NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Terkilir

Pagi itu rumah terasa seperti panggung dengan dua pemain yang berjalan di tempo berbeda.

Rizal sudah rapi sejak pukul tujuh. Kemeja kotak-kotak lengan pendek, celana kain, parfum yang lebih banyak dari biasanya karena hari ini bukan sekadar kunjungan, melainkan arisan keluarga. Ia mondar-mandir di ruang tamu sambil menatap jam dinding, kunci mobil berdenting di tangannya.

"Dan! Cepetan! Ibu udah telepon dua kali nanyain kamu!"

Dari dapur terdengar suara sendok menyentuh mangkuk, pelan dan teratur.

Rizal melangkah ke sana dengan dahi berkerut. Dan pemandangan di depan matanya membuat rahangnya mengencang.

Danti duduk di meja makan, menyandar santai pada kursi, dengan sepiring nasi goreng telur yang masih mengepul dan segelas teh hangat di sampingnya. Rambutnya tergerai rapi, bukan digelung tergesa seperti biasa. Ia sedang mengunyah dengan tenang, bahkan sambil membaca sesuatu di layar ponselnya.

"Kamu ngapain?" Rizal nyaris berteriak. "Kok masih sarapan? Ini jam berapa?"

"Sarapan, Mas." Danti menyuap sesendok lagi. "Mas mau? Ada sisa nasi."

"Bukan itu maksud aku! Ibu udah nunggu kamu dari subuh! Kita harus berangkat sekarang!"

"Mas berangkat duluan aja." Danti menyesap tehnya perlahan. "Aku nyusul. Sebentar lagi."

"Sebentar lagi, sebentar lagi! Dari kemarin ngomongnya gitu!" Rizal menunjuk-nunjuk jam. "Kamu tuh makin hari makin..."

Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Entah kenapa, tatapan Danti yang tenang itu membuat lidahnya kelu. Danti tak melawan, tak membentak, tak menangis. Ia hanya menatap balik dengan sorot yang sulit dibaca.

Rizal mendengus, mengambil kunci mobil dengan kasar, dan keluar. Pintu depan dibanting. Mesin mobil menderu, lalu menjauh.

Danti menunggu sampai suaranya benar-benar hilang. Lalu ia menyelesaikan nasi gorengnya sampai suapan terakhir. Mencuci piring. Menyapu lantai. Menyiram tanaman di teras. Bahkan ia sempat duduk di sofa selama sepuluh menit hanya untuk memandangi langit-langit, menikmati ketiadaan perintah.

Pukul sembilan lewat, ia baru berganti pakaian. Pukul sembilan tiga puluh, ia akhirnya menginjakkan kaki di halaman rumah ibu mertuanya.

---

Rumah itu sudah ramai.

Beberapa ibu-ibu tetangga mondar-mandir dengan baskom dan pisau. Ada yang mengupas bawang di teras, ada yang mencuci sayuran di sumur belakang, ada yang menggoreng kerupuk di dapur dengan percikan minyak mendesis keras. Aroma rempah tercium sampai ke jalan. Rani duduk di sofa dengan wajah bosan, dan Rizal sudah bergabung dengan paman-pamannya di ruang tamu, tertawa dengan wajah yang seolah tak pernah punya masalah.

Bu Sumarni berdiri di tengah dapur dengan tangan berkacak pinggang, wajahnya merah. Panci-panci besar berjajar di atas kompor, tapi belum satu pun yang menyala dengan benar. Ayam dua puluh lima kilo menggunung di baskom, belum dibumbui. Tumpukan bawang, cabai, jahe, dan kunyit teronggok di meja tanpa disentuh.

"Danti!" Suaranya menggelegar begitu melihat menantunya melangkah masuk. "Jam berapa ini? Kamu pikir ini hotel? Dari tadi masakan nggak ada yang jalan!"

Ibu-ibu tetangga menoleh sekilas, sebagian melirik canggung.

Bu Sumarni melangkah mendekat dengan langkah menghentak. "Ibu udah bilang berkali-kali, pagi! Kamu nggak ngerti bahasa Indonesia? Seharusnya kamu yang masak semua ini, kamu yang paling tahu rasanya! Semua orang di sini cuma bantu-bantu, bukan juru masak! Dari tadi mereka nunggu kamu!"

Danti berhenti di ambang pintu dapur.

Lalu, dengan gerakan yang tampak sangat alami, ia meringis. Tangan kanannya terangkat perlahan, memegangi pergelangan tangan kirinya seolah barang rapuh. Wajahnya mengerut, matanya berkaca-kaca, bahunya sedikit merosot.

"Maaf, Bu... maaf banget," ucapnya terbata, dengan suara yang bergetar dan pelan, persis seperti perempuan yang berusaha menahan rasa sakit. "aku bukannya mau terlambat. Tadi pagi aku buru-buru, pengen cepat-cepat ke sini bantuin Ibu, tapi... aku kepleset di kamar mandi."

Dapur seketika hening.

