NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Penyergapan

"CUKUP!!"

Rasa malu dan amarah yang luar biasa membuat Hendrawan kehilangan kendali emosinya! Ia mengangkat jarum suntik itu tinggi-tinggi, berniat menghantamkannya langsung ke dada Arya! Namun...

BAM!

Suara ledakan pintu utama di lantai atas memecahkan keheningan gedung pergudangan tua itu!

"POLISI! JANGAN BERGERAK!"

Suara benturan keras dari langkah-langkah kaki taktis yang menuruni tangga beton bergema hebat di sepanjang lorong!

Mata Hendrawan membelalak kaget. "Sialan! Bagaimana bisa mereka menemukan tempat ini?!"

Peluang emas itu tidak disia-siakan oleh Arya! Dengan sisa-sisa tenaga dan dorongan impulsif, Arya memiringkan tubuhnya dan menghantamkan kepalanya sekuat tenaga tepat ke arah hidung Hendrawan!

DUK!

"ARGH!" jerit Hendrawan seraya terhuyung mundur, sambil memegangi hidungnya yang pecah memercikkan darah! Jarum suntik beracun di tangannya pun terlepas dan jatuh berkeping-keping di atas lantai semen!

BRRRAAAK!

Pintu besi ruang bawah tanah didobrak hingga roboh ke lantai!

Iptu Farhan menerobos masuk paling depan dengan pistol Glock 17 teracung lurus, diikuti oleh empat personel Brimob bersenjata laras panjang!

"JANGAN BERGERAK, HENDRAWAN!" teriak Farhan dengan suara menggelegar yang memenuhi ruangan!

Hendrawan yang pendarahan di hidungnya mencoba merogoh sebilah pisau bedah dari meja untuk menjadikan Arya sebagai sandera. Namun Farhan bergerak lebih cepat dari kilat!

DOR!

Satu tembakan presisi dari pistol Farhan menghantam pergelangan tangan kanan Hendrawan!

"ARGHHH!" jerit Hendrawan seraya tersungkur ke lantai, sembari memegangi tangannya yang tertembus peluru! Senjata tajamnya terlempar jauh.

Dua personel Brimob langsung melompat maju, langsung menekan tubuh Hendrawan ke lantai semen dan memasang borgol baja di kedua tangannya dengan sangat kasar.

Farhan tidak memedulikan Hendrawan yang merintih kesakitan. Ia langsung melompat mendekati Arya, menyarungkan pistolnya, lalu merogoh pisau lipat taktis dari saku celananya untuk memotong tali dan melepaskan ikatan rantai di tubuh Arya.

"Arya! Kamu tidak apa-apa?!" seru Farhan dengan suara penuh kekhawatiran yang mendalam seraya menopang tubuh Arya yang lemas.

Arya terbatuk pelan, seraya menyapu darah tipis di sudut bibirnya. Ia menatap Farhan dengan senyum tipis yang penuh kelelahan namun lega.

"Saya... saya masih hidup, Pak Farhan..." bisik Arya pelan.

Farhan menarik napas panjang, menepuk bahu Arya dengan rasa bangga dan lega yang tak tertandingi. "Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik, Anak Muda. Sangat baik."

"Pak Farhan, ternyata saya juga bisa melihat bayangan dari orang yang masih hidup."

"Apa maksudmu? Kamu tadi melihat bayang Hendrawan?"

"Benar. Tapi ini pertama kalinya juga. Dan selama ini belum pernah. Apa karena saya dalam keadaan mendesak?"

"Bisa jadi."

**

Dua hari telah berlalu sejak malam penangkapan Dokter Hendrawan di Kompleks Pergudangan Kencana.

Penggeledahan menyeluruh di laboratorium rahasia milik Hendrawan mengungkapkan bukti-bukti mengerikan: catatan eksperimen ilegal, sampel-sampel kimia berbahaya, serta dokumen manipulasi otopsi masa lalu yang melibatkan sisa-sisa komplotan Nusantara Utama Group. Penangkapan Hendrawan menjadi paku terakhir pada peti mati kejahatan organisasi tersebut.

Pagi itu, suasana di Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ) RSUD Bina Husada terasa begitu tenang dan damai. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca bersih, membiaskan cahaya hangat di sepanjang koridor.

Arya berdiri di depan wastafel pemulasaraan, merapikan seragam dinas putihnya yang bersih. Luka lecet di lehernya sudah diberi plester medis, dan staminanya telah pulih sepenuhnya.

Teguh melangkah mendekat seraya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja.

"Kamu benar-benar bikin kaget satu rumah sakit, Ya," ujar Teguh seraya menggelengkan kepala dengan rasa takjub. "Tapi Pak Farhan bilang kamu sangat berani malam itu."

Arya tersenyum tipis seraya mengambil cangkir tehnya. "Saya cuma melakukan apa yang harus dilakukan, Mas."

Pintu kaca IKKJ bergeser terbuka. Iptu Farhan melangkah masuk dengan jaket kulit hitamnya yang khas, membawa papan klip berkas perkara yang kini sudah distempel penutupan kasus resmi.

"Bagaimana kondisi tempat ini, Pemulasara?" sapa Farhan hangat seraya mendekati Arya dan Teguh.

"Aman dan tenang, Pak Farhan," jawab Arya. "Semua tugas pemulasaraan hari ini sudah selesai dengan baik."

Farhan menyandarkan tubuhnya di meja stenlis, lalu menatap Arya dengan tatapan penuh rasa hormat.

"Kasus Hendrawan sudah resmi dilimpahkan ke Kejaksaan Agung," jelas Farhan. "Dia diancam hukuman penjara seumur hidup tanpa hak remisi. Dan nama korban-korban yang pernah ia manipulasi otopsinya dulu... kini sudah dibersihkan secara hukum."

Arya mengangguk pelan. Ada kedamaian yang sangat dalam menyusup ke dalam sanubarinya. Ia tahu bahwa perjuangan berat yang mereka lalui tidak hanya menyelamatkan nyawanya sendiri, tetapi juga memberikan keadilan hakiki bagi jiwa-jiwa yang selama ini bungkam di bawah cengkeraman kejahatan.

Arya melangkah ke arah jendela IKKJ, menatap taman kecil rumah sakit yang hijau di luar.

Kemampuan magis dari sentuhannya mungkin akan selalu menjadi rahasia yang tak terpahami oleh sains. Namun kini, Arya tidak lagi merasa takut atau terasing oleh bisikan-bisikan masa lalu itu.

Ia tahu bahwa selama ia berdiri di jalan kebenaran bersama orang-orang seperti Iptu Farhan, tangan dinginnya akan selalu menjadi penuntun cahaya bagi mereka yang telah tiada.

"Pak Farhan..." panggil Arya pelan tanpa menoleh dari jendela.

"Iya, Arya?"

"Terima kasih karena sudah percaya pada orang mati... dan pada saya."

Farhan tersenyum miring, seraya merapikan letak pistol di balik jaketnya. "Terima kasih kembali, Arya. Tapi ingat... istirahatlah yang cukup hari ini. Siapa tahu besok ada rahasia lain yang perlu kita dengarkan bersama."

Arya tersenyum mantap. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, sang Pemulasara Jenazah siap melangkah menghadapi masa depan, sebagai penjaga setia dari kebenaran yang tak akan pernah bisa dibungkam.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!