Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.
Pukul tujuh tepat malam itu, deru mesin mobil mewah yang memasuki halaman depan mansion menggema dengan jelas. Bella yang sedang berdiri termangu di dekat jendela kamar seketika menegang. Sekujur tubuhnya bergetar hebat.
Bukan hukuman fisik yang ia takuti dari kedua orang tuanya, melainkan ketakutan luar biasa akan sebuah kenyataan pahit yang sempat ia dengar secara samar: bahwa dirinya bukanlah bagian dari darah daging keluarga ini.
Ia hanya bisa menangis dalam diam, meringkuk ketakutan di sudut kamar, tidak berani menemui orang tuanya—meski di dalam hatinya yang paling dalam, ia begitu merindukan kehangatan mereka.
Beberapa saat kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.
"Non Bella..." panggil Bibi Hani dari balik pintu dengan nada lembut. "Tuan dan Nyonya sudah pulang. Non diminta turun untuk makan malam bersama di lantai bawah."
Bella menelan ludah susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. "I-iya, Bi... sebentar lagi Bella turun," jawabnya singkat dengan suara parau.
Ia tahu ia tidak bisa bersembunyi selamanya. Dengan sisa-sisa tenaga dan tekad yang dipaksakan, Bella menguatkan hatinya. Berharap... semoga malam ini tidak berujung pada kekacauan yang lebih mengerikan.
*
Perlahan, Bella melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga marmer satu persatu. Matanya tampak sembab, hidungnya memerah, dan bibirnya pucat pasi.
Begitu ia menapakkan kaki di lantai dasar, Karin yang melihat kedatangannya langsung bergegas menghampiri. Tanpa sekat kemarahan, wanita paruh baya itu langsung merengkuh tubuh Bella ke dalam pelukannya yang hangat.
"Bella sayang..." bisik Karin lembut, mengelus rambut putrinya.
Selepas dari pelukan mamanya, Bella memberanikan diri melangkah mendekati sang kepala keluarga. Ia meraih tangan Alan, lalu mencium punggung tangan papanya. Sementara itu, Nathan berdiri tidak jauh dari sana, melipat tangan di dada dengan tatapan sinis dan malas sekadar untuk melihat ke arah adiknya.
"Ayo duduk, kita makan malam dulu," kata Karin merangkul pundak Bella, menuntunnya ke meja makan dan menyendokkan nasi ke piring gadis itu.
Suasana makan malam berjalan dalam senyap yang canggung. Tidak ada satupun yang membuka suara mengenai skandal besar yang mencoreng nama keluarga. Namun, begitu peralatan makan disingkirkan, Bella memberanikan diri membuka mulut.
"Pa... Ma..." cicit Bella tertunduk dalam, air matanya kembali menitik. "Bella minta maaf... Bella benar-benar minta maaf atas semuanya..."
Nathan mendengus keras, berdehem pendek menunjukkan ketidaksukaannya.
Karin menggeleng pelan, menatap putrinya dengan tutur kata yang menenangkan. "Sudahlah, Bella. Fokus saja pada sekolahmu. Bukankah sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian akhir?"
"Sekolah?!" potong Nathan tajam, tersenyum miring penuh amarah. "Ma, jangan gila! Pihak sekolah bahkan sudah mempertimbangkan untuk mengeluarkan wanita liar ini karena berita memalukan itu tersebar di mana-mana!"
"Nathan! Jaga bicaramu!" bentak Karin marah, tidak terima putrinya disudutkan sedemikian rupa.
"Kenapa Mama masih membela dia?!" seru Nathan bangkit dari kursinya, dadanya naik-turun menahan emosi yang meledak. "Dia bikin keluarga kita di ambang kehancuran! Usaha dan perusahaan yang aku bangun bertahun-tahun hampir sia-sia gara-gara kelakuan murahan dia!"
Nathan menatap Bella dengan sorot mata penuh jijik. "Aku bahkan jijik ngakuin dia sebagai adikku! Siapa yang bisa jamin kalau dia masih menjaga kehormatannya setelah keluyuran bebas di kelab malam?"
"Cukup, Nathan!" Karin membentak putranya dengan suara bergetar murka.
