NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - TALI YANG TIDAK MEMBELIT

Lin Feng sudah berada di belakang toko ketika Mo membuka pintu.

Ia memeriksa tali yang menahan rumput urat perak lembap sejak kemarin. Beberapa bundel telah mengering, tetapi bagian dekat batang masih terasa dingin. Ia mencatat perbedaannya sebelum Mo sempat bertanya.

“Yang ini masih perlu sehari lagi,” katanya. “Yang dekat jendela bisa dipindahkan ke keranjang kering.”

Mo menyentuh salah satu bundel, lalu mengendus pangkal batangnya. “Kenapa?”

“Bagian dalamnya masih menyimpan bau tanah. Yang lain berbau lebih ringan. Seratnya juga tidak menempel di jari.”

Mo memeriksa kembali dan mengangguk. “Pindahkan yang dekat jendela. Jangan campur dengan kiriman baru.”

Lin menurut. Ia bekerja pelan, menahan diri dari menyimpulkan lebih banyak daripada yang dapat ia buktikan. Di halaman catatannya, ia menulis tanggal pengeringan ulang dan kondisi masing-masing bundel. Tidak ada angka kualitas, hanya keterangan yang bisa diperiksa orang lain.

“Kalau terus begini, kau mungkin bisa mengurus catatan kiriman tanpa membuatku mengulang semuanya,” kata Mo.

Lin mendongak. “Itu berarti upah lebih tinggi?”

“Tidak. Itu berarti lebih sedikit hal yang harus kuperiksa.”

“Berarti ada kemungkinan upah lebih tinggi nanti?”

“Berarti kau masih bekerja hari ini.”

Lin tersenyum kecil dan kembali pada catatan. Ia menerima bahwa Mo tidak mudah memberi janji. Pekerjaan harian itu mungkin hilang begitu saja jika toko tidak membutuhkan bantuan.

Bai Xiao datang menjelang siang. Ia tidak membawa senyum lebar seperti kemarin. Pedangnya masih terikat di punggung, tetapi tangan kanannya dibalut kain. Ia mendorong pintu dengan bahu dan duduk tanpa diminta.

“Kau kembali,” kata Lin.

“Aku berlatih.” Bai mengangkat tangan yang dibalut. “Pedangku baik-baik saja. Tanganku yang membuat masalah.”

Mo mengulurkan telapak. “Buka.”

Bai menarik kain pembalut. Luka di pangkal ibu jari tampak lebih merah daripada sebelumnya, meski tidak dalam. Mo mengerutkan kening.

“Kau pakai salep yang kuberikan?”

“Ya.”

“Lalu kenapa berlatih sampai lukanya terbuka?”

“Aku melatih cara membawa orang yang terluka tanpa menjatuhkan pedang.”

“Dengan tangan yang sudah terluka?”

“Aku pikir aku bisa mengatur cengkeraman.”

Mo membilas luka itu dan memeriksa kulit di sekitarnya. “Kau bisa mengatur cengkeraman setelah sembuh. Kalau kau merusak tanganmu, ujian itu tidak akan berarti.”

Bai menghela napas. “Ujiannya dua hari lagi.”

“Dan tanganmu masih ada dua.”

“Penguji tak akan menerima jawaban itu.”

“Penguji tak perlu merawat tanganmu setelah kau gagal.”

Bai tertawa sebentar, lalu menahan diri ketika Mo mengoleskan salep. “Aku tidak ingin lolos hanya karena gerakanku cepat. Terakhir kali, mereka bertanya bagaimana aku akan melindungi orang lain jika keadaan kacau. Aku tidak punya jawaban yang bagus.”

Lin menghentikan penanya. “Kau bisa bilang tidak tahu.”

“Aku memang bilang begitu.” Bai menatapnya. “Mereka lalu bertanya kenapa aku mendaftar kalau belum tahu.”

“Dan kau menjawab?”

“Karena aku ingin pekerjaan yang bisa kuandalkan.” Kali ini nada suaranya lebih tenang. “Aku tidak punya keluarga besar yang akan mencarikan tempat. Kalau aku bisa menjadi pengawal karavan, aku bisa mengirim uang pulang dan berhenti berharap pada pekerjaan kecil.”

Ia mengatakannya tanpa mencari simpati. Pedangnya mungkin menjadi jalan baginya, bukan lambang petualangan. Lin melihat bagaimana jari-jari Bai menutup dan membuka setelah Mo selesai membalutnya. Di balik keceriaannya, ada kecemasan tentang masa depan yang sama nyatanya dengan uang Lin yang selalu habis sebelum malam.

