NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Fitnah

Beberapa hari setelah malam hujan itu, Arya pergi ke peternakan sebelum matahari tinggi.

Raka dan Bayu pulang sekolah menjelang siang. Seusai makan, mereka mengerjakan tugas di ruang tamu, sedangkan Sasa tidur di kamar bawah agar mudah kuawasi. Aku sedang menjemur handuk di belakang ketika mendengar suara benda jatuh dari lantai dua.

Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dari hari lain. Bang Gino sempat mengantar daftar pengiriman, Bu Sumi menitipkan sepiring pisang goreng, dan Pak RT mengirim pesan tentang rapat warga. Pintu depan terkunci setelah anak-anak masuk. Pintu belakang kututup sendiri sebelum mencuci piring.

Karena itu suara dari lantai atas tidak mungkin berasal dari angin.

Raka juga menoleh dari buku matematikanya. “Ada orang?”

“Kalian tetap di sini.”

Aku memeriksa dapur lebih dulu. Jendela tertutup, pintu gudang terkunci, dan Jagoan masih berbaring di bawah pohon mangga. Anjing itu tidak menggonggong, mungkin karena orang yang masuk membawa bau yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.

Di dekat tangga, Sasa terbangun dan mulai merengek dari kamar. Bayu hendak bangkit.

“Temani Sasa,” kataku. “Jangan naik sebelum kupanggil.”

Bayu membawa adiknya ke ruang tamu, lalu menutup pagar pengaman tangga. Raka berdiri di depannya seperti pelindung kecil, meski wajahnya tegang.

“Raka?” panggilku.

“Aku di sini, Mbak Laras.”

Dia menjawab dari ruang tamu.

Aku menoleh ke tangga. Pintu kamarku seingatku sudah dikunci. Namun saat naik, daun pintunya terbuka selebar telapak tangan.

Lemari di sudut kamar juga terbuka.

Bik Inah berdiri membelakangiku. Di tangannya ada kotak perhiasan dari mahar. Beberapa gelang dan kalung sudah dibungkus kain lalu dimasukkan ke dalam tas besar di pinggangnya.

“Bik Inah.”

Dia tersentak dan menjatuhkan satu kotak kecil.

“Bagaimana kamu masuk?” tanyaku.

Wajahnya pucat sesaat, lalu berubah keras. “Saya datang mengambil milik saya.”

Di lantai dekat lemari terlihat bekas tanah merah dari sandalnya. Satu daun jendela terbuka, tetapi kisi besinya tidak rusak. Ketika mataku jatuh pada kunci kecil di atas meja, aku memahami jawabannya.

“Kamu membuat salinan kunci.”

“Kunci rumah ini dulu memang saya pegang.”

“Dan kamu wajib menyerahkan semuanya saat diberhentikan.”

“Saya berjasa di sini jauh sebelum kamu datang.”

“Jasa bukan izin masuk diam-diam dan membongkar lemari orang.”

“Tidak ada milikmu di lemari ini.”

Aku berdiri di antara dia dan pintu. Dari bawah terdengar langkah Raka mendekati tangga.

“Tetap di bawah!” seruku.

Bik Inah melihat ke belakangku, lalu tangannya bergerak cepat. Dia mengeluarkan sebuah gelang tipis dari tas dan menyelipkannya ke bawah buku latihan yang tergeletak di meja kecil lorong. Buku itu milik Raka.

Aku langsung mengambil gelang tersebut. “Jadi ini rencanamu?”

“Apa maksudmu?”

“Menaruh emas di antara barang Raka, lalu menuduh dia mencuri.”

Suara Bayu muncul dari bawah. “Kak Raka tidak pernah mencuri!”

“Masuk kamar bersama Sasa,” kata Raka kepadanya. “Kunci pintunya.”

Dia menaati ucapanku untuk tidak naik, tetapi tidak meninggalkan kaki tangga. Sikapnya membuatku sadar betapa cepat keadaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

“Taruh semua barang di lantai,” kataku kepada Bik Inah. “Aku akan menelepon Pak RT dan polisi.”

“Polisi?” Dia tertawa dengan napas kasar. “Pak Arya saja tidak melaporkan saya. Kamu kira orang akan percaya perempuan yang baru masuk dibanding orang yang bertahun-tahun mengurus rumah ini?”

“Orang sudah melihat apa yang kamu lakukan.”

“Mereka cuma melihat apa yang kamu atur.”

Dia membuka resleting tas lebih lebar dan mencoba memasukkan kotak besar. Aku meraih pergelangan tangannya. Kami berebut. Tutup kotak terbuka dan satu kalung jatuh ke lantai.

“Lepaskan!” bentaknya.

“Kembalikan barangnya.”

Kukuku menggores punggung tangannya. Bik Inah memaki, lalu menarik rambutku. Aku menahan lengannya dan berusaha mendorong tas menjauh dari pintu.

“Mbak Laras!” Raka akhirnya berlari naik.

“Jangan mendekat!”

Bik Inah melihatnya dan mendadak menjerit ke arah jendela yang terbuka. “Tolong! Anak ini mencuri emas lalu menyerang saya!”

Beberapa orang di jalan pasti mendengar. Itulah yang diinginkannya: keributan, saksi yang hanya tiba setelah tuduhan diteriakkan, dan anak yatim yang mudah dijadikan tersangka.

“Emasnya ada di tasmu,” kataku.

“Kamu yang memasukkan!”

Dia menyikut perutku. Genggamanku terlepas. Bik Inah mendorongku dengan kedua tangan, lalu berlari ke tangga.

Punggungku menghantam kusen pintu. Bagian belakang kepalaku terbentur kayu keras. Cahaya putih meledak di depan mata dan lututku kehilangan tenaga.

Raka menangkap bahuku sebelum aku jatuh sepenuhnya. “Mbak Laras!”

“Aku tidak apa-apa.”

Namun suara yang keluar terdengar jauh. Saat menyentuh belakang kepala, jariku menemukan sedikit darah.

Bik Inah menuruni tangga sambil kembali berteriak. “Tangkap Raka! Dia pencuri! Emas itu disembunyikan di bukunya!”

Bayu keluar dari kamar bawah dan menghadang. “Pembohong!”

“Minggir!”

Bik Inah mengayunkan tas ke arahnya. Raka berlari turun dan menarik Bayu tepat waktu. Tas itu menghantam pagar tangga.

Di luar, Jagoan mulai menggonggong tanpa henti.

Aku berpegangan pada dinding dan memaksa turun. “Raka, telepon Ayah. Bayu, panggil Bu Sumi. Jangan dekati Bik Inah.”

Raka meraih ponsel rumah. Tangannya gemetar, tetapi dia menekan nomor Arya dengan benar. Bayu membuka pintu depan dan berteriak memanggil tetangga.

Bik Inah berlari ke teras.

Jagoan sudah berdiri dengan bulu tengkuk terangkat. Tali panjangnya terikat pada cincin besi di dekat pohon mangga. Bik Inah berhenti sesaat, lalu mengambil sapu untuk menghalau.

“Mundur!” teriaknya sambil mengayun.

Ujung sapu mengenai moncong Jagoan.

Anjing itu menggeram dan menerjang. Cincin besi berderit keras. Sekali, dua kali, lalu tali tua itu terlepas dari kaitnya.

Bik Inah menjerit dan berlari menuju pagar. Jagoan mengejar, bukan ke leher atau tangan, melainkan mencengkeram bagian bawah celananya. Kain itu robek. Bik Inah tersungkur di tanah sambil menendang-nendang.

Tas di pinggangnya terlepas.

Puluhan benda berkilau tumpah ke halaman: gelang, kalung, cincin, dan kotak emas yang baru diterima saat akad. Duplikat kunci rumah ikut meluncur dan berhenti tepat di kaki Bu Sumi yang baru masuk bersama beberapa tetangga.

“Astaga,” seru Bu Sumi. “Ini semua dari mana?”

“Punya saya!” teriak Bik Inah.

“Nama Laras masih tertulis di kotaknya,” kata Raka dari teras.

Pak RT datang berlari dari ujung jalan. Tetangga lain memenuhi pintu pagar. Tak ada lagi celah untuk menaruh gelang di buku Raka atau mengubah cerita sebelum saksi melihat barang-barang itu.

