Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Pemakaman Veronika akhirnya usai. Hujan turun semakin deras, membasahi tanah pemakaman yang berada di atas lahan pribadi milik Adam Lorenzo Maxnore. Langit yang sejak pagi tampak mendung seolah ikut berduka atas kepergian seorang wanita yang begitu berarti bagi pria paling berkuasa di Asia Tenggara itu.
Di hadapan sebuah makam yang masih dipenuhi bunga putih, Adam berdiri membisu. Jas panjang hitam yang dikenakannya telah basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi, sementara air hujan mengalir membasahi wajahnya. Tak seorang pun tahu apakah air yang membasahi pipinya hanyalah hujan atau ada air mata yang diam-diam jatuh di balik wajah dinginnya. Beberapa anak buahnya berdiri tak jauh darinya, masing-masing memegang payung hitam. Namun, tak seorang pun berani mendekat.
Bukan karena mereka tak peduli, melainkan karena mereka sudah mencoba sebelumnya. Tetapi, Adam menolaknya dengan tatapan tajam yang membuat siapa pun mengurungkan niat untuk mendekat.
Pria itu ingin berdiri sendirian di hadapan makam Veronika. Ia tak ingin ada orang yang mengganggu saat dirinya mengucapkan salam terakhir kepada wanita yang seharusnya menjadi istrinya hari ini.
Tangan Adam terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Veronika..." gumamnya lirih. Suara itu hampir tenggelam di antara gemuruh hujan.
"Kau sudah berjanji akan selalu berada di sisiku."
Rahangnya mengeras. Ingatan tentang senyum Veronika, suaranya yang lembut, dan tatapan penuh keyakinan ketika wanita itu menerima lamarannya kembali memenuhi pikirannya.
"Maafkan aku," bisiknya dengan suara serak. "Aku terlambat melindungimu."
Kepalan tangannya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Adam menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, pria yang ditakuti banyak orang itu hanya berdiri di sana, membiarkan hujan menghantam tubuhnya tanpa sedikit pun berusaha mencari perlindungan. Kemudian, setelah menarik napas panjang, ia mengangkat wajahnya kembali.
"Aku bersumpah, Veronika. Orang yang mengambilmu dariku akan membayar semuanya." Tatapannya berubah dingin.
"Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang."
Adam terdiam sejenak sebelum akhirnya mengucapkan salam terakhir.
"Selamat tinggal, Veronika."
Ia berbalik, langkahnya menjauh dari makam itu tanpa menoleh lagi. Dua orang anak buahnya segera mengikuti dari belakang, sementara beberapa orang lainnya tetap tinggal untuk memastikan pemakaman selesai dengan baik. Mobil hitam telah menunggu di ujung jalan setapak.
Namun, sebelum Adam mencapai mobilnya, seorang anak buah bergegas menghampiri dengan kepala tertunduk.
"Tuan Adam."
Adam berhenti, air hujan masih menetes dari ujung jasnya.
"Ada apa?"
"Maaf mengganggu, Tuan. Kami baru saja menerima laporan dari kediaman."
Alis Adam berkerut tipis, "Bicaralah."
Anak buah itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Nona Gia memberontak."
Tatapan Adam seketika berubah tajam.
"Jelaskan."
"Setelah Tuan meninggalkan kediaman, Nona Gia menolak dikurung di kamar mendiang Nona Veronika. Dia berusaha keluar dari kamar dan meminta para penjaga membiarkannya pergi. Ketika mereka menolak, Nona Gia mencoba menerobos pintu."
Adam tertawa kecil tanpa sedikit pun kehangatan.
"Dia masih punya keberanian untuk memberontak setelah apa yang dilakukannya?"
"Tuan, sebenarnya—"
Jangan membelanya!" Bentakan Adam membuat anak buahnya langsung menunduk dalam-dalam.
"Siapa yang memberinya izin untuk meninggalkan kamar itu?" tanya Adam dingin.
"Tidak ada, Tuan."
