Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 6: KOTA TUA, SATU MALAM
Kenzo tidak tidur. Sampai matahari naik dan koran di jendela berubah kuning seperti air teh basi, ia hanya berbaring menatap langit-langit sambil mengulang satu nama yang sudah sepuluh tahun terkubur di kepalanya, nama yang diucapkan Ayah di dapur yang gelap dengan tangan gemetar. *Rendra. Di Kota Tua. Dia tahu harus diapakan.*
Di ruang server, Axel sudah menunggu dengan mata merah. Ia tidak bertanya apa-apa. Begitu Kenzo masuk dan menutup pintu pelan-pelan supaya Victor yang masih mendengkur di kamar depan tidak terbangun, Axel langsung memutar kursinya dan menunjuk layar, di mana sebuah foto buram dari arsip pengadilan lama muncul, lelaki kurus berkacamata dengan kerut dalam di antara alisnya.
"Rendra Hadinata," suara datar tablet itu berbunyi pelan. "Pengacara. Kantornya di gedung tua bekas kantor dagang di Kota Tua, dekat menara jam. Tiga bulan terakhir dia bolak-balik menghubungi seorang wartawan, dan tiga hari lalu semua nomornya mati."
"Dia masih hidup?"
Axel mengangkat bahu, lalu mengetik lagi, lebih lambat. "Belum ada kabar kematian. Tapi di jaringan telepon pelabuhan, nomor yang sama muncul di daftar yang tidak seharusnya aku buka. Daftar orang yang dipantau."
Kenzo menatapnya. Ada sesuatu yang mengganjal dan ia belum bisa menamainya, seperti ada kata yang tertinggal di ujung lidah.
"Aku mau ke sana. Malam ini."
Axel menggeleng keras, menggerakkan tangannya cepat sekali, tidak sabar, dan Kenzo membaca setiap gerakannya tanpa perlu diterjemahkan. *Sendirian? Gila. Kamu belum tidur. Bilang dulu ke Victor.*
"Nggak." Jawaban itu keluar lebih tajam dari yang ia maksud. Ia mengusap wajah, menarik napas, dan menurunkan suaranya. "Xel... nama Om ada di kertas itu. Aku... aku belum bisa lihat mukanya sekarang. Kalau aku lihat mukanya, aku bakal nanya, dan aku takut sama jawabannya. Kasih aku satu malam. Satu aja."
Axel menatapnya lama dengan tangan terlipat di dada. Akhirnya ia mengambil sebuah benda kecil dari laci, earpiece hitam sebesar kancing, dan menyodorkannya dengan wajah masam seperti orang yang kalah debat.
*Kalau begitu aku ikut. Dari sini.*
---
Hujan turun sejak senja, hujan tipis yang bukan hujan lebat tapi cukup membuat batu-batu jalan Kota Tua licin dan lampu-lampu gas tiruan berpendar kabur di genangan. Bangunan-bangunan kolonial berdempetan dengan jendela-jendela tinggi yang sebagian sudah ditutup papan, dan di tengahnya menara jam itu menunjuk pukul sebelas kurang dua puluh dengan salah satu jarumnya patah. Kenzo berjalan dengan tudung jaket menutupi kepala, kedua tangan di saku, langkahnya sengaja santai seperti orang yang pulang dari warung.
"Aku di gang belakang gedung," gumamnya.
Bunyi klik di telinganya, lalu suara mesin yang jernih tapi dingin. "Kamera di ujung gang sudah aku buat mengulang rekaman lima menit lalu. Kamu punya waktu... empat puluh menit sebelum siklusnya ketahuan. Dan Kenzo."
"Hm?"
"Dua orang di mobil hitam, di seberang gedung. Jaket kulit. Mesinnya nyala tapi nggak jalan. Dari tadi."
Kenzo tidak menoleh. Ia hanya mengatur langkah, melewati mobil itu dengan kepala sedikit tunduk, dan di sudut matanya melihat dua titik merah kecil dari ujung rokok yang sama-sama diam, sama-sama menghadap pintu gedung. Perutnya mengencang. Jaket kulit. Ia tidak perlu cincin untuk tahu mereka satu jenis dengan orang-orang yang dulu menilai foto-foto di dinding rumahnya seperti tamu menilai barang.
"Mereka juga nunggu dia," bisiknya.
"Atau nunggu seseorang yang datang buat dia."
Ia memanjat tangga besi di belakang gedung lewat balkon yang sudah berkarat, lututnya menekuk redam seperti diajarkan sepuluh tahun lalu, cara jatuh yang tidak sakit, cara naik yang tidak berbunyi. Jendela lantai tiga tidak terkunci. Di baliknya ada lorong sempit yang berbau debu, kertas lembap, dan sesuatu seperti obat cair, dan di ujungnya, dari bawah sebuah pintu kayu, mengintip garis cahaya kuning yang berkedip.
Ada yang bergerak di dalam. Bunyi laci dibuka, kertas disobek, seseorang bernapas cepat dan pendek.
