NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Yang Kukunci

Di Balik Pintu Yang Kukunci

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.

Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.

Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.

"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."

Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.

Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Hari-hari berikutnya berjalan seperti di atas kaca yang retak. Kehidupan Erlyn masih sama, pagi yang sibuk, sarapan bersama, senyum yang penuh hangat.

Namun di balik senyum yang dipaksakan, ada sesuatu yang perlahan menggerogoti ketenangannya. Setiap kali ponsel bergetar, jantungnya meloncat begitu kuat hingga dadanya terasa sesak.

Erlyn tidak lagi membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di meja. Ia menggenggamnya erat, sesekali mengecek layarnya dengan gerakan cepat dan gugup, lalu mematikannya sejenak lalu dinyalakan kembali setelah beberapa saat kemudian.

Iqbal mulai menyadari perubahan itu. Setiap pagi saat ia bangun, ponsel istrinya terlihat baru saja dimatikan.

Siang hari, saat ia menelepon, kadang tidak tersambung lalu beberapa saat kemudian aktif kembali.

Sore harinya, Erlyn terlihat terus menatap layar, mengetik sebentar lalu menghapus apa yang ditulisnya, berulang kali, seolah takut salah tulis.

Suatu sore, mereka duduk bersama di ruang tengah. Rara sedang menonton televisi di sudut ruangan, tertawa kecil melihat adegan yang disukainya.

Erlyn duduk di tepi sofa, ponsel selalu digenggamnya, layarnya menyala lalu padam, menyala lagi lalu padam lagi. Ia tidak menyadari bahwa Iqbal memperhatikannya dari samping.

"Ponselmu bermasalah ya, Lyn?" tanya Iqbal tiba-tiba, suaranya lembut namun terdengar jelas di telinga Erlyn.

Ia tersentak, hampir menjatuhkan benda itu. Cepat-cepat ia meletakkannya di samping dan layar menghadap ke bawah.

"Nggak... maksudku, kadang sinyalnya suka hilang sendiri," jawabnya, berusaha tersenyum tenang. Namun senyum itu terasa kaku di bibirnya.

Iqbal menatapnya lekat. Ia melihat keringat halus di pelipis istrinya, cara Erlyn menarik napas sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Beberapa hari ini aku perhatikan kamu menyalakan dan mematikannya terus. Ada apa sebenarnya?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.

Erlyn menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana, namun rasanya begitu berat untuk dijawab. Ia bisa menceritakan semuanya sekarang. Ia bisa menumpahkan semua ketakutan yang dipendamnya. Ia bisa memeluk suaminya dan meminta perlindungan.

Tapi ia takut. Takut Iqbal salah paham, takut suaminya merendahkannya, takut kepercayaan yang dibangun selama sepuluh tahun retak sebelum sempat diperbaiki.

"Beneran nggak ada apa-apa kok, Mas," jawabnya pelan, memalingkan wajah sedikit. "Cuma grup arisan itu saja. Pesannya bertumpuk-tumpuk, berisik banget. Kadang aku matikan sebentar supaya tenang."

"Grup arisan sampai membuatmu gelisah begini?" Iqbal terdengar tidak sepenuhnya yakin.

Erlyn mengangguk cepat. "Iya... banyak banget pesannya. Kadang ada yang salah kirim, ada yang mengirim hal-hal yang nggak perlu dilihat. Jadi aku suka matikan sebentar, nanti aku nyalakan lagi kalau perlu."

Ia berharap suaminya akan menerima penjelasan itu. Berharap Iqbal akan berhenti bertanya. Namun di lubuk hatinya, ia tahu jawaban itu terdengar tidak masuk akal.

Iqbal diam sejenak, menatap wajah istrinya. Ada keraguan di matanya, namun ia tidak mendesak lebih jauh.

"Kalau gitu keluar saja dari grup itu," katanya akhirnya lembut. "Nggak perlu menyiksa diri sendiri."

Erlyn tersenyum tipis, namun hatinya terasa perih. "Iya... nanti kulakukan."

Ia tahu ia tidak akan melakukannya. Karena sumber masalahnya bukan dari grup itu. Tapi berasal dari tempat lain, dari masa lalu yang sekarang datang kembali.