"Bagus, kalau begitu, pastikan dia memahami bahwa tidak ada satu pun perintah di rumah ini yang boleh dilanggarnya."
"Baik, Tuan."
Adam kembali melangkah menuju mobil. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh sedikit.
"Apakah dia sudah makan?"
Pertanyaan itu membuat anak buahnya terdiam sesaat.
"Belum, Tuan. Nona Gia menolak makanan yang dikirimkan pelayan."
Wajah Adam tidak menunjukkan perubahan sedikit pun.
"Kalau begitu, biarkan saja."
"Tapi, Tuan—"
Adam menoleh, tatapannya cukup untuk membuat pria itu langsung terdiam.
"Aku tidak peduli apakah dia makan atau tidak. Aku juga tidak peduli apakah dia menangis, berteriak, atau memohon sepanjang malam." Suaranya rendah, tetapi setiap katanya terdengar mengancam. "Dia akan tinggal di kamar itu sampai aku memutuskan sebaliknya."
"Baik, Tuan."
Adam masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintunya dengan keras.
"Antarkan aku pulang."
Mobil segera melaju menembus hujan.
Sepanjang perjalanan, Adam memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Bayangan makam Veronika masih melekat di benaknya, tetapi laporan tentang Gia perlahan-lahan membangkitkan amarah yang sejak tadi berusaha ia kendalikan.
Baginya, wanita itu adalah penyebab kehancuran hidupnya. Ia tidak peduli dengan tangisan Gia. Tidak peduli dengan penyangkalan wanita itu di hadapan para tamu. Bahkan, rekaman CCTV yang tidak mampu membuktikan siapa pengemudi mobil saat kecelakaan terjadi pun tidak membuatnya mempertanyakan tuduhannya sendiri. Adam sudah menetapkan siapa yang harus disalahkan.
Di kediaman Maxnore.
Gia berdiri di depan pintu kamar yang terkunci dari luar. Kedua tangannya mencengkeram gagang pintu dengan kuat. Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis, sementara gaun pengantin putih yang masih dikenakannya tampak kusut dan kotor di bagian bawah.
Sejak tadi, ia sudah berkali-kali meminta para penjaga membukakan pintu. Namun, jawaban mereka selalu sama. Ia tidak boleh keluar tanpa izin Tuan Adam.
"Aku ingin keluar!" serunya untuk kesekian kali. "Tolong buka pintunya! Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!"
Tidak ada jawaban. Gia memejamkan mata, berusaha menahan isak yang kembali mendesak keluar dari dadanya.
Ia tidak tahu di mana ponselnya berada. Ia tidak bisa menghubungi keluarganya. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan kepada siapa pun bahwa bukan dirinya yang mengemudikan mobil saat kecelakaan itu terjadi.
"Tuan Adam, tolong dengarkan penjelasan ku..." bisiknya dengan suara gemetar, seolah pria itu bisa mendengarnya dari kejauhan.
Namun, tak ada siapa pun di balik pintu yang menjawab. Gia menyandarkan dahinya pada permukaan kayu yang dingin.
"Aku benar-benar tidak bersalah, Tuan Adam."
Air matanya kembali jatuh.
Di luar kamar, dua penjaga berdiri tegak. Mereka mendengar tangisan wanita itu, tetapi tidak berani melanggar perintah yang diberikan oleh majikan mereka. Beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki dari ujung lorong. Salah seorang penjaga segera menegakkan tubuhnya.
"Tuan."
Adam baru saja tiba.
Jas panjangnya masih basah oleh hujan. Wajahnya dingin, dan sorot matanya langsung tertuju pada pintu kamar Veronika yang kini menjadi tempat kurungan Gia. Dari balik pintu, terdengar suara tangisan yang belum juga berhenti. Adam berdiri diam selama beberapa detik.
Kemudian, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
"Rupanya pengantin baruku belum memahami aturan di rumah ini." Ia mengulurkan tangan.
"Buka pintunya!" perintah Adam tegas.
ap Dy punya rencana sendri???