Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Permainan Kecil melibatkan Nyawa?
Mata gelap Isabella terlihat berubah tak lagi sama seperti saat ada Melody dan Arion di sana.
"Ayo keluar! Aku menunggu," bisik Isabella. Matanya melihat pada jendela yang tirainya berkibar karena angin malam itu.
Di sisi lain.
"Apa yang kamu temukan?" Arion tiba di markas medis milik De Luca. Di sana sosok teman sekaligus Dokter khusus outopsi tengah sibuk merapikan tempat eksekusi.
"Dia bukan Lyra. DNA nya tak sama dengan rambut yang Isabella berikan kemarin," jelasnya. Tangannya sibuk membuang sarung tangan.
"Kau yakin itu bukan dia?" Arion memastikan karena dia mau mengonfirmasi.
"Aku yakin, mungkin ini semacam jebakan agar kalian lengah. Seseorang sudah merencakan semua ini!" ungkapnya.
Arion memikirkan itu, dia tahu itu mungkin benar dan tentang Lyra yang di selamatkan oleh orang lain akan dia selidiki hingga menemukan bukti terkuat.
Pagi harinya.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah delapan pagi saat Isabella turun ke lantai bawah.
"Kamu di sini? Ada apa?" tanya Isabella, saat melihat Arion ada di rumahnya pagi buta seperti ini.
"Menjenguk kamu dan membawakan makanan hangat untukmu," jawabnya, sambil meletakan paperbag itu di atas meja.
"Repot sekali, seharusnya kami istirahat saja di rumah, lagian aku baik-baik saja," kata Isabella.
"Sudah tugasku menjaga kamu. Dimana Mama da Papa?"
"Papa sudah berangkat ke kantor karena ada meeting dadakan. Kalau Mama jam segini mungkin masih sibuk dengan beberapa tanaman yang baru di beli beberapa hari lalu," jawabnya, sambil menikmati sup hangat buatan Arion.
Arion mengangguk, dia terus menatap Isabella dalam diam sambil memikirkan cara untuk mengatakan kebenaran tentang Lyra.
"Ada yang mau kamu katakan?" tanya Isabella, tanpa menoleh dia bertanya.
"Darimana kamu tahu?"
Isabella meletakan mangkuk kecil itu di atas meja, dia melihat Arion lewat ekor matanya dengan tenang.
"Tentang Lyra?" tebaknya.
"Kau tahu? Dia buk—"
"Aku tahu," potong Isabella cepat.
"Kau tahu? Lalu kenapa malam itu ketakutan?" mata gelap Arion memandang Isabella dengan penasaran.
"Aku bukan ketakutan, tapi salah satu dari pengawal Davis adalah mata-mata."
"Hah? Kamu sadar?" tanya Arion tak percaya akan kepekaan Isabella pada penyusup.
"Kamu pikir aku tidak mengerti Apapun?" senyum itu terasa misterius di mata Arion.
"Jika kamu mengerti lalu apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.
Isabella menyentuh dagu Arion. Wajah keduanya begitu dekat hingga napas itu terasa hangat di wajah satu sama lain.
"Seseorang mungkin ingin sesuatu yang menyenangkan. jadi Merencakan semua ini dengan baik hingga membawa mayat untuk di tukar dengan kehidupan. Kamu pikir saja apakah ini permainan besar yang mengorbankan nyawa? Atau hanya sekedar permainan biasa?"
Arion tersenyum sinis. Mata gelapnya memandang Isabella takjub, dia kira wanita itu tak tahu apapun. Namun, kali ini dia tahu kalau Isabella mungkin tak terlihat di permukaan.
"Jadi ayo bermain denganku. Arion!" bisik Isabella sensual.
"Dengan senang hati. Permainan seru jika itu benar-benar menggunakan nyawa seseorang!" jawabnya tak main-main.
Isabella kembali menikmati sarapan paginya dengan sup buatan Arion itu dengan tenang. Dia kembali pada mode awal yang nampak tenang dan tak tahu apapun.
**
Sedangkan di sisi lain.
Lyra tiba di salah satu tempat yang tak begitu ia kenali. Tempat asing dengan suasana yang membuat Lyra merasakan tak nyaman.