Malam itu, suasana di kamar terasa lebih berat dari biasanya. Erlyn berbaring membelakangi Iqbal, ponsel tersembunyi di bawah bantal. Ia merasakan getaran halus berulang kali, satu, dua, tiga pesan masuk.

Ia tidak berani mengambilnya. Ia takut jika membukanya, ia akan melihat foto baru, ancaman baru, sesuatu yang akan membuatnya tidak bisa tidur lagi sepanjang malam.

Namun getaran itu tidak berhenti. Ia terus berulang, seakan menegaskan bahwa ada seseorang di luar sana yang tahu di mana ia berada dan tidak akan membiarkannya tenang.

Erlyn perlahan meraba ke bawah bantal, mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Layarnya menyala, menampilkan pesan dari nomor yang sama. Kali ini tidak ada foto, hanya kalimat yang singkat namun membuat darahnya membeku:

"Kenapa menghindar, Sayang? Kau pikir bisa bersembunyi di balik kebohonganmu selamanya? Balas pesan ini sekarang, atau aku yang datang ke sana."

Ia menutup mulut dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara. Matanya memanas, air mata hampir menetes. Bagaimana cara melawannya?

"Erlyn..."

Suara Iqbal terdengar dari belakangnya. Erlyn tersentak, buru-buru menekan tombol kunci layar. Ia berbalik perlahan, berusaha menyembunyikan kepanikan di wajahnya.

"Mas... belum tidur?" suaranya terdengar bergetar sedikit.

Iqbal menatapnya, cahaya redup dari lampu tidur memperlihatkan kerutan halus di dahinya.

"Kamu terus megang ponsel itu," ucapnya pelan. Ada nada sedih dalam suaranya, bukan marah. "Erlyn, kalau ada sesuatu... sesuatu yang berat... kamu bisa cerita ke aku. Aku suamimu. Kita hadapi bersama."

Kalimat itu begitu tulus, begitu lembut, hingga hati Erlyn terasa sakit. Ia ingin sekali berkata:

Ya, ada sesuatu. Ada seseorang yang mengancamku. Dia tahu nomorku, dia menyimpan foto-foto memalukanku, dia memaksaku kembali. Tolong aku.

Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Rasa takut lebih kuat daripada keinginannya untuk jujur.

"Semuanya baik-baik saja. Cuma... urusan kelompok wanita saja. Nggak terlalu penting." jawabnya pelan, menunduk.

Iqbal diam. Ia menatap istrinya lama sekali, seolah berusaha mencari kebenaran di balik wajah itu. Namun akhirnya ia hanya menghela napas pelan.

"Baiklah. Tapi ingat ya, Lyn... Kapan pun kamu siap cerita, aku di sini."

Ia menarik selimut, membiarkan istrinya berbalik kembali. Namun kehangatan yang biasanya ada di kamar itu mulai terasa sedikit menjauh.

Erlyn menahan tangis supaya bahunya tidak bergetar. Ia tahu ia telah menyakiti suaminya dengan kebohongannya sendiri. Ia tahu Iqbal menyadari sesuatu yang disembunyikan. Namun ia belum berani.

Ia menatap layar ponsel yang gelap. Ancaman tadi masih terngiang di telinga, aku yang datang ke sana.

Ia tidak tahu kapan Om Hendi akan benar-benar muncul. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika pria itu berdiri di depan pintu rumah ini.

***

Pagi berikutnya, suasana terasa sedikit berbeda. Iqbal tetap tersenyum, tetap menyapa, namun tatapannya lebih sering tertuju pada ponsel Erlyn.

Setiap kali benda itu bergetar, pandangannya ikut bergerak ke arahnya. Erlyn menyadarinya. Ia mencoba menenangkan diri, mencoba bersikap biasa. Namun tangannya tetap bergerak cepat setiap kali ada notifikasi, membalas singkat, lalu membalikan ponsel kembali di meja.

Saat sarapan, ponsel itu bergetar kembali di atas meja. Erlyn meraihnya secepat kilat, namun Iqbal sudah melihat sekilas layarnya.

"Itu bukan nama grup arisan," ucapnya tiba-tiba, tenang namun tegas.

Erlyn berhenti bergerak. Ia menatap suaminya, napasnya tertahan.

"Apa?"

"Di layar yang ada nomor bukan nama grup," jelas Iqbal, menatapnya lekat. "Erlyn, siapa yang kirim pesan itu?"

