Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Sinar matahari pagi New York menembus celah-celah tirai sutra di kamar utama Mansion Ashford, membiaskan garis keemasan di atas seprai yang kusut.
Hawa dingin musim gugur masih merayap halus di dalam ruangan, namun kehangatan di atas peraduan membuat suasana terasa begitu intim.
Diedrick terbangun lebih awal. Pria itu menyandarkan siku ketiaknya di atas bantal, menatap wajah polos Rexana yang masih tertidur lelap di dadanya.
Wajah porselennya yang biasanya dipenuhi raut kecemasan kini nampak begitu damai, helain napasnya yang teratur berembus halus menimpa kulit dadanya.
Namun, perhatian mata elang Diedrick tertuju pada jejak-jejak merah keunguan yang tersebar di sepanjang leher jenjang dan tulang selangka Rexana—jejak hukuman dan kegilaan gairah yang ia tinggalkan tanpa ampun semalam.
Sebuah senyum miring penuh kemenangan dan kepuasan murni terukir di bibir tegas sang pewaris Ashford.
"Bellerina..." bisik Diedrick dengan suara serak khas bangun tidur, mengecup lembut pelipis Rexana. "Bangun, Sayang. Hari sudah pagi."
Rexana melenguh halus, kelopak matanya yang dipenuhi bulu mata lentik perlahan terbuka. Rasanya seluruh persendian tubuhnya lemas dan pegal, mengingatkannya pada kekejaman Diedrick di atas ranjang beberapa jam lalu.
"Jam berapa sekarang?" gumam Rexana parau, berusaha mendudukkan tubuhnya sembari menarik selimut tebal untuk menutupi dadanya.
"Jam tujuh pagi," sahut Diedrick santai, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Rexana dari belakang. "Ayahmu dan Shopia akan terbang ke Zurich jam sembilan pagi ini dari bandara JFK. Kita harus mengantar mereka sekarang."
Rexana tersentak kaget, ingatan tentang janji dan rencana keberangkatan keluarganya mendadak merayapi otaknya. "Jam sembilan?! Diedrick, kenapa kau baru membangunkanku sekarang?!"
Dengan panik, Rexana melompat turun dari ranjang, buru-buru menyambar mantel panjang dan pakaian yang disiapkan oleh pelayan. Pipi porselennya memerah padam saat menyadari Diedrick hanya memperhatikan gerak-gerik tubuhnya dengan tatapan mesum dan senyum modus yang tak tahu malu.
"Kau tidak berniat menutupi lehermu itu, Bellerina?" goda Diedrick, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan dada bidang yang terbuka.
Rexana menyapu cermin meja rias dan membelalakkan matanya kaget melihat deretan tanda merah keunguan yang menonjol di lehernya.
"Diedrick! Ini gila! Bagaimana aku bisa menemui Dad dan Shopia dengan leher seperti ini?!"
Rexana buru-buru meraih syal sutra di atas meja rias untuk melingkarkannya di leher, namun Diedrick melangkah cepat dari belakang, merampas syal itu dan melemparkannya kembali ke atas sofa.
"Biarkan saja," tegah Diedrick dengan nada suara penuh dominasi yang tenang. "Biarkan ayahmu melihat bahwa kau sepenuhnya milikku sekarang. Aku tidak ingin ada pria lain—termasuk keluargamu—yang berpikir kau masih bisa dibawa pergi dariku."
"Diedrick Ashford!" histeris Rexana gemas, namun Diedrick justru merangkul bahunya, menuntun wanita itu keluar dari kamar menuju pelataran mansion tempat iring-iringan mobil penjemputan keluarga Whitmore telah bersiap.
Di pelataran depan Mansion Ashford, sebuah mobil limosin hitam berbendera diplomatik keluarga Whitmore terparkir anggun.
Tuan Jasper Whitmore berdiri tegap di samping pintu mobil bersama Shopia. Sang kepala dinasti Eropa itu mengenakan mantel hitam berpotongan aristokrat dengan tongkat berukir emas di tangannya, sementara Shopia berdiri anggun dalam balutan mantel wol abu-abu dan syal krem.
Saat pintu utama mansion terbuka dan Diedrick melangkah keluar sembari menggandeng erat jemari Rexana, suasana di pelataran mendadak membeku.
Mata bulat Shopia berkedip pelan, beralih menatap kembarannya. Tatapan mata gadis itu mendadak tertuju pada deretan leher dan tulang selangka Rexana yang dipenuhi jejak kemerahan pekat—tanda kepemilikan yang dipamerkan secara terang-terangan oleh Diedrick tanpa ditutupi sehelai kain pun.
Canggung dan rona merah tipis merayapi pipi porselen Shopia. Sebagai seorang gadis dewasa, ia tentu tahu betul apa yang terjadi di antara dua manusia itu sepanjang malam.
