NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 reza makin posesif

Berita tentang ancaman Sora yang mengepung panti asuhan tempat Maya dibesarkan langsung menghantam dada Maya seperti palu godam. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal, dan air matanya tumpah seketika tanpa bisa dicegah.

​"Anak-anak... panti asuhan..." gumam Maya histeris, tubuhnya lemas hingga nyaris terjatuh ke lantai kalau saja Reza tidak sigap merengkuh pinggangnya.

"Reza, anak-anak itu tidak tahu apa-apa! Kenapa Sora tega menyeret mereka ke dalam masalah ini?!"

​Reza mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang luar biasa besar.

Tatapan mata hitamnya berubah sangat dingin, bagaikan iblis yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya.

​"Sora benar-benar sudah melewati batas," desis Reza dengan suara berat yang bergetar penuh kemurkaan.

​Rian berdiri gelisah di dekat pintu bunker, menunggu instruksi.

"Tuan Besar, apa perintah selanjutnya? Pasukan kita sudah siap bergerak, tapi panti asuhan itu terletak di pinggiran kota dan sekarang sudah dikunci ketat oleh anak buah Burhan."

​Maya mendongak, menatap Reza dengan mata basah penuh permohonan.

"Reza, biarkan aku pergi... Biar aku yang datangi Sora. Jangan korbankan anak-anak tak berdosa itu, dan jangan biarkan anak buahmu mati sia-sia di sana!"

​Mendengar ucapan itu, Reza langsung menarik Maya makin rapat ke dalam dekapan dadanya, mengunci tubuh gadis itu dengan erat tanpa sedikit pun celah untuk lepas.

Cengkeramannya sangat kuat, memancarkan rasa posesif yang mendalam dan ketakutan yang teramat sangat kehilangan orang yang dicintainya.

​"Jangan pernah ucapkan kalimat itu lagi, Maya!" bentak Reza tegas, namun ada nada kepedihan yang terselip di balik suaranya.

"Kamu tidak akan pernah saya serahkan kepada wanita gila itu. Langkah kaki kamu keluar dari sisi saya sama artinya dengan menyerahkan nyawa saya sendiri."

​"Tapi Reza—"

​"Diam, Maya," potong Reza. Pria itu menangkup wajah Maya dengan kedua tangan kasarnya, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang menyala tajam.

"Kamu adalah tanggung jawab saya. Dan mulai detik ini, tidak ada satu pun alasan di dunia ini yang bisa membuat saya membiarkan kamu lepas dari jangkauan saya. Mengerti?!"

​Maya tertegun, terhipnotis oleh sorot mata posesif sekaligus penuh perlindungan yang terpancar dari wajah Reza.

Di tengah ancaman maut dan perang dingin yang membakar kota, sikap Reza yang mendadak sangat menguasai dan tak mau melepaskannya itu justru memberikan rasa aman yang aneh di dada Maya.

​"Tapi... bagaimana dengan anak-anak di panti?" tanya Maya dengan suara bergetar parah.

​Reza menoleh ke arah Rian dengan tatapan dingin. "Rian. Kerahkan seluruh divisi utama unit penyerangan. Kita ratakan blok panti asuhan itu dalam waktu tiga puluh menit. Jangan biarkan satu pun orang suruhan Sora keluar hidup-hidup dari sana."

​"Siap, Tuan Besar!" jawab Rian tegas, lalu bergegas keluar bunker untuk mempersiapkan armada pasukan.

​Reza kembali menatap Maya. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan Maya dan menggenggamnya erat-erat, seolah takut gadis itu akan menguap begitu ia lengah sedetik saja.

​"Kita pergi bersama-sama," kata Reza mantap. "Kamu tetap berada di dalam jip lapis baja di samping saya. Kamu tidak boleh turun, dan kamu tidak boleh jauh dari pandangan saya sedetik pun."

​Maya mengangguk pelan, pasrah sekaligus terenyuh.

​Tak lama kemudian, konvoi lima mobil jip hitam bermesin gahar melesat membelah jalanan kota yang mencekam. Suara letupan senjata dan sirene di kejauhan mengiringi perjalanan mereka menuju pinggiran kota.