Kenzo mengetuk pintu itu dua kali, pelan, lalu satu kali lagi. Tidak ada yang menjawab. Bunyi di dalam berhenti seolah seluruh ruangan menahan napas, dan sebelum ia sempat menunduk, pintu itu ditarik dari dalam dengan keras, dan ujung dingin sesuatu menempel di dahinya.
"Jangan bergerak." Suara itu gemetar hebat. Lelaki kurus berkacamata itu berdiri di sana dengan sebuah revolver tua di tangan kanan, tangan kirinya mencengkeram kusen pintu seperti takut jatuh, bibirnya pucat dan kemejanya basah oleh keringat padahal ruangan itu dingin. "Kamu... kamu dikirim siapa? Bilang... bilang sama mereka aku sudah... sudah nggak punya apa-apa lagi..."
"Pak Rendra." Kenzo mengangkat kedua tangannya pelan-pelan, telapak terbuka, persis seperti yang Victor lakukan di bawah jembatan. "Saya bukan dari mereka. Saya cuma mau tanya satu hal. Adriel Wicaksana."
Revolver itu bergetar. Sesaat Kenzo mengira lelaki itu akan menarik pelatuknya karena ketakutan semata, tapi kemudian wajah di balik kacamata itu berubah. Matanya menyipit, turun ke bahu Kenzo, ke garis rahangnya, ke rambut belakang yang selalu berdiri melawan, dan mulutnya terbuka tanpa suara.
"Tidak mungkin..." Revolver itu turun. "Anak laki-lakinya. Yang paling kecil. Mereka bilang... koran bilang tiga... tiga yang..." Napasnya tersendat, dan ia terhuyung ke belakang sampai punggungnya membentur meja. "Tuhan. Mukamu... mukamu persis bapakmu. Dia datang ke sini sebulan sebelum... dia duduk di kursi itu, dan dia ketawa karena aku bilang dia terlalu nekat..."
Ia menangis. Seorang lelaki dewasa berumur lima puluhan, menangis di balik meja berantakan dengan kedua tangan menutup mulut, dan Kenzo yang sepuluh tahun tidak pernah melihat satu pun orang yang mengenal Ayahnya merasakan lututnya melemah.
"Mereka bilang tidak ada yang selamat," isak Rendra. "Aku kira... aku kira aku sendirian yang masih ingat..."
"Bapak ingat Ayah saya." Suara Kenzo pecah, ia tidak sanggup menahannya. "Amplopnya, Pak... amplop itu diambil malam itu. Ayah bilang bawa ke Bapak. Saya nggak sempat..."
"Amplop itu cuma salinan, Nak." Rendra menyeka matanya cepat dengan punggung tangan yang gemetar, dan di balik tangisnya muncul sesuatu yang lain, urgensi, ketakutan yang sudah ia pelihara berminggu-minggu. "Bapakmu bukan orang bodoh. Yang asli, negatif film, sudah dia titipkan padaku sebulan sebelumnya. Dia bilang kalau ada apa-apa... dia bilang kalau ada satu saja yang selamat..." Ia berbalik cepat ke rak, menarik sebuah jam dinding tua dari paku, membalik, dan menekan sesuatu di punggungnya sampai papan kecil terlepas. Di dalamnya, terbungkus kain beludru yang sudah memudar, ada sebuah kaleng pipih sebesar telapak tangan.
"Aku nggak berani buka. Aku nggak berani pergi, nggak berani jual, nggak berani... aku cuma duduk di sini dua belas tahun menunggu orang yang..." Ia berhenti. "Sepuluh. Sepuluh tahun. Aku menunggu sepuluh tahun."
Kaleng itu hangat oleh tangan yang lama memegangnya. Kenzo menerimanya dengan kedua tangan seperti menerima sesuatu yang hidup, dan di bawah ibu jarinya, tergores kecil di tutup logam itu, ada inisial yang ia kenal dari bagian bawah kamera Ayah. *A.W.*
"Ada satu hal lagi." Rendra mencengkeram lengannya dengan kedua tangan, kukunya menancap. "Yang menelepon Darto malam itu. Yang menyuruh dia menahan mereka sampai pagi, supaya bapakmu merasa punya waktu. Itu bukan orang pelabuhan, Nak. Darto sendiri yang cerita padaku, seminggu sebelum dia ditemukan mengambang di dermaga. Dia dibohongi. Dia disuruh oleh seseorang yang bapakmu percaya... seseorang yang..."
Dari telinganya, tiba-tiba, suara mesin itu memotong.
"Kenzo. Awas. Atap seberang."
Tidak ada waktu untuk bertanya. Kenzo menjatuhkan tubuh ke depan, menarik Rendra bersamanya, dan pada saat yang sama kaca jendela di belakang meja meledak ke dalam.
Tidak ada bunyi tembakan. Hanya pecahan kaca yang menyembur, bunyi *tuk* basah yang pendek, dan Rendra yang masih ada dalam rangkulannya tiba-tiba menjadi sangat berat. Mata di balik kacamata yang retak itu terbuka lebar menatap langit-langit, bibirnya masih setengah menyebut kata terakhir yang tidak pernah sampai, dan di dadanya, kemeja putih yang basah oleh hujan itu mulai mekar merah dari satu titik kecil.