"Ehem..." Shopia berdeham pelan, memalingkan pandangannya dengan canggung luar biasa, berpura-pura merapikan sarung tangannya.
Namun reaksi berbeda datang dari Jasper Whitmore.
Pria paruh baya itu membelalakkan matanya lebar-lebar saat menyadari jejak-jejak gairah di leher putri kembarnya yang baru saja ditemukan. Mata Jasper membara oleh kemurkaan murni seorang ayah, tongkat emasnya menghantam lantai marmer pelataran dengan dentuman keras!
TAK!
"Diedrick Ashford!" gertak Jasper dengan suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan pilar-pilar mansion. "Kau benar-benar pria tak tahu malu!"
Diedrick bukannya takut atau menunduk, ia justru menegakkan bahunya, menyunggingkan senyum miring paling arogan yang sengaja memancing emosi calon ayah mertuanya. Pria itu bahkan sengaja mengusap leher Rexana di hadapan Jasper.
"Saya hanya menjalankan hak saya sebagai pria yang mencintai putri Anda, Tuan Whitmore," sahut Diedrick santai dengan nada penuh rasa percaya diri.
"Kau—!" Jasper mengangkat tongkat emasnya, siap melayangkan pukulan kedua jika Rexana tidak buru-buru menahan lengan sang ayah dengan tatapan memohon.
"Dad, tolong..." bisik Rexana dengan wajah memerah padam karena malu, memeluk lengan Jasper.
Jasper memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas berat untuk menekan amarahnya. Pria tua itu menatap Diedrick dengan sorot mata mengancam yang teramat tajam.
"Dengar aku baik-baik, Casanova," desis Jasper dingin.
"Ini ancaman terakhirku padamu. Jika sampai kulihat putriku menangis lagi karena skandal murahanmu di New York... aku bersumpah akan lmencabut nyawa mu dari muka bumi!"
Diedrick menatap Jasper lurus-lurus, senyum arogannya perlahan memudar berganti dengan binar kesungguhan yang mendalam. "Anda tidak akan pernah melihatnya menangis lagi, Tuan Whitmore. Itu janji seorang Ashford."
Di tengah ketegangan antardua pria itu, Shopia melangkah maju satu pijakan.
Wajah anggun sang gadis dokter memancarkan binar emosi yang sangat rumit—perpaduan antara rahasia masa lalu delapan tahun lalu, rasa bersalah atas kebohongan lima tahun lalu, serta rasa hormat murni pada sang pria penolong.
Shopia mengabaikan tatapan heran dari Rexana, pandangannya terkunci lurus pada sosok Diedrick yang berdiri di samping kembarannya.
"Pria Ashford..." panggil Shopia dengan suara lembut yang bergetar samar.
Diedrick menaikkan sebelah alisnya, menatap Shopia dengan tatapan bertanya.
Shopia mengikis sedikit jarak, memperlihatkan gestur dan binar mata yang sengaja ia tunjukkan di hadapan Rexana—sebuah sikap terbiasa dan penuh kenangan, seolah-olah ia dan Diedrick memiliki ikatan atau kenalan khusus yang mendalam di masa lalu.
"Apakah kau benar-benar tidak ingat padaku?" tutur Shopia pelan, menatap Diedrick dengan senyum tipis yang sarat arti tersembunyi. "Delapan tahun lalu... di atas jembatan penyeberangan Queens, saat kau memberikan cek pribadi dan menyelamatkan seorang gadis miskin yang hampir melompat?"
Deg.
Rexana tersentak kaget, menoleh cepat menatap Shopia lalu berpaling menatap Diedrick dengan mata membelalak tak percaya.
Shopia memeluk erat Rexana, membisikkan doa kebahagiaan di telinga kembarannya. "Bahagialah, Rexana... cepatlah datang ke Zurich. Mommy menunggumu."
Jasper merangkul bahu Shopia, menuntun putrinya masuk ke dalam limosin diplomatik. Pintu mobil tertutup rapat, dan kendaraan mewah itu perlahan bergerak meninggalkan pelataran Mansion Ashford menuju Bandara JFK.
Diedrick merangkul pinggang Rexana dari samping, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu saat menyaksikan limosin tersebut menghilang di belokan jalan.
"Ada yang kau sembunyikan dariku, Diedrick?" bisik Rexana pelan, menatap profil wajah pria di sampingnya.
Diedrick menoleh, menatap Rexana dengan mata elang yang penuh rasa cinta tak terbatas.
"Tidak ada yang kusembunyikan, Bellerina. Dunia bisa berubah, orang-orang bisa datang dan pergi... tapi hatiku hanya pernah mencatat satu nama dari delapan tahun lalu hingga hari ini: Rexana Ballerina Whitmore."
boleh up lagi gak Thor 🤭
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