"Tanganku jatuh duluan, Bu," lanjut Danti, menunjukkan pergelangan kirinya yang ia tekuk sedikit tak wajar. "Kayaknya terkilir. Sakit banget. Aku sampai nggak bisa pegang apa-apa. Tapi aku tetap ke sini, soalnya takut Ibu kecewa."

"Ya ampun!" Seorang ibu berdaster bunga langsung meletakkan pisau. "Kasihan, Nak Danti!"

"Terkilir? Parah nggak itu?" Ibu lain mendekat, memeriksa pergelangan Danti dengan wajah cemas.

"Haduh, tangan kiri lagi. Pasti susah ngapa-ngapain."

Satu per satu, para tetangga itu mengerumuni Danti. Mereka mengenal menantu Bu Sumarni itu sejak lama. Danti yang sopan, yang selalu menyapa dengan senyum, yang tak pernah sekali pun terdengar membantah mertuanya. Yang kalau ada hajatan di gang selalu datang paling pagi untuk bantu cuci piring. Mereka tahu, atau setidaknya mengira tahu, bahwa Danti adalah menantu yang patuh dan baik hati.

"Duduk dulu Nak, duduk," ujar seorang ibu sambil menarik kursi.

"Jangan dipaksa masak, nanti tangannya makin parah!"

Bu Sumarni membuka mulut. Kata-kata kasar sudah menumpuk di lidahnya, siap meluncur. "Alasan! Pura-pura! Kemarin kamu masih baik-baik saja!" Tapi ketika ia menoleh, dua belas pasang mata menatapnya dengan sorot yang sama... menilai.

Tak ada yang berkata apa-apa, tapi suasananya jelas. "Masa tega memaki menantu yang lagi cedera?"

Dan Bu Sumarni yang sepanjang hidupnya menjaga citra bagai menjaga perhiasan, menelan kembali semua makiannya.

Ia memaksakan senyum, senyum yang kentara sekali terbuat dari kaca.

"Ya ampun, Danti," ujarnya dengan nada yang tiba-tiba manis menjijikkan. "Kenapa nggak bilang dari tadi? Ibu kan nggak tahu. Kasihan kamu, Nak. Sini, dudukjangan berdiri."

Ia bahkan menarik tangan Danti dengan gerakan lembut yang dibuat-buat, menuntunnya ke kursi seolah sedang membimbing perempuan hamil tujuh bulan.

"Ibu-ibu, tolong tangani dulu ya," katanya sambil menoleh. "Biar aku urus Danti."

"Iya Bu, tenang saja. Biar kami yang masak."

"Kasihan banget memang menantunya Bu Sumarni. Baik begini, tapi sering kena sial."

Bu Sumarni tersenyum kaku, giginya hampir menggerinda.

Danti duduk di kursi plastik, menunduk sedikit, menyembunyikan sudut bibirnya yang bergetar. "Tahan, Dan. Jangan sekarang."

Ia menarik napas, lalu menatap mertuanya dengan mata berkaca-kaca yang dilatih dengan sempurna.

"Bu..." katanya lirih. "Maaf merepotkan. Tapi... kayaknya tanganku harus diurut. Atau dibawa ke tukang pijat. Kalau dibiarin, takutnya makin parah."

Senyum Bu Sumarni membeku.

"Dan... aku lagi nggak pegang uang, Bu," tambah Danti. Suaranya makin kecil, makin memelas. "Mas Rizal belum kasih. Kalau Ibu bisa bantu sedikit, mungkin lima ratus ribu... aku janji nanti..."

"Lima ratus ribu!"

Suara Bu Sumarni naik satu oktaf, tapi ia buru-buru berdeham dan menurunkannya. Dua orang tetangga menoleh. Rani dari sofa, hampir tersedak minumannya.

"Maksud Ibu, itu agak banyak, Nak," ralatnya dengan tawa palsu. "Tukang pijat kan nggak semahal itu."

"Tapi kalau ternyata harus pakai ramuan atau diperiksa, Bu..."

"Betul, betul Bu Sumarni," timpal seorang tetangga. "Lebih baik lebih daripada kurang. Kasihan lho tangannya."

"Iya, kalau salah urut malah bahaya."

Bu Sumarni menatap ibu-ibu itu lalu Danti, lalu ibu-ibu itu lagi. Napasnya naik-turun. Di dalam kepalanya, ia sudah memaki-maki Danti sepuluh kali dengan kosakata yang tak pantas diulang. Tapi di luar, ia hanya bisa tersenyum.

"Ya, ya, tentu," katanya, suara tertelan. "Tunggu sebentar."

Ia berjalan ke kamarnya dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut santai. Dari balik pintu terdengar suara laci dibuka kasar, uang berkertas dihitung, lalu helaan napas panjang dan bergetar. Beberapa menit kemudian ia keluar, wajahnya sudah kembali dilapisi senyum.

"Nih, lima ratus ribu," katanya sambil menaruh uang itu di telapak tangan kanan Danti. "Semoga cepat sembuh ya, Nak."

"Terima kasih banyak, Bu. Ibu baik sekali." Danti menggenggam uang itu dengan mata berbinar. "Aku langsung ke tukang pijat ya, Bu. Biar cepat sembuh. Sebentar saja."

