakan, serta hentakan kaki ratusan prajurit langsung menyambut pendengaran mereka.
Seorang pengawal membukakan pintu kereta. Kate melangkah turun dengan anggun, menyibak gaun mewahnya yang berwarna biru pastel—kontras dengan debu tanah dan aura keras di area latihan militer tersebut. Kemunculan sang Putri Raventhal—yang kini berstatus sebagai istri Jenderal Ardan—seketika membuat beberapa prajurit yang melintas membeku dan membungkuk hormat dengan canggung.
"Nona Kate, area ini sangat kotor," gumam Rhea yang berjalan dua langkah di belakangnya sambil membawa payung peneduh.
"Biarkan saja," bisik Kate dengan mata berbinar-binar. "Pemandangan kehancuran harga diri Salvatore jauh lebih berharga daripada gaun kotor ini!"
Kate melangkah menuju tribun kehormatan yang mengawasi arena duel utama di tengah-tengah lapangan. Dari atas sana, ia bisa melihat Salvatore sedang berdiri tegak di tengah lingkaran pasir. Pria itu mengenakan pakaian latihan berwarna hitam tanpa jubah, menyorotkan aura kepemimpinan yang begitu dominan.
Di hadapan Salvatore, berdiri seorang komandan divisi berbadan tegap dan berotot besar yang sedang memegang dua buah pedang besi berat. Sang komandan tampak bersiap untuk melakukan latihan duel satu lawan satu dengan sang Jenderal—sebuah tradisi rutin untuk menguji ketangkasan para perwira tinggi.
"Tuan Jenderal!" panggil sang Komandan dengan suara lantang yang menggema di seluruh lapangan. "Senjata Anda sudah disiapkan oleh pelayan pagi tadi!"
Salvatore menoleh sebentar ke arah tribun. Mata elangnya sempat menangkap keberadaan Kate yang sedang berdiri bersedekap dengan senyuman penuh kemenangan. Salvatore tidak menunjukkan rasa terkejut, ia hanya mengangguk pelan lalu meraih sarung pedang yang tergeletak di atas meja senjata di pinggir lapangan.
Kate menahan napas. Tangannya meremas pembatas kayu tribun. Ini dia! Rasakan itu, Jenderal Tembok! batinnya histeris.
Salvatore mencabut senjatanya dengan satu gerakan mulus dan cepat.
Sesuai dugaan Kate, bukannya kilatan besi tajam yang terpancar di bawah sinar matahari pagi, melainkan sebatang pedang kayu ringan berukir polos yang teracung di udara.
Seluruh lapangan mendadak hening selama tiga detik. Komandan yang menjadi lawan bertarung Salvatore mengerjapkan mata, bingung menatap senjata yang dipegang oleh pemimpin tertinggi mereka. Para prajurit di pinggir lapangan mulai berbisik-bisik heran.
Kate mengulum senyum paling lebar sepanjang hidupnya. Ia menanti momen di mana Salvatore akan panik, bingung, atau setidaknya menunjukkan kebingungan di wajah batu gioknya itu.
Namun, harapan Kate hancur berkeping-keping dalam hitungan detik berikutnya.
Salvatore sama sekali tidak membelalakkan mata. Wajahnya tetap datar, tenang, dan dingin seperti biasa. Pria itu hanya melirik pedang kayu di tangannya sejenak, menimbangnya sebentar di udara untuk merasakan beratnya, lalu menatap lurus pada komandannya yang memegang pedang besi tajam.
"Latihan hari ini..." suara bariton Salvatore terdengar jernih dan tegas menembus keheningan lapangan, "...aku akan menggunakan pedang kayu ini. Ini adalah uji ketangkasan. Jika kau tidak bisa menjatuhkan pedang kayu mainan ini dari tanganku dalam sepuluh detik, porsi latihan divisimu akan kutambah dua kali lipat."
Mendengar instruksi tersebut, wajah sang komandan langsung pucat pasi, sementara para prajurit di pinggir lapangan justru bersorak kagum!
"Luar biasa! Tuan Jenderal memberikan kita keunggulan senjata!"
"Beliau benar-benar tidak tertandingi! Bahkan memakai mainan kayu pun beliau tidak gentar!"
Kate di atas tribun mendadak mematung. Matanya melebar sempurna. Hah? Kenapa reaksinya malah begitu? Kenapa para prajurit itu justru makin memujinya?
"Maju," perintah Salvatore tenang, mengambil posisi kuda-kuda kokoh.
Sang komandan tidak membuang waktu. Ia menggeram dan menerjang maju, mengayunkan pedang besinya yang berat dengan kecepatan tinggi mengincar bahu Salvatore.
Salvatore tidak sedikit pun bergeming dari pijakannya. Dengan gerakan refleks yang luar biasa presisi, ia memiringkan sudut pedang kayunya—menangkis bilah besi tajam itu bukan dengan adu kekuatan, melainkan membelokkan arah tebasan lawan.
Hanya dalam gerakan melingkar yang sangat anggun dan efisien, Salvatore menggeser tubuhnya ke samping, memanfaatkan momentum serangan lawan, lalu menepuk pergelangan tangan sang komandan dengan ujung pedang kayunya.
Kletak!
"Argh!" Komandan itu meringis kaget saat pegangan tangannya terlepas. Pedang besinya melayang di udara dan tancap ke tanah pasir, sementara ujung pedang kayu milik Salvatore sudah menempel tepat di depan tenggorokannya—hanya berjarak satu milimeter.
Seluruh proses pertarungan itu bahkan tidak memakan waktu lima detik!
Seketika, gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai kekaguman meledak dari ratusan prajurit di sekeliling lapangan.
"Jenderal Ardan! Jenderal Ardan!" seru mereka penuh rasa segan yang makin membubung tinggi. Bagi mereka, Salvatore baru saja membuktikan bahwa seorang ahli pedang sejati tidak ditentukan oleh senjatanya, melainkan oleh keahlian penggunanya.
Salvatore menurunkan pedang kayunya dengan santai, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah tribun kehormatan. Mata elangnya menatap lurus pada Kate yang masih berdiri mematung di sana dengan mulut sedikit ternganga karena syok berat.
Salvatore menyarungkan pedang kayu itu kembali, lalu melangkah perlahan mendekati tribun. Ia mendongak, menatap istrinya yang wajah cantiknya kini dihiasi rona merah antara malu dan jengkel yang luar biasa.
"Terima kasih atas pedang barunya, Istriku," ujar Salvatore dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Kate dan Rhea. Sudut bibirnya terangkat amat sangat tipis. "Sangat ringan dan hemat tenaga. Kau memang selalu tahu apa yang kubutuhkan untuk latihan pagi."
Kate menggertakkan giginya rapat-rapat, matanya melotot tajam menatap pria di bawahnya.
Maksud hati ingin mempermalukan sang Jenderal di depan publik, apa daya ketangkasan pria batu ini justru membuat rencananya backfire dan malah makin memperkuat aura kehebatannya di mata seluruh pasukan!
"Kau..." Kate menunjuk Salvatore dengan telunjuknya yang gemetar karena gemas setengah mati. "...kau ini benar-benar monster, Salvatore Ardan!"
Rhea di sampingnya hanya bisa menghela napas panjang sembari menutup payungnya pelan. "Sudah saya katakan, Nona. Mengganggu Jenderal Besar dengan taktik mainan adalah keputusan paling tidak berguna yang pernah Anda buat hari ini."
"Dan aku akan terus membuat taktik konyol itu sampai jenderal bosan dan memilih menceraikan ku," sahut Kate percaya diri kembali.
Menyerah? Bukan Katherine Raventhal namanya.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