"Kalau Mama nggak percaya sama omonganku, mau aku putarin rekaman CCTV mansion ini waktu aku dinas luar kota?!" tantang Nathan gelap mata, kehilangan seluruh kendalinya. "CCTV merekam dengan jelas bagaimana wanita ini bermesraan dengan Vero di ruang tamu kita! Dan yang paling menjijikkan... tanpa rasa malu sedikit pun, dia sempat mencium bibir Om Christian karena mabuk berat dan mengira Om Christian adalah kekasihnya!"
Deg.
Dunia seolah runtuh seketika di telinga Karin. Napas wanita itu tercekat, tubuhnya mendadak lemas tak bertulang hingga hampir merosot dari kursi.
Di sisi lain, Bella menjerit tertahan sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. Ia menggeleng histeris, air matanya tumpah semakin deras. "Nggak... nggak... cukup, Kak! Jangan ngomong lagi...!"
Emosi Nathan yang sudah di ujung tanduk membuatnya nyaris membongkar rahasia terbesar keluarga itu di tengah kemarahannya. "Asal kau tahu, kau bukan—"
Brak!
Sebelum Nathan sempat meneruskan kalimatnya yang hampir membongkar status adiknya, pintu utama terbuka dengan kasar. Sosok Christian Gerald berdiri di ambang pintu, melangkah masuk dengan aura dingin yang langsung membungkam Nathan seketika.
Melihat kekacauan itu, Bella bangkit berdiri dengan napas tersengal. Sisa-sisa keberanian terakhirnya muncul di tengah keterpurukan. Ia menatap Nathan lurus-lurus.
"Kalau Kak Nathan mau ngomong kalau aku bukan anak kandung Mama dan Papa... katakan saja dengan jelas!" teriak Bella parau, memecah keheningan malam dengan isak tangis yang memilukan.
Semua orang di ruang makan terpaku. Karin membelalakkan mata, sementara Nathan menatap adiknya dengan mulut sedikit terbuka.
"Kalau rumah ini bukan tempatku... kalau aku cuma anak pungut yang tidak diinginkan di sini... aku akan pergi!" sambung Bella dengan suara bergetar hebat. "Aku nggak akan tinggal di tempat di mana aku cuma jadi beban buat semuanya!"
"Bella! Jangan bicara sembarangan!" cegah Karin panik, air matanya tumpah seketika. Ia menoleh ke arah putranya. "Nathan! Cepat cegah adikmu!"
Namun Nathan bergeming di tempatnya, menatap dingin. "Biarkan dia pergi, Ma. Paling-paling dia tidak akan bisa bertahan sehari pun di luar sana tanpa uang kita. Lagian, dia bahkan berani mencuri uang Om Christian di dompet!"
Mendengar itu, tekad Bella semakin bulat. Dengan langkah gontai namun pasti, ia berbalik menuju lantai atas kamarnya. Nathan sempat mencoba mencegat jalannya di dekat tangga, namun Bella menepisnya kasar.
"Baiklah, aku akan pergi... aku tidak akan membawa apa pun dari kalian!" ucap Bella dengan suara tegas penuh luka.
Sesampainya di kamar, dengan tangan yang gemetar hebat, Bella merogoh saku hoodienya. Ia mengeluarkan ponsel miliknya, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja rias. Setelah itu, ia melepaskan jaket hoodie yang ia kenakan.
Tidak berhenti sampai di situ, di hadapan mereka yang menyusul naik ke lantai atas, Bella dengan nekat melepas kaos dan celana panjangnya, menyisakan tanktop ketat dan celana pendek yang ia pakai semalam.
"Kalau aku memakai pakaian ini, apakah aku boleh pergi?!" jerit Bella hancur, menatap keluarganya dengan air mata yang membasahi sekujur wajahnya.
Semua orang di sana membeku seketika. Karin menutup mulutnya dengan kedua tangan, menangis histeris melihat kenekatan putrinya. Bahkan Christian, yang berdiri paling belakang, langsung memalingkan wajahnya dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang bergetar menahan gejolak emosi yang mengerikan.
Tanpa menunggu jawaban atau cegatan siapa pun lagi, Bella memutar tubuhnya, melangkah keluar meninggalkan kamar, menuruni tangga, dan berjalan keluar dari mansion mewah itu seorang diri di tengah dinginnya malam, hanya berbalut tanktop dan celana pendek.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang