Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Raja Iblis dan Gempuran Pertama
Perisai Tiga Elemen dan Amukan Pedang Pembunuh Dewa
Langit biru jernih Alam Dewa yang telah bertahan tenteram selama puluhan ribu tahun seketika hancur berkeping-keping. Awan merah darah membumbung tinggi dari cakrawala utara, memuntahkan kabut hitam berbau amis yang merayap cepat menyelimuti seluruh Istana Langit. Petir-petir gaib berwarna ungu pekat menyambar-nyambar tanpa henti, meretakkan pilar-pilar giok dan benteng pelindung surgawi.
Guncangan dahsyat itu menggetarkan seluruh penjuru Tiga Alam dengan dampak yang sangat mengerikan.
Di Istana Utama, Dewa Agung Zhi Jie yang sedang memeriksa gulungan dokumen Tiga Alam mendadak menghentikan kuasnya. Tinta hitam tumpah mengotori meja gioknya. Sorot matanya yang biasa tenang dan datar seketika membelalak lebar.
"Hawa membunuh ini... Hawa hitam dari Penjara Haotian!" gumam Zhi Jie dengan suara bergetar keras.
Tanpa menunda sedetik pun, Zhi Jie merentangkan kedua tangannya. Pendar cahaya emas murni membumbung dari tubuhnya, mengaktifkan Formasi Pelindung Utama Istana Langit untuk menahan guncangan gempa gaib yang meruntuhkan bangunan-bangunan surgawi.
Sementara itu di Puncak Yun Long, Dewa Agung Tian Zi yang sedang bersantai mendadak melompat berdiri. Raut jenaka dan santai yang selalu menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat pekat. Matanya menatap tajam ke arah langit utara yang memerah.
"Xuan Ling... Bagaimana mungkin segel purba itu pecah sepuluh ribu tahun lebih cepat dari ramalan?!" pekik Tian Zi panik. Dengan satu kibasan tangannya, ia memanggil Busur Surgawi Penembak Bintang dan mengerahkan seluruh prajurit dewa untuk mengamankan wilayah perbatasan.
Di Istana Chang Yuan, Dewa Perang Bai Yuan yang sedang menyapu pandangan ke arah perbatasan mendadak mencabut Pedang Emas Dewa Perang milik-Nya. Dentingan bilah pedang emas itu memancarkan aura membunuh yang sangat dahsyat.
"Raja Iblis telah bangkit sepenuhnya..." desis Bai Yuan dengan gigi terkatuk rapat. Hatinya bergetar hebat bukan karena takut akan nyawanya sendiri, melainkan karena ia menyadari satu hal yang teramat krusial: Tujuan utama dari kebangkitan Xuan Ling adalah menghancurkan Mahadewa Semesta Qian Gu yang telah menyegelnya di masa lalu!
"Qian Gu! Song Qian!" jerit Bai Yuan seraya melesat membelah awan darah menuju Istana Chao Sheng.
BUMMMMMMM!
Di pelataran luar Perpustakaan Agung Istana Chao Sheng, pusaran energi kegelapan meliuk-liuk liar memecahkan lantai emas. Dari balik retakan angkasa utara, sesosok bayangan raksasa berwujud kaisar kegelapan dengan mata menyala merah keemasan memancarkan aura penderitaan yang memekakkan telinga.
Dialah wujud manifestasi jiwa Raja Iblis Xuan Ling.
"Hahaha... Qian Gu! Puluhan ribu tahun aku terkungkung dalam dinginnya Penjara Haotian! Hari ini, darah Tiga Alam akan menjadi penawar bagi dendamku!" tawa menggelegar Xuan Ling bergema memecahkan gendang telinga seluruh makhluk di Tiga Alam.
Dari dalam genggaman bayangan raksasa Xuan Ling, terbentuk sebilah pedang hitam raksasa berduri yang memancarkan kilatan energi pemusnah, Pedang Pembunuh Dewa.
Tanpa memberi kesempatan bagi para dewa untuk bersiap, Xuan Ling mengayunkan Pedang Pembunuh Dewa tersebut lurus membelah angkasa, mengincar jantung Mahadewa Semesta Qian Gu yang berada di Istana Chao Sheng. Tebasan gelombang energi hitam raksasa itu meluncur bagai meteor jatuh, siap meratakan seluruh kompleks istana menjadi debu!
Di dalam perpustakaan, Qian Gu berdiri kokoh di depan Song Qian. Wajah cantiknya membeku dingin. Namun, saat Qian Gu hendak merentangkan kedua tangannya untuk memunculkan benteng sihir puncak Mahadewa, dadanya mendadak bergejolak hebat!
UHHUK!
Setetes darah segar merembes dari sudut bibir Qian Gu. Reaksi susulan dari resonansi bait ramalan Menara Qian Kun serta ketiadaan Bibit Perasaan membuat sirkulasi energi dewanya tersendat untuk sepersekian detik yang sangat krusial.
"Kak Qian Gu!" jerit Song Qian terperanjat kaget melihat gurunya terhuyung.
Mata Song Qian mendongak. Gelombang serang tebasan Pedang Pembunuh Dewa milik Xuan Ling sudah meluncur tinggal beberapa jengkal dari atap perpustakaan. Jika serangan itu dihantamkan secara langsung, tubuh Qian Gu yang sedang mengalami penyumbatan energi pasti akan menderita luka dalam yang amat fatal.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai Kak Qian Gu! Aku telah berjanji pada Kak Bai Yuan dan diriku sendiri untuk melindunginya! jerit jiwa Song Qian di dalam hati.
Pada detik-detik kritis antara hidup dan mati tersebut, darah murni keturunan Dewa Leluhur Qing Tian di dalam dada Song Qian meledak sepenuhnya.
BZZZZZZZZZT!
Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Tiga Alam, seorang dewa muda berusia lima ratus tahun memancarkan gabungan Tiga Elemen Semesta secara simultan di garis depan pertarungan.
Tangan kanan Song Qian membara oleh kobaran Api Surgawi yang membakar udara, tangan kirinya memancarkan pusaran Air Murni yang membeku menjadi tameng es keras, sementara dari dadanya meluncur kilatan Petir Emas yang menyambar-nyambar ke seluruh penjuru arah.
"Tiga Elemen Semesta... Menyatu!" seru Song Qian dengan suara membahana.
Song Qian melompat menerjang ke depan, pasang badan berdiri tepat di hadapan Qian Gu. Ia membentangkan kedua tangannya, menciptakan sebuah kubah raksasa bercahaya tiga warna—Perisai Tiga Elemen Semesta—yang menutupi seluruh tubuh mereka berdua!
BUMMMMMMMMMMMMMM!
Hantaman tebasan Pedang Pembunuh Dewa Xuan Ling menghantam tepat di permukaan Perisai Tiga Elemen milik Song Qian.
Ledakan energi dahsyat memancar ke segala arah, meruntuhkan pilar-pilar batu giok dan memutus aliran udara di sekitar Istana Chao Sheng. Gelombang tekanan sihir hitam berusaha mengikis dan meretakkan kubah elemen Song Qian.
"Aaaarrggghhh!" Song Qian menjerit menahan beban tekanan energi iblis yang teramat berat.
Pembuluh darah di lengannya menegang menonjol. Sudut matanya memerah, dan darah segar mulai menetes keluar dari sela-sela bibirnya akibat hantaman kekuatan Raja Iblis yang begitu masif. Namun, dengan ketetapan hati yang luar biasa, Song Qian tidak bergeming satu tapak pun! Ia terus memompa seluruh sisa energi dewanya, mempertahankan perisai pelindung itu demi membentengi tubuh Qian Gu di belakangnya.
"Song Qian! Hentikan! Kau bisa menghancurkan inti jiwamu sendiri!" teriak Qian Gu panik. Rasa cemas dan takut yang teramat sangat memuncak di dalam dada Sang Mahadewa—sebuah gejolak emosi murni yang seharusnya tak lagi bisa ia rasakan setelah kehilangan bibit perasaannya!
"Aku... aku tidak akan mundur, Kak Qian Gu!" bisik Song Qian dengan gigi bergemelut, matanya menatap tajam ke arah gelombang kegelapan. "Aku adalah muridmu... Pelindung Tiga Alam!"
Dengan satu hentakan napas terakhir, Song Qian membakar seluruh pendar Petir Emasnya, memicu ledakan balasan yang berhasil mematahkan dan memusnahkan tebasan gelombang Pedang Pembunuh Dewa tersebut hingga hancur menjadi abu bercahaya.
BZZZZZT!
Sisa-sisa energi hitam berangsur-angsur memudar di udara.
Tubuh Song Qian yang telah kehabisan seluruh pasokan energi dewanya melemas seketika. Perisai Tiga Elemen lenyap, dan tubuh pemuda itu ambruk jatuh ke belakang.
Dengan sigap, Qian Gu melompat dan menangkap tubuh lemah Song Qian ke dalam pelukannya. Qian Gu merengkuh kepala muridnya, menatap wajah Song Qian yang pucat pasi bersimbah darah di sudut bibir dan pergelangan tangannya.
"Song Qian... Kenapa kau melakukan tindakan sebodoh ini?" bisik Qian Gu halus, jemari dinginnya bergetar hebat saat mengusap darah di pipi Song Qian.
Song Qian membuka matanya yang sayu, menatap wajah jelita gurunya seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tulus. "Karena... aku ingin membuktikan padamu... bahwa aku layak menjadi murid tunggalmu, Kak Qian Gu..."
Belum sempat Qian Gu membalas ucapan itu, tiga pendar cahaya kilat meluncur turun dan mendarat di pelataran perpustakaan.
Bai Yuan, Zhi Jie, dan Tian Zi muncul dengan senjata terhunus di tangan. Namun, langkah ketiga Dewa Agung itu terhenti seketika. Mata mereka membelalak kaget setengah mati menyaksikan pemandangan di hadapan mereka: Istana Chao Sheng yang hancur sebagian, bayangan Xuan Ling yang meraung di langit utara, dan Song Qian yang terbaring lemah di dalam pelukan Qian Gu setelah baru saja menahan gempuran pertama dari Pedang Pembunuh Dewa!
"Song Qian!" seru Bai Yuan bergegas berlari menghampiri mereka dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Apakah anak ini yang baru saja menahan tebasan sihir pemusnah Xuan Ling?!"
Zhi Jie menatap sisa-sisa pendar Tiga Elemen yang masih bergetar di udara dengan takjub tak percaya. "Luar biasa... Di usianya yang baru lima ratus tahun, ia sanggup memicu ledakan tiga elemen untuk mematahkan tebasan Pedang Pembunuh Dewa..."
Tian Zi mengarahkan matanya ke angkasa utara yang kian pekat. "Xuan Ling baru saja melayangkan gempuran jarak jauh. Pasukan utama suku Iblis pasti sedang bergerak menuju perbatasan Alam Manusia dan Alam Dewa!"
Qian Gu perlahan berdiri seraya membopong tubuh Song Qian dalam dekapan energinya. Wajah Sang Mahadewa Semesta kembali membeku, namun sorot matanya kini memancarkan tekad membara yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Bai Yuan, Zhi Jie, Tian Zi... Kumpulkan seluruh pasukan Dewa Perang dan bentengkan pelindung di batas Tiga Alam," titah Qian Gu dengan nada suara berwibawa yang menggetarkan arena. "Xuan Ling ingin menghancurkan tatanan ini... maka kita akan menyambut perangnya!"
Takdir Perang Agung Tiga Alam resmi meletus, dan pertarungan mempertaruhkan cinta, jiwa, serta keselamatan semesta baru saja dimulai.
Bagaimanakah strategi perang yang disusun oleh Tiga Dewa Agung untuk menahan gempuran pertama jutaan pasukan Iblis di perbatasan Alam Manusia? Dan keajaiban apakah yang akan terjadi pada tubuh Song Qian tatkala darah murni Qing Tian di dalam dirinya mulai menyatu sempurna dengan inti sihir Mahadewa Qian Gu?
Bersambung.......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!