Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Bu Sintia sudah bersiap sejak pagi. Ia tampil anggun dan berwibawa mengenakan setelan pakaian berwarna lembayung muda yang lembut. Sebelum berangkat, ia berjalan melewati ruang tengah tempat Oma Berlin sedang duduk menikmati teh hangat.
Begitu melihat penampilan menantunya yang begitu rapi dan terlihat siap bepergian jauh, Oma Berlin segera menoleh dan tersenyum.
"Wah, hari ini tampilanmu begitu cantik dan anggun. Mau kemana, Sintia? Bukan mau mencari suami baru kan?" tanya Oma Berlin dengan nada bercanda, menaruh cangkir tehnya perlahan.
Bu Sintia tertawa kecil mendengar candaan mertuanya, lalu mendekat dan duduk di samping Oma Berlin.
"Ya ampun, Ibu… omongan apa itu. Sudah cukup satu suami, tidak perlu mencari lagi," jawabnya sambil tersenyum.
Ia kemudian melanjutkan, "Aku mau ke kantor Regan hari ini, Bu. Sudah lama tidak melihat kesana. Selain itu, ada satu hal lagi yang ingin aku pastikan sendiri."
Oma Berlin mengangkat alisnya sedikit, menatap wajah menantunya dengan tatapan yang lebih serius tapi tetap lembut.
"Memastikan apa? Katakan... jangan buat Ibu penasaran," tanya Oma Berlin.
Bu Sintia menghela napas pelan, senyumnya semakin lebar.
"Bu, sepertinya sebentar lagi kita akan segera mendapatkan menantu baru. Aku belum pernah melihat Regan memikirkan wanita sampai kerumah, tapi malam itu dia..." Sintia menumpukkan tangannya di atas tangan Ibu mertuanya. "Bu. Tapi wanita itu masih bersuami dan sedang dalam proses perceraian..."
Suasana seketika menjadi lebih hening setelah kalimat itu keluar. Senyum di wajah Bu Sintia perlahan memudar, digantikan raut yang sedikit ragu seolah ia sendiri sedang menimbang-nimbang kata-katanya.
Oma Berlin mendengarkan dengan saksama, lalu mengerutkan kening pelan, matanya menatap lekat-lekat wajah menantunya. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab dengan nada yang tenang namun tegas.
"Masih bersuami dan baru dalam proses perceraian…" ulang Oma Berlin perlahan, seolah memastikan kembali makna kalimat itu. "Itu hal yang perlu kita perhatikan baik-baik, Sintia. Jangan tergesa membuat kesimpulan atau berharap terlalu banyak sebelum semuanya benar-benar jelas dan selesai."
Ia mengusap punggung tangan Bu Sintia dengan lembut.
"Ibu mengerti maksudmu. Kalau Regan sampai memikirkannya sedemikian rupa, pasti ada alasan yang membuatnya tergerak. Tapi ingat, selama ikatan perkawinan itu belum resmi putus di mata hukum dan agama, kita harus tetap bersikap hati-hati. Jangan sampai ada kesalahpahaman atau pandangan yang salah dari orang luar."
Oma Berlin mencondongkan tubuh sedikit, tersenyum tipis,
"Kamu bilang mau ke kantor untuk memastikan sesuatu, kan? Baguslah. Pergilah, lihatlah sendiri seperti apa rupa dan sifat wanita itu. Jangan menilai hanya dari statusnya saja, tapi lihatlah akhlak dan sikapnya dalam menghadapi kesulitan. Semoga kamu bisa mendapatkan jawaban yang jelas dan tidak terjebak dalam dugaan-dugaan yang belum tentu benar."
Bu Sintia mengangguk perlahan, merasakan ketenangan menyesaki hatinya mendengar nasihat itu. Rasa ingin tahunya tetap ada, tapi kini disertai kewaspadaan yang lebih baik.
"Baik, Bu. Aku mengerti maksud Ibu. Aku tidak akan terburu-buru, hanya ingin melihat dan mengetahui keadaan yang sebenarnya saja. Setelah itu baru kita bicara lagi," jawabnya dengan nada yang lebih tenang dan yakin.
"Bagus, begitu baru benar," sahut Oma Berlin puas.
Setelah berpamitan, Bu Sintia melangkah keluar menuju halaman rumah. Sopir keluarga yang sudah menunggu segera membukakan pintu mobil dengan sopan.
"Sudah siap, Bu?" tanya sopir itu lembut.
"Sudah, Pak. Kita berangkat ke kantor Regan ya," jawab Bu Sintia sambil duduk dengan nyaman di jok belakang, merapikan ujung pakaiannya agar tetap rapi.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Di dalam perjalanan, Bu Sintia duduk bersandar sambil menatap ke luar jendela, pikirannya terus berputar. Awalnya hanya rasa ingin tahu, kini bercampur dengan rasa penasaran yang semakin besar, ingin melihat langsung sosok wanita yang mampu menarik perhatian putranya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil tiba di depan gedung perkantoran RTF Corp. Sopir segera turun dan membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih, Pak. Tunggu saja di sini ya," pesan Bu Sintia sambil melangkah turun, kembali tampak anggun dan berwibawa saat melangkah masuk ke lobi gedung.
Petugas keamanan dan resepsionis segera menyambutnya dengan senyum dan sikap hormat.
"Selamat pagi, Ibu Sintia. Ibu pasti ingin bertemu dengan Bapak Regan ya," sapa resepsionis ramah.
"Pagi juga. Ya, saya ingin menemuinya. Apakah dia ada di ruangannya?" jawab Bu Sintia.
Resepsionis mengangguk cepat sambil menjawab, "Ada, Bu. Beliau sedang di ruang kerjanya. Silakan naik ke lantai dua puluh lima saja, nanti saya kabari dulu ke sekretarisnya."
Bu Sintia mengangguk berterimakasih, lalu berjalan menuju area lift yang tidak jauh dari situ. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka perlahan, dan seketika tampak kerumunan karyawan yang hendak keluar untuk istirahat makan siang. Mereka berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol ringan, membawa tas tangan atau dompet masing-masing.
Bu Sintia berdiri sedikit menyingkir memberi jalan, matanya tanpa sadar menyapu wajah-wajah yang lewat satu persatu. Hingga tiba-tiba pandangannya terhenti pada satu sosok yang berjalan di tengah kerumunan itu.
Wanita itu mengenakan kemeja yang bahannya halus mengkilap berwarna putih bersih dengan kerah tegak, lengan bajunya digulung rapi hingga siku sehingga terlihat lebih praktis namun tetap berkelas, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang lembut meski terlihat sedang berjalan tergesa mengikuti rekan-rekannya. Sekilas pandang, hati Bu Sintia berdebar, ada rasa sangat akrab yang langsung menyergap ingatannya.
"Wajah itu... dia..." gumamnya dalam hati.
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