"I-iya. Tapi Danti, setelah itu langsung balik ya." Bu Sumarni menahan tangannya sejenak, nadanya ramah tapi sorot matanya mengancam. "Masih banyak yang harus kamu... awasi di dapur."

"Iya, Bu. Pasti."

Danti bangkit perlahan, masih memegangi tangan kirinya, dan berjalan keluar dengan langkah pincang yang entah dari mana ia pelajari. Para tetangga melepasnya dengan tatapan iba.

"Hati-hati di jalan, Nak!"

"Cepat sembuh ya!"

"Terima kasih, Ibu-ibu."

Begitu pagar rumah itu tertutup di belakangnya, Danti berjalan lima langkah, sepuluh langkah, lima belas langkah. Lalu ia menunduk, kedua bahunya mulai berguncang.

Dan tawa itu pun meledak.

"Hahaha... hahaha!" Ia terpingkal-pingkal di tengah gang, tangannya, yang tentu saja baik-baik saja, memegangi perut. Air matanya meleleh. Seorang bapak yang lewat dengan sepeda menoleh heran, tapi Danti tak peduli. "Ya Tuhan... wajahnya... wajah Ibu waktu ngasih uang... kayak pengen nelen aku bulat-bulat!"

Ia berhenti di bawah pohon mangga, bersandar pada batangnya sambil mengatur napas. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia tertawa lepas begini? Ke mana pun ia memandang, dunia terasa lebih terang dari biasanya.

"Lima ratus ribu," pikirnya sambil mengipasi wajah dengan tangan. "Lima ratus ribu dari orang yang kemarin nyuruh aku beli ayam dua puluh lima kilo pakai uangku sendiri."

Ia memandangi lembaran-lembaran di genggamannya, lalu menyelipkannya ke dalam dompet dengan hati-hati. Bukan karena ia mata duitan, tapi karena uang itu entah bagaimana, terasa seperti hak yang akhirnya kembali.

Di ujung gang, sebuah becak melintas. Danti melambaikan tangan.

"Pasar Baru, Pak. Yang dekat toko kosmetik."

Toko itu terletak di antara toko emas dan penjual kain, dengan etalase kaca bening berhias deretan botol warna-warni. Pintu kacanya berdenting ketika Danti masuk, dan seketika ia disambut aroma lembut campuran bunga, vanila, dan sabun segar. Pendingin ruangan meniup udara sejuk ke wajahnya.

Seorang pramuniaga muda tersenyum ramah. "Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?"

Danti mengerjap. "Kak." Sudah lama tak ada yang memanggilnya begitu dengan senyum setulus itu.

"Aku mau... cari perawatan wajah," katanya agak canggung. "Dan badan juga."

"Boleh banget, Kak! Kulit kakak tipe apa? Kering, berminyak, atau campuran?"

Danti menyentuh pipinya sendiri. "Aku nggak tahu. Udah lama nggak... mengurus."

Pramuniaga itu tidak mengernyit, tidak menghakimi, hanya mengangguk ramah. "Nggak apa-apa, Kak. Kita cek dulu ya. Yuk, ikut saya."

Ia membimbing Danti menyusuri rak-rak. Cleanser lembut, toner, serum pencerah, pelembap, tabir surya, masker kain, lulur, body lotion beraroma melati. Danti mengambil satu per satu, membaca label, mencium aromanya, menimbang harga. Uang lima ratus ribu itu tak banyak, tapi cukup untuk membeli beberapa yang terbaik, dan ia memilih dengan hati-hati, seperti pemburu harta karun yang tahu persis apa yang paling ia butuhkan.

Di depan cermin kecil di sudut toko, ia berhenti.

Perempuan itu menatap balik. Wajahnya sedikit kusam, pipinya penuh, kantung matanya samar. Tapi ia menggerakkan jari di sepanjang rahang, menyentuh tulang pipi, dan menyadari sesuatu, ia belum hilang. Di balik kelelahan dan berat badan yang berubah, wajah itu masih wajah yang dulu pernah dipuji. Hanya tertutup lapisan abai dan luka.

"Kamu nggak jelek, Dan. Kamu cuma lupa merawat diri."

Ia tersenyum pada bayangannya, kali ini senyum sungguhan.

"Aku ambil semuanya," katanya pada pramuniaga.

"Siap, Kak! Total empat ratus tiga puluh ribu ya. Mau saya bungkus yang cantik?"

"Boleh."

Kantung kertas itu terasa ringan di tangan, tapi mengandung beban yang lain... harapan. Danti melangkah keluar toko, menikmati terpaan angin siang di wajahnya.

Di tikungan jalan, ia sempat berhenti, menoleh ke arah rumah Bu Sumarni yang jauh di belakang. Ia membayangkan dapur penuh asap, ibu-ibu yang sibuk menanak, dan seorang perempuan paruh baya dengan senyum kaku yang terus melirik pintu, menunggu menantunya kembali.

Danti terkikik pelan, lalu mengeratkan genggaman pada tas belanja.

"Tukang pijatnya antre panjang," batinnya dengan mata berbinar. "Sepertinya aku bakal lama."

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!