“Kalau begitu, berlatih membawa orang cedera masuk akal,” kata Lin. “Tapi bukan dengan luka yang belum sembuh.”

Bai mengangkat bahu. “Aku tahu. Aku hanya mengira bisa melakukannya sekali lagi.”

Lin memandang tangannya sendiri. Ia juga pernah berkata “sebentar lagi” dan “satu usaha lagi” sampai tubuhnya menyerah. Ia tak menjelaskan hal itu kepada Bai. Belum.

Mo selesai membalut tangannya. “Dua hari tanpa latihan pedang. Gerakkan jari, jaga agar tetap bersih, dan datang kembali kalau ada nanah atau demam.”

“Dua hari?” Bai memucat. “Ujiannya lusa.”

“Kau bisa mendaftar ujian berikutnya.”

“Aku sudah menunggu sebulan.”

“Kalau tanganmu belum pulih, kau tidak akan bertarung dengan baik.”

Bai menatap luka itu, kemudian ke pedangnya. Untuk beberapa saat ia tak berkata apa-apa. Lin mengira ia akan bersikeras. Sebaliknya, ia mengangguk.

“Baik. Tidak ada latihan tebasan.”

“Tidak ada latihan berat,” tegas Mo.

“Kalau begitu, aku akan berlatih dengan mulut.”

“Yang itu tidak bisa kuhentikan,” kata Mo.

Bai melirik Lin. “Kau masih kerja di sini? Mau makan setelah selesai? Aku tidak bisa membeli banyak, tapi aku tahu kedai yang memberi porsi nasi besar.”

Lin mengingat bahwa upahnya akan habis untuk tempat tidur. “Aku bisa ikut kalau kau tidak keberatan aku hanya minum air.”

“Kalau kau duduk di sana, pemilik kedai akan mengira aku mengajakmu untuk melihatku makan. Aku tidak mau terlihat seburuk itu.”

Bai mengeluarkan satu roti kukus dari bungkusan kecil. “Ini. Aku membeli dua sebelum datang. Yang satu untukku, yang satu terlalu banyak untuk dibawa pulang.”

Lin menerima roti itu setelah ragu sejenak. “Terima kasih.”

“Besok kau bisa membelikanku sesuatu kalau upahmu naik.”

“Mo bilang upahku tidak naik.”

“Kalau begitu, tunggu sampai dia berubah pikiran.”

Bai pergi setelah Mo memintanya tidak memegang pedang dengan tangan yang dibalut. Ia membawa salepnya dan berjalan ke arah Mercenary Hall, mungkin untuk menanyakan ulang jadwal seleksi. Kali ini ia tidak mengayunkan pedang di jalan. Ia membiarkan tangan kanannya tetap dekat tubuh.

Lin melanjutkan catatan dan membagi sisa bundel berdasarkan tingkat kekeringan. Ketika waktu makan tiba, ia memakan roti pemberian Bai bersama bubur kerja dari Mo. Ia tidak mencoba menolak bantuan itu dengan alasan bisa bertahan sendiri.

Menjelang sore, Mo membayar upah harian seperti biasa. Ia tidak mengatakan bahwa Lin telah menjadi lebih baik, tetapi ia mempercayakan buku catatan ke tangannya untuk dibawa dari meja ke rak tanpa mengawasi setiap langkah.

Lin menyadari bahwa kepercayaan sering muncul dalam pekerjaan kecil: seseorang mengizinkanmu menyentuh buku yang penting baginya, atau menerima roti tanpa membuatmu merasa berutang.

Di luar toko, ia melihat Bai berdiri di ujung jalan. Pemuda itu tidak berlatih. Ia sedang mengamati beberapa pengawal mengangkat peti ke gerobak, memperhatikan cara mereka menjaga keseimbangan dan memberi ruang satu sama lain.

Ia belum tahu apakah Bai akan lulus seleksi. Namun untuk hari ini, Bai memilih berhenti mengayunkan pedang dan belajar dari pekerjaan yang ingin ia lakukan.

Lin menyimpan catatannya. Ia juga telah belajar sesuatu yang tidak tertulis di halaman mana pun: kadang-kadang, cara terbaik untuk mencapai tujuan adalah berhenti sebelum keinginan mengalahkan akal sehat.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!