"Pak... Pak Rendra! Pak, jangan, bapak bilang... Darto disuruh siapa? Pak!" Kenzo mengguncangnya dengan tangan yang licin, kaleng film itu terjepit di antara tubuh mereka, dan di telinganya Axel mengumpat dalam bunyi-bunyi rusak yang bukan kata. "Bapak belum selesai ngomong... Pak, tolong, bapak belum... Ya Tuhan, jangan lagi..."
"Kenzo! Dua orang di tangga! Mereka naik!"
Langkah-langkah sepatu berat bergemuruh di lorong, dan Kenzo, dengan darah orang itu di kedua tangan, mengangkat kepala dan melihat bayangan menghalangi cahaya di bawah pintu. Ia melepaskan Rendra, pelan, menutup kelopak matanya dengan dua jari yang gemetar, lalu menyelipkan kaleng itu ke dalam jaket, dan saat pintu ditendang terbuka ia sudah berdiri di sebelah kusen.
Orang pertama masuk dengan pistol di depan, dan sikut Kenzo menghantam pergelangannya dengan bunyi retak yang bersih sebelum senjata itu sempat mengarah. Orang itu menjerit. Kenzo memutar tubuhnya, menjadikannya perisai tepat ketika orang kedua menembak, peluru itu menghantam bahu temannya sendiri dan lelaki itu jatuh melolong. Satu langkah, dua langkah, ia merasakan tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya, tangan kirinya menangkap laras, lututnya naik ke perut, dan ketika orang kedua terbungkuk Kenzo menghantamkan pegangan pistol itu ke pelipisnya.
Sunyi. Hanya bunyi napasnya sendiri yang menderu, dan hujan yang masuk lewat jendela pecah.
"Kamu hidup?" suara datar itu bertanya, tapi nada mesinnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang bergetar di bawahnya. "Kenzo. Jawab."
"Hidup..." Ia terbatuk, menekan rusuknya yang berdenyut. "Siapa yang nembak, Xel? Dari atap mana?"
"Gedung seberang. Lantai paling atas, sisi timur. Kamera menara jam menangkap satu bayangan sebentar... aku perbesar..." Jeda. Terlalu lama. Suara ketikan cepat yang tiba-tiba berhenti, dan ketika suara mesin itu kembali, ia terdengar lebih pelan, lebih hati-hati, seperti orang yang memegang sesuatu yang bisa meledak di tangannya.
"Kenzo. Kamu harus lihat sendiri."
Ia melangkah ke jendela yang pecah dengan kaca berderak di bawah sepatunya, berdiri di sisi yang tidak terlihat dari seberang, dan mengintip melalui celah tirai yang compang-camping. Hujan menyapu atap-atap genting, dan di puncak gedung kosong di seberang jalan, sebuah siluet berdiri di antara tangki air dan kabel antena. Seorang lelaki, topi hitam, sarung tangan kulit, senapan panjang dengan peredam terkulai di sisi tubuhnya. Ia tidak lari. Ia hanya berdiri di sana, memandang ke arah jendela itu, seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Lalu ia mengangkat tangan dan melepas topinya.
Cahaya menara jam, yang jarumnya patah itu, jatuh miring menimpa rambut yang beruban di pelipis, bekas luka tipis dari alis ke pelipis, dan mata kelabu yang kini terbuka lebar. Lututnya yang kiri sedikit menekuk saat bertumpu, kebiasaan kecil yang diam-diam selalu Kenzo perhatikan dan tidak pernah berani ia komentari.
Kenzo tidak bisa bernapas.
Di seberang jalan, di tengah hujan, Victor menjatuhkan senapan itu. Benda panjang itu jatuh berkelontang di atas atap seng, dan lelaki itu hanya berdiri dengan kedua tangan yang kosong, gemetar, terangkat setengah dari sisi tubuhnya seperti dulu, seperti selalu, seperti ingin berkata *aku tidak akan menyakitimu* kepada anak yang sudah dua menit lalu melihatnya membunuh satu-satunya orang yang tahu kebenaran tentang Ayahnya.
Bibir Victor bergerak. Kenzo tidak bisa mendengar apa-apa dari jarak sejauh itu, tapi ia tidak perlu mendengar. Ia membaca bentuk kata itu seperti ia membaca bahasa isyarat Axel, dan satu kata yang sama itu diulang tiga kali, lambat, putus asa.
*Kenzo... Kenzo... Kenzo...*
Di telinganya, suara Axel pecah, dan untuk pertama kalinya sepanjang sepuluh tahun mesin itu terdengar seperti sedang menangis.
"Itu... itu Victor, kan? Bilang kalau aku salah lihat. Tolong bilang..."
Kenzo tidak menjawab. Di bawah jaketnya, kaleng film milik Ayah terasa dingin seperti es di atas dadanya, dan di lorong di belakangnya terdengar langkah-langkah baru yang lebih banyak, lebih berat, lebih tenang. Langkah orang-orang yang tidak terburu-buru karena tahu sasarannya tidak akan ke mana-mana.
---
*Bersambung ke Bab 7*