Wajah Erlyn memucat. Ia tidak menyangka Iqbal memperhatikan sedemikian rupa. Kata-kata yang disusunnya seketika hilang dari kepala.

"Itu... itu... salah satu anggota yang nomornya belum aku simpan. Jadi tertulis begitu," jawabnya akhirnya, suara terdengar goyah.

Iqbal menatapnya dalam waktu yang lama. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menunduk, melanjutkan makannya dengan perlahan, namun senyumnya hilang. Keheningan di meja makan terasa begitu berat hingga Erlyn hampir tidak bisa menelan makanan yang ada di mulutnya.

Setelah sarapan selesai, Iqbal berdiri untuk bersiap berangkat kerja. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Erlyn.

"Aku harap kamu tahu, aku lebih suka mendengar kebenaran yang menyakitkan daripada kebohongan yang manis, Erlyn. Apapun yang terjadi, kita suami istri. Kita seharusnya nggak menyembunyikan hal besar satu sama lain." ucapnya pelan.

Ia pergi setelah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Erlyn berdiri sendirian di ruang tengah, memegang ponselnya erat-erat. Ia tahu ia telah melukai perasaan Iqbal. Ia tahu keraguan itu sudah tertanam di hati suaminya.

Namun ia belum bisa berhenti. Ia merasa terjebak di antara dua ketakutan, takut kehilangan keluarganya jika ia jujur, dan takut menghancurkan semuanya jika terus berbohong.

Ponsel di tangannya bergetar lagi. Kali ini pesan itu lebih pendek:

"Besok pagi aku tunggu di kafe dekat taman kota. Datang sendiri. Kalau tidak... Iqbal akan tahu semuanya."

Erlyn merosot duduk di lantai, air mata akhirnya jatuh juga. Ia tidak punya pilihan. Setidaknya itulah yang dipikirkannya saat ini.

Pintu yang ia kunci rapat-rapat kini terbuka sedikit lebih lebar, dan ia sendirilah yang harus menutupnya, atau membiarkannya hancur sama sekali.

1
Miu.Nuha
doni cepet juga dpt semua informasi itu, bagus lah. semua tabir akhirnya terbuka juga. Iqbal punya kebesaran hati yg luar biasa ❤
Pencari Cerita
hadee, kenapa gak ngomomg aja sama Iqbal biar, udh gak sopan banget si hendi ngapain cariin mll ngerusak rumah tangga orang aja
Fall.
obsesi Hendi benar² pengen memiliki erlyn semata kah? bukan yang lain?

kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
Fall.
om Hendi membrutal erlyn
Fall.
aww ihhh merinding banget
Reno A.H
Erlynnnn, maksud menguasai hidup mu dulu itu apa?? Moga Iqbal menerima yah, soalnya sudah kepalang kadung. Sudah nyaman.
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Dari awal Iqbal setulus ini. Kayaknya kamu jujur aja deh, Erlyn. Lebih baik mengatakannya sendiri daripada Iqbal mengetahuinya dari orang lain
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tentu saja, luka dan trauma itu tidak semudah itu untuk menghilangkannya, apalagi memendam semuanya sendirian.
aefpe fp
erlyn ini tipe orang yang suka menyiksa batinya ya adik adik, memang berat si tapi baik dia berpikir yang akan terjadi maka terjadilah👀
Mingyu gf😘
akhirnya terungkap juga😭😭
Mingyu gf😘
Aduhb kalian harus hati hati ya
Mingyu gf😘
semuanya udah kebkngkar kan, gak usah kesana lagi gak usah goblok
Mingyu gf😘
Nikmati hasil dari kebodohanmu
naws
duh. semoga kamu gak ngancurin hidupmu sendiri ya bal. gaboleh sampe jadi kriminal. kamu kriminalkan aja tuh si hendi.
naws
wajar marah dan sedih.
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
naws
iqbal gak akan nelantarin rara.
paling dia gugat kamu lyn 🫠
naws
dari awal emang salah langkah 😖
Pencari Cerita
kalau kata aku mah mending cerita lyn, biar kamu bisa ngadepin nya gak sendirian, kayanya iqbal suami yang baik
Hamzah [Hiatus]
simpan aja itu telpon 😠
Hamzah [Hiatus]
waduh.. apakah akan ancur? please jangan dong 😿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!