NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak yang Berbicara

Jantungku rasanya mau melompat keluar dari dada. Kotak kayu kecil itu berdenyut lembut di pangkuanku, seolah punya nyawa sendiri. Cahaya keemasan yang samar keluar dari celah-celahnya, terasa hangat — bukan panas, tapi seperti duduk di dekat perapian saat hujan turun deras di luar.

"Taruh pelan-pelan di meja," bisik Orion, suaranya tenang meski aku bisa melihat tangannya sedikit menegang di sisi tubuhnya. "Jangan terkejut. Tarik napas dalam-dalam."

Aku melakukannya dengan gemetar. Saat kotak itu menyentuh permukaan meja kayu, cahayanya justru semakin terang, tapi tidak menyilaukan. Berdenyut pelan, berirama, seolah menunggu sesuatu.

"Ini benda apa sebenarnya?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik. "Kakek hanya bilang itu peninggalan keluarga. Tidak pernah menjelaskan lebih lanjut."

Orion menunduk menatap ukiran di permukaannya — matahari yang dikelilingi bulan, garis-garisnya saling menyatu tanpa ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Matanya menyipit pelan, seolah sedang mengingat sesuatu yang sangat jauh, terselip di sudut ingatannya yang paling dalam.

"Aku pernah melihat pola ini sekali. Saat aku masih kecil, sebelum aku dikutuk ke perbatasan. Di dinding ruang bawah tanah istana yang dilarang dimasuki siapa pun kecuali penguasa tertinggi. Tapi saat aku bertanya pada ayahku apa artinya, dia marah besar. Bilang itu bukan urusanku. Dan sejak hari itu dia tidak pernah membiarkanku masuk ke bagian istana itu lagi." Dia berhenti sejenak, lalu menatapku lekat-lekat. "Kakekmu... dia pernah bercerita tentang dirinya? Dari mana asalnya? Siapa orang tuanya?"

Aku menggeleng pelan. "Dia selalu bilang dia datang dari tempat jauh. Bahwa dia menetap di sini karena menemukan kedamaian. Tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Bahkan foto masa mudanya pun tidak ada."

"Semakin masuk akal," gumamnya pelan. Dia mengulurkan tangan, tapi berhenti tepat sebelum menyentuh kotak itu. "Boleh aku menyentuhnya? Aku tidak akan memaksanya terbuka. Aku hanya ingin merasakan apa yang ia sembunyikan."

"Tentu saja. Aku percaya padamu."

Jemarinya yang panjang dan pucat menyentuh permukaan kayu itu pelan, seolah mengelus punggung kucing yang sedang tidur. Detik itu juga, kotak itu berubah. Cahayanya berdenyut lebih cepat, lalu perlahan di permukaannya mulai muncul tulisan — bukan terukir, tapi bercahaya samar, melayang sebentar lalu terbaca dengan jelas di udara di atas kotak itu.

"Dua cahaya yang tak saling menelan, dua dunia yang tak saling menaklukkan. Ketika tangan dari terang menyentuh tangan dari gelap, kunci akan menemukan tempatnya."

Aku menelan ludah. "Itu... itu tentang kita?"

"Mungkin," jawab Orion pelan, tapi suaranya terdengar berat. "Atau mungkin ini tentang apa yang harus kita lakukan, bukan sekadar siapa kita." Dia menarik tangannya perlahan, tulisan itu perlahan memudar kembali. "Ini bukan kotak biasa, Aruna. Ini jembatan. Tapi aku tidak tahu jembatan ke mana. Dan itulah yang membuatku takut. Kalau kita salah langkah, bukannya menyatukan, kita bisa saja membuka celah yang tidak bisa ditutup lagi oleh siapa pun."

"Jadi kita diam saja? Menunggu sampai mereka yang menginginkannya datang dan mengambilnya dengan paksa?" tanyaku, sedikit ada nada putus asa di suaraku.

Dia tersenyum tipis, lalu mengusap pipiku dengan punggung jarinya. "Tentu saja tidak. Kita cari tahu dulu. Di sini ada sebagian jawabannya, di naskah yang kau temukan kemarin. Mungkin di sana ada penjelasan lebih lengkap."

Aku mengambil naskah tua itu dari tas, meletakkannya di sebelah kotak. Anehnya, saat kedua benda itu berdampingan, cahaya dari kotak itu justru meredup, dan di halaman naskah yang tadinya kusam dan pudar, tiba-tiba ada baris-baris yang tadi tidak terbaca kini terlihat jelas, seolah kotak itu sendiri yang membukanya untuk kita.

"Penjaga cahaya dan penjaga bayangan — bukan musuh, tapi pelengkap. Benda yang satu tidak berfungsi tanpa yang lain. Ingatlah: bayangan tidak ada tanpa cahaya, dan cahaya kehilangan arah tanpa bayangan. Jangan biarkan ketakutan menentukan pilihanmu. Karena di saat cahaya dan bayangan berdiri berdampingan, itulah kekuatan terbesar yang dimiliki semesta ini."

Aku menatap Orion, dan dia menatapku. Rasanya seperti kita baru saja menyadari bahwa seluruh hidup kita bukanlah kebetulan semata. Bahwa pertemuan kita, ikatan kita, semuanya sudah diatur jauh sebelum kita lahir ke dunia ini.

"Ternyata..." suaraku bergetar, "kita bukan musuh yang dipaksa berdampingan. Kita dua bagian dari satu hal yang sama."

"Persis begitu," katanya lembut. Dia meraih kedua tanganku di atas meja, menatap mataku dalam-dalam. "Dan itu berarti bahaya yang datang bukan hanya untukku, atau hanya untukmu. Tapi untuk kita berdua. Karena kalau satu hancur, yang lain tidak akan pernah utuh lagi."

Tiba-tiba naskah di antara kita bergetar pelan. Halaman terakhir yang tadinya kosong perlahan muncul tulisan baru, ditulis dengan tinta yang seolah baru saja menetes dan masih basah.

"Hati-hati pada yang mengaku teman namun tak pernah berdiri di tempat gelap. Dia takut cahayamu bukan karena mencintaimu, tapi karena dia ingin memilikinya."

Pintu depan terbuka. Bukan diketuk. Langsung terbuka sendiri.

Langkah kaki terdengar masuk. Pelan, tenang, tidak terburu-buru. Seolah rumah ini sudah lama menjadi miliknya.

Orion langsung berdiri, menempatkan dirinya di antara aku dan pintu. Tangannya sedikit terangkat ke samping, siap menghadang apa pun yang masuk.

Dari balik dinding ruang tamu, muncul sosok yang sama sekali tidak kusangka.

Itu Dinda. Tapi senyumnya tidak seperti biasanya. Tatapannya tajam, dingin, dan di tangannya... dia memegang sebuah pisa kecil berkilauan perak, di ujungnya menetes cairan hitam pekat yang menguap perlahan ke udara.

"Maafkan aku, Aruna," katanya, suaranya halus tapi matanya tidak memancarkan penyesalan sedikit pun. "Tapi ada hal-hal yang lebih penting daripada persahabatan. Dan kotak itu tidak boleh jatuh ke tangan seseorang yang berasal dari sisi lain. Dunia kita harus tetap murni. Tanpa campur tangan bayangan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!