Di dalam mobil jip utama, Reza duduk berdampingan dengan Maya. Tangan kiri pria itu melingkar erat merangkul bahu Maya, sementara tangan kanannya menggenggam gagang senjata laras pendek dengan siaga penuh.

​Sepanjang perjalanan, Reza tidak sedikit pun melonggarkan rangkulannya. Setiap kali mobil melintasi jalanan yang berlubang atau terdengar suara dentuman di kejauhan, tubuh Maya menegang, dan Reza akan langsung mendekapnya makin erat, membisikkan kata-kata penenang di dekat telinganya.

​"Tenanglah... Saya ada di sini. Tidak ada yang bisa menyentuh kamu," bisik Reza berulang kali dengan suara rendah yang menenangkan.

​Maya menyandarkan kepalanya di dada bidang Reza, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu kuat. Di satu sisi, ia merasa ngeri dengan pertumpahan darah yang akan terjadi. Tapi di sisi lain, dekapan erat ini membuatnya merasa begitu terlindungi dari dunia yang kejam.

​Kurang dari tiga puluh menit, konvoi jip mereka tiba di kawasan panti asuhan pinggiran kota.

​Suasana di sana tampak sangat mencekam. Pintu gerbang besi panti asuhan sudah dirantai, dan di halaman depan terlihat belasan pria berbadan kekar bersenjata lengkap berjaga di bawah komando orang kepercayaan Sora.

Di teras utama, beberapa pengurus panti dan anak-anak kecil tampak dikumpulkan dalam satu sudut dengan ketakutan luar biasa.

​Mobil jip Reza berhenti mendadak tepat di depan gerbang.

​"Ingat pesan saya, Maya. Tetap di dalam mobil," ucap Reza sekali lagi dengan nada mutlak sebelum membuka pintu jip.

​"Reza, hati-hati..." cemas Maya, memegang ujung kemeja pria itu.

​Reza menoleh sejenak, memberikan senyuman tipis penuh keyakinan. "Tunggu saya di sini."

​Pintu jip terbuka. Reza melangkah turun ke luar, diikuti oleh Rian dan puluhan anak buah bersenjata lengkap yang langsung menyebar mengambil posisi taktis. Kehadiran Reza yang mendadak itu langsung membuat pasukan penjaga suruhan Sora menegang.

​"Reza! Berani juga kamu datang sendirian!" teriak pemimpin penjaga itu dari balik gerbang sambil mengokang senjatanya.

​Reza berdiri tegak di tengah terpaan angin malam, tatapannya sangat dingin menatap gerbang panti.

"Buka gerbangnya, atau saya pastikan kepala kalian semua tertanam di tanah ini sebelum hitungan ketiga."

​Suasana mendadak hening menegangkan. Dari arah teras panti, sesosok wanita melangkah maju perlahan. Sora muncul dengan balutan mantel mewahnya, tersenyum sinis menatap ke arah Reza.

​"Wah, wah... Lihat siapa yang datang," seru Sora dengan suara melengking tajam yang menggema di halaman panti.

"Suami teladan yang mempertaruhkan seluruh kerajaannya cuma demi menyelamatkan anak-anak panti dari cewek murahan itu!"

​Di dalam mobil jip, Maya yang mengintip dari balik kaca jendela melihat Sora berdiri tidak jauh dari tempat anak-anak ketakutan. Jantung Maya berdegup kencang.

​Tiba-tiba, dari arah belakang mobil jip, suara derap ban berdecit keras. Dua mobil sedan tak dikenal mendadak muncul dari tikungan jalan gelap dan langsung menembak membabi-buta ke arah mobil jip tempat Maya duduk.

​RAT-TAT-TAT-TAT!

​"Kyaaa!" jerit Maya histeris saat peluru menghantam kaca mobil di samping kepalanya hingga pecah berkeping-keping.

​"Maya!" teriak Reza panik dari luar gerbang saat melihat serangan mendadak itu.

​Sebelum Reza sempat berbalik menyelamatkan Maya, pintu jip di samping Maya terbuka paksa dari luar oleh sesosok pria bertopeng hitam yang mencengkeram lengan Maya dan menyeretnya keluar secara paksa dari dalam mobil.

​Bersambung....

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!