Dari telepon yang masih dipegang Raka, suara Arya terdengar keras. “Aku pulang sekarang.”

Bik Inah menunjuk Raka dan membuka mulut untuk meneriakkan kata pencuri sekali lagi.

Jagoan kembali menarik celananya. Tas yang robek itu terbalik sepenuhnya, dan sisa emas berhamburan di depan semua orang.

1
Mitha Artha Kencana Althea
inah kurang ajar dikasih kepercayaan mlh membuat snk snk kelaparan terus,,
Umi Maryam
lieur aah cwrita nya konplik terus fitnah terus ,masa istri paman nya di sebut ibu tiri gajelas .....
darwin
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
permisi.....kok sampe sini saya muak 🤧

author judul yg anda pakai menipu seharusnya judulnya "masalah bertubi-tubi"
Nurul Ghifari
raka umur 13 tahun tapi bahasanya mengalahkan logika orang dewasa. 🙏
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera kamu goblok bon tolol

gedek aku,, wes tak tampol kalo debat gitu sana aku
otakmu bocor ta , kasus,kasus dah 👊
mie_moet
pembantu setresss 🤬
Roamer Palsu
satu-satunya novel yang membuat saya membaca 90bab dalam sehari..

saya tidak pernah melakukan hal ini pada novel manapun sebelumnya..

novelnya tidak menjual romansa melankolis penuh air mata. tidak menjual kekejaman mertua, tidak mengeksploitasi kelemahan tokoh protagonis. setiap bab punya konflik yang tidak mungkin saya tinggalkan untuk tidak membaca bab selanjutnya..

authornya kerenn!!!
Ningsih Gedeona
aku bingungnya... si Ras nya uda selesai kuliah ya???? pindah- pindah terus... 🤭😁🤭😁🤭😁
Wulan Azka: saya malah lebih bingung sama si sasa ya yg kecil, pertama si Laras kesitu kan dia umur 2 THN ngga bisa ngomong pula. trus tau2 ada adegan si vera baru pindah dekat rumah Laras, paling si Sasa umur 3 tahun, belum sekolah juga kan. si Sasa di tes sama si Vera apa si farrel ya itu bisa ngomong lancar pakai bahasa inggris pula. dan kalimat yang dipakai baik bahasa inggris dan bahasa Indonesia pun itu kayak orang dewasa bahkan bukan kalimat santai yang biasa dipakai buat ngobrol sehari hari 🤔
total 1 replies
Ibu DelVan95
kak jujur novelmu bagus n rapi bgt bhsa ny kyk baku ya klo gk slah..ttep smngat buat kakak nya👍
H A P
plissss ngakakkkkk😭😭😭
Erna Masliana
emang kamunya yang bermasalah.. jangan nyalahin nasib .
Erna Masliana
lalu kenapa mau ditipu... udah sekali terjerumus.. ditolong..malah ngulang kesalahan
Erna Masliana
Vera Damar masih suami istri apa udah cerai sih ??
Erna Masliana
Damar kan suami Vera kok dia sepertinya membiarkan Vera terus meneror.. menganggu.. mengancam
fatmiatun sahono
cerita nya menarik.... mengajar kan ttg kehidupan keluarga. cuma gaya bahasanya kaku, seperti menggunakan AI baku banget dan formal walau sedang mengobrol dengan anak istri....🙏💪
Irianti
cerita nya bagus Thor, tapi ini seperti membaca cerita si laras aja. bukan seperti baca novel lebih bagus itu pov author aja jadi nyambung, maaf yaa Thor sekedar saran 🙏🙏🙏. tetap semangat💪💪💪
Jessica
jadi inget temenku pulang dari saudi pas goreng tempe anak e nungguin mau ambil satu nungguin ibunya pas gak tau...dia ambil satu adiknya d tarik ngumpet d makan bersama....Dia nangis kejer meluk anak2 nya minta maaf kalau mau makan apapun akan ibu masak kan,karena selama ibu nya merantau mereka serumah dng ibu tirinya makan nan d jatah😭😭😭😭😭😭
Jojo Ge
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera , wartawan kok goblok 😛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!