"Selamat datang, Lyra!" suara berat itu menyapa. Dan tanpa kata Lyra langsung menoleh.
Mata Lyra memicing, dia benar-benar tak mengenal orang itu. Dan apa yang orang itu mau darinya? Seorang wanita yang bahkan tak mengerti Apapun jika tak angkat putri oleh Davis.
"Anda siapa?" tanya Lyra. Mata gelap wanita cantik itu memicing tajam, menelisik seolah tengah mencari tahu.
Mata di balik topeng itu menyorot Lyra dan rasa was-was langsung menyerang perasaan nya.
"Ambilkan minum dan siapkan sarapan untuk Lyra, karena dia pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh," suaranya terdengar biasa. Namun, Lyra yakin ada maksud terselubung dari pria yang berani membebaskan dia dari cengkraman Davis dan De Luca.
Sarapan pagi itu terasa mewah. Sudah lama sejak dia di kirim ke penjara bawah tanah markas Davis. Dirinya tak mendapatkan makanan layak apapun.
Sedangkan pria yang melihat itu hanya diam, walaupun matanya tak pernah lepas dari sosok Lyra yang terus saja makan tanpa peduli apapun.
Lyra bernapas sesak. Perutnya benar-benar begah karena tak mengontrol porsi makannya dengan benar. Dia bersandar pada sandaran kursi makan dengan napas yang terasa berat.
"Apakah menikmati sarapannya?" satu pertanyaan yang membuat Lyra sontak menoleh.
Dia bungkam, matanya memancarkan ketidakenakan saat sadar kalau dia bukan lagi putri Davis.
"Saya terlalu menikmati itu. Jika anda ada urusan dengan saya katakan saja! Sebenarnya apa tujuan anda?" tanya Lyra, dia yakin di bawanya dia dan di bebaskan dari kurungan Davis tidak akan gratis.
"Kamu mengerti balas budi ternyata," katanya begitu takjub.
Lyra hanya diam, hidup dalam rumah Davis dia tahu kalau lingkungan orang kaya tak selamanya gratis. Makanya dia selalu menjadi putri angkat yang baik di mata kedua orang tua angkatnya agar mendapatkan hak sama seperti Isabella. Namun, tetap saja Isabella mendapatkan warisan dan kemewahan yang tak bisa ia miliki.
"Kamu tahu siapa yang mengirim kamu ke keluarga Davis?" pertanyaan yang selalu Lyra cari.
"Apa kamu tahu sesuatu? Siapa yang mengirim saya ke keluarga Davis untuk balas dendam?" mata Lyra langsung berkilat. Saat di panti asuhan dia harus bersikap ramah pada siapapun. Menjadi gadis kecil lemah yang mudah di tindas agar Davis merasa Iba padanya.
"Saya yang mengirim kamu ke keluarga Davis," jawabnya.
DEGH!
"Jadi kamu Mister H?" mata Lyra benar-benar tak bisa di bohongi jika ia terkejut.
"Iya, saya yang mengirim kamu ke keluarga Davis dan saya juga yang mengatur semua hal yang kamu lakukan pada Davis. Tapi bodoh nya kamu karena ketahuan dan berakhir di penjara!' nada suaranya dingin menembus ulu hati Lyra.
"Ini semua salah Isabella, anda jangan menyalahkan saya untuk itu!" omelnya, dia tak suka di salahkan.
"Kamu yang terlalu bodoh karena tidak hati-hati Lyra! Kamu seharusnya melihat situasi saat akan merencakan sesuatu. Tapi apa yang kamu lakukan? Berjalan sendiri tanpa mendengar rencana dari saya? Inilah yang kamu dapatkan!"
Lyra mengepalkan tangannya, dia sudah hati-hati dan bergerak sesuai dengan apa yang di minta. Tapi mana dia tahu jika ternyata Isabella bisa satu langkah di depannya dengan mengamankan semua aset dan menyelamatkan kedua orang tua dan dirinya sendiri dari kecelakaan mematikan itu.
'Ini semua salah Isabella! Jika ada kesempatan lain akan aku balas wanita itu!' jeritnya, merasa tak terima akan kekalahan yang dia dapatkan sekarang ini.